Menikmati, Bukan Hanya Memiliki

Rumah yang ditempati sekarang ini kami beli dari sepasang suami istri yang
berusia jauh di atas kami. Kami tertarik dengan rumah ini karena sesuai
dengan impian kami, yaitu bangunannya hanya sepertiga dari tanah. Selebihnya
adalah tanah terbuka dengan banyak pepohonan rindang. Kami ingin rumah
seperti di kampung.

Suami istri itu bercerita bahwa mereka baru menikmati rumah ini beberapa
tahun belakangan ini, setelah si suami pensiun dan si istri melepas jabatan
strukturalnya di sebuah kampus ternama.

Akhirnya mereka tersadar bahwa selama ini menanggap rumah ini bak rumah kos
saja, hanya untuk tidur belaka. Selebihnya sering kosong, karena mereka
masing-masing sibuk di luar rumah. Pun pada saat hari libur, mereka habiskan
untuk menghadiri acara dan undangan ini itu.

Saat ingin menikmati rumah itu, energi mereka sudah tidak seperti dulu lagi.
Mereka tidak sanggup lagi merawat rumah yang cukup besar ini. Mereka ingin
pindah ke rumah yang lebih kecil.

Salah seorang famili saya begitu antusias dengan hobi barunya, bersepeda.
Tidak tanggung-tanggung, entah karena pengaruh iklan atau temannya, ia
membeli sepeda yang harganya hampir seratus jutaan. Sekarang kondisi sepeda
itu hanya teronggok di pojokan garasi tak terpakai. Pemiliknya ternyata
hanya kepincut sebentar dengan mainan itu.

Bahkan seorang kerabat lain punya kesimpulan ekstrim bahwa semua
kepemilikannya hanya dinikmati oleh orang lain. Rumahnya lebih banyak
dinikmati oleh pembantu yang menjaganya. Mobil lebih banyak dinikmati oleh
sopirnya. Ia jadi tidak begitu berminat dengan kepemilikan barang-barang
yang bisa dibeli dari hasil jerih payahnya.

Saya sendiri, belakangan ini mulai menginventarisir barang-barang yang saya
miliki. Ternyata, setelah ditelusuri banyak di antara barang yang
dikumpulkan itu jarang atau nyaris tak ternikmati. Contohnya adalah pakaian.
Setelah saya kumpulkan, ada ratusan pakaian menumpuk di lemari dan tak
terpakai. Ternyata, saya hanya mengulang-ulang pakaian yang saya sukai saja.

Saya berkesimpulan bahwa saya hanya butuh beberapa helai pakaian saja untuk
kebutuhan sehari-hari dan acara tertentu. Jumlahnya tidak sampai 20 potong.
Pakaian hasil sortiran yang tak terpakai ini sekarang saya tumpuk.
Rencananya mau disumbangkan. Sebagian sudah diangsur oleh pembantu untuk
dibawa ke kampungnya.

Gadget, adalah barang yang selalu menggoda saya. Begitu kita beli model
terbaru, tak lama kemudian muncul lagi yang lebih canggih dan membuat milik
saya jadi kuno. Saya jadi tidak nyaman dengan milik saya yang sekarang ini.
Padahal, saya belum maksimal menikmatinya.

Begitulah dunia materi yang selalu menggoda kita dengan berbagai caranya.
Mereka merayu kita agar selalu meningkatkan keinginan menjadi kebutuhan.

Saya jadi teringat dengan tulisan Arvan Pradiansyah beberapa tahun lalu di
majalah SWA, berjudul: Menikmati, Bukan Memiliki. Banyak di antara kita yang
terjebak mengejar kepemilikan, bukan kepada esensi dari kepemilikan itu
sendiri, yaitu untuk menikmatinya.

Bagaimana cara untuk menikmati yang kita miliki? Dengan mengendalikan nafsu
untuk memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi. Beli sedikit saja, tapi
yang betul-betul penting, esensi. Itu saran dari Leo Babauta, penulis blog
tentang gaya hidup minimalis yang cukup mempengaruhi
saya ini.

Belilah sedikit barang, tapi betul-betul berkualitas, kata Leo. Saya setuju.
Jam tangan Seiko yang saya pakai sekarang ini adalah pengganti jam yang saya
beli tahun 2002 lalu. Jam ini pun saya ganti bukan karena rusak, tapi atas
anjuran istri yang sudah bosan melihatnya 😀 Saya sudah sangat puas
memakai jam itu sebelum diganti dengan yang lain. Utilitasnya sudah
maksimal, menurut teori ekonomi mikro yang saya pelajari.

Begitu juga dengan sepatu. Saya hanya memiliki 3 sepatu. Satu sepatu kasual
untuk dipakai sehari-hari, satu sepatu formal jika ada acara yang mewajibkan
memakai batik atau jas (sepatu ini sangat tidak saya sukai karena tidak
nyaman), dan satu sepatu olah raga.

Menurut saya, kenikmatan dari kepemilikan itu tidak berhubungan dengan
jumlah yang dimiliki. Semakin banyak yang dimiliki, semakin berkurang
kenikmatannya. Semakin sedikit yang dimiliki semakin maksimal kita
menikmatinya.

Lantas, buat apa dong kita mengejar kekayaan? Tergantung tujuannya. Kalau
kekayaan hanya dijadikan alat untuk mengejar kepemilikan, niscaya akan
sia-sia dan hampa. Kekayaan harus dikejar semaksimal mungkin dengan tujuan
yang lebih tinggi dari itu. Anda pasti paham apa maksud saya.

Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!

Wassalam,
Badroni Yuzirman

http://tasbayiku.jawarashop.com

Sumber : TDA

Iklan

Satu tanggapan untuk “Menikmati, Bukan Hanya Memiliki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s