Kelemahan Rating TV

Darii artikel sebelumnya, terlihat bahwa memang teknik survey rating Nielsen memiliki validitas internal yang baik, yaitu menggunakan alat ukur canggih yang mampu mengurangi kesalahan masukan data sekecil-kecilnya. Akan tetapi, validitas eksternalnya terlalu lemah untuk sampai bisa mengatakan bahwa hasil rating ini mewakili gambaran umum se-Indonesia karena memiliki beberapa kelemahan, antara lain adalah:

1. Sampel responden tidak representatif
Menurut Direktur Penelitian A. C. Nielsen, Irawati, terungkap bahwa pihaknya sama sekali tidak berpretensi membuat sebuah generalisasi bahwa keluaran rating menunjukkan kecenderungan perilaku menonton masyarakat secara nasional. Sebab, katanya, pengambilan sampel hanya dilakukan di sepuluh kota di tanah air: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makasar, Palembang, Denpasar, Yogyakarta, dan Banjarmasin.

Pengambilan sampel rating itu ternyata juga tidak menjangkau desa-desa yang dihuni delapan puluh persen rakyat Indonesia. Kesepuluh kota itu dipilih sebagai sampel untuk memenuhi kebutuhan pengiklan dan produsen karena sebagian besar barang dan jasa beredar di kota-kota itu. Jadi, di sini jelas bahwa awak televisi tidak bersikap kritis terhadap metodologi rating A.C Nielsen. Boleh dibilang, mereka berusaha memenuhi selera penduduk sembilan kota yang minoritas, tapi justru mengorbankan mayoritas penduduk Indonesia.

2. Rating menekan bahkan membunuh kreativitas insan pertelevisian
Sistem rating yang selalu digunakan sebagai satu-satunya parameter keberhasilan suatu acara televisi telah mendorong terjadinya penyeragaman dan penjiplakan acara. Penjiplakan itu dilakukan terhadap program acara yang sukses memperoleh rating tinggi. Hal tersebut malah cenderung mendorong munculnya siaran-siaran yang mengabaikan nilai dan berpotensi membodohi pemirsa.

Para pekerja kreatif di belakangnya, umpamanya, menjadi `tukang ketik’ yang menulis tanpa perenungan ataupun pendalaman. Mereka sekedar memenuhi tuntutan produksi akan apa yang dipercaya dapat mengejar rating. Sebuah acara yang berating tinggi di sebuah stasiun televisi pasti akan ramai-ramai ditiru habis-habisan oleh stasiun-stasiun televisi yang lain.

3. Rating TV menjadikan pilihan tontonan acara menjadi terbatas
Masih terkait dengan kelemahan sebelumnya, maka dengan adanya peniruan stasiun televisi lain atas sebuah acara televisi yang memiliki rating tinggi, pada akhirnya menjadikan pilihan tontonan acara menjadi terbatas. Setiap kita memindah channel, maka yang akan didapati adalah bobot acara yang kurang lebih sama.

Disinilah sesungguhnya awak televisi telah salah menafsirkan rating dengan menempatkannya sebagai ukuran. Padahal rating bukan kualitas dan hanya melihat jumlah penonton tanpa mempedulikan kesukaan (preferensi). Dengan kata lain, pemuja rating menafikan kemungkinan penonton menonton sebuah acara televisi karena itu kebiasaannya ataupun lantaran pilihan mereka yang pada dasarnya terbatas. Faktor inilah yang bisa menyebabkan rating menjadi tinggi dan mengelabui pemasang iklan maupun awak televisi.

4. Survey rating dilakukan oleh lembaga monopoli tanpa adanya pembanding
Di Indonesia, survey rating dilakukan secara monopoli oleh AC. Nielsen. Monopoli dari biro rating tersebut bukannya membawa perubahan yang positif untuk dunia pertelevisian di Indonesia.

Hasil rating yang mereka keluarkan dalam mingguan bahkan harian tersebut justru mengarahkan dunia pertelevisian kita ke arah siapa yang punya modal dia yang menang (kapitalisme). Bukannya membuat dunia pertelevisian sebagai pionir perkembangan kreatifitas, imajinasi, dan perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

5. Tidak ada audit atas hasil survey
Selain menjadi pemain tunggal, hasil survey AC Nielsen ternyata juga tidak pernah diaudit oleh lembaga lain yang independen. Sehingga tidak salah kalau akhirnya banyak pihak yang mempertanyakan kebenaran hasil rating yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut.

Effendy Ghozali yang memandu acara parody politik “Republik Mimpi – Metro TV”, misalnya mempertanyakan hasil rating acaranya yang rendah dan katanya hanya ditonton oleh kebanyakan orang yang berusia diatas 65 tahun. Kecurigaan-kecurigaan pun bermunculan, misalnya bukan tidak mungkin ada permainan antara lembaga survey tersebut dengan stasiun TV untuk memainkan angka rating acara TV mereka.

Walhasil, belum adanya audit atas hasil rating TV menjadikan banyak pihak belum puas dan percaya sepenuhnya terhadap hasil rating yang dilakukan AC Nielsen.

Rating acara TV yang tinggi, apakah menggambarkan selera masyarakat terhadap tontonan acara Televisi? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu perlu dilihat beberapa pertimbangan berikut:

Pertama, kalau dilihat metode survey yang dilakukan oleh AC Nielsen, maka harus diakui bahwa metode ini memiliki kelemahan yaitu dengan pengambilan sampel yang terbatas, yaitu hanya dilakukan di sepuluh kota metropolitan ataupun besar di Indonesia, dan tidak menyentuh sampai ke pelosok pedesaan.

Sehingga adalah keliru setelah membaca hasil rating AC Nielsen lalu kemudian mengatakan bahwa hasil rating tersebut menunjukkan pola tontonan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Kedua, keakuratan hasil survey rating TV oleh AC Nielsen juga perlu dipertanyakan, karena alat peoplemeter yang dipasang pada televisi responden akan menganggap sebuah acara ditonton kalau ditonton selama 17 detik saja. Disini tidak ada kejelasan mengenai menonton TV dengan seksama atau cuma sekedar memilih channel TV yang diinginkan. Disamping itu, tidak adanya audit atas hasil rating menjadikan angka rating yang dikeluarkan terkesan tertutup bahkan menimbulkan kecurigaan adanya permainan antara AC Nielsen dengan stasiun TV, terbukti dengan adanya acara-acara berkualitas yang diyakini banyak penontonnya akan tetapi justru rendah angka ratingnya.

Ketiga, adanya pemeringkatan rating justru menjadikan minimnya kreatifitas sebagian besar stasiun televisi swasta, sehingga ketika ada acara sebuah stasiun swasta memiliki rating tinggi meskipun tidak berkualitas dan tidak edukatif, maka stasiun TV yang lain akan latah mencoteknya.

Hal ini menjadikan pilihan pemirsa TV menjadi terbatas. Oleh karena itu boleh jadi rating acara TV yang tinggi tidak sepenuhnya menggambarkan kesukaan atau selera masyarakat, akan tetapi justru karena pilihan acara TV yang terbatas. Analoginya persis seperti orang yang kelaparan dan sebenarnya mau makan nasi, akan tetapi karena nasi tidak ada dan yang ada hanya roti, maka daripada tidak makan dan kelaparan, maka rotipun jadi.

Dengan melihat pertimbangan-pertimbangan diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hendaknya kita tidak gegabah dalam membaca hasil rating, karena tidak sepenuhnya refresentatif mewakili seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hasil rating tersebut harus dibaca sebagai minat atau selera tontonan acara TV masyarakat yang ada di sepuluh kota metropolitan atau besar di Indonesia saja, dan juga tidak menyentuh sampai ke pelosok pedesaan yang padahal notabene 80 persen dari seluruh masyarakat Indonesia.

2. Hasil survey tersebut juga tidak dapat dianggap akurat sepenuhnya, karena menganggap sebuah acara telah ditonton apabila ditonton minimal selama 17 detik saja, dan juga tidak pernah ada audit atas hasil suvey yang dikeluarkan oleh AC Nielsen.

3. Tingginya rating sebuah acara TV tidak lantas menunjukkan minat atau selera tontonan masyarakat kita, dikarenakan kurangnya kreatifitas sebagian besar stasiun TV yang lebih suka mencontek ketimbang tampil beda dengan yang lainnya.

Pada akhirnya, tingginya rating untuk sebuah acara TV boleh jadi bukan dikarenakan acara tersebut disukai akan tetapi lebih dikarenakan pilihan menu acara yang terbatas.

4. Karena banyaknya kelemahan hasil survey rating TV yang dikeluarkan oleh AC Nielsen, maka untuk dapat menggali dan mengetahui selera tontonan acara TV masyarakat di seluruh Indonesia diperlukan teknik survey lain yang lebih akurat, yang tidak hanya memperhatikan asfek kuantitatif akan tetapi juga kualitatif, misalnya dengan metode wawancara mendalam terhadap masing-masing responden, yang tidak hanya dilakukan di wilayah perkotaan, akan tetapi juga di pelosok pedesaan.

Sumber : http://mahyuni-bjm.blogspot.com/2007/12/rating-acara-tv-dapatkah-dianggap.html

Satu Tanggapan

  1. Apapun kelemahannya, kalau menurut saya rating TV cukup bagus sebagai ukuran seberapa populer acara di suatu TV :-)

Tinggalkan Balasan