Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Sabun

B29 [1930]

Sabun B29

PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unilever—ketika itu satu-satunya sabun cuci yang beredar di pasar—mendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa mencuci baju, piring, bahkan mandi.

Sewu Gunawan prihatin. Anak tunggal yang merantau dari Mojokerto, Jawa Timur, pada usia 16 tahun itu pun putar otak. Dengan bantuan seorang guru kimia sebuah sekolah menengah atas, dia mencari bahan pengganti kaustik soda—bahan utama sabun saat itu. ”Akhirnya pakai bahan gula dari tebu,” kata Eka Gunawan, putra bungsu Sewu, mengingat cerita ayahnya. ”Jauh lebih murah dan ekonomis.”

Pada 1942, mulailah sebuah pabrik rumahan dibangun di lahan 300 meter persegi di Jalan Malaka, Jakarta Pusat. Nama B29 didaftarkan kepada pemerintah Hindia Belanda oleh Sinar Antjol, perusahaan yang didirikan Sewu. Sekitar seratus orang direkrut Sewu untuk ”mengaduk” bahan sabun dan mencetak B29. Saat itu B29 belum menjadi pesaing Cap Tangan, yang namanya sudah ke mana-mana. Tujuannya, kata Eka, semata membuat sabun banyak dan dijual semurah mungkin. ”Jadi awalnya lebih ke misi sosial.”

SURATMI, pelawak wanita bertubuh subur, nyaris setiap hari hadir di ruang keluarga. Suratmi memang jadi ikon sabun B29. Di layar televisi, dari sore hingga malam, dengan gayanya yang kenes, ia membujuk para ibu memakai sabun krim B29. Bentuk krim, atau lebih dikenal ”colek”, merupakan terobosan baru di bidang sabun cuci saat sabun bubuk mewabah di Indonesia pada dekade 1970.

http://promosiunik.wordpress.com

Cuma perlu waktu singkat bagi B29 masuk di hati ibu-ibu rumah tangga. Selain harganya murah, sabun itu banyak manfaatnya. Bisa membersihkan piring, pakaian, hingga cuci mobil. B29 langsung menguasai 80 persen pasar Indonesia. ”Banyak sekali permintaan, tapi kami tak bisa memenuhinya dalam waktu singkat,” ujar Direktur Sales dan Marketing Arie Handoyo Halim. Suratmi sendiri, karena identik dengan sabun itu, namanya lebih dikenal sebagai ”Ratmi B29”.

Menurut Eka, ayahnya memang punya misi menciptakan produk murah untuk ibu-ibu di Indonesia. Bentuk awal sabun bubuk yang basah sendiri sebetulnya seperti krim. Krim itu kemudian dikeringkan. ”Kalau nanti dibasahi lagi, kenapa tidak dijual dalam bentuk krim saja,” demikian pikir ayahnya, Sewu, ketika itu. Jadilah B29 itu. Dengan cara itu, ongkos produksi juga dihemat karena tak perlu menyediakan mesin pengering.

Masa kejayaan B29 mulai menyurut sejak akhir 1980-an. Sejumlah sabun serupa masuk ke pasar. Menurut Eka, ketika diserahi tongkat estafet bisnis sabun colek pertama di Indonesia tersebut, pada 1991, ia menghadapi masalah pelik: bagaimana mengangkat kembali B29 agar berjaya di pasar.

http://taslaptopku.wordpress.com

Sumber : Tempo

Iklan

Satu Tanggapan

  1. apakah ada hadiah langsung dalam kemasan sabun B-29, yg hadiah nya mobil avanza, mohon di jelsakan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: