FPI vs AKKB di Sudut Monas
Juni 5, 2008 pada 1:02 pm (Me, Myself, and Mine)
FPI lagi… FPI lagi…
Mungkin itu yang ada di benak kita semua.
Sepertinya, ormas yang satu ini lekat dengan kekerasan.
Dimana ada fpi, disitu pasti timbul keributan.
Yang merusak diskotik lah, menyerbu tempat maksiat lah.
Tapi, apa iya fpi sumber masalah?
Kenapa kita tidak pernah mencoba mencari akar permasalahannya.
Ada asap tentu karena ada api.
Kalau kita hanya mencoba menyingkirkan asap, tentu masalah tidak akan selesai.
Bahkan apinya bisa membesar. Ujung-ujungnya kita semua yang rugi.
Khusus untuk kasus monas, mari coba kita telaah lebih dalam.
Dalam peristiwa ini, FPI jelas salah karena menggunakan kekerasan.
Tapi AAKB juga tidak mutlak benar. Kenapa?
1. AAKB belum dapat izin dari kepolisian untuk menggelar demo di monas. AKKB hanya meminta izin untuk berdemo di bundaran HI. Tapi kenapa malah ke monas? Demo mahasiswa sering dibubarkan paksa karena tidak berizin. Tapi kenapa aakb ini tidak? Hanya kebetulan atau ada apa ini?
2. Menurut fpi, pihak aakb dulu yang memprovokasi dengan sebutan laskar kafir, bahkan ada yang membawa senjata api. Polisi perlu menyelidiki keterangan ini, agar tidak menjadi fitnah semata.
3. Aakb sering mengklaim banyak wanita dan anak-anak yang menjadi korban pemukulan. Buktinya? Maaf kalau saya kurang gaul. Tapi yang saya lihat di tivi, koran, dan internet, belum pernah ada bukti foto yang memperlihatkan pendukung aakb dari wanita dan anak-anak yang menjadi korban pemukulan. Yang banyak ditampilkan sampai berdarah-darah semuanya berjenis kelamin pria.
4. Aakb pernah menyatakan Ketua Laskar Islam, Munarman, mencekik seorang pria yang dicekik yang diklaim sebagai massa aakb. Di kemudian hari, terbukti bahwa pria yang dimaksud ternyata anggota fpi sendiri. Munarman mencekik untuk mencegahnya melakukan penyerangan.
Untuk mencari mana yang benar, pihak kepolisian perlu melakukan analisa mendalam mengenai kronologi detail sebelum dan saat terjadinya bentrokan.
Kalau sumbernya cuma dari media massa, anak tk juga tahu pasti fpi yg salah.
Karena sejauh ini, media hanya menampilkan foto dan berita PADA SAAT penyerbuan berlangsung. Jadi masyarakat hanya bisa melihat anarkisnya fpi. Padahal setiap peristiwa pasti ada kronologisnya. Pasti ada sebab musababnya kenapa fpi sampai melakukan penyerangan. Kenapa bagian ini tidak pernah dibahas oleh media?
Bahkan saking parahnya kejadian ini, presiden SBY sendiri sampai langsung berkomentar dengan mengkritik kepolisian yang dinilai kurang sigap menjaga keamanan. Untuk ini, kita perlu acungkan jempol kepada beliau. Walaupun, untuk kasus selevel ini, sepertinya tidak perlu sampai presiden sendiri yang turun tangan.
Padahal waktu rakyat menjerit minta penjelasan kenapa BBM naik, waktu DPR interpelasi minta presiden hadir, beliau hanya diwakilkan oleh menteri-menterinya. Kalau benar begitu, salut buat akkb. Anda sukses mengalahkan mahasiswa dan DPR dalam hal mencari perhatian kepala negara. Minta resepnya donk..
Okelah, mungkin ini saatnya untuk kita semua berintrospeksi. Bahwa sampai kemudian ada korban luka, pasti ada yang salah. Oleh karena itu hendaknya :
1. Kepada pihak kepolisian, supaya menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Dari hulu sampai ke hilir. Dari penyebab sampai akibatnya. Beberkan semua temuan kepada masyarakat supaya jelas duduk perkaranya.
2. Pihak yang bertikai supaya menahan diri. Tidak perlu ada lagi korban di kedua belah pihak. Serahkan semua kepada pihak yang berwenang.
3. Kepada masyarakat, terutama tokoh yang berpengaruh, agar tidak membuat pernyataan-pernyataan yang memanaskan suasana. Acungan jempol salah satunya tertuju kepada Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi yang meminta warga nahdiyin tidak terprovokasi ucapan-ucapan pihak yang memang ingin memperkeruh suasana.
4. Pemerintah secepatnya mesti memutuskan status ahmadiyah yang jadi pokok permasalahan ini. Kalau memang sesat, cepat keluarkan SKB nya. Kalau tidak sesat, buat keputusan presiden atau apalah. yang isinya menjamin kehidupan beragama bagi ahmadiyah dan pengikutnya. Buktikan kritikan yang bilang bahwa sby lamban atau bahkan tidak bisa mengambil keputusan. Jangan hanya pandai beretorika dan bersilat lidah saja itu tuan malarangeng bersaudara.
Masa sih kita mesti menunggu pemilu 2009 untuk mendapatkan pemimpin yang bisa mengambil keputusan :)