Asal Usul Nama Tempat di Jakarta

Kajian sejarah toponomi ini merupakan salah satu upaya dalam menjelaskan sejarah asal – usul nama suatu tempat atau nama kampung yang ada di Jakarta. Ternyata setelah dilakukan penelitian, baik yang bersifat kajian arsip maupun berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa sesepuh dan nara sumber yang layak untuk itu, menyebutkan nama tempat dan nama kampung yang ada di Jakarta, tidak sekedar nama saja.

Hampir semua nama yang dikaji pada pengkajian nama tempat dan kampung kali ini, mempunyai riwayat sendiri – sendiri.Berdasarkan hasil kajian sejarah nama tempat dan kampung yang ada di Jakarta, dapat dikelompokkan asal – usul nama tersebut sebagai berikut:

  1. Nama tempat tersebut berdasarkan suatu peristiwa sejarah yang benar – benar terjadi. Suatu peristiwa yang dianggap masyarakat setempat sangat penting dan selalu menjadi patokan atau dikaitkan dengan nama tempat peristiwa itu terjadi.
  2. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan vegetasi atau tumbuh – tumbuhan yang banyak ditemukan disuatu tempat. Nama tumbuh – tumbuhan yang banyak di suatu tempat, lama kelamaan menjadi nama tempat tersebut.
  3. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan nama seorang tokoh yang pernah bermukim atau yang memiliki tempat tersebut. Karena terkenalnya seseorang disuatu tempat, maka menyebabkan masyarakat lebih mengenal tokoh tersebut, lama kelamaan nama tokoh itu menjadi menjadi nama tempat dan sekaligus sebagai penanda tempat atau kampung.
  4. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan bentukan alam atau letak suatu ditempat tertentu. Masyarakat mengaitkan nama suatu tempat dengan bentukan alam yang khas di suatu tempat,
  5. Nama suatu tempat atau kampung dikaitkan dengan konsentrasi sekelompok orang (pendatang) yang bermukim di suatu tempat tertentu. Masyarakat setempat mengaitkan nama suatu tempat dengan nama suku atau nama etnis ataupun nama tempat asal pendatang yang mendiami tempat tersebut.
  6. Nama suatu tempat atau kampung dikaitkan dengan nama hewan atau nama binatang yang banyak ditemukan ditempat tersebut.

ASAL – USUL NAMA TEMPAT

Ancol

Kawasan ancol terletak disebelah timur Kota Tua Jakarta, sampai batas kompleks Pelabuhan Samudera Tanjungpriuk. Dewasa ini kawasan tersebut dijakdikan sebuah Kelurahan dengan nama yang sama, termasuk wilayah kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara.

Ancol mengandung arti “tanah mendidih berpaya – paya” Dahulu, bila laut sedang pasang air payau kali Ancol berbalik kedarat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Wajarlah bila orang – orang Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zoutelande. “tanah asin” sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada tahun 1656(De Haan 1935:103 – 104).

Untuk menghubungkan Kota Batavia yang pada zaman itu berbenteng dengan kubu tersebut, sebelumnya telah dibuat terusan, yaitu Terusan Ancol, yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan yang sejajar dengan terusan.

Pembuatan terusan, jalan dan kubu pertahanan di situ, karena dianggap srtategis dalam dalam rangka pertahanan kota Batavia. Sifat strategis kawasan Ancol rupanya sudah dirasakan pada masa agama Islam mulai tersebar didaerah pesisir Kerajaan Sunda. Dalam Koropak 406, Carita Parahiyangan, Ancol disebut – sebut sebagai salah satu medan perang disamping Kalapa Tanjung Wahanten (Banten) dan tempat – tempat lainnya pada masa pemerintahan Surawisessa(1521 – 1535).

Angke

Merupakan sebutan sebuah kampung yang terkenal dengan mesjid tua yang bernama Mesjid Al – Anwar, yang dibangun sekitar tahun 1714. Sekarang kampung Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat.

Asal – usul kata angke berasal dari bahasa Cina dengan dua suku kata, yaitu ang yang artinya darah dan Ke yang artinya bangkai. Kampung ini dinamakan Angke karena adanya peristiwa sejarah yang sangat berhubungan dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang – orang Cina di Batavia, ribuan orang Cina dibantai oleh Belanda.

Mayat orang – orang Cina yang bergelimpangan dibawa dan dihanyutkan ke kali yang ada didekat peristiwa tersebut, sehingga kampung dan kali yang penuh dengan mayat itu diganti penduduk dengan nama Kali Angke dan kampung Angke. Sebelum peristiwa itu terjadi, kampung itu namanya adalah kampung Bebek, hal ini karena orang Cina yang tinggal dikampung itu banyak yang berternak bebek.

Lokasi kampung bebek sangat strategis untuk memelihara bebek karena dekat dengan sungai.

[Aries] Mengenai Nama ANGKE, setahu saya yang pernah saya baca dlm sejarahberasal dari nama pahlawan juga, yang beasal dari Banten yaitu PANGERAN TUBAGUS ANGKE, yang sekarang menjadi salah satu nama jalan di daerah tersebut. Tubagus Angke juga salah satu SAudagar kaya dan juga menentang Belanda pada jamannya.

Batu Ampar

Batu Ampar yang merupakan bagian dari kawasan Condet, bahkan biasa disebut Condet Batuampar, dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Batuampar, Kecamatan Keramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Wilayah kelurahan Batuampar di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kelurahan Balekambang, (lengkapnya Condet Balekambang), yang dalam sejarahnya berkaitan satu sama lain.

Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut sebagaimana diceritakan oleh orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet, sebagai berikut.

Pada jaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memeliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.

Supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang – senang di atas empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu disanggupi dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara . Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar, dan bale (Balai) peristirahatan yang seolah – olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat . Balekambang.

Pada awal abad keduapuluh di Batuampar terdapat perguruan silat yang dipimpin antara lain oleh Maliki dan Modin (Pusponegoro, 1984, IV:295). Pada tahun 1986, seorang guru silat di Batuampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun. Tidak mustahil, kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar di mancanegara itu, adalah kemahiran turun – temurun.

Betawi

Merupakan sebutan lain untuk kota Jakarta dan sekaligus sebutan untuk masyarakat pribumi yang berdiam di Jakarta Asal – usul penyebutan nama Betawi ini ada beberapa versi.

Versi pertama menyebutkan bahwa nama Betawi berasal dari pelesetan nama Batavia. Nama Batavia berasal dari nama yang diberikan oleh J.P Coen untuk kota yang harus dibangunnya pada awal kekuasaan VOC di Jakarta. Kota Batavia yang dibangun Coen itu sekarang disebut Kota atau Kota lama Jakarta. Karena asing bagi masyarakat pribumi dengan kata Batavia, maka sering dibaca dengan Betawi.

Versi kedua menyebutkan bahwa nama Betawi mempunyai sastra lisan yang berawal dari peristiwa sejarah yang bermula dari penyerangan Sultan Agung (Mataram) ke Kota berbenteng , Batavia. Karena dikepung berhari – hari dan sudah kehabisan amunisi, maka anak buah (serdadu) J.P. Coen terpaksa membuat peluru meriam dari kotoran manusia

Kotoran manusia yang ditembakkan kepasukan Mataram itu mendatangkan bau yang tidak sedap, secara spontan pasukan Mataram yang umumnya adalah orang Jawa berteriak menyebut mambu tai….., mambu tai. Kemudian dalam percakapan sehari – hari sering disebut Kota Batavia dengan kota bau tai dan selanjutnya berubah dengan sebutan Betawi.

Bidaracina

Bidaracina dewasa ini menjadi nama sebuah kelurahan, kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Menurut beberapa informasi, kawasan tersebut dikenal dengan nama Bidaracina, karena pada waktu terjadi pemberontakan orang – orang Cina di Batavia dan sekitarnya terhadap Kompeni pada tahun 1740, ribuan dari mereka terbunuh mati, bermandi darah. Di antaranya di tempat yang kemudian disebut Bidaracina itu.

Informasi tersebut tidak mustahil mengandung kebenaran walaupun mengundang beberapa pertanyaan, kenapa hanya dikawasan itu yang disebut Bidaracina, karena banyak orang Cina mati bermandikan darah?. Padahal peristiwa pembunuhan itu konon terjadi di pelosok Kota Batavia dan sekitarnya. Kenapa tidak di sebut Cina berdarah, sesuai dengan kaidah bahasa Melayu, yang kemudian berubah menjadi cinabedara, selanjutnya menjadi cinabidara?

Perkiraan lainnya, asal nama kawasan tersebut dari bidara yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara, atau bahasa ilmiahnya Zizyphus jujube Lam, famili Rhanneae, adalah pohon yang kayunya cukup baik untuk bahan bangunan,. Akar dan kulitnya yang rasanya pahit, mengandung obat penyembuh beberapa macam penyakit, termasuk sesak nafas. Di ketiak dahannya biasa timbul gumpalan getah. Buahnya dapat dimakan (Fillet 1888:52)

Ada kaitannya dengan perkiraan tersebut, yaitu keterangan tentang adanya seorang Cina yang mengikat kontrak yang aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth tertanggal 9 Oktober 1684, untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk dengan pohon buah – buahan, termasuk pohon Bidara (De Haan 1911, (11):613). Walaupun di luar kontrak tersebut, mungkin saja seorang Cina menanam bidara di tempat yang kini dikenal dengan sebutan Bidaracina itu.

Cawang

Kawasan Cawang dewasa ini menjadi sebuah kelurahan Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya, bernama Enci Awang.(Awang, mungkin panggilan dari Anwar). Lama – kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.

Kurang jelas, apakah sebagian atau seluruhnya, pada tahun 1759 Cawang sudah menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah – tanah miliknya yang lain seperti Tanjungtimur atau Groeneveld, Cikeas, Pondokterong, Tanjungpriuk dan Cililitan (De Haan, 1910:50).

Pada awal abad ke-20 Cawang pernah menjadi buah bibir, karena disana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan, bernama Sairin, alias Bapak Cungok. Sairin dituduh oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang pada tahun 1924. Di samping itu. Ia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut, di Condet tahun 1916. Condet pada waktu itu termasuk bagian tanah partikelir Tanjung Oost (Poesponegoro 1984, (IV):299 – 300).

Cijantung

Dewasa ini Cijantung menjadi nama sebuah kelurahan, Kelurahan Cijantung, wilayah Kecamatan Pasarrebo, Kotamadya Jakarta Timur.

Namanya berasal dari nama sebuah anak sungai CiLiwung, yang berhulu di Areman, dekat Kelapadua sekarang.

Pada pertengahan abad ketujuh belas kawasan itu sudah berpenghuni, sebagaimana dilaporkan oleh Kapten Frederick H. Muller, yang memimpin ekspedisi pasukan Kompeni pertama yang menjelajahi daerah sebelah selatan Meestercornelis, yang hutannya sudah dibuka setahun sebelumnya oleh Cornelis Senen. Ekspedisi Muller tersebut dilakukan karena terdorong oleh adanya berita – berita tentang adanya gerombolan oarng- orang Mataram di daerah pedalaman, serta adanya jalan darat yang biasa digunakan oleh orang – orang Banten ke Priangan, melalui Muaraberes, di tepi sungai Ci Liwung.

Perjalanan Kapten Muller dari kastil Batavia ke Cijantung, dimulai tanggal 4 Nopember 1657, bersama pasukannya yang terdiri atas 14 orang serdadu kulit putih dan 15 orang Mardijker, dipandu oleh 10 orang pribumi. Setelah berjalan selama tiga hari dengan susah payah merambah hutan, menyusuri tepi Sungai Ci Liwung, barulah mereka sampai di Cijantung yang di huni oleh 12 umpi di bawah pemimpinnya bernama Prajawangsa (De Haan 1911, (II):24).

Mungkin sulit untuk dibayangkan, betapa lebatnya hutan antara Jatinegara sampai Cijantung pada tahun 1657 itu, dibandingkan dengan keadaan dewasa ini.

Cililitan

Kawasan Cililitan dahulu terbentang dari sungai Ci Liwung di sebelah barat, sampai sungai Ci Pinang di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan kawasan Kampung Makasar dan Condet. Di sebelah utara berbatasan dengan kawasan Cawang . Bagian sebelah barat Jalan Dewi Sartika sekarang sebatas simpangan Jalan Kalibata, biasa disebut Cililitan Kecil, sedangkan yang terletak disebelah timur Jalan Raya Bogor, dikenal dengan nama Cililitan Besar. Dewasa ini nama Cililitan dijadikan nama kelurahan, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Cililitan diambil dari nama salah satu anak sungai Ci Cipinang. Dewasa ini anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekas – bekasnya. Kata ci, adalah bahasa Sunda, mengandung arti “air sungai” Lilitan lengkapnya lilitan – kutu, adalah nama semacam perdu yang bahasa ilmiahnya Pipturus velutinus Wedd., termasuk famili Urticeae (Fillet 1888:201).

Pada pertengahan abad ke- 17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikelir Tandjoeng Oost, ketika masih dimiliki oleh Pieter van der Velde (De Haan 1910:50). Kemudian beberapa kali berpindah pindah tangan. Sampai diganti namanya menjadi lapangan Udara Halim Perdanakusumah. Lapangan udara tersebut biasa disebut Lapangan Udara (vliegeld, kata orang Belanda) Cililitan.

Cilincing

Kawasan Cilincing terletak di sebelah timur Pelabuhan Samudera Tanjungpriuk, dewasa ini menjadi sebuah kecamatan, Kecamatan Cilincing, termasuk wilayah Kotamadya Jakarta Utara.

Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan keutara, membelah kawasan tersebut. Cilincing mungkin lengkapnya berasal dari Ci Calincing. Kata Ci, adalah bahasa sunda , yang artinya sungai, seperti Ci Tarum, Ci Liwung, dan Ci Manuk.Cilincing adalah nama jenis pohon, sama dengan belimbing wuluh, averhrhoa Carambola L. Termasuk famili Oxalideae (Fillet 1883 :292).

Walaupun letaknya cukup jauh untuk ukuran tiga abad yang lalu, ternyata disana terdapat dua villa, tempat peristirahatan .Yang pertama adalah landhuis Cilincing yang dibangun oleh Justinus Vinck pada tahun 1740 dan sampai sekarang masih dapat dilihat, walaupun keadaannya tidak begitu menggembirakan. Dewasa ini bangunan tersebut dihuni beberapa pensiunan anggota kepolisian, dan dikenal dengan sebutan Rumah Veteran. Yang kedua adalah landhuis Vredestein yang dibangun oleh mantan Gubernur Pantai Utara Jawa, Nicolaas Hartingh, pada tahun 1750. Landhuis yang kedua itu sekarang sudah tidak ada bekas – bekasnya.

Dalam sejarah Jakarta, Cilincing memegang peranan cukup penting, karena disanalah pada tanggal 4 Agustus 1811 pasukan balatentara Inggris yang jumlahnya hamper 12.000 orang, mendarat tanpa mendapat perlawanan dari pihak Belanda, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Perancis (J.R. van Diesen 1889:303).

Condet

Kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Batuampar, Kampung Tengah (dahulu disebut Kampung Gedong), dan Balekambang termasuk wilayah Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.

Nama Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. Ondet, atau ondeh, atau ondeh – ondeh, adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg.,termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888:128), semacam pohon buni, yang buahnya biasa dimakan.

Data tertulis pertama yang menyinggung – nyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjadi Direktur Jenderal VOC di Batavia ( sebelum menjadi Gubernur Jendral ). Dalam catatan tersebut, pada tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet”,..(De Haan 1911: 320).

Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya (tentang tokoh ini dapat dilihat dalam tulisan ini pada entri: Kebantenan), yang dibuat sebelum berangkat ke pembuangan di Nagapatman, disahkan oleh Notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716. Dalam surat wasiat itu antara lain tertulis, bahwa Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak – anak dan istrinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920:250).

Keterangan ketiga adalah Resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen (52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada frederik willem Freijer. Kemudian kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tandjoeng, Oost, atau Groeneveld (De Haan 1910:51).

Artikel Terkait :

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta Bagian 1

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta Bagian 2

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta Bagian 3

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta Bagian 4

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta Bagian 5

Lintas Berita

Jual HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jasa Website Instant @ http://JawaraShop.com

Iklan

74 tanggapan untuk “Asal Usul Nama Tempat di Jakarta

  1. wahhh…………………………….
    rita’y sru bgt . . .
    tp bs crita’in gak asal usul balimester yang letak’y di jatinegara . .?
    cz ad sebuah kampung nm’y gang banten yang bnyak penduduk cina jatinegara . . .?
    please crita’in . . .

  2. Mengenai Nama ANGKE, setahu saya yang pernah saya baca dlm sejarahberasal dari nama pahlawan juga, yang beasal dari Banten yaitu PANGERAN TUBAGUS ANGKE, yang sekarang menjadi salah satu nama jalan di daerah tersebut. Tubagus Angke juga salah satu SAudagar kaya dan juga menentang Belanda pada jamannya.

    PALMERAH, Berasal dari kata Pal (batas,patok) Merah, Yaitu berupa Pal/ patok berwarna merah, yang dijadikan tanda batas wilayah Batavia ke arah Bogor. Dulu gubernur Belanda kalau hendak berlibur ke Istana Bogor melewati jalur tersebut. Dan mereka naik kereta Kuda. Dan untuk peristirahatan mereka di perjalanan yaitu JOGLO, berasal dari sebuah rumah model jawa (joglo) dan untuk Kuda kuda penarik kereta mereka distirahatkan., Namanya POS PENGUMBEN asal kata dari pos untuk ”Ngumbe” atau minum.
    Begitu juga nama dari Pal Besi, Pal meriam yang disebutkan dlm makalah.

    Kapan kapan kita tukar pikiran lagi ya..

  3. Salam kenal bro Yancha,

    Kebetulan saya tinggal di Ciracas, sangat dekat dengan daerah Munjul tempat makam kramat Pangeran Achmad Bolonson. Saya meminati masalah sejarah, maka begitu ada legenda apapun, apalagi itu menyangkut tempat tinggal saya segera saya gali, baik referensi tertulis maupun cerita rakyat setempat. Hasil yang saya dapat dari aspek literatur agak mengecewakan. Saya belum menemukan buku sejarah yang bercerita soal Pangeran Achmad Bolonson. Tapi cukup santer di lingkungan sosial legenda tentang Pangeran tersebut. Dari orang-orang tua yang saya temui, makam kramat itu ada di Jl. Bulak ringin. Saya sudah menelusuri tempat itu. Saya masuk lewat Jl. Lapangan Tembak, menyusuri Bulak ringin dan menemukan Gang Patil. Di situlah makam itu terletak.

    Gang Patil itu sendiri diambil dari nama warga setempat penjaga makam kramat itu (kuncen). Keturunannya hingga kini masih meneruskan tugas “mulia” menjaga makam itu. Seorang bapak tua agak kurus, memegang anak kunci pintu menuntun saya menuju bangunan permanen mirip kios ukuran 3X5 meter persegi yang terletak tak jauh dari rumahnya. Berada di dalam bangunan itu memang jauh dari kesan serem.

    Di dalamnya ada sebuah makam yang sudah dikeramik alakadarnya. Ada bekas lilin dan hio, juga kembang tampak terserak di atas makam itu, pertanda makam itu sering dikunjungi. Di sebelahnya ada gundukan tanah berwarna putih, spt tanah liat mirip kuburan dari tanah. Kata sang Kuncen, gundukan tanah itu, dulunya adalah sebuah sumur. Di sumur itulah Pangeran Achmad Bolonson menjalani sisa hidupnya setelah ditangkap Belanda yang merebut tanah miliknya itu. Karena pangeran itu seorang sakti, tak mempan ditembusi peluru dari bedil Belanda, ia ditangkap dengan cara dijebak, lalu dicemplung ke dalam sumur hingga mati lemas, dan dikubur di samping sumur itu.

    Anehnya, tutur sang Kuncen, dari dalam sumur itu lama kelamaan tumbuh tanah warna putih hingga melewati bibir sumur. Riwayat nama “Munjul” diambil dari keajaiban sumur ini. Keturunan pangeran ini sering berziarah ke makam itu, setidaknya sekali setahun saat bulan ramadhan. Ada juga peziarah dari luar pulau, dan orang Cina. Sebagian besar keturunan Pangeran ini tinggal di Cileungsi dan Bogor. Mereka tampak sederhana, jauh dari kesan orang-orang darah biru. Saking sederhananya, merekapun tak biaya untuk mendandani makam itu agar tampak lebih layak untuk diziarahi. Mereka juga tak kuasa melarang warga sekitar makam itu membangun rumah hingga mepet ke bangunan makam itu.

    Karena penasaran, sayapun berhasil menemui keturunan Pangeran Achmad Bolonson di daerah Cileungsi. Sekali lagi, bertemu mereka sangat jauh dari kesan bahwa mereka adalah turunan darah biru. Mereka tinggal berbaur bersama masyarakat kebanyakan di daerah itu dengan mata pencaharian alakadarnya. “Makan aja susah pak, apalagi sekolain anak ke bangku kuliah”, keluh salah seorang dari mereka dengan nada memelas.

    Mereka membenarkan bahwa makam kramat di Munjul itu adalah benar-benar makam kakek-buyut mereka, Pangerah Achmad Bolonson, yang meninggal 6 Desember 1869 karena ditangkap Belanda dan dicemplungkan ke dalam sumur. Pangeran Achmad Bolonson adalah salah seorang putera dari Sultan Badaruddin II yang gambarnya ada pada mata uang pecahan Rp 10.000,- Sultan Badaruddin II hijrah dari Palembang ke Batavia bersama keluarganya ketika Kesultanan Palembang Darrusallam jatuh ke tangan Belanda 25 Juni 1821. Jiwa pemberontaknya tetap terpateri dalam dadanya. Maka ketika berada di Batavia, ia kemudian bergabung dengan Pangerah Mahesa dari Kerajaan Jayakarta melawan penjajah Belanda. Atas jasanya itulah, Sultan dan keluarganya mendapat hibah berupa “Tanah Tjiboeboer”, salah satu aset kerajaan Jayakarta. Sultan Badaruddin II kemudian wafat dalam pengasingannya di Ternate 26 September 1852. Sementara sebagian keluarganya tetap tinggal di Tanah Tjiboeboer.

    Sepeninggalan Sulta Badaruddin II, Lagi-lagi Belanda mengincar keluarganya yang tinggal di “Tanah Tjiboeboer”. Sebuah perusahaan industri dan dagang milik Belanda bernama NV Cultur Tanjdjoeng Oost mengincar tanah itu untuk membuka kebun karet. Maka Pangeran Achmad Bolonson pun ditangkap. Keluarganya mengungsi ke Cileungsi dan Bogor hingga kini. Tapi alhamdulilah, sebelum Belanda henkang dari Indonesia, tahun 1931, Pemerintah belanda melalui notaries di Batavia, George Herman Tomas, mengeluarkan sebuah akte eigendom verponding No. 5658 yang mengembalikan seluruh “Tanah Tjiboeboer” kepada ahliwaris Achmad Bolonson. Namun, sayangnya, acte verponding itu tidak diakui oleh pemerintah RI (BPN) hingga kini, kendati acte tanah itu sudah diperiksa oleh Lembaga Arsip Nasional RI dan diakui sebagai acte yang asli dan otentik.
    “kami hanya orang kecil dan miskin, kami tak mungkin bisa memalsukan surat, apalagi dalam bahasa belanda. Kami hanya ingin meminta pengertian dari Pemerintah, apakah boleh sebagian kecil tanah Cibubur itu dihibahkan kembali ke keluarga kami, agar kami bisa merawat makam leluhur kami itu. eh bukannya dikabulkan, tetapi malah ditangkap Polisi, dan sebentar lagi akan disidangkan di PN Depok dengan tuduhan berupaya melakukan penyerobotan tanah. Mungkin sudah takdir keturunan kami sejak jaman penjajah, harus menerima perlakukan tidak adil dari penguasa”. tutur seorang ibu keturunan langsung Pangerah Achmad Bolonson mengakhiri pertjumpaan singkat kami itu.

    Nah dari cerita di atas, apakah ada yang peduli untuk menolong mereka? Tidak perlu harus berunjuk rasa ke Istana atau ke BPN, tetapi barangkali ada yang menemukan literatur lengkap tentang riwayat Sultan Badaruddin II serta keturunannya.
    Adakah yang merasa orang-orang kecil di Cileungsi itu telah mengarang sebuah cerita bohong? Saya berani bertaruh, tidak!! Mereka bukan ahli politik yang berusaha merekayasa sebuah sejarah untuk mengamankan kekuasaannya. Keinginan mereka sangat sederhan, ingin merawat makam leluhurnya secara lebih layak. Achmad Bolonson memang bukan tokoh sejarah nasional, dan bukan pula pahlawan nasional. Tetapi jiwanya yang tidak mau berkompromi dengan penjajah adalah jiwa seorang pahlawan sejati. Hanya keluarganyalah yang melestarikan semangat kepahlawannya secara lisan dari generasi ke generasi. maka jika pemerintah enggan mengakui tanah tjiboeboer sebagai tanah milik Achmad Bolonson, setidaknya makamnya di gang Patil, Munjul, itu ditata secara lebih layak karena ternyata ada banyak peziarah yang berkunjung ke tempat itu.
    Bro yancha, semoga anda tersentuh seperti saya.

    1. cerita menarik….aku kebetulan tertarik pada soal sjarah…terutama yang ada di jakarta dan sekitarnya..kebetulan aku kerja di elshinta tv dan memegang tanggungjawab program KAMPOENG KITA. program ini memang semacam dokumenter ringkas tentang sejarah sebuah lokasi dan asal-usul nama sebuah daerah…cerita tentang P. Achmad Bolonson rasanya menarik untuk diangkat…bisakah saya mendapat alamat rinci lokasi makam dan juga sanak saudara keturunan sang pangeran….thanks atas perhatiannya….

      1. Bung Osman,
        Senang banget kalau bung mau mendalami riwayat Pangeran Achmad Bolonson. Kebetulan saya sudah berkunjung ke lokasi makamnya, alamat lengkapnya di Cibubur II Kampung Bulak Ringin Gang Patil Kelurahan Cibubur. Kalau Anda dari Jakarta, keluar pintu tol Cibubur lalu berbelok ke arah Cibubur Junction, terus ke arah Munjul dan temukan Kantor Kelurahan Cibubur. Di samping Ktr kelurahan Cibubur tsb ada jalan masuk, ikuti jalan itu sampai menemukan Bulak Ringin dan Gang Patil. Tanyakan warga, dimana letak makam kramat. Banyak yang tahu. Tetapi karena tidak terurus, barangkali ada warga yang tidak kenal.
        Atau kalau mau cepat, bisa temui keluarganya di Cileungsi, dekat perempatan/ jalan layang menuju Cibinong. Lewat Polsek Cileungsi sekitar 200 meter belok kiri masuk perkampungan warga disitu. Tanyakan rumahnya pak Mahmud Achmad Bolonson (dikenal Machmud AB).Dialah salah satu cucu Pangeran tsb yang keadaan ekonominya sangat memprihatinkan.
        Atau bisa juga temui salah satu cucunya yang tinggal di Jakarta. Tepatnya di dekat stasiun Juanda, cari Jl. Juanda II Gang Kingkit XI/3, namanya Mansyur Abadi. dia jua cucu dari pangeran Achmad Bolonson. Jangan kaget menyaksikan kondisi ekonomi mereka. Yang lebih terasa mengharukan, kedua cucu pangeran tsb saat ini sedang dalam proses hukum pidana di PN Depok, karena didakwa menyerobot tanah negara di Cibubur, tanah warisan kakek-buyut mereka. Kebetulan sedang tidak ditahan, jadi mereka bisa mengantar anda ke lokasi makam.
        Trims atas perhatiannya.

      2. Selamat pagi pak.. Saya istri dri cicitnya pangeran ahmad bolonson.. Alamat cucu cicitnya ini pak. MENAN RT 01 RW 02 DESA SUKAMAJU KECAMATAN JONGGOL nama mertua saya sekarningsih. Di situ sanak saudara ada semua.. Sebagian memang ada yg di cileungsi.. Kehidupan kami memang jauh dr kata berkecukupan..

  4. setahu saya Mengenai silsilah Pangeran Ahmad Bolonson cerita dari Alm. kakek saya sampai skrng blm dh Penyelesian dari pihak yg terkait dengan mslh ini.tkx

  5. Wah kasihan banget yah ahli waris Pangeran Ahmad Bolonson, BTW memang seperti itulah wajah BPN kita, alih alih mengurusi tanah malah menyerobot tanah orang demi kepentingan segelintir pihak, lihat aja kasus Hilton yg jd JHCC, Niaga Tower dan masih banyak lagi diseputar segitiga emas jakarta. Semoga Tuhan melindungi dan memberkati keturunan Pangeran Ahmad Bolonson.

  6. bisa kh ada yg membantu penyelesian kasus ni apa sebenarnya yg terjadi….mereka saling menutup-nutupi,btw banyak brita2 yang seliweran tentang masalah ini….di mana kah keadilan pemerintah sekarang…apa ini yang dibilang demokrasi&refomasi…

  7. nah, kalau masih tertarik dengan tempat bersejarah di jakarta,ikutan saja tanggal 11 april dalam acara Jelajah Kota Toea : Gudang Panggung di Batavia,,oia peserta dibonceingin sepeda onthel looh,,seru banget kan?

  8. hmmmm,,,
    saya termasuk salah satu ahli waris dari pangeran ahmad bolonson,,,
    sebenernya saya jg ga ngerti gmn silsilahnya. dan sampe sekrang saja blm da penyelesaiannya,,,
    tadinya saya mengira,,mungkin duitnya diambil sama mereka.
    ato dengan kata lain,,duitnya d curi dan ahli waris tdk tahu menahu soal harta peninggalan tersebut.
    ternyata silsilah pangeran sangat rumit.
    karna terlalu banyak istrinya.

  9. bagi anda yang berminat membantu penyelesaian tanah TJIBOEBOER VERP 5658 dapat menghubungi sdr TITAN / TATUS, ke nomor tlp 0878xxxxxxxx.
    mereka berdua merupakan ahli waris dari PANGERAN AHMAD BOLONSON.
    bantuan anda-anda sangat kami harapkan ,kami mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

    1. saya R Daden Ramdani ingin menghimbau agar keluarga besar menggalang persatuan utk menyelesaikan persengketaan /permasalahan yg kt hadapi bersama,dan berupaya agar keluarga besar kt tdk terpecah belah di karnakan adanya intervensi dr pihak luar yg mengambil kesempatan/keuntungan secara pribadi maupun golongan,
      dlm hal ini juga saya menghimbau kepada sekeluarga besar dan pihak-pihak serta instansi yg terkait , yg mengetahui duduk permasalahan, kiranya dpt membantu keluarga besar kami,atas perhatian dan atensinya saya(kami) mengucapkan byk terima kasih.(R Daden Ramdani) ciledug anak dari almarhum Anwar noor.
      email : raden1073@gmail.com
      HP.085885101073
      km siap untuk mempublikasikan dan mengangkat permasalahan ini di media elektronik.

  10. Saya Asep di Bogor Bin Mahjar bin Marmawidjaja bin Moong Mamisaputra bin Sarpanwerdaja bin Pangeran Sangiang Bin Ratu Bagus Wetan Bin Sultan Abdul Fatah dst. barang kali tahu makam Pangeran Sangiang? terima kasih

  11. Yang anek kalo perkaranya urusan Tanah ato warisan, banyak banget yang ngaku ahliwarisnya ya…. Tapi kalo perkaranya ninggalin utang, pada ga ada yang ngaku mau jadi ahli waris….

  12. misi mbak/mas (admin),
    inii jiplak dari mana yah???
    kok ga ada tulisan sumbernya ya?????
    yakin ini hasil riset sendiri????

    kalo ga pengen dibilang njiplak, mbok ya nulis sumbernya darimana
    mari belajar hargai kekayaan intelektual orang lain -_-

  13. misi mbak/mas (admin),
    inii jiplak dari mana yah???
    kok ga ada tulisan sumbernya ya?????
    yakin ini hasil riset sendiri????

    kalo ga pengen dibilang njiplak, mbok ya nulis sumbernya darimana
    mari belajar hargai kekayaan intelektual orang lain -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s