Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/

2007/bulan/04/tgl/24/time/142458/idnews/771918/idkanal/10

———————————————————————————–

Eks Walikota Bogota: Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana
Ramadhian Fadillah - detikcom

Jakarta - Pembangunan mal di kota-kota besar tidak selamanya menunjukkan citra positif. Bisa jadi justru negatif. Mantan Walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penalosa, menilai ciri kota sakit bisa dilihat dari banyaknya jumlah mal.

Makin banyak jumlah mal, makin sakitlah kota tersebut. Karena pembangunan mal dipastikan telah memangkas ruang publik.

Kota yang baik, menurut Penalosa dalam seminar di Hotel Mandarin Oriental, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/4/2007), adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya.

“Kota yang baik membutuhkan tempat untuk penduduk dapat berjalan kaki, penduduknya harus bisa berkumpul bersama,” ujar Penalosa.

Ketika mal menggantikan ruang publik sebagai tempat bertemu warga, maka kota itu bisa dicirikan sebagai kota yang sakit.

Sebab pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Mal hanya mencegah orang miskin tidak masuk ke dalamnya. “Memisahkan antara si kaya dan si miskin. Jelas orang miskin tidak akan merasa nyaman di mal,” tegas dia.

Kota yang baik, imbuhnya, harus menghormati harga diri manusia. “Di kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama,” katanya.

Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. “Mereka sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar,” ujarnya.

Lalu Lintas Jakarta akan mati tahun 2014

Sumber

Sementara itu jarak 14,6 km antara Kalideres dan kawasan Jalan Gajah
Mada yang dulu dapat ditempuh dalam 29,5 menit, tahun 2000 harus
ditempuh selama 51,7 menit atau meningkat 75%. Semakin lama waktu
tempuh antara beberapa kawasan di Jakarta semakin meningkat terus
menerus seiring dengan peningkatan volume kendaraan baru di jalanan
(contohnya tahun 2005 pertumbuhan mobil baru mencapai sekitar
530.000 unit secara nasional).

Jumlah kendaraan di Jakarta sampai tahun 2003 mencapai 6.506.244
unit. Dari jumlah itu 1.464.626 di antaranya merupakan jenis mobil
berpenumpang, 449.169 mobil beban (truk), 315.559 bus, dan 3.276.890
sepeda motor. Pertambahan paling fantastis terjadi pada jenis
kendaraan sepeda motor yang pertumbuhannya mencapai ratusan ribu
kendaraan pada tahun-tahun terakhir ini (tahun 2001 sepeda motor
bertambah 333.510 unit, tahun 2002 bertambah 223.896 unit, tahun
2003 bertambah 365.811 unit)

Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum
memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah
kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi
dan 2% kendaraan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut 2%
kendaraan umum lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut
oleh 98% kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan
perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar
49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut
sekitar 50,3% penumpang.

Tingginya angka perjalanan di Jakarta membuat ruas-ruas jalan
tertentu mendapat beban yang terlampau berat, bahkan di atas normal.
Penelitian di 34 titik jalan arteri di Jakarta yang dilakukan
Departemen Perhubungan RI pada tahun 2000 menunjukkan ada 32 titik
(94%) ruas jalan arteri di Jakarta yang melebihi kapasitas. Artinya,
tak ada jalan arteri di Jakarta yang bebas dari macet.

Pada jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di jalan-jalan utama Kota
Jakarta hanya bergerak 12 km/jam. Hujan deras akan langsung
melumpuhkan urat nadi lalu lintas kota. Dampaknya fantastis:
kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun
rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi
kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang
diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun. Dampak pada tahap
selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota (bahkan
negara) dan merosotnya kualitas hidup warga kota.

Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation
Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development
Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem
transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun
2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu
didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per
tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai
1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti
di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800
meter.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merancang pola transportasi
makro (PTM) untuk menghindari kematian lalu lintas Jakarta pada
tahun 2014. Pola itu bakal memadukan empat sistem transportasi umum
yang banyak dipakai di kota metropolitan dunia: bus cepat di jalur
khusus (busway), kereta ringan dengan rel tunggal (monorel),
jaringan mass rapid transit (MRT), dan jaringan angkutan air. Sistem
terpadu ditargetkan selesai 2010 di mana diharapkan akan tercipta
lalu lintas tertib terkendali, polusi udara berkurang, tingkat
kecelakaan menurun, perubahan budaya menuju masyarakat disiplin dan
kegiatan tepat waktu.

Sayangnya visi strategis itu terkadang masih berbenturan dengan
kebijakan taktis yang kontradiktif hingga menyebabkan kebijakan
transportasi kota cenderung tidak konsisten. Contohnya adalah
rencana penambahan ruas tol dalam kota. Kebijakan seperti itu
sebenarnya bertabrakan dengan visi pembangunan jalur busway yang
bertujuan untuk mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi.***

pdat/dari berbagai sumber

Balada Pengendara Roda Dua

Bapak2, ibu2 yth, Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut
kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak ? ibu
pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya.
Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk ‘mengganggu’ kenyamanan anda.
Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena
kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan,
masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tdk
anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi
dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung
jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang
berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari
alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV
bapak ?ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot
anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya). Belum lagi kami takut di PHK,
hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari
anda tidak perlu absen kan ?, kalo masuk kerja?
Sebab kalo sebagian besar dari kami, harus pak-buu… Minimal dipotong uang
transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang
menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan ‘bau
matahari’ dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami
semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus
sejuknya AC mobil anda.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah
memprotes roda empat. Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah
kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir.
Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami. Tentu
berbeda dengan areal parkir bapak-ibu. Memang sih,tarif parkirnya aja beda J.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh
pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, di
atas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat
tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai
tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami
berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami
gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka
yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit
berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri
anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok
belakang.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami
panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor,
buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami
membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan
gede kek, bodo’ amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper
kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah
enaknyaa di mobil.

Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa
menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak
pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan
motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo
kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata.
Amit-amiiiit.

Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya
lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus
‘menerima’ sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan
jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi
Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm
sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus
dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks
mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he
Maaf ya pak-bu. Peace !!!
Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa
rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum
berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau
hampir terlambat.

Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak
punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun
pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!).

Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala
kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di
koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang
bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor
terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu
kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa
penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi
lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami
juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo cuma
10-20 detik. Jadi malu…

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor
roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu
hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi
padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal
mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat
melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan
trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat.
What an ironic…

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak
artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus,
budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis,
gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor
bebek. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan
turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi
mereka.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja
kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak,
benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
Tuhan Maha Adil kan ?

Profil psikologis pengendara sepeda motor

1. Percaya dirinya besar, yakin bahwa mereka beda

Sebetulnya mereka bisa naik angkutan umum, tapi mereka tetap naik
motor, karena mereka yakin bahwa origin-destination mereka beda banget
dengan rute-rute angkutan umum yang dibuat DLLAJR.

Kenapa DKI susah payah mikir buat ngatur jalur motor ? Atur saja rute
bis yang jelas-jelas menjadi hak dan wewenangnya, sehingga mendekati
origin-destination masyarakat yang perlu transport umum.

2. Pengendara motor adalah orang yang rasional

Mungkin sebagian dari mereka sebenarnya mampu beli mobil sederhana,
atau pernah punya mobil. Tapi setelah krisis ekonomi dan kenaikan harga
BBM bertubi-tubi mereka memutuskan untuk naik motor saja.

Merekalah orang yang merespon kesulitan ekonomi secara rasional.

3.Pengendara motor sayang keluarga (keluarga inti)

Pada akhir pekan mereka membawa seluruh keluarganya naik motor ke Ancol
atau Taman Mini, membawa makanan sendiri. The whole family in one
motorcycle.

4. Mereka berusaha melindungi keluarganya

Bis kota itu kurang friendly untuk wanita dan anak-anak, lebih-lebih
waktu masuk dan bubar kantor/sekolah. Semua bis-metromini- Kopaja penuh
berjejal, wanita berdempetan dengan yang bukan muhrim, anak-anak tidak
bisa nafas karena mukanya terhimpit perut dan pantat orang-orang yang
berdiri di sekeliling dia.

Pengendara motor tidak mau keluarganya ada dalam kondisi tidak enak
seperti itu. They are just too proud.

5. Mereka juga sayang keluarga besar (extended family)

Dibela-belain kehujanan kepanasan keanginan, mereka mudik naik motor,
untuk menemui simbok di kampung.

Ketimbang ditipu oleh sopir dan kernet bis antarkota yang tak kunjung
jera melanggar aturan tarif lebaran.

6. Mereka dermawan dengan suara klakson

Semua yang menghalangi diberi suara klakson. Lumayan … pengendara
mobil jadi tahu bahwa ada motor mau nyusul dari sebelah kiri. Suara
klakson ditambah lampu motor yang nanti harus nyala siang dan malam,
akan membuat pengendara mobil akan lebih awas bahwa motor dari arah
samping tidak mau ngerem, jadi hati-hatilah kalau mau memintas.

Di tempat kerja mungkin mereka tertindas …. di jalan raya mereka
melampiaskan kekesalannya lewat klakson.

7. Sesama pengendara motor ada ikatan batin

Ketika lampu setopan menyala merah, mereka akan berkumpul paling depan.
Melewati garis putih batas berhenti.
Kenal-tidak- kenal mereka akan bicara, saling tukar informasi mengenai
jalur terpendek untuk mencapai tujuannya.

Ketika hujan besar turun, mereka akan berteduh di bawah jembatan sambil
mencari teman baru. Soal menghalangi jalan orang lain sampai terjadi
macet, bukan hanya mereka yang berbuat begitu. Sopir angkot dan metromini
juga cuek banget kalo ngetem. Siapa yang lebih sopan ayo ?

8. Mereka membantu polisi

Kalau melihat tindak kriminal semacam jambret, seringkali ada yang mau
bersusah payah mengejar pelakunya sampai diperoleh nomor motor pelaku.
Lalu dilaporkan ke polisi.

Tapi di kesempatan lain, mereka beberapa kali melanggar rambu
lalu-lintas dan ditilang polisi. Apa iya tidak sengaja ?

9. Pengendara motor memanfaatkan ruang semaksimal mungkin

Kalau pagi, jalur menuju tempat kerja mereka akan dipakai 150%.
Artinya, jalur untuk arus lawan akan dipakai juga.

Trotoar akan dipakai juga kalau bisa, yang berarti pejalan kaki harus
nempel di dinding.

Balada Pengendara Roda Empat

Bapak2, ibu2 ,mas2,mabk2, oom2, tante2yth, Sebelumnya saya mohon maaf
bila
tulisan berikut
kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf Bapak2,
ibu2 ,mas2,mabk2,
oom2, tante2 pengguna roda dua mengenai perilaku kami di jalan raya.
Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk ‘menghalangi’ kenyamanan
anda.
Bila kami terlihat suka menutup lajur kiri, itu hanyalah karena
kami merasa kesal. Ini tentunya bagian kiri kendaraan kami baret.
Tentunya rasa kesal ini tdk
anda rasakan, karena dinginnya hembusan angin sewaktu anda kebut di
jalan raya.
Jadi kami beri sebelah kanan selaku jalur cepat untuk anda lewati
heheheehe

Bila anda melihat kami tak mau mengerem bila ada motor yang masuk
jalur kami
secara mendadak ,,itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami
mengikuti hukum
fisika dimana massa kendaran kami lebih berat sehingga bila kami rem
mendadak
daya dorong balik terhadap massa kendaraan akan lebih berbahaya untuk
kami dan
yang dibelakang atau sekitar kami. Rasanya kami pasti kalah bila
berdebat Dengan
anda yang berprinsip kendaraan kecil pasti benar, karena SIM anda
bisa jadi
hasil nembak (maaf ya). Belum lagi kami harus dimintai duit bila
berurusan
Dengan polisi. Tentunya anda tahu bila berurusan Dengan polisi kan??
Dan juga
memberi duit pada anda yang harus diamputasi tangan serta kaki karena
ada
dibawah mobil kami.
Sebab bila berurusan Dengan polisi, uangnya besar pak-buu, mas,
tmbak, oom,
tante.. Minimal bisa separo harga mobil , hikss (dari mana duitnya)..

Belum lagi kami takut di PHK bila kami harus dipenjarakan karena
tetap keukeuh
tidak mau dibilang salah. Tentunya anda tidak memikirkan hal ini kan.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah
memprotes roda dua . Kami cukup tau diri kok, dengan pajak atau
parkir yg
terlalu mahal untuk kami , masih saja kami tidak mendapat perlakuan
sesuai pajak
/ tarif parkir yang kami bayar. Sehingga kami, sehingga kami harus
rela
mengalah bila berbicara tentang jalanan atau parkir.

Kami cukup puas dengan memutari dahulu area parkir sehingga waktu
mencari
parkir lebih banyak daripada parkirnya. Tentu
berbeda dengan areal parkir bapak-ibu-mas- mbak-oom- tante. Yang bisa
geletakin
dimana aja.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda dua yang telah
oleh
pemerintah di-anak emaskan. Boleh lewat menerobos lampu merah, dan
kalau
menabrak masih saja dibenarkan oleh polisi (Padahal Undang2nya ada
loh, belum
tentu motor selalu benar) Sehingga kami juga harus putar otak
berakrobat dijalan
raya menghindari desingan kiri-kanan motor , hanya demi
bapak-ibu,mas, mbak,oom- tante bisa cepat sampai
tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat
mobil kami
diisi lebih dari seharusnya sewaktu pergi ke dufan. Tapi kami
gak yakin, apakah anda melihat kami, mengeluarkan dana lebih untuk
mengajak
saudara kami yang kekurangan supaya kami juga bisa berbagi
kebahagiaan Dengan
mereka, Karena mereka belum pernah kesana.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu-mas- mbak-oom-
tante ,
bila melihat kami
panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru memperhatikan
area depan,
kiri-kanan dan belakang kami dari para motor yang mengerem mendadak
dan memotong
jalur kami sewaktu jalan licin, Terkadang kami
membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan
gede kek, bodo’ amat, cukup banting setang terus bisa berenti
ditengah (tengah
ya! Bukan pinggir jalan) jalan yang dinaungi oleh jembatan sementara
kami harus
mengalah oleh anda.

Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu-mas- mbak-tante yang
terbiasa
menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda
tidak
pernah membayangkan, betapa rawannya pulang kerja di malam hari dengan
mobil . Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan,
kalo begal
banyak beraksi dimalam hari adalah isapan jempol semata. Hii..

Kami juga gak protes kok, bila setang anda menghancurkan spion mahal
kami atau
membikin baret cat kami yang belum tentu kami bisa menggantinya dalam
waktu
dekat karena pasti dipecahin atau dibaretin lagi oleh motor -motor
anda. Mungkin
karena kami naik mobil disangka ATM berjalan yee. Hi hi hi

Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm
sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama mengendarai mobil , mata
kami harus
awas agar tidak melanggar LALIN ditengah sesaknya pengendara motor..
Naaah
begitu ditabrak secara refleks
mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he
Maaf ya pak-bu-mas-mbak- oom-tante. Peace !!!

Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi
setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara
ini. Dan gak
bikin orang lain menderita.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami berpendidikan. Walau beberapa
rekan kami masih setia berprofesi sebagai sopir (taxi, mikrolet) Yang
harus
ngedumel karena mobil majikan dirusak motor.

Memang siih, rata-rata dari kami memiliki tata krama mengemudi .
Karena kami
cukup terhormat untuk menebus SIM dengan benar, walau harus ngulang
berkali-kali. Duit lagi- Duit lagi .. Hikss.

Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan
kepala
kepada bapak-ibu- mas-mbak-oom- tante duluan plus senyum manis, bila
kami bertemu
anda di lampu merah.. Ataupun menjauh dari bapak-ibu-mas- mbak-oom-
tante yang
sedang konvoi dijalan raya karena kami takut duit kami harus keluar
membenarkan
kendaraan kami yang dibaret motor butut anda yang memotong dari kiri.

.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat melihat anda semua
sopan dijalan
saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa kesal dan
gondok bila
melihat anda tertib di jalan. Hehehehe (mungkin gak ya??)

Pernah ga anda melihat kami juga terkadang terenyuh sewaktu anda kena
razia
polisi walau cuma 10-20 detik. Jadi terharu…

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya rombongan pak presiden
bikin
kecelakaan dijalan tol dan supir bis yang malang harus jadi tumbal
disalahkan
pak polisi dan jubir presiden. What an ironic…

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak
artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus,
budayawan, berebut mengiklankan mobil untuk kami. Walau kami tau
persis,
gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan
mobil yang
diiklankan . Sebab kami tau persis, motor mereka ber CC be

sar dan dikawal oleh polisi dan mobil mereka ga mungkin yang bisa
dimuati A’A,
Teteh, Oom, Tante , Adik . Pasti harganya diatas mobil kere kami ini.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing
aja
kok, kepada anda pengendara motor roda dua bahwa tindakan anda
membahayakan
kami juga. Sebab bila anda celaka, kami juga yang harus menanggungnya
walau
belum tentu kami yang bersalah. Kami juga punya keluarga yang harus
kami
tanggung. Kami juga bisa hilang pekerjaan. Tapi rasa tidak adil anda
terhadap
kami , sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.