Kantor, Jenis Kelamin, dan Bahasa

Bergaul dengan lawan jenis di kantor bisa menimbulkan perselingkuhan. Itu dari segi asmara. Di sisi lain, bisa saja bertengkar. Sudah banyak cerita, perbedaan lelaki dan perempuan menimbulkan konflik di kantor.

Seperti yang dialami Debra Yatim baru-baru ini. Suatu ketika ada bawahannya datang. Ia cukup terkejut ketika bawahannya itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang dianggap cukup keras. “Anda tidak seperti direktur,” kata lelaki yang menjadi bawahannya itu. Kata-kata itu begitu keras, apa adanya, dan tidak berliku-liku. Debra mengaku sedikit tersinggung atas sikapnya itu. Akan tetapi kemudian dia sadar, ada yang salah dari perbincangan ini.
Kebetulan, waktu itu ia tengah membaca buku karya Deborah Tannen tentang perbedaan cara berbicara lelaki dan perempuan. Ia pun menyimpulkan, “Kasus seperti ini ada di mana-mana.”

Menurut Tannen, ahli sosiolinguistik Universitas George Town, komunikasi antara lelaki dan perempuan sering menimbulkan masalah di tempat kerja. Lelaki cenderung mengatakan langsung dan apa adanya. Sedangkan perempuan, cukup perhatian dengan sopan santun.
Perbedaan ini mengakibatkan bias komunikasi. Masing-masing pihak seperti berbicara dengan diri mereka sendiri dan akibatnya tidak bertemu titik pertemuannya. Perempuan menganggap lelaki egois, dan lelaki menganggap perempuan lembek.

Bagi kaum feminis liberal, pendapat seperti itu tentu akan dibantah keras. Bagi mereka perbedaannya cuma alat kelamin dan aspek biologis lain. Selebihnya, tergantung budaya. Debra pun sebenarnya sependapat dengan keadaan ini. Perempuan dan lelaki sama dalam kehidupan sosial, akan tetapi fakta lain berbicara. Budaya membuat mereka seperti terpisah dan hidup dalam dunia masing-masing. Berbicara dalam kata-kata yang berlainan. Diksi yang berbeda corak.
Akibatnya, sering terjadi bentrok gender dalam berkomunikasi. Debra mengakui itu. Demikian juga dengan Nurul Agustina. Penulis buku ini mengaku terkadang sulit berbicara dengan lelaki. “Kadang-kadang perempuan itu harus mengadopsi gaya berbicara laki-laki agar bisa didengarkan,” kata dia.

Perempuan berjilbab ini juga berpendapat perempuan dan lelaki sebenarnya sama. Cuma saja, lelaki menguasai dunia publik, termasuk dunia kerja. Mau tidak mau, gaya dunia publik ini menjadi acuan sebagai “gaya lelaki”.
Perbedaan gaya ini mengalokasikan pencitraan yang berbeda pula. Beberapa pekerjaan cenderung diasumsikan dengan jenis pekerjaan tertentu. Perempuan biasanya digambarkan dalam pekerjaan pramugari, perawat, atau guru Taman Kanak-Kanak. Lelaki lain lagi. Biasanya diasosiakan dengan pekerjaan seperti ahli teknik, kuli bangunan, serta tentara.

Perbedaan gaya yang sempat menyulitkan Debra dan Nurul itu, menurut Arvan Pradiansyah, hanyalah kecenderungan saja. Konsultan bidang sumber daya manusia ini beranggapan bak kaum feminis. Ia lebih suka memilah sifat manusia bukan berdasarkan jenis kelaminnya. Ia sering menemukan seseorang yang memiliki pengecualian dari stigma umum. “Gender hanya satu variabel pendukung, dan bukan variabel utama,” kata dia.
Kecenderungannya memang perempuan sering harus bekerja lebih keras dari lelaki untuk mencapai posisi yang sama. Ini sulit diingkari. Setelah usai kerja, terkdang mereka masih harus mengurus anak dan suami. Sementara lelaki, sepertinya cuma bertanggung jawab di ranah publik saja. Urusan domestik, serahkan ke istri saja.

Sebenarnya ada kiat tersendiri dalam berkomunikasi dengan lawan jenis ini. Arvan mengajak untuk menyingkirkan paradigma lama. Sudah bukan waktunya lagi memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Yang benar, kata dia, “memperlakukan orang lain seperti orang itu ingin diperlakukan.” Jadi jika Anda perempuan, cobalah pahami lawan bicara Anda. Pahami dulu bagaimana sifatnya, barulah proses komunikasi itu bisa berjalan lancar.

Untuk itu, ada baiknya kita perhatikan deskripsi Robin Lakoff tentang diksi kata perempuan. Perempuan, kata dia, cenderung berbicara sopan, menggunakan kata-kata yang “lemah”, dan tidak secara langsung. Kata-kata seperti “tidak bisa” akan lebih enak bagi perempuan dibandingkan “gagal”. Atau, perempuan lebih memilih kata “kurang luwes” dibandingkan “tidak pantas”.
Kelihatannya sederhana, namun pengaruhnya terkadang luar biasa. Gradasi kebahasaan ini terbukti masih saja ada di masyarakat walau derajatnya kian berkurang. Akan tetapi perlu diingat, berbicara dalam domain bahasa lawan bicara bisa menunjukkan hormat kita padanya. Akhirnya, pembicaraan tidak berpaling dari kodratnya, yakni alat komunikasi.

Kelemahan perempuan lainnya dalam berkomunikasi, menurut Lakoff, adalah keengganan untuk berkonflik. Lelaki, dalam sebuah penelitian, lebih sering menginterupsi pembicaraan dari pada perempuan. Dalam posisi ini, perempuan sering berada di bawah posisi lelaki.Sifat berbicara seperti ini ternyata mengakibatkan dampak yang lebih luas. Misalnya saja masalah gaji. Sebuah survei di Amerika oleh Asosiasi Nasional Perempuan Eksekutif menyebutkan perempuan lemah dalam bernegosiasi, apalagi soal gaji. Sebanyak 38 persen perempuan yang disurvei mengatakan mereka tidak biasa meminta kenaikan gaji jika atasan tidak menawarkannya.

Sumber : CDC FTUI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: