Mobil Mewah Borong Bensin. Duhh..

Ternyata, tidak hanya rakyat kecil saja yang terkena “dampak” kenaikan harga BBM. Para pemilik mewah pun gak mau kalah sama angkot, motor, dan mobil “kere” lainnya.

Mumpung harga belum naik, tangki mobil kudu diisi penuh. Seperti terlihat di gambar berikut, sepasang BMW dan Toyota Fortuner tertangkap kamera ikut-ikutan antre di SPBU Jl. Gatot Subroto di malam sebelum penetapan harga baru BBM.

Sayang, foto yang dipasang detik.com terlalu kecil resolusinya. Andai lebih besar, mungkin bisa terlihat jelas no polisinya. Jadi kalau ketemu di jalan dengan pemilik mobil2 ini, masyarakat bisa melihat contoh orang-orang serakah yang tidak tahu diri ini.

Memang, tidak ada sanksi hukum yang melarang mereka ikut ”menimbun” bensin. Tapi kalau punya hati nurani, pastinya malu lah. Masak mobil ratusan juta kok ngantri bbm bersubsidi. Gengsi dooonnkkk…


Buang Duit Gaya Dinasti Cendana

Trah Soeharto adalah kisah tentang rumah berjuta poundsterling di
Inggris, reli mobil di Australia, perburuan di Selandia Baru,
perjudian di Christmas Island, dan segunung tas belanja yang tak
sempat dibuka.

BEL itu berdentang nyaring. Sekian menit ditunggu, tak ada yang
membukakan pintu rumah mewah di Winnington Road No. 8, Hampstead,
London, itu. Padahal dua mobil mengkilat?VW Caravelle biru langit dan
Honda Legend merah?terparkir di halaman depannya yang tak berpagar.
Rumah bergaya Victorian itu jelas masih berpenghuni. Pekarangannya,
yang berbatu paving, tertata rapi. Bunga berwarna kuning, biru, dan
putih menghiasi tamannya yang asri lagi luas. Dindingnya, yang tak
bersemen, didominasi warna merah bata, padu dengan warna putih dari
kusen pintu dan daun jendela.

Beberapa ratus meter dari situ?masih di jalan yang sama?berdiri sebuah
bangunan yang jauh lebih mewah, mirip puri bangsawan Inggris tempo
dulu. Nomor rumah berbalkon putih itu: 89. Luasnya dua kali lebih
besar dari yang pertama. Menurut seorang sumber TEMPO, rumah itu
adalah gedung yang dibangun baru. Setelah dibeli, bangunan semula
dirobohkan. Di teras, terpampang tulisan “Hillcrest” dari logam
keemasan. Tapi, di pojok kanan halaman depan kedua rumah itu, terlihat
sebuah papan mencolok bertuliskan: “For Sale”?dijual. Di bawahnya
tertera nama sebuah agen properti: John D. Wood & Co.

Kedua rumah itu memang kerap menjadi gunjingan orang. Ini bukan cuma
karena kemewahannya? Hampstead, yang terletak di daerah berbukit,
adalah kawasan hunian paling prestisius di London?tapi juga karena
pemiliknya bukan “orang sembarangan” . Mereka adalah Sigit Harjojudanto
dan istrinya, Elsje Ratnawati Harjojudanto, putra dan menantu mantan
presiden Soeharto?yang lagi diperiksa karena kasus korupsi dan
penyalahgunaan kekuasaan. Adalah Andrew Buncombe, wartawan harian
terkemuka di Inggris, The Independent, yang pertama kali mengangkatnya
ke permukaan. Tulisannya di edisi 16 Maret lalu, bertajuk Suhartos
Sell Boltholes in UK for ? 11m (”Keluarga Soeharto Menjual Rumah
Pelarian di Inggris Seharga 11 Juta Poundsterling” ), menjadi bukti
kesekian?dari setumpuk bukti yang sudah ada?betapa trah Soeharto
menjalani kehidupan bak syekh padang pasir.

Dalam laporan itu, Andrew Buncombe menggambarkan betapa “wah”-nya
(dengan W besar) rumah keluarga Sigit itu: berlantai marmer, memiliki
delapan kamar, lengkap dengan aula untuk jamuan makan. Menurut pemburu
harta Soeharto, George Junus Aditjondro, sejak Januari lalu puri itu
telah ditawarkan lewat agen John Wood & Co. Harganya selangit: ? 8
juta, atau jika dihitung dengan kurs Rp 15 ribu, ya ampun, mencapai Rp
120 miliar! Koresponden BBC di Jakarta, Jonathan Head, menjelaskan
kepada Prabandari dari TEMPO bahwa rumah itu memang luar biasa mewah.
Dia membandingkannya dengan harga rata-rata rumah kelas menengah di
Inggris, yang hanya ? 200 ribu atau cuma seperempat puluhnya! Rumah
satu lagi, atas nama Sigit sendiri, juga telah ditawarkan seharga ?
1,95 juta. Bangunan berlantai tiga dengan lima kamar tidur tersebut
biasanya digunakan oleh para pembantu keluarga itu.

Ada satu rumah lagi yang dibidik The Independent. Di seberang Sungai
Thames di 38-A Putney Hill, berdiri Norfolk House, kepunyaan saudara
tiri Soeharto, Probosutedjo. Rumah itu berlantai tiga, plus sembilan
kamar, garasi ganda, empat ruang resepsi, sebuah ruang biliar, dan
pekarangan rumput yang luas. Menurut penelusuran George, bangunan itu
semula dibeli Probo seharga ? 93 ribu. Tapi, sejak Januari lalu, lewat
agen real estate Foxtons, Probo memasang tarif ? 1,4 juta untuk
melegonya.

Ditemui TEMPO di kantornya di kawasan Chanary Wharf, London, Andrew
yang pernah meliput Tim-Tim ini menyatakan sudah cukup lama mendengar
kabar soal istana Cendana di negaranya itu. Cuma, konfirmasi amat
sulit diperoleh. Baru pada musim panas lalu, sepekan sebelum berita
itu diturunkan, kepastian datang dari HM Land Registry, semacam badan
pencatatan kepemilikan properti. Ia menunjukkan keterangan “Swansea
District Land Registry” bernomor NGL714482 tertanggal 26 Juli 1994,
yang jelas-jelas menerakan nama Elsje Harjojudanto sebagai pemiliknya.

Temuan ini baru sebagian kecil. Menurut George, yang mengaku memasok
informasi ke The Independent, ada beberapa properti Cendana lainnya di
London. Cuma, karena properti itu belum dijual, ujung pangkalnya belum
bisa dipastikan betul. Putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana
alias Tutut, kabarnya juga memiliki beberapa apartemen di 16 Hyde Park
Square, Mayfair. Ia membelinya seharga ? 350 ribu. Dan untuk
merenovasinya? dilaksanakan setelah krisis moneter?ia merogoh kocek
sebesar ? 110 ribu.

Di kawasan yang sama, tepatnya di 38 Upper Grosvenor Road, juga
terdapat sejumlah apartemen luks milik Siti Hediyati “Titiek” Prabowo.
Seorang sumber TEMPO di London mengungkapkan, apartemen itu pernah
ditawarkan untuk disewa dengan tarif ? 8.000 atau sekitar Rp 120 juta
per bulan. Sementara itu, adiknya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy
Soeharto, memiliki sebuah rumah besar lengkap dengan padang golf 18
lubang di dekat Pacuan Kuda Ascot, London Utara, dan sebuah rumah
peristirahatan di Brighton, kota pantai di selatan London.

Di luar London, dari hasil perburuan George, dinasti itu juga
diketahui memiliki berbagai rumah supermewah dan kondominium, yang
bertebaran dari Jenewa, Hawaii, Beverly Hills-Los Angeles, Boston,
sampai ke Cayman Islands di kawasan Laut Karibia (lihat infografik).
Tommy juga disebut-sebut memiliki sebuah kawasan berburu seluas 2.500
hektare di Selandia Baru. Area itu disebut-sebut teramat istimewa dan
eksklusif. Satu-satunya cara untuk mencapai rumah peristirahatan di
tengah hutan pinus yang mengelilinginya itu adalah dengan helikopter.

Itu baru soal properti. Keluarga terkaya ke-74 di seantero jagat
menurut ranking majalah Forbes?dengan total kekayaan US$ 4 miliar?itu
juga terkenal gila-gilaan dalam urusan menghamburkan duit.
Sampai-sampai ada yang mengibaratkan segampang menggelontorkan air.
Seorang calon pembeli yang pernah mengunjungi rumah keluarga Sigit di
London itu sempat terbengong-bengong. Ia cuma mendapati dua kamar
kosong. Sisanya? Ternyata dipenuhi tumpukan tas belanja dari
Selfridges yang bahkan, katanya, belum sempat dibuka. Sumber TEMPO di
London yang dekat dengan keluarga itu terbahak, “Jangankan di London,
di Jakarta saja mereka sering tidak sempat membuka barang yang telah
dibeli.” Luar biasa. Padahal Selfridges dan Harrods adalah pusat
belanja kalangan jet set di London, yang terletak di Oxford Street
yang kesohor itu.

Keluarga ini juga gemar pamer mobil mentereng. Eno Sigit, salah
seorang cucu Soeharto dari Sigit, semasa kuliah fashion di American
College, London, selalu pulang pergi diantar Rolls Royce mengkilat.
Tentu saja pengemudinya adalah seorang chauffeur?sopir pilihan dengan
setelan jas dan topi hitam-hitam. The Independent juga melaporkan Eno
pernah menggelar pesta di Hotel Hilton yang menghabiskan tak kurang
dari ? 150 ribu atau sekitar Rp 2,25 miliar. Ia juga dikabarkan pernah
mengganti telepon genggamnya dalam waktu sehari cuma karena ia tak
suka dengan warnanya. Semasa itulah di kalangan mahasiswa Indonesia di
sana sangat populer sebuah komentar nyinyir ke arah trah Cendana:
“Ingin menikmati gaya hidup supermewah? Gampang. Jadilah anak dan cucu
presiden.”

Dua orang sumber TEMPO yang pernah kuliah di Boston, Amerika Serikat,
mengungkapkan lagak cucu Soeharto yang lain. Kali ini menyangkut
putra-putri kesayangan Tutut, Dandy dan Danty Rukmana. Sewaktu mereka
kuliah di sana, mulai tahun 1991, gaya hidup dua remaja baru gede ini
luar biasa jumawa, bahkan untuk ukuran orang Amerika. Kedua sumber itu
sering melihat Dandy dan Danty berseliweran di jalan dengan mobil
mewahnya.

Jenis kendaraan yang mereka koleksi pun bukan sembarang merek, tapi
mobil dengan harga selangit, sebangsa Ferrari, Rolls Royce, dan
Porsche. Menurut sumber itu, Dandy bahkan pernah membeli sebuah
Lamborghini- Diablo seharga Rp 1 miliar. Buat warga kota kecil seperti
Boston, gaya hidup mereka amat mencolok. Sampai-sampai, jika sebuah
mobil Lamborghini melintas, orang langsung bisik-bisik, “Itu cucu
salah seorang presiden di Asia.” Sumber itu juga pernah mendengar
cerita dari seorang agen mobil terkenal di kota itu tentang kebiasaan
mereka yang kerap gonta-ganti mobil. “Paling lama, mereka ganti mobil
sebulan sekali,” katanya. Edan.

Yang lebih dahsyat, menurut George, dua remaja ini juga memiliki tiga
rumah mewah di kawasan itu, dengan nilai total US$ 2,5 juta atau, ya
ampun, mencapai Rp 37,5 miliar. Sumber TEMPO mendengar penuturan salah
seorang temannya yang pernah diundang menghadiri pesta di sana. Rumah
itu dilengkapi dengan taman yang luas, kolam renang supermewah, dan
lapangan tenis.

Balap dan judi adalah kisah berikutnya di seputar gelimang harta
dinasti Soeharto. Seorang teman reli Tommy Soeharto menuturkan
bagaimana habis-habisannya mantan bos mobil nasional Timor itu
melakoni hobi mahalnya. Sewaktu survei reli dunia di Medan pada 1997
lalu, kata temannya itu lagi, cuma dalam waktu sepekan, Tommy sampai
“menghabiskan” tiga unit Mitsubishi Evolution IV.

Bukan apa-apa, tiga mobil yang harga setiap unitnya Rp 250 juta itu
ringsek mencium tebing. Dan dalam setahun setidaknya Tommy harus
menghabiskan 10 unit mobil survei. Teman reli Tommy yang lain
menuturkan keterbengongan seorang wartawan Australia yang
mewawancarainya. Waktu itu, kepadanya ditanyakan pihak mana yang
mensponsori tim relinya. Si wartawan melongo ketika diberi tahu bahwa
seluruh dana?yang bisa mencapai ratusan juta sampai miliaran rupiah
sekali reli?ditanggung pihaknya sendiri, alias tanpa sponsor. Padahal
pereli kelas dunia tak mungkin berlaga tanpa ada yang mensponsori.

Berbagai kasino kondang di seantero jagat pun luber dengan uang klan
Soeharto. Di Christmas Island, Burswood Casino, Australia, atau
Genting Highland, Malaysia, misalnya, nama beken anggota Keluarga
Cendana sudah menjadi buah bibir. Seorang sumber TEMPO yang berkawan
dekat dengan Ari Sigit, kakak Eno, menuturkan ulah cucu Soeharto yang
satu itu. Ceritanya begini. Ketika itu, Ari ikut reli di Malaysia
dengan bendera timnya, Sexy Motor Sport, yang mengandalkan kedigdayaan
mobil Audi. Pamannya, Tommy, juga ikut balap dengan timnya, Goro
Rally.

Di suatu sore, setelah kandas di arena balap, Ari mengajak semua
anggota rombongannya ke Genting Highland, pusat perjudian terkenal di
sana. Tak jelas seberapa tebal ringgit yang ia habiskan di meja judi.
Yang jelas, silakan hitung sendiri, sampai ayam berkokok, putra sulung
Sigit Harjojudanto itu masih asyik menjajal baccarat, black jack, dan
rolet. Padahal semalaman itu tak sekali pun ia dikunjungi Dewi
Keberuntungan, alias kalah melulu. Tapi ia rupanya tak begitu ambil
pusing soal kalah menang. “Ia sekadar cari hiburan,” kata sumber itu
menjelaskan kenapa Ari tidak juga balik kanan kendati koceknya sudah
bolong besar.

The Independent juga menggambarkan bagaimana entengnya Tommy
menghamburkan uang di meja kasino. Salah seorang temannya yang pernah
berjudi bareng di Ritz Casino, London, punya cerita menarik. Suatu
malam, Tommy keok terus. Duitnya amblas sampai lebih dari ? 1 juta (Rp
15 miliar). Tapi putra bungsu Soeharto ini kelihatan tak begitu ambil
peduli. Dengan entengnya, seolah tak terjadi apa-apa, ia langsung
mengajak teman-temannya makan malam di sebuah restoran mewah. Easy
going.

Sang teman reli itu juga mengaku pernah diajak ikut berjudi ke London,
dua tahun lalu. Mereka berangkat bersepuluh dengan jet pribadi “sang
Pangeran”. Waktu itu, di luar kebiasaan, Tommy, yang lebih sering
kalah ketimbang menang, bernasib terang. Duit hasil judi itu pun
langsung amblas. Hari itu juga ia menghabiskannya dengan membeli sedan
reli mutakhir, Subaru Impreza. Waktu itu saja harganya sudah mencapai
setengah miliar rupiah (sekarang berkisar antara Rp 800 ribu dan Rp
1,2 miliar). Dua kasino favorit Tommy adalah di Christmas Island dan
Genting Highland. Di lapangan golf, kegemarannya berjudi juga tak
tertahankan. Berapa nilai taruhannya? “Enggak besar, paling-paling 50
jutaan,” kata temannya itu, enteng.

Begitulah kisah bak raja diraja itu. Boleh saja kalau Anda lantas
berdecak kagum, kaget bukan kepalang, bahkan kesal tak ketulungan.
Silakan bergegas kalau Anda tertarik memburunya.?

Karaniya Dharmasaputra, Dewi R. Cahyani, Ma’ruf Samudra, Wens Wanggut
(Jakarta), koresponden London

Modus Baru Penipuan. Hati-hati..!!

From: Indra Budi
Sent: Tuesday, January 29, 2008 2:18 PM
Subject: HATI2 MODUS BARU KEJAHATAN

Guys,

It just happened to my friend this afternoon… …..

Friends!
Hampir saja hari ini saya dan keluarga menjadi korban penipuan dari
seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Sekitar jam 10 pagi tadi, saya menerima telepon dr seseorang yang
mengaku Iptu Slamet dari Polres Bandung Tengah.
Dia menelepon HP saya dari nomor +622276001473 dan mengatakan bahwa
diduga nomor HP saya telah digandakan dan dipergunakan oleh seorang bandar
narkoba yang sedang dalam target operasi mereka.
Saya diminta untuk me-nonaktifkan HP saya  selama ½ jam guna membantu
kepolisian untuk kepentingan investigasi.
Beruntung, pada saat menerima telepon tsb saya sedang didampingi oleh
salah seorang rekan kerja saya.
Mendengar percakapan yang sedang terjadi, rekan saya segera
mengingatkan bahwa itu adalah salah satu modus oper andi penipuan, dimana sang
penipu akan segera menghubungi pihak keluarga kita di rumah dan
menceritakan bahwa kita sedang sekarat di rumah sakit.

Segera, saya menelepon istri saya dan ternyata HP-nya sedang sibuk
menerima panggilan.
Saya segera menghubungi nomor HP lain miliknya dan ternyata benar, dia
sedang online dengan sang penipu.
Sambil menangis, dia menjawab panggilan telepon dari saya dan tampak
sangat terkejut mendengar suara saya.
Terdengar oleh saya, segera dia membentak sang penipu dan telepon
dengan sang penipu-pun segera terputus.

Ternyata istri saya telah ditelepon oleh seseorang yang mengaku AKP
Agus Wardojo dari Polres Bandung Tengah dan mengatakan bahwa saya terkena
musibah kecelakaan dan sekarang sedang sekarat di UGD Lt. Dasar RS Al
Islam, Bandung . ”Kaki suami anda patah dan luka parah di kepala,
silakan Ibu menghubungi dr. Ramli Hidayat di 92193617” ujarnya.

Untung kami sekeluarga masih dilindungi oleh Yang Kuasa, sehingga
terhindar dari keja dian yang tak diinginkan.
Menurut beberapa rekan saya yang pernah mengalami keja dian serupa,
apabila saya betul-betul me-nonaktifkan HP saya, maka sang penipu akan
berusaha semaksimal mungkin agar istri saya semakin panik, menghubungi
sang dokter yang ternyata masih komplotannya juga dan akhirnya dia pergi
ke RS Al Islam. Inilah yang diharapkan oleh sang penipu. Disinilah aksi
mereka akan merajalela, ibarat masuk ke perangkap.
Suami Ibu butuh penanganan emergency, silakan transfer dana ke . . .
bla bla bla dan teman-teman bisa tebak sendiri deh, gimana ending-nya
kalo sdh begini.

Tolong informasikan hal ini kepada rekan dan anggota keluarga Anda agar
terhindar dr keja dian yang tidak diinginkan.
Ini adalah modus oper andi lama yang kini nge-trend kembali.
Setelah diingat-ingat, beberapa waktu lalu saya sendiri sempat menerima
e-mail dr teman-teman saya yang kurang lebih modus oper andi nya sama.

Just to remind you! Be careful! In case it happened to you . . . data
mereka lengkap sekali!

Regards,

8 Tips Menghindari Kejahatan Hipnotis

Bagaimana Caranya Menghindari Penipuan Melalui Ilmu Gendam ?
Berikut ini beberapa tips untuk menghindari kejahatan Hipnotis yang dilakukan melalui ilmu gendam:

1. Jangan membiarkan pikiran kosong ketika berada di
daerah umum. Pikiran kosong dapat mengakibatkan
gerbang telepathic terbuka, sehingga pihak lain dapat
dengan mudah menyampaikan pesan secara telepathic.

2. Waspadalah jika tiba-tiba timbul rasa kantuk yang
tidak wajar, ada kemungkinan bahwa seseorang yang
bermaksud negatif sedang melakukan “telepathic
forcing”.

3. Bagi mereka yang memiliki kebiasaan “latah”,
sebaiknya jangan bepergian ke tempat umum tanpa teman.
Mereka yang mempunyai kebiasaan “latah” cenderung
memiliki gerbang bawah sadar yang mudah dibuka paksa
dengan bantuan kejutan (Shock Induction). Hal yang
sama juga berlaku bagi mereka yang mudah terkejut.

4. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada beberapa
orang yang tidak dikenal mengerumuni anda untuk suatu
alasan yang tidak jelas. Sekali jangan mudah panik!
Karena rasa panik akan mempermudah terbukanya gerbang
bawah sadar anda!

5. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada seseorang
yang menepuk bahu anda! Usahakan agar pikiran dan
panca indera anda tetap aktif ke seluruh lingkungan!
Jangan terfokus pada ucapan-ucapan orang yang menepuk
anda! Segera berpindahlah ke daerah yang lebih ramai!

6. Jika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas,
dada anda terasa sesak, dan diikuti dengan perut agak
mual, dan kepala sedikit pusing, waspadalah karena
mungkin ada seseorang tengah mengerahkan energi
gendam! Segera lakukan “grounding”, yaitu meniatkan
membuang seluruh energi negatif ke bumi (cukup
visualisasi).

7. Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera
sibukkan pikiran anda, agar tetap berada di frekwensi
yang mengakibatkan efek Hipnotis tidak dapat bekerja!
Antara lain dengan : berdoa dalam hati, menyanyi dalam
hati, atau memikirkan hal-hal yang berat!

8. Akhirnya, tanamkan terus menerus di dalam diri
anda, bahwa Hipnotis tidak akan bekerja bagi mereka
yang menolaknya! Hal ini juga berlaku untuk ilmu
gendam!

Catatan : Tips ini disampaikan oleh Ir. Yan Nurindra,
seorang pakar Hypnotis yang sangat menguasai metode
Western Hypnosis maupun Traditional Hypnosis

Kekerasan pada WNI di Malaysia

(hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

(dari milis Pantau):
============ ========= =====

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
“Tamu Negara” hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
“Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:”kerja ape kau disini?” saya melongo… kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?
“… wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us.
Saya kurung kalian…

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja…

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
“membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia” (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.

« Tulisan sebelumnya