Inilah Alasan Lengkap Warga Mustika Jaya Tolak Gereja HKBP

https://supermilan.wordpress.com
Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut.

Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini.

Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.

SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan.

Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli.

Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP.

Warga selain  muslim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan.  Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan.

Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.

Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak.

Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.

Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak.

Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.

Dan  kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP.

Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).

Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat  Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa,  Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka.

Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anda ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.

Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar.  Kita ini orang timur, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidak dimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun!

Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.

Salam,

Agustus 2010,
Mustika Jaya Bbekasi

Rahmat Siliwangi

Sumber : FPI.or.id

Iklan

16 Tanggapan

  1. saya sendiri ebrharap berita yang disajikan di Media masa agar berimbang tapi sayangnya yang muncul di TV adalah mereka yang terkesan ditindas…

    Jika kita bicara Kebebasan Umat Beragama, apakah pernah ditanyakan kepada mereka tentang alasan penolakan adanya aktifitas HKBP…

    Dengan adanya berita ini semoga jadi jelas kenapa adanya penolakan

    Jangan sampai ada kejadian mendirikan tempat ibadah dimana didaerah berdirinya tempat ibadaha tersebut tidak ada pemeluk agama tersebut…

    Jika ada…jadi sebuah pertanyaan besar ???????

  2. semoga dengan adanya berita seperti ini menjadikan informasi yang diterima oleh masyarakat bisa berimbang

  3. salam damai untuk kita semua……
    sy sangat menghargai informasi yang disampaikan oleh saudaraku Rahmat. Mdh2n menjadi informasi yang penting jg bagi semua pihak terkait untuk disikapi dgn dgn bijak., agar ada solusi terbaik menyelesaikan permasalhan ini.

    Namun saya kurang sependapat dengan kesimpulan terakhir dari saudarku Rahmat. yang mengeneralisir yaitu “seolah-olah dgn adanya HKBP maka anak2 akan menjadi pemabuk, keras kepala, kekerasan akan meningkat, kejahatan akan meningkat”. HKBP tdk seperti itu. klo oknum mungkin saja..

    semoga kedamaian menyertai kita semua.
    tks.

  4. Hal tersebut seharusnya bisa dipublikasi oleh warga di seluruh media massa. Mungkin akan lebih baik jika tokoh2 lintas agama warga Mustika Jaya menjadi juru bicara untuk mengklarifikasi, bahwa sangat mungkin pemicu insiden tersebut adalah masalah sosial, bukan masalah agama atau kepercayaan. Saya pribadi sangat yakin, seyakin yakinnya, bahwa warga di mustika jaya sangat menghormati antar pemeluk agama dan keyakinan. Lakum dinukum wa liyyadiin…

  5. Merdeka….
    Syalom….
    Terima kasih atas penjelasannya…
    saya berharap surat ini dapt diklarifikasi dan dpt di publikasikan di TV… Saya jga spendapt jka hal ini yg mnjdi mslahnya, namun salah jika HKBP disalahkan karena didalam HKBP tidak di perbolehkan mabuk2an, mengganggu ketentraman dll.. Dpt dilihat dalam konvesi HKBP.
    Jd yg sepatutnya org yg medirikan kedai2 tuak, org2 mabuk dll itulah yg di salahkan.
    harapan saya trhdp saudara2 org batak, mulailah menghrgai org di sekitar, jgn seenak hati.

    Sekali lagi jgn samakan org2 yg mabuk2 itu dll, dgn HKBP, walau mereka jmaat HKBP, karena mungkin mereka hnya Kristen KTP, yg jrg beribadah dan tdk bertobat.
    Mohon kita dpt bertukar pikiran satu sama lain.
    Trimakasih

  6. Merdeka….
    Syalom….
    Terima kasih atas penjelasannya…
    saya berharap surat ini dapt diklarifikasi dan dpt di publikasikan di TV… Saya jga spendapt jka hal ini yg mnjdi mslahnya, namun salah jika HKBP disalahkan karena didalam HKBP tidak di perbolehkan mabuk2an, mengganggu ketentraman dll.. Dpt dilihat dalam konvesi HKBP.
    Jd yg sepatutnya org yg medirikan kedai2 tuak, org2 mabuk dll itulah yg di salahkan.
    harapan saya trhdp saudara2 org batak, mulailah menghrgai org di sekitar, jgn seenak hati.

    Sekali lagi jgn samakan org2 yg mabuk2 itu dll, dgn HKBP, walau mereka jmaat HKBP, karena mungkin mereka hnya Kristen KTP, yg jrg beribadah dan tdk bertobat.
    Mohon kita dpt bertukar pikiran satu sama lain.
    Trimakasih…

  7. Ini informasi baru. Tapi apakah kebenaran informasi ini bisa dipertanggung jawabkan? Siapapun bisa menulis apapun. Saya bukan membela HKBP ataupun Batak, tapi saya melihat informasi inipun tidak berimbang, hanya menonjolkan sisi buruk HKPB, apalagi secara spesifik menunjuk ke Batak. Benarkah tidak ada satu kebaikan pun yang HKBP/batak lakukan di daerah Mustika Jaya, koq saya tidak yakin ya. Si penulis juga ibarat maling teriak maling, menuduh informasi yang dimuat media tidak berimbang, sedangkan dia sendiri menulis informasi yang juga tidak berimbang. Selama 20 tahun bisa bersama di Mustika Jaya tanpa ada kontribusi berarti dari HKBP/Batak? Ayolah, bicara yang jujur, memang HKBP/Batak pasti punya banyak kekurangan, tapi bukan berarti semua yang mereka lakukan selama ini di Mustika Jaya adalah yang buruk2, mabuk2, dll. Mari berfikir bijak, suku manapun, agama manapun gak ada yang semuanya baik, pasti ada saja yang kelakuannya bejat.

  8. Saya mau tanya kepada penulis, apakah ada gereja lain selain hkbp di perumahan tersebut? tahukah anda betapa sulitnya mendirikan tempat ibadah di jawa barat?. saya ambil contoh di JABABEKA ada 10 % penduduknya yg kristiani, dan pihak Jababeka pernah mau membangun tempat ibadah untuk kaum nasrani dan izin bupatipun sudah keluar, tiba2 kelompok islam keras ngamuk membabibuta, teriak2 tidak membolehkan bangunan tsb dibangun, pdhal apa hak mereka, itu tanah punya Jababeka, yg bangun juga Jababeka, izin sudah ada. jadi pada dasarnya ada sekelompok orang yg mau menjadikan nnegara ini negara islam, tp tidak akan pernah berhasil sampai kiamat, mknya mrk deperate, ngamuk dimana-mana kyk org gila.

  9. jika mau membangun tempat ibadah apapun dia agamanya di NKRI ini ada aturan mainnya/peraturaanya,lihat di bali banyak pure sedikit mushola karena disana dominan hindu,ngga asal berdiri sementara dilingkungannya mayoiritas,di NKRI ini bukan negara muslim/islam tapi untuk membangun tempat ibadah (mesjid,gereja,wihara,pure dll) ada aturan/peraturannya,beruntunglah anda tinggal dinegara mayoritas tapi hak-hak anda disetarakan! Coba lihat muslim minoritas diseluruh dunia! Penuh intimidasi dan dilegalkan oleh pemerintahnya!

  10. kalo ingin damai, ikutin aja peraturan yg berlaku.

  11. mnrut saya, komentar dari saudara avatar “Coba lihat muslim minoritas diseluruh dunia! Penuh intimidasi dan dilegalkan oleh pemerintahnya!” sedikit ganjil. karena dengan pernyataan ini seakan-akan ingin membalaskan tindakan tersebut terhadap saudaranya SEBANGSA DAN SENERGARA. toh itu kan terjadi di negara mereka. dan itu permasalahn dalam negeri mereka. toh di dalam negera kita, kita tidak berhak mengikut campuri urusan dlam negeri mereka.

    marilah kita semua mencoba untuk saling merendahkan hati, jangan mencari kesalahn org lain dan kebenaran kita, namun sebaliknya, cari kesalahan kita dan kebenaran orang lain., sehingga tidak terjadi perpecahan, karena kita saling memiliki kekurangan dan kelebihan. Marilah kita menjalankan kerukunan antar umat beragama seperti lagu yang berjudul “NYANYIAN PERDAMAIAN”.

    saya yakin Indonesia dapat membuka mata dunia, bahwa perbedaan agama bukan hal yg harus di perdebatkan, namun menjadi sesuatu yang membuat indah seperti PELANGI…..

  12. sesungguhnya yahudi@nasrani tidak ridho sebelum kamu mengikuti mereka. hati2 lah

  13. jawabannya sudah ada disini : jephman.wordpress.com

    Saya bisa mengerti bagian dimana orang Batak dinilai kasar dan arogan dikarenakan logat bicara orang Batak yang sangat khas. Saya kira semua orang Batak pernah mendengar perndapat itu, dan kami memakluminya. Tapi sebenarnya kita harus sadar, antara “terdengar kasar” dengan “bermaksud kasar” ada perbedaan mendasar. Sebagai orang Batak yang tinggal di Banten, lucunya saya juga mendengar komentar yang sama dari orang Sunda Bandung mengenai logat bicara orang Sunda Banten yang bagi kami biasa saja, tapi dinilai arogan, keras, dan kasar serta sok jagoan. Konyolnya lagi pendapat warga Banten tentang orang Madura yang juga kurang lebih sama atau antara orang Betawi dengan orang Sunda misalnya yang dinilai genit dan suka bercanda seronok alias cunihin. Begitu juga warga Betawi yang dinilai suka bicara kasar, ngotot dan petantang petenteng mentang mentang penduduk asli Masih banyak contoh lain yang bisa kita kemukakan disini. Dan kami bisa mengerti itu karena kami merasakan juga stereotype yang sama padahal itu bukanlah kearoganan ataupun kesombongan. Itu murni cara bicara yang tidak ada hubungannya dengan kearoganan. Tidak ada sangkut pautnya logat bicara seorang Banten dengan kejagoannya dia bersilat lagak jawara misalnya. Kami mengerti banyak faktor yang membuat mereka begitu tanpa harus memandang bahwa semua orang dari suku mereka pasti begitu.

    Saya tidak mendapat alasan kuat dari pendapat Anda ini : “mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri”…” dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi”…”Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka” Bagaimanakah kami harus hormat kepada warga sekitar? Haruskah kita bersalam-salaman terus setiap ketemu? Atau haruskah kami meminta ijin setiap kami lewat? Mestikah kami mencium tangan tetua warga setiap berpapasan? Saya pikir sekedar menyapa atau bilang permisi itu sudah cukup sopan. Kalaupun ada yang tidak menyapa, itu bukan berarti tanah anda menjadi hak milik mereka bukan?

    Saya heran anda tidak mengerti bagaimana orang Batak mulai berdatangan ke rumah yang dijadikan gereja. Itu dikarenakan mereka adalah pendatang seperti halnya kami mengerti bagaimana di kampung kami banyak suku Jawa atau Minang atau Aceh atau Melayu dan mereka mendirikan masjid lantas berdatangan untuk beribadah. Itu karena kami mengerti mereka tinggal berjauhan dan ditempat mereka tidak ada masjid. Saya tidak memandang mereka yang mondar-mandir mau beribadah ke masjid tanpa menyapa opung kami sebagai sesuatu yang arogan.

    Saya tidak mendapat bukti kuat dari pendapat Pak Rahmat : “Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku. Bisa dijelaskan apa bentuk intimidasi tersebut? Saya pikir menggoda wanita bukanlah perilaku orang Batak saja. Kita semua juga pernah mendapat pengalaman itu, putri saya juga sering digoda penduduk bukan pendatang. Pemuda mereka pun sering mabuk-mabukan bahkan memakai narkoba. Apakah itu menjadi stereotype kami terhadap warga asli? Hanya karena beberapa orang dari mereka genit, mabuk-mabukan dan memakai narkoba lantas semua warga asli memang bejat? Ada yang aneh dari pernyataan anda disini. Anda menyamaratakan stereotype yang di suku manapun ada pelakunya.

    Mengenai makan dan memotong babi, sekedar info, sebelah rumah saya adalah seorang haji yang tiap Idul Adha memotong puluhan kambing. Anda bayangkan bau feses dan kencing yang dikeluarkan binatang itu sampai ke rumah saya. Apa saya merasa terintimidasi? Saya memaklumi hal itu sebagai bagian yang harus dipikul bersama sebagai warga negara heterogen dimana semua kepentingan publik dapat bersinggungan. Saya tidak mengerti bagaimana bau daging bisa membuat hal itu sebagai suatu hal yang menghina dan dinilai arogan atau tidak tahu diri. Pengalaman anda itu kami rasakan juga dikampung kami dan kami tidak memandangnya sebagai hal yang negatif. Tentu saja pandangan negatif ini ada karena Islam mengharamkan hal itu. Sama halnya kami memandang negatif muslim yang bangga berpoligami di kampung kami bahkan mempropagandakan hal itu sebagai budaya timur. Jelas ini lebih berbahaya dari sekedar makan daging babi atau anjing. Ini juga merusak tatanan sosial yang ada disana, juga mersuak mental dan moral generasi muda dan jelas ada hubungannya dengan ajaran Islam. Tapi apakah kami melarang masjid berdiri? Kan tidak.

    Yang saya tidak mengerti adalah bagian ketidaksukaan anda terhadap “tindak-tanduk” orang Batak berakibat dengan tidak diberikannya ijin mendirikan gereja. Saya amat sangat bingung kalau anda menghubungkan kearoganan, kekasaran, kesembronoan, ketidaktahu dirian, ketidak tahu maluan, dan sikap menyebalkan kami dengan ijin beribadah. Padahal anda sendiri menyatakan bahwa banyak non muslim yang bukan Batak berpendapat sama dengan anda. Jadi bukan gereja yang jadi masalah.

    Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.

    Jelas sekali kalau Bapak Rahmat Siliwangi hendak membelokkan masalah pembangunan gereja dengan mengait-ngaitkannya kepada stereotype negatif orang Batak. Jelas sekali Pak Rahmat melebih-lebihkan kalau semua kekerasan dan kejahatan yang terjadi disana itu hanya dan oleh orang Batak saja. Kalau boleh saya menyimpulkan pendapat Anda, karena perilaku orang Batak sudah paling buruk di bumi ini lah maka tidak pantas untuk beribadah, maka tidak boleh mendirikan gereja. Entah apa bapak mengerti, bahwa ini tidak nyambung bahkan terkesan dicari-cari. Pernyataan Anda bahwa banyak warga non muslim pun merasa tidak suka dengan perilaku negatif orang Batak diatas sebenarnya sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak berhubungan dengan agama.

    Sebagai orang Batak, saya mengerti ada banyak ketidak sempurnaan dalam perilaku orang Batak. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak sempurna. Sebagaimana saya juga mengerti ketidaksempurnaan warga muslim di kampung kami atau dimanapun. Tapi itu bukan berarti kami melarang mereka beribadah dengan melarang mereka mendirikan masjid. Sama halnya saya tidak begitu yakin bahwa setiap warga Mustika Jaya adalah calon penghuni surga berhati malaikat yang berakhlak mulia tanpa ada cela.

    Salam.
    Tuhan Yesus Mengasihi Anda.
    Jephanya Manalu

  14. Terlepas dari itu semua (kerukunan antar umat beragama/pembangunan tempat ibadah) hal yang paling mendasar yang belum sdr@fery fikirkan bahkan terfikirkan! Ada pepatah mengatakan ” DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNGJUNG” tapi sdr fery tdk melihat itu sebagai suatu yg urgent,persepsi saudara terlalu berkeyakinan bawa adat istiadat/kultur/gaya kita tak bisa diubah/rubah walaupun kita ada dimana!?yang penting masih di NKRI jg! Inget sdr fery, jika itu pedoman yg anda pegang! Mungkin tak akan ada kerusuhan ras (kasus madura vs dayak/kalimantan) dimana ribuan nyawa melayang karena cara sdr! Orang sunda k’medan/batak otomatis hrus mengikuti budaya setempat! Begitu pula sebaliknya! Maka disitulah artinya ” DIMANA BUMI (tempat/daerah) DIPIJAK, DISITU LANGIT(kebudayaan/adat dst!) DIJUNGJUNG(dihormati)” jika anda menganalogikan aksyen sunda kulon dgn bandung memang benar berbeda! Tapi s’kulon tidak ngeyel mengikuti adatnya! Bahkan kebanyakan orang2 kulon dari wetan jika pulang k’asalnya (kulon) terbawa lemah lembutnya,jg sebaliknya! Begitupula suku jawa k’tanah sunda,akan terbawa gaya sunda (jika pulang k’mbali k’jawa) jg sebaliknya! Jadi sdr jangan terlalu mengartikan Bhinneka tunggal ikka terlalu sempit! Masing2 daerah punya adat istiadat yang berbeda,dan mau tidak mau/suka tidak suka kita harus mengikutinya (beradaptasi)

  15. untuk sdr. Ahmad Mubaroq
    jadi misalnya kalau di kita bali yang mayoritas hindu dan kita yang non hindu berarti kita harus ikutin ajaran hindu dong, bukan Agama Kita sendiri!. Berarti Pepatah itu salah.

  16. Sudah lah…kasus diatas biarkan diselesaikan oleh pihak yang berwajib tidak perlu ada klarifikasi untuk membuat opini dari orang-orang yang awam terkait masalah ini hanay untuk menaikan rating media atau website untuk tambah traffic pengunjung sehingga bias pasang iklan untuk memperkaya media yang memberitakan….silahkan kembali pelajari Injil, Wedha, Tripitaka dan Alquran dari pemimpin agama kalian masing-masing sebelum komentar-komentar yang walaupun panjang lebar, manis tutur kata dan terstruktur seolah berpendidikan tapi intinya tetap menyerang pihak lain yang berbeda agama…belajar saja yang baik dan benar pasti tidak ada keributan dan masalah karena semua agama tidak ada yang mengajarkan untuk berbuat tidak baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: