Mengintip Dunia Perguruan Tinggi di AS

CDC

Kontributor: A Supratiknya (08.06.2004 00:00)

DENGAN penduduk sekitar 280 juta dan memiliki 4.000-an perguruan tinggi, Amerika Serikat kiranya tergolong negara dengan jumlah PT terbanyak di dunia. Bahkan tidak hanya unggul dalam jumlah, sebab konon dua pertiga hingga tiga perempat universitas riset terbaik di dunia ada di sana.

Tentu ada lembaga amatiran yang suka menjajakan gelar dan ijazah, tetapi kiranya banyak perguruan tinggi (PT) di Amerika Serikat (AS) yang mampu menarik minat calon mahasiswa tidak hanya dari dalam negeri sendiri, tetapi juga dari berbagai negara lain karena menawarkan pendidikan bermutu. Animo calon mahasiswa asing, khususnya dari negara-negara yang dikenai aturan keimigrasian lebih ketat sejak merebaknya isu terorisme, memang sempat merosot. Namun, kualitas pendidikan di kampus-kampus di AS umumnya tetap terjaga. Apa saja yang menarik untuk diintip tentang dunia PT di AS?

Gambaran umum

Di AS, tanggung jawab menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara, termasuk pendidikan tinggi, ada di pundak pemerintah negara bagian. Maka, hampir semua PT negeri maupun swasta mendapatkan otorisasi dan dukungan pendanaan dari pemerintah negara bagian dan pusat (federal), tentu dalam jumlah dan bentuk yang berlainan.

Pemerintah negara bagian lazimnya bertanggung jawab penuh menyelenggarakan community colleges, yaitu jenis PT bagi warga komunitas setempat yang menawarkan program pendidikan dua tahunan, baik yang bersifat teknis-vokasional sebagai persiapan memasuki dunia kerja maupun yang bersifat akademik sebagai persiapan melanjutkan studi ke colleges atau universitas.

Dari 4.000-an PT di AS, sekitar 1.000 di antaranya merupakan community colleges dengan biaya kuliah yang murah. Pihak swasta lazimnya ambil bagian dalam penyelenggaraan colleges dan universities, jenis-jenis PT setara universitas dan institut kita dengan biaya kuliah (uang kuliah, uang asrama, dan makan) relatif miring untuk PTN (kurang dari 8.000 dollar AS per tahun) dan cukup mahal untuk PTS (bisa lebih dari 20.000 dollar AS per tahun).

Kendati ada kesadaran, kuliah di PT merupakan privilese atau hak istimewa bagi mereka yang dipandang memenuhi syarat, kenyataannya dalam penerimaan mahasiswa baru ada PT yang menerapkan sistem “pintu terbuka” alias menerima setiap pendaftar tanpa memerhatikan hasil tes masuk maupun prestasi belajar sebelumnya, tetapi ada pula yang menerapkan sistem seleksi ketat. Sesudah diterima, mahasiswa harus pandai memanfaatkan aneka layanan bimbingan yang disediakan, sekaligus harus cukup matang dalam membuat aneka keputusan menyangkut rencana studi yang akan dijalani. Sistem perkuliahan lazimnya memberi kelenturan untuk ganti minat atau pindah jalur, mendorong untuk tidak putus kuliah, memungkinkan untuk berhenti sementara, dan diarahkan demi tumbuhnya kesadaran sekaligus kebiasaan untuk belajar berkelanjutan sepanjang hayat.

Beban studi pada tingkat undergraduate (setara program S1) meliputi minimal tiga komponen, masing-masing dengan jumlah kredit yang kurang lebih bisa sama: (1) general education atau sering disebut general university requirement (GUR), mirip mata kuliah umum kita namun jauh lebih luas; (2) major, yaitu bidang studi yang menjadi minat utama atau setara dengan program studi kita; dan (3) electives atau minor, yaitu sejumlah mata kuliah yang bisa dipilih secara bebas dan tidak harus berkaitan dengan major guna memenuhi total kredit yang disyaratkan untuk menyelesaikan program dan meraih gelar bachelor. Mahasiswa biasanya menyatakan (declare) major pilihannya sebelum tahun ketiga dan bisa memilih lebih dari satu.

Kebanyakan PT menerapkan sistem semester seperti yang kita kenal dan menawarkan semester pendek pada musim panas. Namun, ada juga yang menerapkan sistem trimester atau quarter. Sistem trimester meliputi tiga satuan masa studi yang sama panjang (termasuk musim panas) dalam satu tahun akademik, masing-masing setara dengan satu semester.

Sistem quarter meliputi empat satuan masa studi per tahun akademik, masing-masing berlangsung selama 12 minggu. Setiap satuan kredit-kuarter setara dengan dua pertiga kredit semester. Maka, total beban studi program undergraduate yang diselenggarakan dengan sistem semester atau trimester biasanya berkisar 120 satuan kredit semester/trimester, sedang yang diselenggarakan dengan sistem kuarter berkisar 180 satuan kredit kuarter.

Terlepas dari keanekaragaman yang menjadi ciri pendidikan tinggi di AS, kualitas akademik PTN maupun PTS di sana umumnya terjamin, sebab masing-masing memiliki komitmen pada misi umum yang berlaku. Mengambil inspirasi dari kurikulum pendidikan humaniora PT abad pertengahan di Eropa, misi pendidikan tinggi dirumuskan sebagai quadrivium (empat jalan) baru, meliputi: budaya akademik, efisiensi sosial, pertumbuhan pribadi, dan kompetensi vokasional, serta trivium (tiga jalan) baru meliputi kebebasan, kesetaraan, dan keadilan (Sjogren, 1986).

Universitas riset dan universitas pembelajaran

Fenomena menarik dalam dunia PT di AS adalah kehadiran universitas riset, tepatnya large multiproduct research universities. Sebenarnya sudah menjadi tugas PT untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tetapi, ada beberapa ciri yang bisa disimpulkan dari universitas riset negeri maupun swasta. Pertama, sifat multiproduknya yang utama adalah menyelenggarakan pendidikan undergraduate dalam aneka bidang studi, baik humaniora maupun terapan, menawarkan pendidikan graduate (master) untuk berbagai bidang profesi, memproduksi pengetahuan baru di aneka bidang ilmu, termasuk menciptakan disiplin ilmu baru lewat riset-riset dengan dana yang digalang lewat kerja sama dengan pemerintah dan swasta maupun dari anggaran PT sendiri, serta memproduksi peneliti-peneliti baru lewat pendidikan doktor. Ciri kedua, semua kegiatan itu diselenggarakan dalam skala besar. Contoh, pada tahun akademik 1997-1998 ada 5.300 mahasiswa graduate di Universitas Cornell, 2.700 di antaranya mahasiswa program doktor jalur riset (Ehrenberg, 2002). Ketiga, kegiatan riset berskala besar tentu menghasilkan revenue yang memberi kontribusi signifikan bagi pemasukan PT.

Pemasukan PT di AS umumnya berasal dari minimal lima sumber: (1) uang kuliah (course fee, kiranya tidak dikenal DPP, uang gedung, atau sejenisnya); (2) pendapatan dari bunga dana abadi (endowment income); (3) sumbangan pada tahun berjalan, khususnya dari alumni; (4) aneka program, terutama riset yang didanai pihak luar; (5) subsidi pemerintah; dan (6) pendapatan dari aneka jenis layanan yang diselenggarakan PT seperti asrama (housing), jasa boga (dining), toko kampus, dan lain-lain (parkir dan sebagainya). Pada tahun akademik 1997-1998, sumber ke-1, 2, 3, 4, dan 6 di atas masing-masing memberi kontribusi sebesar 33 persen, tujuh persen, tujuh persen, 21 persen, dan 10 persen dari total pemasukan Universitas Cornell. Pada kasus PTS seperti Cornell meski uang kuliah sudah cukup tinggi dan kontribusinya bagi pemasukan universitas pun cukup signifikan, sebenarnya baru menutup sekitar 60 persen total biaya pendidikan per mahasiswa. Sisanya harus disubsidi sumber dana yang berasal dari PT sendiri maupun dari pihak luar, termasuk pemerintah.

Ciri keempat, sifatnya yang selektif, yaitu mampu menarik pendaftar dalam jumlah berlipat-lipat kali dari yang bisa diterima per tahun. Maka, bisa memilih calon mahasiswa yang berkualitas. Mengapa semua itu bisa terjadi? Salah satu faktor adalah kehadiran para ilmuwan pemenang hadiah Nobel sebagai dosen di universitas riset. Dalam upaya menarik calon mahasiswa, semua dosen pemenang Nobel di Universitas Cornell selalu ditugasi mengampu aneka mata kuliah pengantar bagi mahasiswa baru undergraduate (Ehrenberg, 2002)! Apakah berarti universitas riset (dan PT umumnya di AS) melulu mengedepankan keilmuan? Ternyata tidak. Universitas riset di pantai timur AS yang tergabung dalam Ivy League (Brown, Columbia, Cornell, Dartmouth, Harvard, Pennsylvania, Princeton, dan Yale) selain unggul secara akademik ternyata mahasiswanya juga jago di berbagai cabang olahraga yang sangat populer, termasuk wrestling.

Universitas yang tidak menyelenggarakan program doktor ada yang mencitrakan diri sebagai teaching university alias universitas pembelajaran. Mereka berkonsentrasi menyelenggarakan pendidikan undergraduate dan mungkin sejumlah program graduate tingkat master.

Meski giat dalam riset dan memiliki dosen-dosen peneliti tangguh, namun jelas bukan merupakan pusat produksi pengetahuan dan peneliti baru kelas dunia seperti universitas riset. Pendanaan yang diupayakan sendiri pun lebih mengandalkan pemasukan dari uang kuliah.

Menyangkut uang kuliah ada dua kecenderungan. Pertama, terus meningkatnya uang kuliah (tuition and fees) pada mayoritas PT di AS melebihi tingkat inflasi dari tahun ke tahun. Penyebab utamanya, upaya tiap PT untuk terus mendongkrak mutu tridarma dan pelayanan kepada mahasiswa serta membengkaknya dana penelitian yang harus disediakan sendiri, termasuk di kalangan universitas riset (Ehrenberg, 2004).
Kedua, merebaknya gejala swirling di kalangan mahasiswa, yaitu pindah-pindah kuliah di lebih dari satu kampus dalam rangka menyelesaikan satu program studi demi mengejar suasana kuliah yang lebih kondusif, uang SKS yang lebih murah, dosen yang lebih menantang, dan sebagainya (Bailey, 2003). Ini tentu bisa menggoncangkan anggaran pendapatan, khususnya bagi PT yang ditinggalkan. Akankah aneka gejala itu merambah dunia pendidikan tinggi kita?

A Supratiknya Dosen Universitas Sanata Dharma, Pernah Berkunjung ke Western Washington University dan Florida Institute of Technology dalam Rangka Program Fulbright

sumber: kompas.co.id

Iklan

2 tanggapan untuk “Mengintip Dunia Perguruan Tinggi di AS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s