Berkaca di Jalan Raya

Harian Kompas (Senin, 3 Agustus 2009) menurunkan tulisan yang menarik, berjudul ”Lalu Lintas DKI Kian Kacau”. Karut-marut lalu lintas di Jakarta memang sangat memprihatinkan dan butuh perhatian serius.

Perlu diingat bahwa perilaku orang di jalan raya pada dasarnya adalah cermin budaya sebuah kota. Dengan kata lain, keliaran para pengguna jalan adalah keliaran kebudayaan sebuah kota. Selain itu, di jalan raya itu pula kita bisa berkaca tentang diri manusia yang bisa dikatakan ”apa adanya”.

https://supermilan.wordpress.com

Menyimak gejala

Ditulis dalam tulisan yang dimuat di harian Kompas itu bahwa ”pengendara sepeda motor kian liar melawan arus, sementara pengemudi mobil, terutama angkutan umum, memarkir kendaraan dan menunggu penumpang di tengah jalan”.

Hal itu tentu hanya sebagian gejala. Masih ada beberapa gejala lain yang belum terlaporkan, misalnya perilaku pengguna kendaraan umum yang tidak menyetop kendaraan umum di halte yang telah disediakan.

Demikian pula, para pejalan kaki tidak menggunakan zebra cross atau jembatan penyeberangan atau tempat penyeberangan resmi untuk menyeberang jalan.

Cukup jelas bahwa gejala-gejala itu menunjuk pada beberapa sifat asli manusia. Anonimitas jalan raya membuat orang tidak punya rasa malu sehingga bisa liar apa adanya. Yang muncul adalah sifat asli manusia, nyaris tanpa basa-basi. Sifat yang dominan adalah egois atau tidak peduli kepada orang lain, pemalas atau tidak mau repot dan pelupa.

Sifat egois jelas dari perilaku berhenti di sembarang tempat, saling serobot, termasuk—yang belum ditulis Kompas—mengirim SMS sambil naik motor. Sifat pemalas tampak dari gejala motor yang suka melawan arus dan tidak difungsikannya secara optimal halte bus, zebra cross, dan jembatan penyeberangan. Sifat pelupa tampak dari dilupakannya semua rambu dan pelajaran sopan santun berlalu lintas yang pernah didapat.

http://taslaptop.jawarashop.com

Basic instincts?

Orang Jakarta bisa saja mengelak dari sebutan manusia yang pemalas, pelupa, dan egois seperti tecermin di jalan raya tadi. Alasannya, selain masih banyak sifat baik yang tidak tampak, ketiga gejala tadi bukan hanya monopoli orang Jakarta. Ketiga sifat dasar itu ternyata bisa dikatakan universal, dimiliki hampir semua orang.

Memang, sifat egois atau tidak peduli bisa mengingatkan pada teori “survival for the fittest” nya Charles Darwin atau juga homo homini lupus-nya Thomas Hobbes. Artinya, gejala itu pun sudah direfleksikan oleh para ilmuwan dan cenderung dikatakan sebagai sifat bawaan manusia demi mempertahankan hidupnya.

Sementara itu, sifat pemalas juga tampak dalam banyak orang di luar Jakarta. Tidak hanya manusia Jakarta yang harus dipaksa—entah itu dicereweti maupun dicubit ibunya—untuk belajar pada waktu masih anak-anak.

Selain itu, manusia memang pada dasarnya tidak suka yang tidak enak sehingga cukup mudah disimpulkan bahwa manusia itu tidak mau repot dan kemudian cenderung menjadi malas.

Juga adanya ujian, seperti ujian akhir nasional ataupun ulangan umum di sekolah, selain untuk memaksa anak belajar, juga untuk memaksa orang mengingat. Tak jarang, satu pelajaran harus diulang beberapa kali, seperti halnya khotbah agama sering mengupas hal yang pada dasarnya sama. Ini jelas menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia itu, bukan hanya manusia Jakarta, adalah pelupa.

http://sandalnama.jawarashop.com

Jakarta Berbudaya

Tampak bahwa ketiga sifat manusia Jakarta yang tecermin di jalan raya itu adalah gejala umum. Hal ini tidak berarti bahwa basic instincts tadi dibiarkan begitu saja. Supaya hidup bersama bisa berjalan lancar, ketiganya perlu dikelola dengan benar. Bahkan, syukur-syukur dikelola sedemikian rupa sehingga manusia bisa lebih berbudaya.

Dengan kata lain, kebudayaan tidak hanya berarti sekumpulan benda seni atau gedung megah hasil kreativitas manusia saja. Kebudayaan juga mencakup perilaku atau kebiasaan sosial yang bisa dibentuk dalam sebuah masyarakat.

Kebiasaan antre, tertib berlalu lintas, tertib taruh dan pilah sampah, dan tertib merokok, misalnya, adalah bagian dari budaya. Semua itu butuh pengelolaan, bahkan juga perekayasaan.

Dalam hal inilah peran penting pemerintah menjadi kentara. Pemerintah mempunyai otoritas dan sarana-prasarana untuk mengelola basic instincts warganya. Pengelolaan minimal berarti kelancaran hidup bersama, tetapi tentu akan lebih maksimal jika hidup individu juga bisa lebih bermutu.

Karena itu, bisa dikatakan bahwa jalan raya di Jakarta bukan hanya menjadi tempat berkaca warga, melainkan juga tempat berkaca sejauh mana pemda Jakarta membuat warganya makin berbudaya. Dengan kata lain, aparat pemerintah bukan hanya sekadar mengatur ketertiban, tetapi juga berfungsi ”mendidik” warganya.

Kiranya, itulah yang diharapkan seorang pengamat lalu lintas yang dikutip dalam tulisan di harian Kompas agar aparat tegas menegakkan aturan, kalau perlu dengan tangan besi dan menjaga konsistensi. Tentu, yang dimaksud konsistensi di sini bukan hanya konsistensi dalam rentangan waktu, tetapi juga konsistensi (dan sinergi) antar-aparat. Hal terakhir inilah yang selama ini terasa paling kedodoran.

~ Andang L Binawan Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta; Penggiat Gerakan Masyarakat Peduli Sampah (Gemash) Jakarta

http://tasbayi.jawarashop.com

Sumber : Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s