What The Hell Are Going On Their Mind?

Barusan ada sales brownies yang narik setoran dan ambil sisa brownies yang masih ada. Warung kecil kayak gini aja, bakul brownies sampe tiga. Mau nolak waktu mereka nitipin dagangan, gak tega, wong sama-sama lagi usaha. Tapi kalau lagi sepi gini, dagangan sisa banyak, setoran gak seberapa, kasihan juga.

Suplayer brownies tadi dari luar kota, salesnya anak muda, pake sepeda motor . Narik setoran senilai Rp. 5600. Lima ribu enam ratus rupiah sodara-sodara! Sering juga lebih sedikit dari itu. Gak tega nyebutinnya. Narik jarak seminggu dari saat nitip dagangan dulu. Seminggu sodara! Untuk ambil 5600 rupiah..

Bayangin biaya hidup anak muda jaman sekarang, biaya transport ngider, biaya produksi si brownis, de el el. Laa khaula walaa quwwata illa billah..

Sales itu gak sendiri. Ada banyak orang-orang hebat serupa dia. Sales aneka krupuk, bolu, kacang bawang, kacang telur, dodol kacang ijo, dan lain-lain. Mengukur jalan di terik siang, menyambangi satu persatu warung, ngecek dagangan, narik setoran dan ngambil sisa dagangan yang jamuran, entah mau diapakan…

Sambil mengansurkan recehan itu, saya kadang berucap masygul. “ Lagi sepi je, Mas!”.

Mereka tak mengeluh dan hanya berucap , “Tak apa, Bu. Makasih!’ . sambil mengemas sisa dagangan dan menatanya kembali di bronjong yang overload itu. Mereka orang-orang hebat. Sepenuh hati saya angkat topi.

Saya menatap dia pergi. Teringat dulu saat suami juga jualan roti. Pernah suatu waktu. Sebuah kios dititipi seratusan biji, seminggu kemudian ditarik, roti sudah berjamur, tapi jumlah masih utuh. Ternyata, persis setelah dititipi,karena suatu sebab, kios tutup beberapa hari. Praktis tak ada yang terjual, semua kembali. Di rumah saya sortir. Beberapa yang masih layak, saya panggang pake sedikit mentega , buat makan sendiri dan dibagiin ke tetangga . *ngelapairmata

Sekarang setiap kali menerima titipan dagangan, apalagi makanan basah, saya berupaya ada display yang memadai biar hal serupa yang terjadi pada saya, tak menimpa mereka.

Beberapa kali saya nolak karena dagangan atau pasar saya liat gak cukup prospektif. Raut mereka kecewa, tapi saya lebih gak tega kalau akhirnya dagangan mubadzir saat ditarik minggu depan. Roti jamuran, bisa diapakan. Sesekali katanya ada peternak lele yang mau nampung, tapi seringkali berujung di tungku alias pawon sodara! Jadi kayu..ah bukan kayu, pokoknya benda yang dibakar bersama merang padi di tungku-tungku dapur orang-orang kampung seperti saya.

Baca lebih lanjut

Olahraga dan Sauna Gratis di KRL Jabodetabek

KRL
Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ JawaraShop.com

~Buat yang ingin merasakan ‘sauna’ gratis ala KRL :)

Saya suka olahraga. Setelah operasi ganti hati yang saya lakukan di Cina, saya jadi sadar bahwa gaya hidup saya ala wartawan memang kurang sehat. Saya biasa begadang yang berarti (sori bang Haji, saya tidak suka begadang kalau tiada artinya), berupa rapat redaksi, mengecek pesan editorial, melihat kemajuan cetak, sampai persiapan pengiriman koran.

Tapi akibat begadang yang berarti itu, baru terasa 20 tahun kemudian. Hati saya bengkak dan satu-satunya cara bertahan adalah ganti hati. Gara-gara hati bengkak itu, saya gampang jatuh hati, termasuk ke Ayu Azhari dan Widyawati . Halah..

Singkat cerita, saya ganti hati di Cina dan memulai kehidupan baru dengan hati berusia 20 tahunan, dan selalu rajin berolahraga. Ketika di PLN, karena apartemen cukup dekat, saya sering berjalan kaki ditemani istri. Setelah sampai di PLN, saya mandi dulu, segar. Hanya ada yang kurang. Enaknya setelah olahraga memang mandi sauna. Sayangnya PLN tidak menyediakan spa di kantor.

Saya terus terang iri pada 400 penduduk Jabodetabek yang tiap pagi dan sore disediakan sauna gratis, bonus dari membeli tiket KRL Jabodetabek. Mau beli tiket ekonomi atau Commuter Line yang ber-AC, semua diberi bonus sauna. Perusahaan penyedia jasa KRL Jabodetabek ini memang sangat pengertian.

krl-sauna-

Sore setelah lelah bekerja, mengejar bis atau jalan ke stasiun, badan tentu capek. Karena itulah dengan membeli tiket Rp 8.000 atau 9.000, bisa mendapatkan sauna gratis antara 30-90 menit. Kadang diberi bonus bisa 2-3 jam, tergantung saat itu ada bonus pantograf atau KRL berhenti lama.

Pembaca masih ingat kan beda istilah ‘banjir’ dan ‘genangan’ dari sang ahli mengatasi banjir, macet, dan tata kota? Menurut bang Kumis, ‘genangan’ itu air yang berkumpul di suatu tempat, karena sesuatu dan lain hal, yang akan surut dalam waktu 3 jam. Banjir ya genangan yang lebih dari 3 jam.

Nah, KRL berhenti lama itu kalau berhenti karena sesuatu dan lain hal, dalam waktu kurang 3 jam. Kalau lebih dari 3 jam, itu namanya mogok. Rata-rata KRL yang ada ‘sesuatu’, sudah bisa ditarik dalam waktu 3 jam. Jadi technically itu bukan mogok.

Soal sauna, sayangnya tidak semua penumpang bersedia diberi bonus, dengan berbagai alasan. Ada yang suka naik ke atap, disebut atapers. Sepertinya mereka lebih suka sun bathing.

krl-tingkat

Baca lebih lanjut

6 Alasan Birokrat DKI yang Kantornya Masih ‘Tidur’ Saat Jokowi Sidak


Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kemarin melakukan sidak ke 2 kantor kecamatan, Kecamatan Senen dan Kecamatan Cempaka Putih, serta 2 kantor kelurahan, Kelurahan Senen dan Kelurahan Cempaka Putih Timur. Hasilnya, banyak birokrat belum di kantor saat jam buka pelayanan warga dimulai. Alasannya? Seperti berikut ini.

Jokowi berangkat dari Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta pusat, sekitar pukul 07.30 WIB, Selasa (23/10/2012). Jokowi menggunakan mobil Innova hitam bernopol B 1123 RFR.

Setelah sampai di kantor kelurahan Senen sekitar pukul 07.45 WIB, raut muka Jokowi terlihat serius karena melihat hanya ada sekitar 7 pegawai di sana. Bahkan Kepala Kelurahan Senen juga beserta wakilnya belum datang ke kantor.

Tidak hanya ke Kelurahan Senen, Jokowi juga langsung menuju ke Kecamatan Senen yang hanya berjarak beberapa meter dari Kelurahan Senen. Sama seperti kondisi di Kelurahan Senen, Kepala Kecamatan Senen hingga pukul 07.50 WIB masih belum datang saat Jokowi berkunjung ke kantornya. Jokowi hanya terlihat berbicara dengan salah satu pegawai kecamatan dan bergegas pergi lagi.

Jokowi kemudian datang ke Kecamatan Cempaka Putih sekitar pukul 8.35 WIB. Jokowi melihat loket pelayanan KTP belum buka. Apa alasan para birokrat DKI itu?

Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

1. Antar Istri ke Pertemuan PKK

Ibu PKK

Lurah Senen, Jakarta Pusat Anwar Maolana absen saat Gubernur DKI Jokowi datang ke kantornya. Anwar tidak ada di tempat, alhasil Jokowi pun tak bisa bertemu dengannya. Ke mana Anwar?

Pak Lurah ke Wali Kota, nganterin istrinya kegiatan PKK. Ketemu Ibu Gubernur,” kata Wakil Lurah Senen M Rodi saat ditemui di kantornya, Selasa (23/10/2012).

Saat detikcom menyambangi kantor Kelurahan Senen, Lurah Anwar tidak ada di kantornya. Rodi menyebut Anwar sudah datang tadi, tapi hanya sebentar. Dia kemudian pergi ke kantor kecamatan yang berada tidak jauh.

Acara ini juga yang dijadikan alibi Camat Cempaka Putih, Asril Rizal saat Jokowi tak menemukannya di Kantor Kecamatan Cempaka Putih.

Sebenarnya Pak Camat tadi pagi sudah ada di sini. Sudah Absen. Pak Camat tadi ada acara di Wali kota. Terus berangkat ada acara PKK. Ada Ibu Jokowi di Wali Kota,” tutur Sekretaris Camat, Munawar, saat ditemui di kantornya, Kecamatan Cempaka Putih, Jl Kompleks Perkantoran Rawa Kerbau No 3, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2012).

Munawar menerangkan, di tengah perjalanan ke Walikota, Pak Camat baru mendengar soal Sidak Jokowi di kantornya.

Pak Camat di tengah perjalanan turun karena mengetahui Pak Jokowi ke sini, terus naik ojek ke sini. Sampai di sini Pak Jokowi sudah berangkat,” jelasnya.

Saat detikcom tiba di kantor kecamatan, baik camat maupun wakil camat tidak berada di tempat. Munawar menerangkan, keduanya sedang mendatangi kelurahan-kelurahan sebagai tindak lanjut sidak Jokowi tadi pagi.

“Pak camat sama wakil camat sekarang lagi ke kelurahan-kelurahan menindaklanjuti ada sidak dari Pak Jokowi tadi,” jelasnya.

Tas Seminar Batik @ http://JawaraShop.com

2. Sidak ke Terminal

Sidak Terminal

Bukan hanya Lurah Senen Anwar Maolana, Sekretaris Wakil Lurah Senen, M Rodi pun selaku wakil tidak ada di tempat. Tapi Rodi punya pembelaan. Dia mengaku tengah melakukan kunjungan lapangan.

Saya ke lapangan dulu, ke Terminal Senen dulu,” imbuh Rodi. Namun dia tidak menjelaskan apa saja yang dia lakukan saat berkunjung ke terminal Senen.

Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

3. Hemat Energi

Mati Lampu

Wakil Lurah Senen M Rodi menjelaskan listrik yang belum menyala di kantornya sekitar pukul 08.00 WIB. Rodi beralasan hal itu terkait penghematan energi.

“Kadang-kadang kita ada penghematan, jadi lampu tidak kita hidupin semua. Yang penting-penting saja,” imbuhnya.

“Memang saya yang matiin. Kalau semua dihidupin, itu listriknya turun. AC 3 nyala, kalau lampu semua nyala bisa turun,” tambah Kepala Trantib Kelurahan Senen Saminem.

Baca lebih lanjut

Minimarket Membunuh Pasar Tradisional

Minimarket Ngeyel
Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Dahulu sekitar 20 tahun yang lalu keberadaan Minimarket jarang kita temui. Jangankan di Desa, di wilayah Perkotaan saja keberadaanya hanya banyak kita jumpai di tempat padat penduduk. Dengan minimnya Minimarket pada saat itu, Pasar Tradisional dan Toko Kelontong yang ada di setiap desa-desa ini tentunya menjadi pilihan warga masyarakat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Namun kondisi tersebut sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Keberadaan Minimarket tidak hanya ada di setiap dota-kota, di desa bahkan di desa terpencil sekalipun dengan mudah dapat kita jumpai Minimarket milik perseorangan ataupun milik waralaba. Dengan segala produk dagangannya dengan pilihan merk dan harga mulai dari produk dalam negeri ataupun produk import.

Saat ini sebagian masyarakat lebih memilih berbelanja di Minimarket daripada berbelanja di Pasar Tradisonal ataupun di Toko Kelontong yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Menurut mereka berbelanja di minimarket itu jauh lebih nyaman karena barang-barang yang mereka butuhkan lebih banyak pilihan merk dan harga sehingga dapat di sesuaikan dengan kebutuhannya dan kantong masing-masing pembeli.

Selain itu minimarket-minimarket sendiri menawarkan beberapa fasilitas yang menyenangkan pembeli. Seperti tempatnya yang bersih, pelayannya yang muda dan ramah, memakai pendingin ruangan dan jika ada complain atau keluhan dapat di tangani langsung oleh karyawan Minimarket.

Hal tersebut membuat para pembeli sangat puas, selain mereka dapat membawa pulang barang belanjaan, mereka juga mendapat senyuman dan pelayanan yang baik dari para pelayan Minimarket.

Kondisi tersebut sangat berbeda halnya dengan Pasar Tradisional, pada umumnya pasar-pasar tradisional itu kurang terjaga kebersihannya banyak sampah yang di buang sembarangan, tak jarang ada pengamen dan pengemis yang berkeliaran di pasar sehingga membuat pembeli merasa terganggu dan buruknya pelayanan dari pedagang yang sering diterima pembeli.

Mungkin karena rata-rata pendidikan para pedagang pasar yang rendah, sehingga mereka kurang memahami pentingnya memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pembeli. Dalam berdagang kepuasan pembeli harus di utamakan, supaya mereka tidak kapok dan akan datang kembali.

Jika di pikir-pikir, berbelanja di Pasar Tradional itu lebih hemat jika di bandingkan dengan belanja di Minimarket. Harga di Pasar lebih rendah, jika kita membeli di Minimarket selain kita membayar barang yang kita beli, kita juga di kenakan pajak sehingga hargaya sedikit lebih mahal.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Pasar tradisional memiliki keunggulan pada produk-produk hasil bumi yang sebagian besar produknya masih segar-segar. Hal ini Minimarket sangat kewalahan untuk menandinginya.

-

Belanja di Pasar Tradisional Mendukung Ekonomi Rakyat

Minimarket Ngeyel

Dengan kita berbelanja di Pasar Tradisional selain kita mendapat harga yang lebih miring, kita juga turut serta dalam pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan yang pro terhadap rakyat kecil. Karena Pasar Tradisional itu sendiri terdiri dari pedagang kecil dan pedagang menengah.

Untuk membuat Pasar Tradisonal kembali bersinar, Pemerintah tidak boleh diam saja. Pemerintah harus segera mengambil tindakan yang tegas, dan membuat kebijakan yang lebih mementingkan kepentingan rakyat kecil. Dan harus melakukan pengontrolan secara rutin guna memperbaiki sistem kinerjanya dan supaya tidak ada pihak-pihak yang merasa di rugikan.

Langkah yang harus di lakukan oleh Pemerintah adalah merombak kondisi Pasar Tradisional saat ini supaya tidak kalah bersaing dengan Minimarket. Pemerintah seharusnya memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di Pasar, seperti parkiran umum dan toilet umum yang memadai.

Merapikan stand-stand penjualan, dan membuat Pasar Tradisonal menjadi bersih bebas dari sampah-sampah yang berserakan dimana-mana. Dengan lokasi yang bersih, rapi dan tertata ini akan mengembalikan minat masyarakat untuk berbelanja di Pasar Tradisional kembali.

Pemerintah hendaknya melakukan penyuluhan-penyuluhan terhadap para pedagang secara berkala. Pedagang di Pasar Tradisional harus di beri pengetahuan Bagaimana berdagang dengan baik dan benar.

Seperti menjaga kebersihan lingkungan mereka berjualan, memberikan pelayanan kepada pembeli dengan sebaik-baiknya, dan menjaga kepercayaan pelanggan dengan menjaga kualitas produk dagangannya dan menanamkan sikap kejujuran dalam melakukan timbangan.

Selain itu faktor keamanan harus lebih ditingkatkan supaya pembeli merasa aman dan tidak perlu was-was ketika berbelanja barang kebutuhan.

Peran dari warga masyarakat itu sendiri juga sangat dibutuhkan. Dengan kita berbelanja di Pasar Tradisiona setidaknya kita dapat membantu Pemerintah dalam terwujudnya upaya Pembangunan Ekonomi Berbasis Kerakyatan yang pro terhadap rakyat kecil ini.

Artikel : Kompasiana

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

KRL Anjlok, Sebuah Teguran Atas Keangkuhan Sikap

KRL Commuter Line
Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

Pagi ini begitu membuka detik, saya dikejutkan dengan berita anjloknya KRL di Cilebut, hingga merusakkan 3 gerbong dan peron KA. Hari ini 4 hari sejak diberlakukan tarif baru, yang tidak disetujui, diprotes, tapi mereka pembuat kebijakan mengabaikan protes, bahkan mengatakan “tidak ada gejolak“. “Belum ada protes terkait kenaikan tarif” kata Bapak-Bapak di menara gading sana.

Padahal protes dilakukan dengan berbagai cara oleh teman-teman krlmania. Bahkan sampai Komnas HAM dan beberapa pejabat tidak setuju. Sepertinya di negeri ini belum dikatakan ada protes dan belum didengarkan protesnya sebelum ada tindakan anarki atau chaos.

Lihat saja, pemerintah selama ini abai akan masalah buruh, begitu buruh bergerak, menutup tol, baru mereka mau memikirkan buruh. Hingga ketika buruh “baru mau bergerak” lagi, pejabat-pejabat yang berwenang turun Di kereta comuter, sejauh ini sepertinya “tidak ada tampang” berbuat anarki, mayoritas penggunanya orang kantoran yang lebih tenang. Sehingga sepertinya jauh dari tindakan anarki.

Protesnya lebih “intelek” via egroups, twitter, Facebook, campaign ke beberapa instansi dan pejabat. Namun, sepertinya pejabat-pejabat pembuat kebijakan di KAI/KCJ, “mbeguguk ngotowaton“, tidak bergeming, bahkan terkesan arogan, seolah berkata “Ini wewenang gua. Gua mesti urus ini kereta sesuai keahlian gua, biar bisa untung“.

Kepada penumpang seolah berkata ” Lo mau naik silahkan bayar dengan tarif yang ini, kalau gak mau silahkan gunakan moda angkutan lain“. Sementara pada instansi lain (KOMNAS HAM/DPR) seolah berkata, “ini wewenang gua, lho kagak usah  ikut-ikutan. Toh baik-buruknya KAI/KCJ tanggungan gua

Baca lebih lanjut

Mobil Dinas Bikin Macet, Antisosial Atau Kebelet Pipis?

Mobil Pejabat Masuk Busway
Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Penulis H. Jackson Brown, Jr. berkata, “Pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain, bukan dengan mengorbankan orang lain.” Hal ini belum paralel dengan sikap para pejabat kita dijalan raya. Dengan kawalan motor gede Polisi Militer atau Polri kendaraan mewah yang mereka tumpangi dapat melaju tanpa hambatan ditengah kerumunan masa yang geram.

Ketika kendaraan kendaraan lain terpaksa berhenti atau menepi untuk memberi ruang gerak pada mereka, muncul pertanyaan besar. Sebagai abdi negara yang sejatinya melayani rakyat justru mereka malah ‘menyakiti’ rakyat sendiri? Apakah hal ini berkaitan dengan kealpaan para pejabat terhadap nilai nilai sosial?

Atau kebetulan pada waktu itu pejabat bersangkutan memang sedang kebelet pipis sampai harus memacu mobil cepat cepat agar hajatnya lekas terpenuhi.

Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

Pelanggaran Materi Dan Moral

Sikap seorang pemimpin, ujar pendiri restoran waralaba cepat saji Mc Donald Ray Crock, “bisa dilihat dari standard yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri.” Faktanya pada Maret 2009 terdapat 32,5 juta penduduk miskin dengan penghasilan kurang dari 7000 per hari di Indonesia (laporan BPS). Dilain pihak nilai utang ‘kita’ yang jatuh tempo pada 2010 mencapai Rp 116 triliun (Detikfinance, 26/12/09).

Mempertontonkan kemewahan materi melalui mobil dinas hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial. Para pejabat harusnya merasa malu bila melewati tiap perempatan kemudian mendapati anak anak jalanan, pemulung atau pengamen yang rentan dicederai fisik dan psikisnya oleh pihak lebih berkuasa seperti preman atau Satpol PP.

Tentu masih segar dalam ingatan kasus Baekuni dan robot gedeg yang membunuh lalu mensodomi belasan korbannya? Atau masih santer terdengar berita soal kasus pelecehan seksual terhadap pengamen jalanan perempuan yang kebanyakan masih dibawah umur. Bukankah pengabaian untuk melindungi keselamatan warga negara merupakan pengingkaran terhadap kemanusiaan?

Sementara secara moral, masyarakat umum pengguna jalan juga punya hak untuk mendapat pelayanan maksimal dalam kegiatan berlalu lintas. Karena sudah menjadi tanggung jawab para pejabat untuk memprioritaskan pelayanan publik ketimbang mendahulukan ego.

Benar adanya bila ditilik dari prespektif sejarah, para pejabat kita masih mewarisi tabiat raja raja terdahulu. Mereka senang kalau diperlakukan istimewa seperti dikawal, mendapat pelayanan khusus atau diiring iring seperti ‘pengantin sunat’. Padahal pemahaman feodal tersebut harusnya luluh bila melihat kepentingan lebih luas.

Karena bisa jadi saat mobil dinas mereka lewat hingga membuat kendaraan lain diverboten, disalah satu angkutan kota, terdapat siswa siswa SMA yang akan mengikuti ujian akhir kemudian terlambat datang kesekolah. Bisa jadi juga ada buruh pabrik, tukang bangunan dan karyawan level bawah berstatus kontrak yang terancam dipotong gajinya karena terjebak macet.

Bila alasan melakukan hal tersebut adalah untuk melaksanakan tugas tugas negara, kenapa pula mereka tidak berangkat lebih pagi ketimbang rakyatnya. Dengan segala fasilitas yang telah dipenuhi melalui pajak harusnya mereka bisa bekerja makin trengginas.

Dwight D. Eisenhower berkata,“Kau tidak memimpin dengan cara menindas orang, itu kekerasan namanya, bukan kepemimpinan.” Disadari atau tidak oleh para pejabat, dengan mengabaikan kepentingan masyarakat dan mendahulukan keperluan pribadi hanya akan menimbulkan rasa ketertindasan baru diatas ketertindasan lama.

Dapat dipastikan yang muncul kemudian bukan simpati namun antipati. Koreksi fundamental mesti dilakukan bila tak ingin mengubah ‘rasa benci’ menjadi Chaos.

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

‘Bisa Merasa’ VS Kebelet Pipis

Ditengah kemiskinan yang masih menjadi bahaya laten bangsa ini, para pejabat harus bisa menjaga sikap. Keberadaan mereka ketika dijalan raya hendaknya bisa mencerminkan kalau mereka adalah abdi negara yang ‘membumi’. Kedepan diharapkan muncul penggede yang berani merombak aturan protokoler.

Baca lebih lanjut

Pejabat Ataukah Pemimpin?

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Semua orang ingin sekali menjadi pemimpin, betul? Tidak juga. Yang kita inginkan sebenarnya adalah menjadi ‘pejabat tinggi’, bukan menjadi ‘pemimpin’. Di organsiasi bisnis misalnya, kita ingin menjadi Manager atau Direktur. Dalam pemerintahan, kita ingin menjadi Bupati atau Gubernur.

Saat menginginkan jabatan itu, kita tidak benar-benar ingin menjadi pemimpin bagi umat atau orang-orang yang kita pimpin. Kita, lebih menginginkan kebanggaannya, prestisenya, dan fasilitas menggiurkannya. “Nggak juga tuch!” Saya senang jika Anda menyangkal seperti itu.

Hal itu menunjukkan bahwa Anda memang berniat mengabdikan diri, bukan sekedar berambisi untuk meraih suatu posisi. Apakah itu penting? Bukan sekedar penting. Tapi juga menentukan apa yang kita lakukan selama memegang jabatan itu dan nasib kita sesudah selesai menjabatnya.

Ketika berkata “mengejar jabatan itu baik adanya,” saya mendapatkan respon beragam. Tanggapan paling menarik datang dari para sahabat yang tidak sependapat. Meskipun saya dapat ‘menjawabnya’ dengan argument canggih, tetapi saya tidak berhenti memikirkannya.

Mengapa kita sampai diwanti-wanti oleh Sang Nabi soal tidak mengejar jabatan, padahal dikesempatan lain beliau mengingatkan bahwa kita mesti berani tampil untuk menjadi pemimpin? “Setiap pribadi adalah pemimpin,” katanya. Alhamdulillah, dari proses itu saya mendapatkan pemahaman tambahan.

Terminologi kepemimpinan kita memang sudah dirancukan oleh nafsu untuk menguasai suatu kedudukan. Saya tidak tahu persis, apakah itu disebabkan karena sudah terjadi pergeseran peyoratif dari makna kepemimpinan. Atau memang dari dulu kita belum juga berhasil menerapkan konsepsi kepemimpinan itu secara utuh.

Makanya, memimpin itu sama sekali berbeda makna dari menjabat. Proses pembelajaran saya masih belum berakhir. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna kepemimpinan yang sebenarnya, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:

Jasa Website Instant Murah @ http://JawaraShop.com

1. Setiap Pribadi adalah Pemimpin

Kalimat ini adalah penegasan paling kuat bahwa meskipun saya atau Anda tidak memiliki jabatan apapun; kita adalah seorang pemimpin. Dasar argumennya adalah firman Tuhan dalam kitab suci, dan kodrat ini sudah dimulai sejak Tuhan menciptakan manusia pertama – yaitu Adam.

Seseorang memiliki pilihan untuk berambisi atau tidak berambisi meraih suatu jabatan. Tapi untuk menjadi seorang pemimpin, sama sekali bukan pilihan. Itu kehendak dari Sang Pencipta. Masalahnya, mata kita masih dikaburkan oleh ‘jabatan’ sehingga kita sering merasa kecil atau menilai diri bukan siapa-siapa hanya karena kita tidak menduduki jabatan apa-apa. Padahal, justru sejak dilahirkan pun kita ini memang sudah menjadi pemimpin kok.

Mengapa kualitas kepemimpinan itu tidak menonjol dalam perilaku kita? Itu karena kita lebih suka menunggu untuk mendayagunakannya ‘nanti’ kalau kita sudah mendapatkan jabatan. Sekarang? “Mengapa saya harus berlagak bak seorang pemimpin?” Keliru.

Karena kepemimpinan tidak berkaitan langsung dengan jabatan. Mari kita sadari bahwa di pundak kita ada amanah kepemimpinan yang dititipkan Tuhan. Jadi, mulai sekarang act like a leader suppose to be, meskipun kita tidak memegang jabatan apapun.

Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

2. Berguru kepada Pemimpin Pilihan

Siapa pemimpin panutan yang paling Anda kagumi? Anda boleh menyebut nama mereka. Bahkan, pelatihan-pelatihan kepemimpinan sering mengacu kepada gaya kepemimpinan mereka. Pertanyaan saya; adakah terselip dalam daftar pemimpin panutan Anda itu nama para Nabi?

Dalam pandangan saya, tidak ada pemimpin yang lebih patut untuk diteladani selain para Nabi. Tidak perlu mempermasalahkan Nabi saya atau Nabi Anda siapa. Faktanya, merekalah pemimpin sejati bagi segala umat. Saya pribadi, meyakini semua Nabi yang pernah diutus Tuhan untuk memimpin umatnya.

Sebutkanlah nama Nabi suci Anda; maka saya akan mengimaninya. Para Nabi berbeda dari para raja. Sehingga semua Nabi adalah pemimpin, sedangkan para raja banyak yang menjadi symbol monopoli kekuasaan. Sampai hari ini, kita bisa melihat betapa jauh berbedanya karakter orang-orang yang meniru para raja dengan mereka yang mencontoh para Nabi.

 Para pengagum raja-raja memiliki semangat yang sangat tinggi untuk merebut jabatan yang diincarnya, dengan cara apapun jika perlu. Dan setelah menjabat? Hmmh, kita melihat banyak fenomena tentang tingkah polah mereka. Di kantor-kantor pemerintahan. Maupun di ruang-ruang bergengsi perusahaan.

Sebaliknya, para pencontoh Nabi. Mereka mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya. Karena mereka sadar, bahwa kepemimpinan yang diembannya adalah amanah suci yang mesti dijaga kemurniannya. Kita bisa berguru nilai-nilai itu kepada pemimpin pilihan Tuhan, yang bergelar Nabi.

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

3. Memprioritaskan Orang-Orang yang Kita Pimpin

Setiap umat memiliki kisah indahnya masing-masing tentang Nabi-Nabi mereka. Dari kisah-kisah para Nabi itu, saya menemukan bahwa ternyata mereka selalu berada di garis paling depan dalam setiap urusan kebaikan. Ketika dizaman modern ini kita mengenal pemimpin-pemimpin sederhana yang terbebas dari belengggu hedonisme; kita bersimpati kepada mereka.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 663 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: