Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an

Sumber
“Lain di Front Lain di Kota”:
Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an
*
M. Fauzi
**
Jaringan Kerja Budaya (JKB)
Bagi warga Jakarta, istilah jagoan dan bajingan cukup populer, meskipun terkadang
jarang terdengar diucapkan. Masyarakat lebih mengenal istilah preman ketimbang dua istilah
terdahulu. Pada tahun 1950-an, istilah jagoan dan bajingan dikenal luas pada waktu itu. Siapakah
mereka? Apa peran mereka di masa lalu? Apa saja aktivitas atau pekerjaan yang dilakukannya?
Inilah beberapa pertanyaan yang diajukan jika kita membaca buku atau teks sejarah Jakarta.
Keterangan tentang mereka berikut segala peran dan aktivitasnya di masa lalu sedikit sekali
diketahui oleh masyarakat. Ini pula yang menjadi salah satu tujuan dari tulisan ini.
Berakhirnya konflik Indonesia-Belanda ternyata tidak serta-merta membuat kehidupan
menjadi aman dan damai. Kontak senjata masih terus terjadi di berbagai tempat. Bagi
pemerintah, masalah keamanan menjadi salah satu hal penting yang harus diselesaikan sejak
berakhirnya permusuhan dengan Belanda yang berakhir di Konferensi Meja Bundar (KMB).
Kini, musuh rakyat Indonesia bukan lagi tentara Belanda, tetapi justru bangsa sendiri, setanah air,
yang dengan bermacam alasan tidak setuju dengan pemerintah republik. Ekspresi ketidakpuasan
itu mereka tunjukkan dengan tindakan kekerasan berupa perjuangan bersenjata dan teror terhadap
penduduk sipil. Jakarta sebagai salah satu kota penting juga menghadapi kondisi seperti itu.
*
Makalah disampaikan dalam “The 1
st
International Urban Conference, Surabaya, August 23
rd
– 25
th
2004, Department of History Faculty of Letters, Airlangga University – Nederlands Instituut voor
Oorlogsdocumentatie (NIOD)”.
**
Terima kasih kepada kawan-kawan di Jaringan Kerja Budaya (JKB), Institut Sejarah Sosial Indonesia
(ISSI), dan juga Wasmi Alhaziri atas kritik dan sarannya.
1
Page 2
Daerah perbatasan atau pinggiran Jakarta misalnya menjadi daerah rawan dari berbagai aksi
kekerasan berupa penggarongan, penggedoran, pembakaran, penculikan, dan bahkan
pembunuhan. Setiap hari selalu saja terjadi aksi kekerasan yang meminta korban di pihak warga
sipil. Sementara pemerintah dan pihak keamanan belum dapat sepenuhnya mengatasi masalah ini.
Siapakah para pelaku kekerasan yang meresahkan penduduk ini? Apa motif mereka melakukan
teror terhadap penduduk? Siapa korbannya? Dan, bagaimana pemerintah atau kepolisian
menyelesaikan masalah ini?
Seperti disebut pada awal tulisan ini, ada dua pelaku yang bisa dikategorikan ke dalam
mereka yang melakukan aksi kekerasan dan kriminalitas di Jakarta, khususnya pada tahun 1950-
an. Mereka adalah jagoan dan bajingan. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang
berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul, pemberani. Sedangkan
bajingan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang melakukan kejahatan dan tindakan
kriminil, terkadang disebut pula pengecut. Bajingan seringkali juga disebut preman, meskipun
istilah ini tidak umum dipakai pada tahun 1950-an. Citra jagoan tampaknya lebih positif daripada
bajingan di mata masyarakat. Namun, sebutan jagoan ini di kalangan dunia kriminil khususnya
mengalami pergeseran makna pada tahun 1950-an.
Selain masalah keamanan di perbatasan atau pinggiran kota, Jakarta juga mempunyai
sejumlah masalah sosial lainnya. Situasi baru setelah perjuangan mempertahankan kemerdekaan
berakhir tentunya berpengaruh terhadap para pejuang atau laskar yang kembali ke masyarakat.
“Lain di front lain di kota”, demikian ungkapan para pejuang menanggapi kenyataan yang
dihadapinya setelah masa-masa revolusioner di medan tempur. Kekecewaan, keterasingan,
kemarahan sepertinya bercampur dalam diri para pejuang. Bagi mereka, kenyataan sehari-hari
tampaknya berbeda jauh dari impian mereka waktu berjuang dulu. Revolusi pun dipertanyakan
kembali oleh mereka, para eks laskar ini.
2
Page 3
Gelandangan, meningkatnya kriminalitas, persaingan antar geng atau crossboys di
kalangan pemuda dan dalam beberapa kasus mengarah ke kriminil merupakan beberapa masalah
sosial yang lahir dari situasi baru pasca perjuangan kemerdekaan. Tidak semua masalah ini
mampu diselesaikan oleh pemerintah kotapraja Jakarta Raya pada waktu itu, yang dampaknya
juga menyangkut masalah politik. Sementara itu, pemerintah daerah Jakarta Raya sendiri masih
menata diri dan memperkuat jajaran birokrasinya. Apa kebijakan dan tindakan pemerintah
Jakarta untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial di kotanya? Adakah peran masyarakat atau
organisasi dalam hal ini?
Tulisan ini tentang masyarakat Jakarta, khususnya tentang beberapa kelompok sosial yang
dekat dengan kekerasan dan kriminalitas. Topik ini juga telah dibahas antara lain oleh Robert
Cribb menyangkut periode revolusi dan oleh Joshua Barker menyangkut masa Orde Baru.
1
Namun, penjelasan tentang masalah kekerasan dan kriminalitas di Jakarta yang terjadi selama
tahun 1950-an ini sedikit sekali. Subyek tulisan ini adalah mengenai eks laskar yang kembali ke
masyarakat dan memulai kehidupan baru pasca revolusi. Sebagian di antara mereka ada yang
masuk dalam ketentaraan dan meniti karier di lingkungan kemiliteran atau birokrasi, tetapi ada
juga yang berkecimpung dalam “dunia hitam” atau kriminil. Tulisan ini juga membahas tentang
para jagoan, pencopet, garong, bajingan, dan tukang catut yang mengisi kisah-kisah tentang
Jakarta pada tahun itu. Di antara mereka terdapat pula eks laskar yang pernah berjuang selama
revolusi dulu. Merekalah, para pelaku “arus barwah”, yang turut membentuk Jakarta sebagai
sebuah kota metropolitan seperti sekarang ini, meskipun peran dan aktivitas mereka sangat
sedikit muncul ke perbincangan publik apalagi ditulis dalam buku-buku sejarah tentang Jakarta di
1
Lihat Robert Cribb. Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesia
Revolution 1945-1949. Sydney: Allen & Unwin, 1991; Joshua Barker. “State of Fear: Controlling the
Criminal Contagion in Suharto’s New Order,” dalam Benedict R.O’G. Anderson (ed.). Violence and the
State in Suharto’s Indonesia. Ithaca, New York: Southeast Asia Program-Cornell University, 2001.
3
Page 4
masa lalu. Membicarakan sejarah Jakarta tahun 1950-an tanpa memahami peran jagoan dan
bajingan tidak akan diperoleh suatu penjelasan atau gambaran yang utuh. Dalam uraiannya,
tulisan ini memanfaatkan sejumlah data baik lisan maupun tertulis yang bercerita tentang Jakarta
pada masa itu.
Eks Laskar dan Jagoan
Situasi baru pasca revolusi tentunya sangat berpengaruh terhadap laskar-laskar atau para
pejuang yang di masa lalu berperang menghadapi Belanda dan tentara sekutu. Kini, pasca
revolusi, tentara Belanda berangsur-angsur pulang ke negerinya. Letusan senjata dan dentuman
meriam, atau ledakan granat jarang terdengar lagi. Perubahan dari kondisi perang ke damai
tentunya membawa dampak secara psikologis terhadap para pejuang. Ketika mereka memasuki
kota yang berada dalam kondisi aman daripada daerah-daerah di pinggiran atau perbatasan yang
masih diliputi oleh teror, tentunya perubahan ini sangat berpengaruh dalam diri mereka. Bagi
sebagian pejuang, kondisi aman seperti ini tentunya mengagetkan mereka dan sepertinya mereka
tidak siap untuk memulai kehidupan baru yang jauh dari ingar-bingar letusan senjata dan mortir.
Hal ini dapat dibaca dari pengalaman salah seorang eks laskar yang mencoba memulai suatu
kehidupan baru di tengah masyarakat dan sekaligus mempertanyakannya dengan cara sebagai
berikut:
Kami bersatu kembali dengan Induk Pasukan di Purwakarta. Dan benar2 dalam keadaan
tenang. Tak terdengar sepucuk pistolpun yang meletus. Bila malam tiba hati disengati
oleh kesunyian yang mencekam. Apakah Revolusi ini benar2 telah selesai, karena
pekerjaan menghalau musuh tidak ada lagi. Begitulah anggapanku waktu itu. Dengan
prasangka ini aku mengambil kesimpulan, aku harus kembali kemasyarakat melanjutkan
pelajaranku di Sekolah Technik yang telah 4 tahun itu kutinggalkan. Dan maksud ini
kuajukan pada komandan. Dengan sebuah surat keputusan, aku diberhentikan dengan
hormat dari TNI dengan pangkat terakhir kopral.
…Aku kembali ke Jakarta dengan sebuah mobil umum. Jam 20.00 sampai di
Jatinegara. Dari situ naik oplet ke Pasar Baru. Dimuka bioscoop Globe, aku turun. Jam
21.00 pertunjukan baru selesai. Sebareng dengan orang yang menyeberang, aku sampai
kedekat tempat parkir. Seketika perasaan malu ada pada diriku, melihat perbedaan orang2
4
Page 5
yang habis nonton. Mereka aksi2. Aku seperti gembel. Tapi tak seorangpun mengambil
perhatian terhadapku. Yah, beginilah kemauan alam. Lain di front lain di kota. Inilah
perjuangan.
2
Pengalaman diatas menunjukkan bahwa ada suatu perbedaan antara mereka yang “di
front” dan yang “di kota”. Bagi eks pejuang atau laskar ini, perbedaan bukan hanya menyangkut
situasi baru yang bebas dari gangguan keamanan seperti tercermin pada pertunjukan film di
bioskop, tetapi juga pekerjaan menjadi masalah pokok apalagi jika mereka tidak mempunyai
keahlian apa pun. Mereka yang berlatar belakang petani tentu akan kembali menjadi petani di
tempat tinggalnya dulu. Namun, mereka yang tidak mempunyai keahlian apa pun dan biasa hidup
di kota dapat berpotensi menjadi “liar” dan kriminil meskipun tidak seluruh eks laskar
mempunyai kecenderungan seperti ini, apalagi selama masa perjuangan mereka memiliki
komunitas tersendiri. Kelompok-kelompok eks laskar ini bertebaran di berbagai tempat di Jakarta
dan di tempat-tempat itulah mereka berjuang menghidupi diri dan keluarganya, kemudian
membangun kelompoknya dan hidup dari sumber-sumber ekonomi di wilayah itu, wilayah Senen
misalnya. Terkadang di antara kelompok eks pejuang ini terjadi pertikaian, misalnya menyangkut
tanah-tanah yang tidak bertuan, kavling-kavling yang ditinggalkan pemiliknya, atau harta benda
bekas milik warga Belanda.
Maka, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut kelaskaran ini
adalah pembentukan Perbepsi (Persatuan Bekas Pejuang Seluruh Indonesia) pada tahun 1951.
Jumlah anggota organisasi ini diakui mencapai 300 ribu orang pada 1957. Pentingnya organisasi
eks laskar ini di mata para petinggi tentara terlihat ketika Kolonel A.H. Nasution dan Gatot
Subroto hadir dalam pertemuan organisasi ini pada bulan November 1955 dan menyampaikan
pandangan-pandangannya tentang masalah kelaskaran ini. Bagi para perwira, Perbepsi dianggap
penting karena bila terjadi suatu krisis politik, organisasi ini dan para anggotanya dapat menjadi
2
“Jalan-jalan yang Kususuri,” 157/VIII/12-8-’75. Koleksi Perpustakaan Gedung Joang 45, Jakarta.
5
Page 6
kekuatan yang menentukan, dan sekaligus menjadi kekuatan pengimbang bagi mereka yang
bertikai. Inilah yang menjadi salah satu alasan Angkatan Darat melebur Perbepsi ke dalam
Legiun Veteran Republik Indonesia pada Agustus 1959.
3
Di Jakarta, dua kelompok eks laskar yang terkenal dan disegani adalah kelompok PI dan
Kobra. Kelompok PI dipimpin oleh eks pejuang bernama Imam Sjafe’i, terkadang ia disebut juga
sebagai Sape’i atau Bang Pi’i. Ia dikenal sebagai bos dan tokoh dunia kriminil di wilayah Senen,
Jakarta Pusat. Di daerah ini terdapat pasar dan juga sebuah stasiun kereta api yang dapat menjadi
basis ekonomi kelompok PI. Di masa revolusi, Bang Pi’i dan anak buahnya yang terdiri dari para
kriminil juga berjuang dan bergerak di wilayah Cirebon. Banyak anak buah PI berasal dari daerah
Banten. Masyarakat mengenal mereka sebagai pasukan Pi’i atau PI (akronim dari Pasukan
Istimewa). Kelompok PI ini mempunyai beberapa sub lagi yang berada dalam kontrol dan
pengaruhnya. Salah satu diantara sub kelompok PI ini dikenal sebagai Sebenggol, yang terdiri
dari para pencopet. Pi’i dan kelompoknya mendapatkan senjata api dari tangsi-tangsi tentara
Belanda yang berada di sekitar wilayah Senen dan Salemba. Pada waktu itu, tangsi-tangsi tentara
Belanda ini dikenal pula dengan nama tangsi penggorengan karena helm tentara Belanda yang
mirip penggorengan, alat memasak.
Salah satu anak buah Pi’i yang terkenal khususnya di daerah Kenari, Kramat Sentiong,
dan Tanah Tinggi, semuanya di sekitar Senen dan Salemba, ialah Mat Bendot. Demikian ia
dikenal oleh masyarakat sekitar daerah tersebut. Dulu ia pernah bergabung dengan Laskar
Betawi. Selain dikenal sebagai eks laskar, ia juga dikenal masyarakat sekitar sebagai seorang
bajingan. Suatu istilah yang cukup populer waktu itu untuk menyebut seseorang dari dunia
kriminil atau preman. Dalam peristiwa ’65, Mat Bendot termasuk salah satu tokoh dari dunia
3
Ulf Sundhaussen. Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES, 1986.
6
Page 7
kriminil yang ditahan oleh penguasa Orde Baru. Tentang tokoh lokal ini, Effendi, seorang warga
Salemba dulu yang pernah mengetahui tokoh di wilayahnya itu menceritakan sebagai berikut:
Sipil dia. Ya dulu pernah ikut laskar lah. Laskar Jakarta, Laskar Betawi di PI… Ya anak
buahnya yang orang Betawi itu yang tadinya memang itu ya ikut bantu. Anak-anak Gang
Kenari itu, Mat Bendot itu anak buahnya juga ikut itu.
4
Kelompok eks laskar lainnya yang terkenal di Jakarta pada waktu itu adalah Kobra
(Kolonel Bratamanggala). Mereka adalah eks anak buah Kolonel Sukanda Bratamanggala yang
pernah berjuang di wilayah Jawa Barat. Daerah kekuasaan kelompok ini adalah pasar dan
kantong-kantong perdagangan. Di tempat-tempat inilah Kobra hidup dan menancapkan
pengaruhnya. Kelompok lain adalah Lagoa di wilayah Tanjung Priuk, yang beroperasi di sekitar
pelabuhan dan tempat-tempat perdagangan di wilayah itu. Kelompok Tanjung Priuk ini diduga
memiliki jaringan internasional dalam operasi kriminalnya jika melihat cara kerja mereka
mencuri sejumlah peti di pelabuhan.
5
Meskipun sebagian besar aktivitas kelompok-kelompok tersebut berada di dunia kriminil,
bisnis, stasiun, dan pelabuhan, mereka terkadang terlibat pula dalam masalah politik yang
berskala nasional pada tahun 1950-an. Salah satunya adalah peristiwa 17 Oktober 1952 yang
menuntut pembubaran parlemen dan penyelenggaraan pemilihan umum. Ketika itu tentara
dengan dipersenjatai tank dan meriam berada di Lapangan Merdeka, hanya berjarak beberapa
puluh meter dari istana, dan tentara mengarahkan moncong senjata beratnya ke arah istana
Presiden Soekarno. Sementara itu di sisi lain, di jalan-jalan ibukota, saat itu terjadi demonstrasi
yang melibatkan massa ribuan orang. Demonstrasi ini diorganisir oleh Kolonel dr. Mustopo, yang
mengepalai Dinas Kedokteran Gigi Angkatan Darat dan merupakan perwira penghubung
4
Wawancara dengan Effendi, 12 Juni 2004.
5
Sin Po, 24 Djanuari 1950.
7
Page 8
presiden, serta Mayor Kosasih, Komandan Garnisun Jakarta. Sedangkan seksi intelijen Divisi
Siliwangi mengerahkan demonstran dari luar Jakarta dengan menggunakan truk-truk tentara.
6
Tentang peristiwa politik yang menghebohkan Jakarta waktu itu dan keterlibatan
kelompok PI di dalamnya diuraikan lebih lanjut oleh Achmadi Moestahal dalam memoarnya
sebagai berikut:
Peristiwa 17 Oktober adalah semacam mob yang digerakkan antara lain oleh Kolonel Dr
Gigi Mustopo dengan memperalat Kapten Syafi’i atau lebih dikenal dengan panggilan
Bang Pi’i. Cerita tentang peran Safi’i ini cukup jelas bagi saya, karena diberi informasi
oleh Abdul Mu’thi ayah angkat saya, ketika ia mampir di rumah saya di Jakarta. Sebelum
masuk TNI Syafi’i adalah salah seorang tokoh lasykar rakyat wilayah Jawa Barat anak
buahnya Chairul Saleh, Armunanto dan Sidik Kertapati. Ia dulunya memang dikenal
terutama dengan perannya mengorganisir pencuri, pencopet serta preman di pasar Senen
dimana kelompok ini menjadi satu batalion yang cukup mempunyai persenjataan lengkap
karena kemampuannya merampas dan mencuri persenjataan baik dari Belanda maupun
Jepang di awal-awal kemerdekaan. Syafi’i saat itu diberi pangkat Mayor tetapi kemudian
tahun 1950 diturunkan menjadi kapten. Batalion Syafi’i inilah yang pernah sukses
memenangkan pertempuran melawan NICA [Netherlands Indies Civil Administration]
Belanda di daerah Senen dan Galur, Jakarta.
7
Pada tanggal 17 Oktober itu terjadi demonstrasi yang dilakukan Syafi’i dan
kelompoknya dan juga tampak di belakang demonstrasi itu dukungan dari pasukan tentara
Resimen 07 Jakarta pimpinan Kemal Idris. Demonstrasi berlangsung di depan istana
dengan tuntutan agar parlemen dibubarkan dan mengangkat Soekarno menjadi diktator
tunggal. Saat itu tampak sejumlah meriam yang dihadapkan ke arah istana. Soekarno
menolak tuntutan itu. Ia tetap mempertahankan sistem demokrasi parlementer dan sistem
multipartai.
8
Sejak peristiwa itu, kelompok PI tetap mempunyai pengaruh baik dalam lingkaran elite
politik Jakarta maupun dunia kriminal. Hubungan politis antara Pi’i dan beberapa petinggi militer
yang terlibat dalam peristiwa itu sudah berlangsung lama sejak masa revolusi dulu. Sementara,
dalam pandangan para perwira itu, wilayah Senen yang menjadi basis kelompok dan cukup
berpengaruh di kalangan dunia kriminil ini dikenal pula sebagai tempat kedudukan atau pusat
6
Sundhaussen, op.cit., hlm. 123.
7
Daerah sekitar Senen dan Salemba dikenal pula sebagai basis Batalion X tentara Belanda. Di dalam
batalion itu termasuk pula tentara Indo dan Ambon.
8
Achmadi Moestahal. Dari Gontor ke Pulau Buru: Memoar H. Achmadi Moestahal. Yogyakarta:
Syarikat, 2002, hlm. 138.
8
Page 9
organisasi pencopet.
9
Para perwira tampaknya melihat bahwa Pi’i dan jaringannya bisa menjadi
kekuatan sipil untuk menekan Soekarno agar memenuhi tuntutan para pemberontak itu.
Wilayah Senen, basis kelompok PI, dikenal pula mempunyai sebuah organisasi pencopet.
Sebagai sebuah organisasi pencopet yang terkenal di Jakarta, para jagoan dan pencopet ini pun
memiliki peraturan dan administrasi yang teratur dan diketuai oleh seorang jagoan. Bagi mereka,
jagoan ialah orang yang terkuat, berpengalaman dalam hal copet-mencopet, dan beberapa kali
keluar-masuk penjara.
10
Seorang pencopet akan disebut jagoan jika saat beraksi, bahkan dengan
risiko hilangnya nyawa sekalipun, dia lolos dalam aksinya dengan menggondol sejumlah hasil
yang memuaskan. Tetapi, sebutan jagoan yang dulu hanya berlaku di kalangan mereka sendiri,
pada tahun 1950-an ini bukan hal yang eksklusif lagi dikalangan mereka. Siapa pun kini bisa saja
mendapat sebutan itu. Ada pergeseran makna istilah ini pada waktu itu. Seseorang yang disegani
atau ditakuti di kampungnya dapat saja disebut sebagai jagoan atau jagoan kampung, meskipun ia
bukan berlatar belakang pencopet. Di wilayah Prumpung misalnya, Jakarta Timur, dulu dikenal
pula seorang jagoan kampung yang memiliki anak buah. Ia sendiri adalah seorang anggota
tentara dari Corps Polisi Militer (CPM). Menurut Maun Sarifin, warga Prumpung, Jakarta Timur,
yang pernah mengenalnya, sosok yang disebut-sebut jagoan di kampungnya itu dikatakan sebagai
berikut:
Sini ada yang malang melintang. Orang Jakartanye asli…Semuanya sendiri aja gitu.
Pokoknya apanya menang sendiri aja. Termasuk orang Jakartanya. Ada bekas CPM,
orangnya penginnya kayak jagoan dan ama orang tuh harus tunduk ama dia…Cuma kalo
orang yang baru kenal digertak-gertak ama dia.
11
9
Merdeka, 2 Djuli 1955.
10
Bandingkan pula dengan Onghokham. “The Jago in Colonial Java, Ambivalent Champion of the
People,” dalam Andrew Turton dan Shigeharu Tanabe (eds.). History and Peasant Conciousness in South
East Asia. Osaka: National Musem of Ethnology, 1984, hlm. 327-343; dan Ryadi Gunawan. “Jagoan
dalam Revolusi Kita,” Prisma 8, Agustus 1981, hlm. 41-50.
11
Wawancara dengan Maun Sarifin, 17 Juli 2004.
9
Page 10
Seseorang juga dapat disebut jagoan kampung jika ia ditakuti di tempat tinggalnya karena
menjadi seorang pembunuh, seperti tokoh Incup dalam cerita pendek Gambir.
12
Seorang jagoan
juga dapat menjadi pengubah masyarakat ke arah yang lebih positif, seperti terjadi di daerah
Prumpung Kebun Jeruk, Jakarta Timur. Daerah ini dulu dikenal sebagai tempat berkumpulnya
para pencopet, pekerja seks, penjudi, dan para kriminil lainnya. Seorang jagoan kampung yang
berpengaruh kemudian ditunjuk untuk menjadi ketua rukun warga (RW) di daerah tersebut.
Setelah ia menjabat sebagai ketua RW, daerah tersebut pun bebas sebagai “daerah hitam dan
kriminil”, seperti diceritakan oleh Sarifin, berikut ini.
Ya pencoleng, ya prempuan, ya maen apa kumpul di situ. Namanya Prumpung Kebun
Jeruk, terkenalnya. Tuh semua kumpul di situ. Tahun ’50-an udah ada. Udah ada orang-
orang yang nakal-nakal itu udah ada. Makanya yang jadi RWnya tuh tadinya tuh orang
nakal. Ya bukan jagoan tapi ya orang yang di situ tuh diituin orang. Disegenin. Tapi dia
sebenernya dengan kebeneran, bukannya, tapi memang dasarnya orang nakal. Malah itu
orang kalo enggak salah orang Comal. Itu baru aman. Tukang minum, tukang maen,
tukang mabok, udah enggak ada terus ada mesjid, ada musollah. Kalo ada orang lagi
minum-minum enggak diomelin dia sih. Kurang beli lagi kasih duit beli lagi, berapa botol
beli lagi, beli. Kalo enggak habis gue lelepin di kali lu. Gitu ancamannya. Enggak habis
lelepin di kali. Ya orang pada takut. Dibeliin bukan diomelin. Terus mending, ilang.
Prempuannya ilang. Ya judi kecil mah udah biasa deh. Masih ada.
13
Di Jakarta, seperti kelompok PI, bagaimana para jagoan dan pencopet ini mengorganisir
diri? Menurut Rama Zakir, yang tiba di Jakarta pada Maret 1949, sejak akhir tahun itu Jakarta
tampak mulai padat, kendaraan ramai, dan banyaknya pencopetan dan perampokan.
14
Mereka,
para pencopet, yang masuk ke perkumpulan atau organisasi pencopet itu adalah orang-orang yang
ingin hidup mudah saja. Sebelumnya mereka pernah mencari pekerjaan di kantor-kantor, tetapi
12
Pramoedya Ananta Toer. Cerita dari Jakarta. Jakarta: Hasta Mitra, 2003.
13
Wawancara dengan Maun Sarifin, 17 Juli 2004.
14
“Personal Reflections on Living in Jakarta,” dalam Susan Abeyasekere. From Batavia to Jakarta:
Indonesia’s Capital 1930s to 1980s. Victoria: Centre of Southeast Asian Studies-Monash University
Press, 1985, hlm. 124. Keterangannya ini berbeda dengan yang diberikan oleh Sarifin. Sarifin justru
menyatakan Jakarta waktu itu, khususnya di tengah kota, dalam keadaan lengang dan tidak terlalu ramai,
kendaraan pribadi dan umum pun masih jarang. Jalan beraspal juga masih terbatas. Wawancara dengan
Maun Sarifin, 17 Juli 2004.
10
Page 11
tanpa ada hasil karena terganjal oleh ijazah. Selain itu, mereka juga tidak mempunyai
pengalaman bekerja. Alasan mereka, para pencopet ini, seperti ditulis kembali oleh jurnalis
Merdeka, sebagai berikut:
Ingin bekerdja sebagai buruh pelabuhan (buruh kasar)…badannja tidak tahan. Sebagai
djalan terachir, untuk menghindari kelaparan, dipilihlah djalan jg. [jang] semudah2nja
jakni masuk kedalam organisasi tjopet ini. Lama-kelamaan karena sudah biasa hidup
dengan tjara pindjam2 barang dari orang jang tidak dikenalnja, sudah malas mereka
memeras keringat bekerdja seperti orang lain.
15
Para pencopet ini mendapat tugas yang harus dikerjakan setiap hari dari organisasinya.
Setiap pencopet harus mematuhi peraturan, menepati janji, mengejar waktu dan tugas lain dari
organisasinya. Pencopet yang melanggar aturan organisasi ini akan menerima sanksi dari
jagoannya. Hukuman fisik berupa pukulan hingga mereka jatuh terkapar seringkali harus diterima
para pencopet yang melanggar.
Bagaimana sesungguhnya “pendidikan” yang harus dilakukan oleh para pencopet sebelum
mereka mendapat gelar atau sebutan jagoan. Beberapa tahapan pekerjaan yang harus dihadapi
oleh mereka mulai dari yang ringan sampai yang berat, misalnya mencopet, menodong, dan
merampok. Ada pula yang mengikuti perjalanan oplet atau trem, misalnya jurusan Jatinegara-
Jakarta Kota, atau jurusan Tanah Abang-Jakarta Kota. Tetapi pekerjaan yang terakhir itu jarang
dilakukan para pencopet kecuali dalam keadaan mendesak. Saat beraksi biasanya para pencopet
bekerja dalam kelompok yang berjumlah lebih dari tiga orang. Diantara kelompok pencopet itu
biasanya terdapat pula seorang sopir oplet sebagai anggota kelompok ini.
16
Selain di oplet, pencopet juga melakukan aksinya di tempat-tempat umum seperti
bioskop, stasiun, terminal, dan pasar. Pasar Senen, Pasar Baru, Glodok, Stasiun Gambir, Senen,
dan Jatinegara adalah tempat-tempat operasi para pencopet. Korban pencopetan rata-rata
15
Merdeka, 2 Djuli 1955.
16
Merdeka, 21 Nopember 1959.
11
Page 12
mencapai 80 orang per hari pada waktu itu. Adapun hari-hari ramai pencopetan terjadi pada hari
Jumat dan Sabtu karena pada hari tersebut buruh bekerja setengah hari. Mereka biasanya pergi
berbelanja di pasar atau jalan-jalan ke tempat hiburan selesai bekerja. Sedangkan pada hari
Minggu dan hari libur lainnya, pasar biasanya tutup dan sepi karena sebagian besar buruhnya
libur.
17
Para pencopet ini memiliki daerah operasi masing-masing, misalnya kelompok M. Ali di
jurusan oplet Harmoni-Jakarta Kota. Pembagian wilayah pencopetan ini tentu untuk
memudahkan jagoan dan organisasi pencopet mengontrol anggotanya, sekaligus mengetahui
keberadaan barang atau harta benda yang dicopet jika ada laporan yang masuk ke jagoan dan
organisasinya. Menurut pencopet,
…[K]alau tuan sedang ditimpa kemalangan, ketjopetan, usahakanlah untuk
melapurkan kepada djagoannja sebelum melampaui waktu 24 djam dari kedjadian itu.
Karena kemungkinan besar dalam djangka waktu jang pendek itu barang2 hak milik tuan
jang sudah digondolnja masih belum diturunkan kepasaran umum, atau belum
diperdagangkan ke tukang2 loak ataupun bandar2 lainnja.
Datanglah kepasar Senen dimalam hari, dimana telah mendjadi bandar atau pusat
perhimpunan mereka. Untuk mentjari orang apa jang telah mereka namakan “djagoan”
memang sukar. Tidak mudah akan tuan djumpai dan kenal begitu sadja. Bahkan sama
sekali tuan tidak menduga orang itu adalah djagoannja. Dengan djalan berbisik2 pada
pedagang2 rokok dikaki2 lima ataupun kepada anak2 jang mengemis direstoran-restoran
mungkin tuan akan dapat mendjumpai dengan djagoannja. Dengan djalan demikian
kemungkinan besar barang2 tuan akan dikembalikan kalau masih ada ditangan mereka,
setelah ditanja dimana tempat kedjadian, djam berapa, dan sebagainja.
18
Selain mengontrol pencopet dan wilayah kekuasaannya, jagoan dan organisasinya juga
mengurus para pencopet yang tertangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan, termasuk pula
mengurus isteri dan anaknya selama mereka ditahan. Makanan akan diantar oleh isterinya ke
penjara, atau diantara pencopet akan datang berkunjung ke penjara dengan membawa makanan
atau barang-barang yang dibutuhkan selama ditahan. Sedangkan bagi pencopet yang telah
berumah tangga, semua kebutuhan isteri dan anaknya ditanggung oleh organisasi pencopet.
17
Merdeka, 23 Djuli 1959.
18
Merdeka, 2 Djuli 1955.
12
Page 13
Dengan demikian, bagi pencopet yang ditahan, ia tidak perlu lagi memikirkan ekonomi
keluarganya selama menjalani masa hukuman.
19
Razia terhadap pencopet juga dilakukan oleh polisi. Biasanya mereka melakukan
operasinya pada tanggal dan bulan tertentu, menjelang perayaan besar agama, acara yang bersifat
nasional dan internasional, misalnya setiap tanggal 17 Agustus, hari Lebaran atau Natal,
Konferensi Asia Afrika. Razia terhadap para pencopet atau kriminil lainnya hanya bersifat
preventif dan sementara waktu. Sesudah perayaan-perayaan besar itu berakhir, para kriminil ini
pun biasanya akan dibebaskan dari penjara dan melakukan profesinya seperti biasa.
20
Salah satu
tempat yang digunakan sebagai penjara untuk para kriminil di Jakarta adalah Pulau Onrust, yang
terletak di Kepulauan Seribu di sebelah utara Jakarta, yang dapat menampung seribu tahanan.
Mereka yang dikirim ke pulau ini adalah para kriminil yang sudah terbukti kejahatannya dan
sedang menunggu pemeriksaan pengadilan negeri.
21
Selain itu juga tahanan kepolisian dan
penjara seperti Penjara Cipinang juga digunakan untuk menahan para kriminil yang tertangkap.
Garong dan Bajingan
Pada 1950-an, Jakarta memang belum dapat dikatakan aman seluruhnya dari berbagai
gangguan dan teror. Pada awal 1950-an, gangguan keamanan sering terjadi di daerah-daerah
perbatasan dan pinggiran kota, seperti Bekasi, Tangerang, Depok, Pasar Minggu, dan Pondok
Gede. Setiap hari di daerah-daerah ini selalu terjadi aksi-aski kejahatan berupa penggarongan,
penggedoran, penculikan, pencurian, pembakaran rumah, bahkan hingga pembunuhan. Jumlah
pelaku kejahatan di daerah tersebut bisa mencapai ratusan orang dalam suatu aksi kejahatan. Para
pelaku kekerasan dan kriminil ini disebut sebagai garong atau gerombolan pengacau pada waktu
19
Merdeka, 2 Djuli 1955.
20
Merdeka, 20 April 1955 dan 23 Djuli 1959.
21
Harian Rakjat, 13 Nopember dan 9 Desember 1952; Merdeka, 20 april 1955.
13
Page 14
itu. Bagi penduduk yang tinggal di daerah-daerah itu, aksi para garong ini memang sangat
meresahkan dan menakutkan mereka. Harta benda dirampok, rumah dibakar, dan nyawa menjadi
taruhannya. Selain penduduk setempat, aksi para garong dan gerombolannya juga mengancam
para lurah dan polisi yang bertugas di perbatasan dan pinggiran kota.
Pelaku penggarongan dan kekerasan terhadap penduduk ini dilakukan antara lain oleh
mereka yang menamakan diri sebagai pasukan Darul Islam (DI) dan Bambu Runtjing, dan para
kriminil. Yang pertama, pasukan DI, jumlah pelaku dalam satu kali operasi dapat mendapat
ratusan orang dengan memakai berbagai persenjataan berupa senjata api dan tajam. Pihak
keamanan menyebut mereka sebagai “gerombolan pengacau”. Motif ideologi dan politik
tampaknya menjadi alasan mereka untuk menentang republik dan melakukan kekerasan terhadap
penduduk sipil. DI menentang pemerintah republik yang dipimpin Soekarno. Daerah operasi
mereka berada di sekitar wilayah Jawa Barat dan daerah perbatasannya, bahkan hingga ke
pinggiran Jakarta. Beberapa gelintir diantara anggota gerombolan ini masuk ke tengah Jakarta
hingga ke daerah Kebon Kacang di sekitar Tanah Abang. Menurut catatan dokumentasi
Pemerintah Jawa Barat sejak tahun 1953 hingga 1960, aksi pasukan DI ini memakan korban
14.622 orang dibunuh, 6.724 orang luka, 1.549 orang diculik, 115.822 rumah dibakar, Rp
445.478.100 kerugian materiil akibat pembakaran, dan Rp 202.076.000 kerugian akibat
penggarongan.
22
Eks laskar lain yang melakukan teror dan kekerasan terhadap penduduk dilakukan oleh
anggota Bambu Runtjing. Disebutkan bahwa mereka adalah kesatuan gerilya yang terdiri dari
buruh, tani, pemuda, dan prajurit yang berideologi kerakyatan serta konsekuen terhadap
proklamasi 17 Agustus 1945, dan menolak kompromi dengan Belanda. Chairul Saleh merupakan
22
Hersri S. dan Joebaar Ajoeb. “S.M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar Jalan,” Prisma 5, Mei 1982.
Lihat pula C. van Dijk. Darul Islam: Sebuah Pemberontakan. Jakarta: Grafiti Pers, 1983.
14
Page 15
salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di kalangan mereka pada masa revolusi. Beberapa
anggota kesatuan ini pada permulaan tahun 1950-an melakukan sejumlah aksi teror dan
kekerasan yang menakutkan bagi penduduk di perbatasan dan pinggiran Jakarta. Eks laskar
Bambu Runtjing yang berkeliaran di Jakarta dan sekitarnya telah membunuh, merampok, dan
membakar rumah penduduk. Salah seorang diantara korban keganasan mereka ialah Tong Amir,
Lurah Kampung Besar di Cipinang, Jakarta Timur. Amir dibunuh, dirampok, dan rumahnya
dibakar. Dalam suatu pertempuran antara polisi dan anggota gerombolan Bambu Runtjing di
Desa Penggilingan, Bekasi, polisi menembak empat anggota gerombolan ini dan menyita 1
senjata mauser karaben, 1 karaben model 95, 1 granat tangan, peluru, dan dokumen. Sedangkan
dalam pertempuran lain di daerah Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, polisi menembak
mati empat anggota gerombolan Bambu Runtjing dan menyita 3 revolver, 1 granat tangan,
sejumlah peluru, dan dokumen.
23
Yang kedua, para kriminil dengan beragam latar belakang, jumlah pelaku dalam suatu
operasi kejahatan maksimal mencapai dua puluhan orang. Motif ekonomi atau melakukan
kejahatan sekadar bertahan hidup mungkin menjadi alasan mereka untuk menggarong dan
melakukan kekerasan terhadap penduduk.
Aksi para garong dan gerombolan pengacau di perbatasan dan pinggiran Jakarta ini telah
meminta korban di kalangan politisi, khususnya Partai Nasionalis Indonesia (PNI)
24
, dan
mengundang reaksi keras politisi dan mereka mendesak pemerintah Soekarno untuk menuntaskan
23
Sin Po, 18 Djanuari 1950; Harian Rakjat, 4 Pebruari dan 10 Maret 1953. Tentang pembentukan dan
peran Bambu Runtjing pada masa revolusi lihat Cribb. Gangsters and Revolutionaries., dan Sartono
Kartodirdjo. “The Role of Struggle Organization as Mass Movements in the Indonesia Revolution,” dalam
Sartono Kartodirdjo. Modern Indonesia, Tradition & Transformation: A Socio-Historical Perspective.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1984.
24
Lima politisi PNI dibunuh gerombolan di daerah Kebun Jeruk. Tentang pembunuhan ini, PNI sendiri
tidak mengeluarkan pernyataan keras yang mengetuk pembunuhan kadernya itu. Lihat Harian Rakjat, 21
Djanuari 1953.
15
Page 16
masalah keamanan ini. Sementara sebagian penduduk yang tinggal di wilayah tersebut telah
mengungsi ke daerah yang aman dari teror gerombolan itu.
25
Aksi kejahatan mereka juga telah
meresahkan kaum buruh yang berserikat dalam Sarekat Buruh Kereta Api. Perjalanan kereta api
terganggu karena sabotase para gerombolan. Mereka pun menuntut jaminan keselamatan dari
pemerintah dan pihak keamanan agar terhindar dari gangguan para gerombolan selama dalam
perjalanan kereta api.
26
Reaksi keras terhadap teror di perbatasan dan pinggiran Jakarta ini datang
dari Partai Komunis Indonesia (PKI) Djakarta Raya. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa:
…[G]erombolan teror berusaha makin memperluas daerahnja sampai keperbatasan
kotapradja Djakarta Raya. Gangguan, antjaman dan teror jang makin mengganas ini, tidak
sadja lebih mempersulit penghidupan kaum tani didesa2 sekitar Djakarta Raya, tetapi
langsung maupun tidak langsung merupakan antjaman djuga terhadap keamanan kota
sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat.
Pembunuhan2 jang dilakukan oleh gerombolan2 terhadap anggota2 organisasi Rakjat
dan beberapa orang kepala desa seperti di Bekasi, Kalimati, Pasar Minggu, Kebajoran
lama, Pondok Wungue, Pasar Rebo, Kebon Djeruk dsb adalah merupakan tindakan
fasistis jang benar2 bertentangan dengan djiwa DEMOKRASI. Dasar dari pembunuhan
tersebut kalau diperiksa setjara teliti adalah disebabkan karena adanja aktiviteit dari
organisasi2 Rakjat, pemimpin2 organisasi dan beberapa kepala desa jang sungguh2
memperdjuangkan kepentingan Rakjat. Djelaslah bahwa tindakan2 gerombolan teror
tersebut adalah sama dengan usaha2 kaum imperialis untuk menghantjurkan gerakan
Rakjat dengan menggunakan intimidasi.
Disamping kenjataan2 jang kedjam dan djahat ini, tidaklah dapat diabaikan makin
meluasnja pemalsuan serta penggunaan nama baik PKI, untuk mengabui mata Rakjat
seperti jg. [jang] dilakukan oleh gerombolan2 bersendjata disekitar Tjilintjing jg.
menamakan dirinja “Tentara Merah”, “Pasukan Komunis”.
27
Gangguan keamanan di perbatasan dan pinggiran Jakarta bukan hanya mengkhawatirkan
pemerintah, tetapi juga para lurah yang bertugas di wilayah itu. Namun, diantara para lurah itu
ada pula beberapa lurah yang terlibat dalam gerombolan bersenjata di pinggiran Jakarta, misalnya
gerombolan Bulloh, eks lurah, yang meneror penduduk di sekitar Tanjung Barat, Pasar Minggu,
25
Harian Rakjat, 8 Oktober 1952.
26
Harian Rakjat, 14 dan 15 Oktober 1952; Madjalah Kotapradja, 30 Djuni 1953, No. 20 Tahun III, hlm.
19.
27
Harian Rakjat, 23 Desember 1952.
16
Page 17
dan Tangerang.
28
Kekejaman gerombolan Bulloh ini saat melakukan aksinya diberitakan surat
kabar sebagai berikut:
“Kekedjaman di Tangerang”
Gerombolan bersendjata pistol dan golok jang tak diketahui djumlahnja tanggal 28-12
malam telah melakukan pembunuhan atas diri Ditung Danang seorang penduduk Desa
Kreo, Tjiledug, Tangerang.
Sang korban dibunuh dengan tjara dipotong lehernja sampai hampir putus, kira2 lima
meter dari rumahnja. Sesudah melakukan kekedjaman itu, gerombolan pendjahat
merampok barang2 orang jang didjadikan mangsanja seharga Rp 250 kemudian
pendjahat2 melarikan diri.
Kekuatan gerombolan Bulloh ini bisa diukur ketika polisi menyita senjata mereka dalam
suatu pertempuran yang berlangsung di Pasar Minggu. Dalam pertempuran ini tiga dari sebelas
anggota gerombolan Bulloh tewas, dua ditangkap, dan sisanya melarikan diri. Adapun senjata
yang disita polisi terdiri dari 2 revolver colt, 16 peluru, sepucuk pistol merek Wembly, sepucuk
FN otomatis berikut 52 butir peluru, 3 golok, 3 keris besar, dan satu keris kecil.
Gerombolan lain yang juga sangat terkenal dan ditakuti penduduk pada awal tahun 1950-
an ialah kelompok Mat Item, yang anggotanya mencapai 27 orang. Ia dikenal pula sebagai Hadji
Mat Itam alias Adjum. Mat Item dan kelompoknya ditakuti oleh penduduk yang tinggal di daerah
Tangerang, Kebayoran (Jakarta Selatan), Kebun Jeruk dan Palmerah (Jakarta Barat). Selain
menggarong, kelompok Mat Item ini juga merampok harta benda penduduk, memperkosa, dan
membunuh korbannya. Mereka yang menjadi korban keganasan gerombolan ini antara lain enam
orang lurah. Selain dikenal karena kekejamannya, Mat Item dikabarkan juga mempunyai jimat
berupa pisau kuning yang mampu membuatnya menghilang. Namun, Mat Item, kepala garong
28
Harian Rakjat, 29 Nopember 1952, 31 Desember 1953. Beberapa lurah lainnya juga ditangkap karena
diduga terlibat dalam gerombolan di perbatasan dan pinggiran Jakarta. Lihat Harian Rakjat, 26 Djuni
1953.
17
Page 18
yang tersohor di Jakarta ini, tewas pada 19 Februari 1953 dalam suatu pertempuran dengan
pasukan Kala Hitam Kompi III pimpinan Letnan Suhanda di Kali Angke, Kampung Bojong.
29
Senjata api yang juga banyak digunakan oleh para garong itu memang banyak beredar di
kalangan penduduk Jakarta pada permulaan tahun 1950-an. Orang pun tidak sulit
memperolehnya. Besar kemungkinan sebagian besar senjata api ini merupakan sisa-sisa dari
masa revolusi dulu, rampasan dari tentara Belanda, atau berasal dari gudang senjata TNI. Pada
tahun 1950-an ini senjata api bukan hanya dipegang oleh tentara, polisi, tetapi juga para jagoan,
bajingan, bahkan orang-orang biasa seperti dituturkan oleh Maun Sarifin, penduduk Prumpung,
Jakarta Timur, berikut ini:
Dulu bebas. Ditawar-tawarin pada make. Saya sendiri ditawarin ama temen. Temen
kerja di sono juga, di pabrik senjata di apa tuh di militer tuh. Dan lagi kakak saya juga
ngasih ama saya kalo perlu peluru noh ada di ransel noh. Dulu tuh pada punya. Orangtua
saya juga megang, kan kecil. Pelurunya minta ama kopral siapa tuh, orang sebrang. Kalo
dikasih satu dus. Kalo mau lebaran dikasih. Sini enggak ada petasan gantinya ini. Tapi ati-
ati kena orang, gitu. Jadi pada punya. Apalagi pencoleng-pencoleng itu pada punya. Toh
tentaranya sendiri juga pada ngikuti ama dia yang ada tentara. Masuk sini umpamanya,
ngontrak sini. Kumpulnya ama dia.
30
Karena itulah, kemudian pemerintah meminta kepada penduduk yang menyimpan atau memiliki
senjata api agar menyerahkannya kepada pihak keamanan. Hal ini dilakukan pemerintah untuk
menyelesaikan berbagai tindak kekerasan dan kejahatan yang terjadi di Jakarta.
Upaya lain pemerintah adalah mewajibkan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP)
terhadap penduduk yang berada di perbatasan Jakarta mulai Februari 1953. Tujuan pembuatan
KTP ini adalah mencegah orang-orang yang akan mengganggu keamanan baik di perbatasan
maupun di pinggiran kota masuk ke Jakarta. Pembuatan KTP ini tidak diwajibkan kepada
29
Harian Rakjat, 21 Pebruari 1953; Madjalah Kotapradja, 28 Pebruari 1953, No. 12 Tahun III, hlm. 12.
30
Wawancara dengan Maun Sarifin, 17 Djuli 2004.
18
Page 19
penduduk yang tinggal di tengah kota. Tetapi pemerintah daerah akan membuatkan KTP kepada
penduduk di tengah kota jika mereka meminta atau membutuhkannya.
31
Selain Bulloh dan Mat Item, ada pula beberapa kepala garong lain yang namanya populer
di beberapa tempat di Jakarta pada tahun 1950-an. Mereka adalah Tongtihu (Tanjung Barat),
Mugni (Kramat Jati), Ma’i (Pondok Cina), dan Mat Nur (Ciganjur).
32
Tentang banyaknya aksi
para garong yang meneror masyarakat ini, Pramoedya Ananta Toer mengisahkan salah seorang
garong bernama Khalil dalam cerita pendeknya Tanpa Kemudian sebagai berikut:
…[P]ada suatu kali datanglah aku ke markas polisi militer untuk menjenguk garong
yang dibenci oleh seluruh penduduk pangkalan. Waktu aku masuk ke dalam selnya, mula-
mula sekali yang nampak olehku adalah tahi lalat pada puncak hidung. Tahi lalat itu
adalah kepunyaan tetanggaku Khalil. Wajahnya aku tiada mengenal lagi karena telah
tenggelam di dalam bengkak dan bekas-bekas bakaran rokok.
“Khalil!” aku berbisik.
Ia angkat kepalanya dan menentang mataku. Benar, mata itu adalah mata tetanggaku
sendiri, sekalipun telah menjadi sepasang garis lidi. Melihat aku, dengan mendadak
matanya berapi-api berisi dendam kesumat. Dan dendam kesumat itu juga diarahkannya
kepadaku – kawannya sendiri.
Ia tak membuka mulutnya. Mungkin karena bibirnya telah kaku dan lidahnya kelu.
Luka bekas cacar pada lehernya dan sebuah tahi lalat kecil pada pipinya, membawa aku
pada kenangan masa pendudukan Jepang dengan kesulitan-kesulitan dan kesukaan kecil-
kecil yang telah kami alami bersama-sama. Apakah mungkin Khalil seorang garong?
Apakah Revolusi telah mengubah pemuda yang sopan-santun, baik dalam laku maupun
dalam berpikir ini, menjadi seorang penculik wanita?
33
Dalam cerita ini, makna revolusi dipertanyakan kembali karena ternyata telah mengubah
hidup seorang yang santun dan sangat dihormati menjadi seorang garong yang sangat ditakuti. Itu
pula yang terjadi pada seorang pejuang yang baru kembali ke masyarakat setelah berjuang
beberapa tahun.
34
Beberapa garong atau mereka yang disebut bajingan memang mempunyai
pengalaman berjuang sejak pendudukan Jepang hingga masa revolusi. Mereka tentunya
mempunyai cita-cita mulia tentang masyarakatnya dan ini yang menjadi impian banyak pejuang
31
Harian Rakjat, 1 Djuni 1953; Madjalah Kotapradja, 13 Djuni 1953, No. 18-19 Tahun III, hlm. 14.
32
Harian Rakjat, 10 Maret 1953.
33
Toer. Cerita dari Jakarta, hlm 110-111.
34
Lihat kembali catatan kaki nomer 1.
19
Page 20
pada waktu itu, seperti halnya Mat Bendot, Pi’i, dan yang lainnya. Kekecewaan terhadap revolusi
itu sendiri, atau dalam bahasa eks pejuang: “lain di front lain di kota”, tentunya menjadi salah
satu alasan seorang pejuang menjadi seorang bajingan dan menghidupi diri dan keluarganya dari
hasil kejahatan.
Profesi lain yang dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai bajingan adalah tukang
catut. Para tukang catut banyak beroperasi di bioskop atau stasiun kereta api, dan mereka juga
terorganisir. Tukang-tukang catut ini menjadikan harga karcis bioskop atau kereta sebagai
penghasilan mereka. Tidak semua tukang catut mengandalkan hidupnya dari mencatut karcis
bioskop atau tiket kereta api. Beberapa tukang catut yang bekerja di Stasiun Gambir misalnya,
mereka terdiri dari para kuli angkut
35
, pegawai stasiun, montir mobil dan radio. Karcis yang
dicatut terutama untuk tujuan Yogyakarta dan Surabaya. Harga karcis kelas III tujuan Yogyakarta
yang resminya dijual seharga Rp 75, di tangan tukang catut karcis ini menjadi Rp 150. Sementara
harga karcis kelas III tujuan Surabaya yang resminya dijual seharga Rp 195, di tangan tukang
catut menjadi Rp 250.
36
Tentang aksi para tukang catut tiket kereta api ini di stasiun, Maun
Sarifin, yang pernah bekerja di Stasiun Jatinegara dulu sebagai petugas kebersihan kereta api,
menceritakannya sebagai berikut:
37
Biasa, cuma enggak marah gitu. Cuma kalo lihat orang yang lagi bengang-bengong
ditawarin, nawarin, mari saya beliin gitu. Itu ada.Udah dibeliin gitu kan ngasih berapa.
Jadi enggak maksa kayak sekarang. Ada orang lagi itu rupanya bengong, susah, repot, itu
nawarin . Mari saya beliin bapak ikut. Dia ngantri, enggak masuk ke dalam. Cuma dia
35
Kuli angkut di stasiun pada tahun 1950-an terdiri dari yang resmi dan tidak. Pekerjaan angkut-
mengangkut barang-barang milik penumpang ini kemudian ditertibkan oleh pihak stasiun karena
banyaknya orang yang tertarik mengerjakannya. Alasan lain penertiban adalah karena diantara para kuli
angkut sendiri terjadi persaingan yang menjurus ke kekerasan untuk mengangkat barang-barang milik
penumpang kereta api. Kuli angkut resmi dan tidak resmi dapat dikenali dari tanda yang diberikan oleh
pihak stasiun. Sementara diantara kuli angkut sendiri saling mengenal mana diantara mereka yang resmi
dan tidak. Wawancara dengan Maun Sarifin, 17 Juli 2004; lihat pula cerita pendek karya Toer. “Gambir,”
dalam Cerita dari Jakarta.
36
Merdeka, 18 Agustus 1959.
37
Wawancara dengan Maun Sarifin, 17 Juli 2004.
20
Page 21
ngantrinya itu dia karena orang sudah biasa disitu jadi orang main sodok aja, dia
tangannya aja masuk aja duit. Dalam udah tau bahwa itu tangannya orang gituan…Kalo
dapat ia mungkin dikasih duit. Bukannya dia terusan masuk ke dalam dan beli. Enggak.
Loket buka kemudian ngusek-usek, terus tangannya aja masuk. Ada pembersihan
ditangkap. Tapi dulu sih, orang nolongin orang kok, kan gitu. Nolongin orang dia repot
gitu. Kalau sekarang kan terang-terangan nyari untung kan dijual-belikan. Dulu enggak.
Nawarin itu yah nanya dulu. Mari saya beliin.
Sedangkan tentang tukang-tukang catut di bioskop, biasanya dikuasai oleh kelompok atau
etnis tertentu, Sarifin selanjutnya menceritakan sebagai berikut:
Yang namanya calo dari dulu ada di bioskop. Tapi kita bukan ngituin suku ya. Yang
banyakan tuh anak-anak yang dari Ambon. Dulu, waktu itu anak-anak itu kan misih apa
sih anak emas gitu ya ama Belanda kan. Jadi seolah-olah dia tuh paling tinggi di situ. Jadi
dikuasai oleh orang-orang itu, anak-anak itu. Dimana saja. Ada perempuan mau nonton,
…saya beliin gitu. Itu. Tempo-tempo ada untungnya ada bunganya. Berapa? Ada. Biasa
calo, biasa ada calo karcis, tukang catut. Tempo-tempo habis, film rame habis, habis,
habis, film baru buka udah habis. Kan saya kesal. Udah ngantri dengan panjang, baru
buka habis.
Para bajingan lainnya adalah mereka yang beroperasi di pasar-pasar. Mereka menguasai
pasar dan terorganisir. Polisi terkadang kewalahan menangkap para bajingan pasar ini karena
setiap kali dilakukan operasi, maka mereka akan memberitahukannya kepada kawan-kawannya
dengan kode atau tanda, misalnya melambaikan saputangan atau topi. Jika polisi itu pergi, maka
kembali para bajingan ini memberitahukan kepada kawan-kawannya lagi dengan cara serupa.
Dengan demikian, petugas kepolisian tidak akan pernah tuntas menyelesaikan masalah para
bajingan pasar ini. Para bajingan pasar ini biasanya meminta uang jago, demikian istilahnya,
kepada para pedagang agar bisnis mereka tidak diganggu atau mereka merasa aman di pasar. Usia
para bajingan pasar ini beragam, tapi usia terkecil adalah 10 tahun. Tentang para bajingan pasar
ini, Effendi, warga Salemba dulu, menjelaskannya sebagai berikut:
Nah itu, di itu, jadi sebutan wilayah itu biasanya…wilayah pasar-pasar, pedagang-
pedagang di pasar itu. Ngejago lah ya. Uang jago lah…Oleh pedagang-pedagang itu
biasanya ada gitu untuk jatah-jatah mereka supaya usaha mereka enggak diganggu
21
Page 22
begitu…Uang aman ya supaya enggak mereka diganggu walaupun retribusi seperti itu,
tempelan-tempelan itu dari pemda sih ada tapi itu diluar itu…Itu di lingkaran itu.
38
“Uang jago” dulu atau “uang keamanan” suatu istilah yang sering dipakai sekarang pada
dasarnya bentuk lain dari pungutan liar yang dilakukan oleh para bajingan atau preman hingga
kini.
Peran Organisasi Pemuda
Banyaknya pemuda yang terlibat dalam kriminalitas, para bajingan atau preman, di
Jakarta menjadi kekhawatiran dan perhatian para aktivis pemuda waktu itu. Dalam pandangan
para aktivisnya, bagaimana mengubah para pemuda yang terlibat dalam kriminalitas menjadi
lebih baik dan tidak merugikan orang lain atas tindakan-tindakan mereka. Selain itu, ada
kekhawatiran pula bahwa para pemuda ini diperalat oleh organisasi pemuda atau politik tertentu
untuk kepentingan politik. Salah satu organisasi pemuda yang mempunyai perhatian terhadap
masalah ini adalah Pemuda Rakyat. Organisasi ini menjadi tempat bagi para pemuda waktu itu
untuk mengembangkan bakat seni dan olahraga, kepribadian, dan juga intelektual. Tentang
kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Pemuda Rakyat, Teguh, salah seorang aktivis Pemuda
Rakyat di Jakarta Pusat waktu itu, menceritakannya sebagai berikut:
Masalahnya bagaimana supaya jangan sampai ya seperti tadi itu anak-anak muda ini
diperalat atau dipengaruhi hal-hal yang negatif. Itulah yang selalu kita kerjakan. Latihan
nyanyi, latihan nari itu ya. Apa kesukaan pemuda gitu kan. Itu yang kita lakukan.
Disamping secara terus-menerus secara itu kita mengubah ruang geraknya yang dari
semula berada di lingkaran yang enggak jelas menjadi lingkaran yang lebih jelas. Itu aja.
Sehingga perubahan ini kan gimana ya dengan sendirinya mengikis. Katakanlah yang
jelas menjadi lebih baik gitu. Tugas pemuda kan itu.
Kita pemuda, umpamanya saya dapat laporan. Wah dia itu. Enggak kita laporin sama
polisi untuk nangkep dia. Enggak. Kita berpikir, bagaimana supaya mengurangi dia. Itu
yang kita pikir agar supaya dia tidak melakukan hal yang seperti itu. Dengan berbagai
macam cara kita cari siapa yang diantara kita yang dekat ama dia. Itu terus gitu. Itu yang
kita lakukan. Jadi enggak kayak ikut-ikutan kayak polisi lah. Kita lapor itu terus gitu.
38
Wawancara dengan Effendi, 12 Juni 2004.
22
Page 23
Enggak. Kita ketahuan bisa dimusuin. Gitu kan. Tapi kalau dia sadar malah kan lebih
bagus. Gitu.
39
Secara organisasi dan terbuka, Pemuda Rakyat memang tidak pernah menyatakan bahwa
mereka membina atau mengorganisir para bajingan atau preman. Beberapa aktivisnya, atas
sepengetahuan pimpinan, memang mengorganisir mereka di suatu wilayah atau daerah tertentu.
Hal ini dilakukan agar para preman ini tidak diperalat dan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk
tujuan-tujuan politik. Pekerjaan mengorganisir para bajingan atau preman ini mungkin juga
dilakukan oleh organisasi lainnya melihat besarnya pengaruh para bajingan pada waktu itu.
Wilayah hitam di dunia kriminil inilah yang berusaha ditembus oleh aktivis Pemuda Rakyat,
seperti dituturkan oleh Rusmono, seorang aktivis Pemuda Rakyat di Jawa Timur, sebagai berikut:
Saya pernah ditugaskan mengorganisir preman, preman. Saya enggak tau ditugaskan
partai ngurus preman. Tujuannya agar preman-preman itu tidak digunakan oleh lawan-
lawan politik. Memusuhi organisasi partai pada saat itu. Bukan untuk dimanfaatkan,
bukan. Kalau sekarang urus preman kan untuk dimanfaatkan, untuk melakukan
perlawanan. Tapi kita dulu mengurus preman agar preman-preman itu tidak digunakan
orang lain untuk melawan kita. Dinetralisirlah. Dalam pengertian untuk dinetralisir saja,
tidak digunakan, sebab apa, preman itu sendiri menurut kacamata kita moral. Moral,
moral. Wong PKI kadernya ada yang judi aja dipecat…Terus setuju dengan preman kan
malah tersesat lagi. Lah, mengurus preman itu untuk supaya tidak dimanfaatkan orang
lain terutama dalam artian dalam pelaksanaan Undang-undang Pokok Agraria dulu.
Kaum-kaum tuan tanah kan bisa menyewa kaum preman itu untuk melawan kita. Ah ini
kita dulu…Preman kita urusi supaya tidak menjadi dipengaruhi dalam pelaksanaan.
40
Penutup
Kekerasan dan kriminalitas tampaknya erat kaitannya dengan perkembangan sebuah kota,
tidak terkecuali Jakarta. Beragam sebab dan latar belakang menjadi alasan munculnya berbagai
kejahatan terhadap penduduk pada tahun 1950-an di Jakarta. Birokrasi yang belum berjalan
efektif dan normal, tersedianya lapangan pekerjaan, ketidakmampuan kepolisian menangani
masalah keamanan, permusuhan terhadap pemerintah republik dalam bentuk perjuangan
39
Wawancara dengan Teguh, 12 Juni 2004.
40
Wawancara dengan Rusmono, 10 Mei 2001.
23
Page 24
bersenjata adalah beberapa sebab tidak tuntasnya masalah kekerasan dan kriminalitas di Jakarta
waktu itu. Belum lagi, sebagai ibukota negara, pertarungan politik antar elite juga sering terjadi
dan menyeret masyarakat ke dalam konflik diantara mereka, termasuk para jagoan dan bajingan
yang berpengaruh di Jakarta.
Kekerasan dan kriminalitas tampaknya bukan sekadar masalah sosial-ekonomi semata
dari sebuah kota seperti Jakarta, tetapi di dalamnya juga menyangkut aspek-aspek politik.
Warisan dan nilai-nilai revolusi berupa semangat berjuang, pantang menyerah, jujur, solidaritas,
dan pemberani ikut mewarnai pula langkah para jagoan dan bajingan di Jakarta. Memang, tidak
semua para jagoan dan bajingan itu mempunyai pengalaman berjuang melawan Belanda dan
menjadi anggota atau bagian dari sebuah laskar atau kesatuan gerilya di masa revolusi. Tetapi,
bagi generasi penerus para jagoan dan bajingan itu, setidaknya mereka mendapatkan suatu
pengalaman dari pendahulu mereka yang penuh dengan heroisme perjuangan di masa lalu.
Sekalipun wilayah para jagoan dan bajingan berbeda dari kaum politisi, hubungan antara
kriminalitas dan politik, dan juga dengan militer, seperti ditunjukkan pada tahun 1950-an di
Jakarta tidak sepenuhnya lenyap begitu saja pada tahun 1960-an, bahkan sesudahnya.
Penangkapan, pemenjaraan, dan pembunuhan terhadap para jagoan dan bajingan yang
mempunyai ikatan politik dengan perwira dan politisi era Soekarno terus berlanjut hingga
jatuhnya Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya.
24
Page 25
Daftar Pustaka
Abeyasekere, Susan. From Batavia to Jakarta: Indonesia’s Capital 1930s to 1980s. Victoria:
Centre of Southeast Asian Studies-Monash University Press, 1985.
________________. Jakarta: A History. Singapore: Oxford University Press, 1987.
Barker, Joshua. “State of Fear: Controlling the Criminal Contagion in Suharto’s New Order,”
dalam Benedict R.O’G. Anderson (ed.). Violence and the State in Suharto’s Indonesia.
Ithaca, New York: Southeast Asia Program-Cornell University, 2001.
Cribb, Robert. Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesia
Revolution 1945-1949. Sydney: Allen & Unwin, 1991.
Gunawan, Ryadi. “Jagoan dalam Revolusi Kita,” Prisma 8, Agustus 1981, hlm. 41-50.
Hersri S. dan Joebaar Ajoeb. “S.M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar Jalan,” Prisma 5, Mei
1982.
“Jalan-jalan yang Kususuri,” 157/VIII/12-8-’75. Koleksi Perpustakaan Gedung Joang 45,
Jakarta.
Kartodirdjo, Sartono. “The Role of Struggle Organization as Mass Movements in the Indonesia
Revolution,” dalam Sartono Kartodirdjo. Modern Indonesia, Tradition & Transformation: A
Socio-Historical Perspective. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1984.
McVey, Ruth. “The Post-Revolutionary Transformation of the Indonesian Army,” Indonesia No.
11 (April 1971), hlm. 131-176 dan No. 13 (April 1972), hlm. 147-181.
Moestahal, Achmadi. Dari Gontor ke Pulau Buru: Memoar H. Achmadi Moestahal. Yogyakarta:
Syarikat, 2002.
Onghokham. “The Jago in Colonial Java, Ambivalent Champion of the People,” dalam Andrew
Turton dan Shigeharu Tanabe (eds.). History and Peasant Conciousness in South East Asia.
Osaka: National Musem of Ethnology, 1984, hlm. 327-343.
Sundhaussen, Ulf. Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta:
LP3ES, 1986.
Toer, Pramoedya Ananta. Cerita dari Jakarta. Jakarta: Hasta Mitra, 2003.
Zakir, Rama. “Personal Reflections on Living in Jakarta,” dalam Susan Abeyasekere. From
Batavia to Jakarta: Indonesia’s Capital 1930s to 1980s. Victoria: Centre of Southeast Asian
Studies-Monash University Press, 1985.
25

Iklan

3 tanggapan untuk “Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an

  1. salam kenal.. saya joe ebonie.. saya juga merasa diri saya bajingan… banyak hal yang saya dapat baik itu negatif/positif dari konteks bajingan itu. nah menanggapi bacaan diatas yang ditulis oleh bro fauzi, itu lebih ke sejarah ya sepertinya..(kalau ga salah lho…) tapi bagus bgt untukpengetahuan.

    tapi bagaimana dengan menjadi seorang bajingan, kita juga bisa mendapat sebuah hasil untuk hidup. tentunya dengan tidak melanggar aturan yang frontal.. maka dari itu saya telah mengambil keputusan untuk membuat sebuah media informasi berupa majalah gratis dengan judul BADJINGAN. dan slogan NOT JUST ATTITUDE dimana majalh ini akan berisikan tentang seluk beluk seorang bajingan. tentunya dari sisi gelap ke terang. tujuannya agar masyrakat pun sadar bahwa tidak semua bajingan itu buruk.. dan tidak semua yang baik itu benar benar baik.

    maka dari itu,saya mau meminta izin untuk edisi awal yang sudah direncanakan akan terbit pertengahan juli ini, artikel tentang JAGOAN & BAJINGAN DI JAKARTA TH 1950-an akan saya tampilkan sebagai topik. dan tentunya akan ada sedikit perubahan di penulisannya. apa saya di izinkan??? karena menurut saya ini sangat menarik sekali untuk di baca. saya jarang online, maka jika ada yang perlu ditanyakan, bisa hub saya ke 08170778684 / 022 70502644. base dari majalah ini di bandung.

    best regrads

    joe ebonie

  2. Menarik sekali ilustrasi dan analisis Bang Fauzi ini…….. jagoan dan bajingan di kota dan pasca revolusi/konflik lagi…… akhirnya “lain di front lain di kota” menjadi latar belakang psikologis dan ekonomis munculnya kriminalitas di kota besar (Jakarta tahun 1950-an).
    Bagaimana dengan daerah konflik di kota lain, misalnya Banda Aceh atau kota-kota di Aceh pasca perdamaian GAM-TNI? Indikasi ke arah sana sudah dikhawatirkan berbagai pihak dg munculnya “kriminalitas bersenjata pada awal 2007-an lalu”. Rumor yg berkembang, para petinggi GAM sudah mendirikan banyak perusahaan dan memenangkan tender besar di NAD sehingga sekarang berkantong tebal, pertanyaannya apakah “keuntungan bisnis mantan petinggi GAM” mengalir juga ke “arus bawah GAM”? Ini yang masih menimbulkan pertanyaan dan juga kekhawatiran karena berkembang rumor bahwa GAM telah pecah menjadi 5 faksi.
    Damai Aceh adalah harapan seluruh rakyat Aceh dan juga seluruh rakyat RI, untuk itu penanganan kombatan (ex- TNA/GAM) menjadi aspek penting dan itu adalah tugasnya Tgk. Irwandi, Tgk. Nazar, Tgk. Muzakir Manaf, rakyat Aceh, pemerintah RI dan daerah…………. Supaya kondisi Jakarta 1950-an tidak terjadi di Aceh, dan supaya damai Aceh menjadi lebih abadi.
    Bukankah “untuk apa belajar sejarah kalau tidak bisa mengambil hikmahnya”?

    2 Okt 2007
    Cah Comal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s