Ayam Negeri vs Ayam Kampung

Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi
makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi
menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.

Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : “Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih
suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?” Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.
“Apa maksud ayah?” katanya sejurus kemudian.

“Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu
cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung”, jelas ayahnya.

“Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..”, jawab sang anak
dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. “Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil
dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri”, lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar
untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.

Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal
kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama.

Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.
Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau
pada seutas ranting.

Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu,
benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan
harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan
menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras
dari hari ke hari.

Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas hama. Jadwal
teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu-waktu tertentu, ayam negeri juga diberi
suntikan agar lebih sehat dan produktif.

Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal
dibanding ayam kampung.

Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif. Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari
seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.
Sebaliknya,. ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak
mudah sakit.

Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga
memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan
sambil membimbing anak-anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.

Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : “Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya
sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak
lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin.

Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi
keperluan manusia..”

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?
Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir,
kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri.

Mendambakan hidup nikmat di
mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau
perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.

Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji
besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di
salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi.

Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar
pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.
Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia
peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya.

Hidup tenang dengan
serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.
Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan
ayam negeri.

Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri
menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.
Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari
majikannya.

Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk
memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.
Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia
yang paling hakiki.

Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama
seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena
status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama
seperti ayam negeri.

Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan
terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang
mewah.

Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, hidup susah di
rumah-rumah kumuh dan pengap.

Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk
memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namun pola hidup demikian cenderung membuat orang
menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri.

Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada
sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.
Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut
memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai
aspek sosial lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu
kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif.

Generasi yang mudah patah saat
dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan. Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang
sensitif terhadap berbagai penyakit.

Sumber : Kahita

But They Did Not Give Up!

*But They Did Not Give Up!*

Berikut ini adalah sebagian inspirasi dari “Self Efficacy”-nya Dr. Albert
Bandura, sebagiannya lagi dari memungut di sana dan di sini. Semoga
bermanfaat.

*Abraham Lincoln* berangkat ke medan perang sebagai kapten dan kembali
sebagai prajurit. Kemudian, dia gagal sebagai pebisnis. Sebagai ahli hukum
di Springfield, dia sangat tidak praktis dan temperamental untuk sukses.

Dia beralih ke dunia politik dan kalah pada usaha pertamanya untuk menjadi
anggota legislatif, kemudian kalah lagi dalam nominasi menjadi anggota
konggres, kemudian gagal menjadi komisioner di General Land Office, kalah
lagi dalam pemilihan senator tahun 1854, kalah lagi dalam pemilihan Wakil
Presiden tahun 1856, dan kalah lagi dalam pemilihan senat 1858.

Dia menulis
kepada seorang temannya, “*Saya sekarang adalah manusia hidup yang paling
menderita. Jika apa yang saya rasakan dibagi rata kepada semua umat manusia,
maka tak ada wajah yang ceria di muka bumi ini*.”

*Winston Churcill* harus mengulang di sekolah dasar, dan saat ia memasuki
sekolah berikutnya, Harrow, ia ditempatkan di bagian terendah di kelas
terendah. Selanjutnya, ia gagal dua kali dalam ujian masuk Royal Military
Academy at Sandhurst.

Ia kalah dalam pemilihan anggota parlemen. Ia menjadi
perdana menteri di usia 62 tahun. Ia kemudian menulis, “*Never give in,
never give in, never, never, never, never - in nothing, great or small,
large or petty - never give in except to convictions of honor and good
sense. Never, Never, Never, Never give up*.”

*Socrates*, dijuluki sebagai “koruptor kaum muda yang amoral” karena
ajarannya. Ia meneruskan korupsinya, bahkan setelah dijatuhi hukuman mati.
Ia mati minum racun dan tetap dalam keadaan korupsi.

*Sigmund Freud* menuai “Huuu…!” yang meriah saat pertama kali
mempresentasikan idenya di hadapan masyarakat ilmiah Eropa. Ia kembali ke
kantornya dan tetap menulis.

Guru-guru *Thomas Alva Edison* berkata, “*dia terlalu tolol untuk belajar
apapun*.” Dia dipecat dari pekerjaan pertamanya karena “tidak produktif”.
Sebagai penemu, Edison membuat 1.000 percobaan yang gagal sebelum menemukan
bola lampu. Saat seorang wartawan bertanya kepadanya, “*Apa rasanya gagal
seribu kali?*” Edison menjawab, “*Saya nggak gagal seribu kali. Bola lampu
ditemukan dengan seribu langkah*.”

*Albert Einstein* tidak bisa bicara sampai berusia 4 tahun dan tidak bisa
membaca sampai usia 7 tahun. Orangtuanya beranggapan bahwa dia abnormal.
Salah satu gurunya mendeskripsikan Einstein dengan, “*mentalnya terlalu
lemot, tidak sosial, dan terus bertualang dalam impian bodoh*.” Dia
dikeluarkan dari sekolah dan ditolak masuk ke sekolah politeknik Zurich.
Einstein sangat sedikit belajar bicara dan menulis. Ia bahkan sedikit sekali
belajar matematika.

*Louis Pasteur* hanyalah murid rata-rata di sekolahnya. Ia ranking 15 dari
22 di kelas kimia.

Setelah audisi pertamanya, *Sidney Poitier* dinasehati oleh direktur
casting, “*mengapa kamu tidak berhenti menghamburkan waktu orang lain dan
pergilah keluar sana jadi tukang cuci piring atau apalah gitu?*” Saat
itulah, ia memutuskan untuk membaktikan dirinya dalam dunia akting.

*Henry Ford* gagal dan bangkrut lima kali sebelum dia sukses dengan
mobilnya.

*Stan Smith* ditolak menjadi ball boy untuk Davis Cup karena “terlalu aneh
dan kikuk.” Dia tetap aneh dan kikuk, dan memenangkan Wimbledon dan US Open.
Dan, delapan piala Davis.

*RH Macy* gagal dan bangkrut tujuh kali sebelum tokonya merajalela di New
York.

Saat Bell Telephone Company jungkir balik di masa-masa awalnya,
pemiliknya *Alexander
Graham Bell* menawarkan seluruh haknya ke Western Union seharga 100,000 USD.
Penawaran itu ditolak dengan balasan, “*apa manfaatnya mainan elektronik
yang ditawarkan perusahaan ini*.”

*Michael Jordan* berkata, “*Sepanjang karir Saya, Saya gagal 900 kali
melempar bola. Saya kalah di hampir 300 pertandingan. 26 kali Saya dipercaya
untuk melakukan lemparan kemenangan, dan gagal. Saya gagal dan gagal lagi di
sepanjang hidup Saya. Itulah sebabnya Saya sukses*.”

*Walt Disney* dipecat dari jabatannya sebagai editor di sebuah koran, sebab
dianggap “tidak punya imajinasi dan tak punya ide bagus.” Dia bangkrut
beberapa kali sebelum membangun Disneyland. Faktanya, taman bermain itu
ditolak oleh kota Anaheim dengan alasan hanya akan mengundang manusia sampah
dan gelandangan.

Saat pertama kali *Jerry Seinfeld* manggung sebagai pelawak profesional, dia
melihat audience, terdiam kaku, dan lupa bahasa Inggris. Dia mencoba
berjuang sekitar satu setengah menit sebelum didepak dari panggung. Dia
kembali lagi malam berikutnya, dan menutup aksinya dengan applause yang
sangat meriah.

18 penerbit menolak menerbitkan buku *Richard Bach*. Macmillan akhirnya
menerbitkan “Jonathan Livingston Seagull” di tahun 1970. Tahun 1975, 7 juta
kopi buku itu beredar, hanya di Amerika saja.

Setelah peran pertamanya sebagai bellboy di film “Dead Heat on
Merry-Go-Round” , *Harrison Ford* dipanggil wakil presiden studio film ke
kantornya. “*Duduklah nak,*” ia berkata. “*Saya akan bercerita. Saat pertama
kali Tony Curtis tampil dalam film, perannya hanyalah mengantarkan sebuah
kantong belanja.

Kami melihatnya dan kami langsung tahu bahwa ia adalah
bintang besar.*” Ford membalas, “*Saya kira Bapak melihatnya sebagai kurir
kantong belanja*.” Tuan wakil presiden berdiri dan berkata, “*Kamu nggak
ngerti juga ya, kamu nggak ngerti juga… sekarang minggat deh dari sini!*”

Kepala sekolah *Michael Cain* berkata padanya, “Kamu bakal jadi pekerja di
sepanjang hidup kamu.” Michael Cain mempekerjakan dirinya dan mendapatkan
dua Academy Award.

*Charlie Chaplin* awalnya ditolak oleh berbagai studio di Hollywood sebab
pantomimnya dianggap “nonsense”.

Di SMU, *Robin Williams* terpilih sebagai “Yang Paling Kecil Kemungkinan
Suksesnya”.

Decca Records membatalkan kontrak rekaman *The Beatles* dengan alasan, “*Kami
tidak suka suara mereka. Grup band dengan gitar bakal segera punah*.”
Setelah itu, Columbia Records juga mendepak mereka.

Tahun 1954, Jimmy Denny, manajer Grand Ole Opry, memecat *Elvis
Presley*setelah satu kali manggung. Mereka bilang ke Elvis, “
*Kamu nggak bakal kemana-mana, nak. Sebaiknya kamu kembali menjadi supir
truk saja*.”

*Beethoven* biasa memegang biola dengan cara yang aneh dan lebih memilih
memainkan karyanya sendiri ketimbang memperbaiki tekniknya. Gurunya menyebut
dia sebagai “komponis tanpa harapan”. Ia menulis lima simfoni terkenalnya,
dengan telinga yang tuli total.

Sebuah dealer barang seni menolak *Picasso* saat ia ingin numpang berteduh
menyelamatkan lukisannya dari guyuran hujan. Tak lama kemudian dealer itu
bangkrut.

*Van Gogh* hanya berhasil menjual satu lukisan saja di dalam hidupnya.
Itupun, dijual kepada saudara dari temannya seharga 400 franc (sekitar 50
USD). Ini tidak membuatnya berhenti untuk berkarya menghasilkan lebih dari
800 lukisan.

12 penerbit menolak “Harry Potter” karya *JK Rowlings* sebelum sebuah
penerbit kecil setuju menerbitkan “Harry Potter and The Philosopher’ s
Stone”.

“*Komputer masa depan beratnya tidak akan lebih dari satu setengah
ton.*” (*Popular
Mechanics*, meramalkan kemajuan ilmu pengetahuan, 1949.)

“*Saya rasa, akan ada pasar dunia untuk sekitar lima komputer.*” (*Thomas
Watson*, chairman of IBM, 1943.)

“*Saya sudah kemana-mana di negeri ini dan berbicara dengan orang-orang
terbaik, dan Saya bisa meyakinkan Anda bahwa data processing adalah lelucon
yang tak akan bertahan sampai akhir tahun.*” (Editor kepala untuk buku
bisnis di *Prentice Hall*, 1957.)

“*Tapi apa bagusnya?*” (Insinyur di divisi Advanced Computing Systems *IBM*,
mengomentari microchip, 1968)

“*Tidak ada alasan mengapa orang harus punya komputer di rumahnya.*” (*Ken
Olson*, president, chairman dan founder of Digital Equipment Corp, 1977.)

“*Telepon ini terlalu merepotkan untuk dipertimbangkan sebagai alat
komunikasi. Tak ada nilainya buat kita.*” (memo rapat di *Western Union*,
1876.)

“*Kotak musik tanpa kabel ini tak ada nilai komersialnya. Siapa sih yang mau
membayar untuk lagu yang dikirim kepada orang yang tidak jelas?*”
(Kolega *David
Sarnoff* saat menolak investasi di bidang radio sekitar tahun 20-an.)

“*Siapa sih yang mau mendengar aktor berbicara?*” (*HM Warner*, Warner Bros,
1927 sesaat sebelum era film bisu berakhir.)

“*Mesin terbang yang lebih ringan dari udara. Itu mustahil banget*.” (*Lord
Kelvin*, president, Royal Society, 1895.)

“*Kami lalu pergi ke Atari dan berkata, kami punya sesuatu yang istimewa,
separuhnya menggunakan sparepart Anda, maukah Anda membiayai kami? Kami cuma
mau mengerjakannya, nanti kami berikan seluruhnya kepada Anda. Bayar gaji
kami, kami akan bekerja untuk Anda. Mereka bilang: nggak. Lalu kami pergi ke
Hewlett-Packard; mereka bilang, kami tidak butuh Anda. Anda bahkan belum
lulus kuliah*.” (*Steve Jobs*, founder Apple Computer saat merayu Atari and
HP agar mau berinvestasi untuk membuat PC.)

“*Mengebor untuk minyak? Maksud kamu mengebor tanah untuk menemukan minyak?
Gila luh!*” (Tukang bor yang ditawari *Edwin L Drake* untuk mengebor minyak,
1859.)

“*Pesawat terbang itu mainan bagus. Tapi nggak ada gunanya untuk militer*.”
(*Marsekal Ferdinand Foch*, Professor of Strategy, Ecole Superieure de
Guerre.)

“*Memory sebesar 640K sudah cukup untuk setiap orang*.” (*Bill Gates* of
Microsoft, 1981.)

21 penerbit menolak novel humor *Richard Hooker*, M*A*S*H. Padahal dia
mengerjakannya tujuh tahun.

22 penerbit menolak buku *James Joyce* “The Dubliners”.

27 penerbit menolak buku pertama *Dr. Seuss*, “To Think That I Saw It on
Mulberry Street”

*Jack London* meneriman enam ratus surat penolakan sebelum berhasil menjual
kisah pertamanya.

Novelist kriminal Inggris *John Creasey* menerima 753 surat penolakan
sebelum ia berhasil menerbitkan 564 buku.

*William Saroyan* mengumpulkan seribu penolakan sebelum berhasil menerbitkan
“Way to not take a hint, Bill!”

Kolonel *Harland Sanders *ditolak ratusan kali, sebelum KFC-nya ngetop ke
seluruh dunia.

*Daniel Boone* ditanya apakah dia pernah tersesat di tengah hutan. Boone
menjawab, “nggak, tapi pernah sih kesasar tiga hari.”

*John Milton* menulis “Paradise Lost” selama 16 tahun setelah ia kehilangan
penglihatannya.

Seorang profesor di MIT membuka kursus “Gagal”. Dia melakukannya, katanya,
karena kegagalan adalah pengalaman yang lebih sering terjadi ketimbang
sukses. Dalam sebuah interview seseorang bertanya kepadanya, apakah ada yang
gagal dalam kursusnya itu. Ia berpikir sejenak dan kemudian berkata, “nggak
sih, tapi ada dua yang tidak menyelesaikan. “

*James Sastrowijaya* dari Jakarta, ditolak 20 bank sebelum berhasil
meyakinkan enam bank. Ia kemudian menjadi milyarder properti dengan modal
nol rupiah.

*Masbukhin* si raja voucher, gagal bisnis berkali-kali sebelum menjadi
“Karyawan Ber-Omzet Milyaran”.

Toko *Roni Yuzirman* di Tanah Abang terbakar. Ia kini makin berhasil dengan
toko online, “Manet Vision”.

Seorang peserta seminar *Tung Desem Waringin* mengaku, “Tiga tahun yang lalu
Saya adalah cleaning service di Golden Truly”. Sekarang, Saya punya
Jaguar sendiri.

Sampai detik ini masih ada saja pihak hotel yang bertanya, “Bener nih Pak,
judulnya *Workshop E.D.A.N.*?”

*YET, THEY DID NOT GIVE UP!*

*Ikhwan Sopa*
Trainer E.D.A.N.
+62 21 70096855
*QA Communication
School of Motivational Communication
Your Confidence Solution*

Videos on NLP, Self Confidence, Law Of Attraction, Hypnosis, Positive
Thinking, Affirmation, Motivation, Communication, Leadership:

http://milis- bicara.blogspot. com

Donatur-Donatur Unik yang Menyumbang untuk Korban Gempa Tiongkok

Pengemis dan Tukang Semir pun Serahkan Seluruh Uangnya
Banyak kisah menyentuh di balik gempa bumi di Tiongkok yang membawa korban puluhan ribu nyawa. Dua di antaranya adalah kisah pengemis dan tukang semir sepatu yang merelakan uangnya untuk didonasikan bagi penanganan korban bencana.

Xu Chao adalah pengemis berusia 60 tahun. Meskipun bukan pegawai kantoran yang berpenghasilan tetap, “profesi” yang dilakoni itu tidak menghalangi dia untuk mengulurkan tangan membantu korban gempa di negerinya.

Untuk memberikan bantuan, dia pun tidak segan mendatangi langsung tempat pengumpulan dana di Nanjing, Provinsi Jiangsu. Dengan baju lusuh dan rambut panjang abu-abunya yang tidak terawat, dia datang beberapa kali ke tempat tersebut. Karuan saja, hal itu menjadi pemandangan istimewa.

Apa yang dilakukan Xu itu menunjukkan bahwa dia memiliki empati yang sangat tinggi terhadap para korban gempa. Kondisi yang jauh dari memadai itu pun tidak menghalangi niatnya untuk mendermakan pendapatannya.

Rangkaian donasi yang diberikan Xu diawali dengan CNY 5 (sekitar Rp 6.700), yang dimasukkannya di kotak sumbangan di Departemen Urusan Masyarakat. Hal itu dia lakukan pada Sabtu (17/5) pagi.

Sore harinya, dia kembali melakukan hal serupa. Kali ini jumlahnya jauh lebih besar. Yakni, CNY 100 (sekitar Rp 134 ribu). Sambil memasukkan sumbangan, mulut Xu menggumamkan, “Untuk para korban di wilayah bencana.”

Niat tulusnya untuk membantu para korban bencana gempa bumi itu pun akhirnya membuat dia terkenal. Bahkan, Xu mendapatkan ucapan terima kasih.

Kedermawanannya itu pun segera mengundang perhatian media setempat. Sejak dia diulas di media, setiap orang yang menjumpainya di jalanan menunjukkan kekaguman dan rasa terima kasih mereka.

Selain itu, banyak pula pengunjung yang tergerak atas sikap pengemis sepuh tersebut. Mereka lalu memberinya sejumlah uang. Lalu, Xu pun langsung menyumbangkannya.

Kali ini, jumlahnya jauh lebih besar, yakni CNY 340 (sekitar Rp 455 ribu). “Kondisi yang dialami para korban jauh lebih sulit dibandingkan saya. Jadi, saya ingin membantu mereka semampu saya,” kata Xu tentang apa yang dilakukannya.

Hal serupa dilakukan seorang wanita yang mempunyai pekerjaan sebagai penyemir sepatu di kota Shuangfeng, Provinsi Hunan. Dia pun rela menyumbangkan seluruh penghasilannya seharian. Yakni, CNY 182 (sekitar Rp 243 ribu). “Ini bukan kali pertama saya lihat dia memasukkan uang ke kotak sumbangan. Saya tidak tahu pasti, tapi paling tidak, dia telah sepuluh kali melakukannya,” ujar Wang Yang, pimpinan Departemen Amal di Shuangfeng.

Pagi harinya, wanita yang mangkal di dekat tempat pengumpulan sumbangan itu memasukkan CNY 60 (sekitar Rp 80 ribu). Lalu, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setiap menyemir sepasang sepatu, wanita itu mendapatkan CNY 1 (sekitar Rp 1.300) atau CNY 2 (sekitar Rp 2.600). Dan setiap mendapatkan CNY 20 (sekitar Rp 26.000), dia lalu meninggalkan “pos”-nya dan antre untuk memasukkan sumbangannya ke dalam kotak. Hal itu terjadi berkali-kali.

Kisah-kisah emosional seperti itu banyak terjadi di seluruh penjuru negeri itu pasca terjadinya gempa bumi. Kisah lain, kata Wang, dilakukan 30 orang sepuh yang tinggal di panti jompo. Mereka menyumbangkan CNY 1.120 (sekitar Rp 1,5 juta). “Padahal, mereka pun hidup dalam kemiskinan dan membutuhkan bantuan,” kata Wang.

Mereka yang berkantong tebal pun tidak ketinggalan merogoh koceknya untuk memberikan bantuan. Misalnya, seorang pria paro baya yang berumur 40-an tahun. Dia menyumbangkan uang tunai CNY 50 ribu (sekitar Rp 67 juta).(Chinadaily/dia/ruk)

Indopos

Ndeso..

Dapat email dari temen, bagus juga isinya..

—-

“NDESO” oleh : Ika S. Creech *)

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu.

Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia. Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus.

Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali Dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu Mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doctoral, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta.

Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa? Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan.

Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia “Wanita Tak Senonoh”) , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN.

Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannnya orang sangat penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang juga digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis, dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis. .

9 Penyebab Ketakutan Berbicara di Depan Umum

Dari milis Dunia Wirausaha

———————————————————–

Hampir kebanyakan orang yang pernah merasakan berbicara didepan umum,
pasti pernah mengalami ketakutan. Keringat dingin, gelisah, selalu merasa
ingin ke toilet adalah sebagian refleksi dari rasa ketakutan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian ada 9 penyebab ketakutan yang signifikan ketika
berbicara didepan umum :

1.      Takut akan gagal, ingin selalu sukses dan takut gagal malah
kadangkala membuat ketakutan itu semakin besar.

2.      Tidak ada rasa percaya diri, merasa diri tidak mampu untuk
melakukan hal tersebut.

3.      Traumatis, memiliki rasa takut dan merasa sendirian ketika
berdiri di panggung dan semua mata melihat padanya.

4.      Takut dinilai/dihakimi, hal ini terjadi karena adanya perasaan
takut ketika banyak orang membicarakan dirinya atau pendapatnya.

5.      Terlalu perfeksionis, perfeksionis baik, tetapi terlalu
perfeksionis dan berharap terlalu banyak pada dirinya sendiri malah membuat efek
negatif.

6.      Takut akan orang banyak, merasa tidak nyaman dan tidak percaya
diri ketika berbicara di depan puluhan, ratusan atau ribuan orang.

7.      Kurangnya persiapan, persiapan yang minim membuat rasa takut
untuk berbicara di cepan umum ini semakin menjadi-jadi.

8.      Stress, menghindari stress ketika berbicara di depan umum.

9.      Blank, takut tidak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang
harus dibicarakan ketika berbicara didepan umum.

Semua penyebab ketakutan diatas harus diatasi, pahamilah bahwa semua
orang mengalaminya bahkan pembicara hebatpun pasti pernah mengalaminya.
So…kenali dan taklukan penyebab rasa takutmu.

« Tulisan sebelumnya