Belajar Jujur di SD Kreatif Muhammadiyah 16

Para siswa kelas 4 Thomas Alva Adison itu duduk berkumpul di atas karpet. Guru bahasa Inggris sedang menyampaikan pelajaran dengan metode mendongeng. Para siswa asyik mendengarkannya. Ada cerita-cerita lucu yang diselipkan oleh guru. Tak segan, para siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, tentu semuanya dalam bahasa Inggris. Jika jawaban salah, mereka pada cekikikan.

”Kalau guru menerangkan pelajaran dengan serius, maka anak-anak menjadi tegang,” kata Heru Tjahjono, salah satu guru. Maka, agar pelajaran tak terbuang sia-sia dipakailah konsep edutainment dalam kegiatan belajar-mengajar di SD Kreatif Muhammadiyah 16, Surabaya, itu.

Lantas, dibutuhkanlah para guru yang bisa mendidik sekaligus menghibur. Para siswa pun berani bertanya. ”Dengan metode ini, anak akan belajar dengan bebas tanpa ada rasa tekanan,” kata Kepala SD Kreatif Muhammadiyah 16, Ahmad Zaini.

Guru berkesempatan membahas tema pelajaran. Ketika para siswa kelas 2 menginginkan pembahasan masalah ikan, pihak sekolah mendatangkan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Berbagai macam ikan diusung ke laboratorium mini milik sekolah dan siswa berkesempatan mempelajari ikan.

”Ikan itu tidurnya jam berapa sih, kok ikan-ikan saya yang ada di rumah nggak pernah tidur,” tanya Ade. Ade pun tampak puas setelah mahasiswa Unair mejelaskan, bahwa kalau tidur ikan biasanya berada di dasar kolam, diam, dan matanya menutup.

Ketika siswa sepakat dengan pelajaran bertema ekonomi, mereka pun bersuka cita saat diajak mengunjungi pasar. Mereka berdialog langsung dengan para pedagang. Mereka juga diajak ke berbagai instansi. ”Pelajaran selalu kami berikan sesuai keinginan para siswa.

Tema-tema yang kami angkat dan berikan selalu kami hubungkan dengan lingkungan, kesenangan, dan dunia mereka, seperti binatang dan alam,” ujar Zaini.

Dua guru per kelas
Bangunan fisik sekolah ini terletak di tengah perkampungan padat di Jl Baratajaya IIA/2. Akses jalan menuju sekolah seluas 830 meter persegi ini bisa dikatakan sulit. Mobil orang tua yang mengantar murid terpaksa harus parkir di mulut gang.

Empat tahun lalu, kondisi bangunan SD Muhammadiyah 16 sangat memprihatinkan. Genteng kelas bocor ketika hujan tiba, jumlah siswa di tahun terakhir –sebelum diubah menjadi SD Kreatif Muhammadiyah 16 hanya 70 siswa. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1970 ini bahkan nyaris bangkrut.

Tapi, kini sekolah tersebut menjadi salah satu SD favorit di Surabaya. Sejak menjadi SD Kreatif, dari 25 siswa di tiap kelas, sebanyak 5 siswa tak dipungut biaya. ”Siswanya mulai dari anak pemulung hingga anak direktur.
Orang tua siswa yang mampu menyubsidi pendidikan anak orang tidak mampu,” ujar Heru. Subsidi pendidikan ini diambilkan dari SPP masing-masing siswa yang sebesar Rp 200 ribu per bulan.

Setiap kelas diampu oleh dua guru untuk terlibat juga dalam penentuan tema pelajaran bersama para siswa, dan kemudian mendesainnya agar tak memberatkan siswa. Acuannya tentu saja tetap pada kurikulum nasional dan kurikulum Muhammadiyah. Sekolah ini mulai dilirik sejak sekolah melakukan berbagai perubahan.

Langkah pertama mengubah nama menjadi SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya. Penambahan nama merupakan bentuk strategi untuk menarik perhatian masyarakat. ”Kita harus membuat sekolah yang beda. Terutama namanya, agar dikenal masyarakat,” ungkap Heru.

Karena dibayang-bayangi nama kreatif, ketiga penggagas yang masing-masing; Ahmad Zaini, Heru Tjahyono, dan Ismadi Retty, pun mulai bekerja ekstrakeras untuk menjadikan sekolah ini benar-benar sebagai sekolah kreatif.
Maka, sumber daya manusia dan kurikulum dirombak, selain merombak tampilan fisik. Ruang kelas ditata agar lebih menyenangkan bagi siswa. Delapan ruang kelas yang ada didesain seperti ruang kelas TK. Tembok kelas dicat dengan warna-warna pastel.

Bangku dan meja kelas dicat dengan warna-warna mencolok dan dibuat dengan berbagai bentuk. Mulai dari kotak biasa hingga segitiga. Bangku-bangku inipun ditempatkan sedemikian rupa –tidak berderet seperti kelas konvensional– untuk memudahkan interaksi para siswa.

”Dengan perubahan ini kita berusaha mengubah pola pikir anak bahwa bentuk bangku dan meja tak selamanya segi empat,” ujar Heru. Para siswa juga diminta mendiskusikan nama kelas yang akan mereka pakai. Jangan heran jika ada nama kelas 3 Jupiter, Venus, atau kelas 4 Edmund Halley, dan kelas 4 Thomas Alva Edison.

Di langit-langit kelas bergelantungan beraneka ragam karya siswa. Mulai dari kardus bekas yang dihias dengan nama-nama binatang, hingga sebuah album foto yang dibuat dari bahan styrofoam berisikan foto pertumbuhan salah satu siswa.

Karya-karya dipajang untuk menghargai pembuatnya dan untuk menggugah kreativitas siswa. Menurut Heru, suasana kelas 1-4 sengaja dikondisikan seperti kelas TK agar siswa lebih kerasan menimba ilmu. ”Biar mereka tambah semangat dan betah di sekolah,” tambah Zaini.

Pengelola memahami jika anak usia 7-10 membutuhkan hal-hal yang berbau permainan. ”Nggak bisa kita memaksakan bentuk kelas yang formal seperti lazimnya kelas mahasiswa. Baru di kelas lima kita bisa lebih mengajak mereka serius, dan memberikan pelajaran etika,” ujar Heru. Ruangan kelas 5 dan 6 bersih dari berbagai tempelan karya.

Para siswa juga mendapatkan kegiatan ekstrakurikuler wushu, tapak suci, menari, musik, grup vokal, kriya, kartun, lukis, presenter, jurnalistik, sepak bola, barongsay, dan ludruk bocah– untuk membantu mereka semakin menemukan nilai-nilai kemandirian, keberanian, dan kejujuran, selain bekal keimanan. ”Empat nilai ini merupakan pilar utama untuk pribadi yang unggul,” ujar Ismadi Retty, salah satu guru.

Lewat kegiatan jurnalistik dan praktik presenter, kata Ismadi, para siswa diajari keberanian. ”Untuk ukuran seumur mereka, berani tampil di hadapan teman-temannya seperti seorang presenter beneran, dan mau mewawancarai orang tergolong luar biasa,” ujarnya.

Pada dasarnya, kata Ismadi, setiap anak yang dilahirkan ke dunia dalam keadaan pintar dan mempunyai potensi tersendiri di luar bidang akademis. Tapi, selama ini orang tua selalu menjadikan prestasi akademis sebagai tolok ukur kecerdasan anak.

”Kecerdasan-kecerdasan nonakademis inilah yang coba kita maksimalkan,” ujar pria yang piawai memberikan dongeng kepada anak didiknya ini.Maka, dalam empat tahun terakhir, prestasi mencuat dari SD ini.
Pada 2002 menjadi juara umum putra Hizbul Wathan Camp, menjadi juara pertama putra untuk lomba qiroah yang diadakan Diknas Kecamatan Gubeng, dan juara kedua putri lomba qiroah pada Porseni 2004, serta juara III kaligrafi putri yang diadakan Universitas 17 Agustus, Surabaya, pada 2004.

Oleh PP Muhammadiyah, SD Kreatif ini dijadikan SD Percontohan. ”Ini salah satu sekolah unggul Muhammadiyah. Orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya harus inden satu-dua tahun ke depan,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Tiap tahun sekolah ini hanya menerima 50 siswa, yang dibagi dalam dua kelas. ”Untuk pendaftaran tahun depan sudah kami tutup,” ujar Zaini.

About these ads

2 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum Wr wb

    salam Pendidikan !!!

    saya adalah Guru di MI Muhammadiyah 2 Pontang – Jember.
    Sebuah terobosan dan inovasi yang sangat menarik sekali, sehingga membuat pendidikan Muhammadiyah semakin Maju dan berkembang pesat serta mampu untuk bersaing dengan pendidikan global. selama ini masih belum pernah terdengan sekolah yang bernada “kreatif” dan tekhnik pengajaranya sangat kreatif.
    Semenjak ter-Ekspose-nya SD Muhammadiyah Kreatif pada saat OLYCON di Malang,Terus terang SD Muhammadiyah Kreatif adalah salah satu sekolah yang dijadikan acuan bagi kami (MIM 2) untuk melaksanakan kegiatan Pembelajaran.

    sekian….

    HIDUP PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH……..!!!!

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    a.n. Kepala Madarasah
    MUDZAKIR

  2. Melihat perkembangan SD Muhammadiyah 16 kreatif memberikan kami di SD Muhammadiyah 8 Tulangan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan semoga jejaknya dapat memberi inspirasi bagi kami salam manis dan smoga tetap arif dalam perkembangannya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 665 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: