Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini

Kopi Warung Tinggi

WARUNG kopi Liaw Tek Soen di Hayam Wuruk, Jakarta, sudah tak ada bekasnya. Tapi Tek Soen tentu tak menyangka resep kopi buatannya masih bertahan setelah 131 tahun.

Sejak 1967—ketika rezim Orde Baru melarang orang Cina menggunakan nama asli—kopi Tek Soen juga diubah menjadi kopi Warung Tinggi. Meskipun demikian, sesungguhnya nama itu melekat dengan rumah makan awal Tek Soen di Hayam Wuruk. Karena gedungnya besar dan tinggi, penduduk sekitar menyebutnya warung tinggi. Yang tak berubah hanyalah resep dan logo: wanita sedang menggendong bakul dari bambu.

Kopi Warung Tinggi, yang kini di tangan generasi keempat, masih bertahan karena mereka sukses menjual nilai (value) produk mereka sebagai barang premium: harga mahal, peredaran terbatas. Mereka tidak menjual Warung Tinggi merek yang kami tampilkan adalah produk makanan, juga rokok, pakaian, dan obat (jamu). Di zaman perjuangan itu, modal dan teknologi memang masih belum jamak dipakai di Indonesia. Modal besar dan teknologi sebagian besar masuk Indonesia pada 1967, setelah Undang-Undang Penanaman Modal disahkan.

Merk Tua

Sebagian besar merek itu kini bukanlah pemimpin yang mendominasi pangsa pasar. Kopi Warung Tinggi, Aroma, dan sirup Sarang Sari, misalnya, memilih bergerilya di ceruk yang sempit. Batik Oey Soe Tjoen sudah digilas oleh batik-batik pabrikan seperti Batik Keris atau Danar Hadi, meskipun sampai kini masih diproduksi terbatas. Tapi tak sedikit yang dengan gagah beradu dada dengan perusahaan multinasional.

http://taslaptopku.wordpress.com

Kopi Kapal Api

Kopi Kapal Api, misalnya, mampu memimpin pasar kopi kendati ada Nescafe. Jangan lupa Sinar Sosro (Teh Botol Sosro) yang bertarung dengan perusahaan multinasional seperti di sembarang supermarket atau toko. Hasilnya, Warung Tinggi terus melakukan ekspansi. Dari 20 ton per bulan, mereka berencana menaikkan produksi menjadi 100 ton. Cara yang hampir sama dilakukan Widya Pratama, ahli waris kopi Aroma (1930), Bandung, atau produsen sirup Sarang Sari (1934) di Jakarta. Mereka membuat produknya sebagai warisan masa lampau.

Merk Tua

Ini hanyalah salah satu cara merek-merek tua itu bertahan hingga puluhan tahun. Beberapa di antaranya bahkan sudah di atas 100 tahun. Dalam edisi ini, Tempo mencoba melacak merek-merek tua itu di tengah makin kerasnya gempuran produk-produk asing belakangan ini. Kami memilih tahun 1945 sebagai batas usia merek yang akan ditampilkan dalam edisi setelah Lebaran ini. Batas ini hanyalah penanda untuk menunjukkan betapa produk dengan
merek antik itu memang sudah ada sebelum kemerdekaan.

Pada era itu, hampir semua produk dibuat dalam industri rumahan dengan modal yang mungkin tidak terlalu besar. Yang menarik, hampir semua produk itu dibuat oleh penduduk Indonesia keturunan Cina. Pada zaman itu, penjajah Belanda memang memposisikan mereka sebagai saudagar atau kelas pedagang. Dari sisi produk, sebagian Coca-Cola atau Danone.

http://tasbayiku.wordpress.com

Kunci keberhasilan mereka bukan hanya positioning—memilih ceruk pasar yang tepat—tapi juga melalui berbagai cara lain. Beberapa perusahaan itu selalu mencoba melakukan inovasi, entah dalam proses produksi, dalam hal produknya sendiri, atau dalam strategi pemasarannya. Ada juga yang memodernisasi diri dengan merekrut manajer-manajer dari luar keluarga atau bahkan go public dengan menjual sahamnya di bursa.

Tapi banyak juga yang akhirnya melego perusahaannya ke investor asing dengan berbagai alasan. Putera Sampoerna menjual perusahaan yang didirikan kakeknya ke Philip Morris atau Kecap Bango terpaksa dilepas ke Unilever.

http://sandalnamaku.wordpress.com

Sumber : Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: