Dookie Namanya..

https://supermilan.wordpress.com
Dia waktu itu kecil sekali. Umurnya baru 2 minggu. Semuanya ada di diary saya waktu kelas 2 SMP. Tapi tanpa dicatatpun, entah kenapa saya tetap inget. Buktinya, diarynya udah tidak bisa dibuka karena kuncinya ilang, tapi saya tetap inget kok. Dia dateng naik mobil, dengan suaranya yang cempreng dan ribut banget, tapi tidak bikin saya marah. Malah girang banget. Bukan cuma saya, seisi rumah semuanya seneng banget. Selamat datang anggota keluarga yg baru!!!

Pembantu saya waktu itu takut banget, besok harinya dia minta berhenti. Padahal dia baru seminggu kerja. Katanya, dia takut banget. Pokoknya tidak ada cerita, kalau si 15 cm tetap ada di rumah saya, dia tidak mau kerja lagi. ‘Di kampung saya saja tidak ada beginian’, katanya lirih tapi menusuk. Kita semua tersinggung banget. ‘Lebih baik kami mempertahankan dia daripada kamu!’ Enggak kok, kita tidak bilang gitu. Yang tadi tuh biar seru saja. Yah sedikit memberikan efek-efek mata melotot seperti pada sinetron punjabi. Tapi si pembantu memang langsung berhenti, tanpa kita berusaha menahan. Dan kita benar-benar hidup bahagia tanpa si pembantu itu.

Kakak saya bilang, ‘kita harus kasih nama. Gimana kalau Dookie?’ Nama apa pula sih itu. Tapi saya takut dia marah, jadi manggut saja. Jadilah dia Dookie. Beberapa hari kemudian ada video clip Green day di TV, nyanyi Basket Case. Dari situ saya tau asal nama Dookie.

Masa-masa itu Dookie bener-benar lucu. Dia tidur kalau digendong, minum susu dan makan cereal, wangi bedak kalo pagi hari (tidak tanggung-tanggung, bedaknya plurol), dan manja setengah mati. Saya coba ajarin dia berdiri, jalan, salaman, dan tiduran. Hasil dari usaha saya… nggak ada. Bukan dia yang salah. Saya orangnya emang bosenan. Tapi meskipun begitu dia tetap lucu. Gampang kalo nyari dia, coba cek bawah sofa. Tapi jangan lengah, dia suka kabur ke tetangga, atau ke jalan depan. Saya paling sebel kalo dia jalan-jalan. Orang-orang se RT tidak terlalu suka sama dia, entah karena mereka mabok atau apa. Mereka suka nimpukin pake batu. Padahal, dia cuma jalan-jalan.

Trus, waktu mulai dewasa, dia punya temen. Entah kenal dari mana. Yang jelas, temennya itu jorok. Setiap dia pulang, dia kutuan dan kotor. Setiap diobatin, kena lagi. Selain itu, kita takut dia hamil. Apa temennya mau tanggung jawab? Nanti dia bilang ‘belum tentu itu anak saya’? Karena Dookie kutuan, dia tidak boleh lagi masuk rumah. Tidak juga boleh keluar rumah. Dia punya rumah sendiri, di halaman depan. Rutin dia diobatin kutunya, dibersihin rumahnya. Kalau dia sampe masuk rumah, pasti dikejar-kejar, diusir keluar. Kamu bikin kotor! Keluar rumah juga udah jarang banget, kecuali sama saya atau papa saya. Tali persahabatannya juga terputus sepertinya. Entah Dookie sempat bilang selamat tinggal atau enggak. Mungkin dia bilang, hubungan kita tidak direstui.

Lalu dimulailah babak baru kehidupan Dookie. Dia ada di halaman depan, selalu menyambut dengan senyum siapa saja yang muncul di hadapannya. Dan kami selalu menegurnya, setiap pulang sekolah, setiap mau berangkat, setiap keluar cari angin, setiap nganterin makanan untuknya. Sesekali kita ngobrol juga kok. Terutama saya, karena nganterin makanan entah kenapa jadi jatah saya melulu. Dia suka males makan kalo kesepian, jadi saya harus bertamu di rumahnya, duduk nungguin dia makan. Setelah selesai, dia minum sedikit. setelah itu, kita yayang-yayangan bentar, setelah itu saya pamit, karena halaman saya banyak nyamuk. Kadang dia ke dokter untuk imunisasi. Saya pasti ikut.

Trus hari itu tiba-tiba kami dapet musibah. Rumah kita dimasuki maling. Lumayan juga abisnya. Anehnya, nggak satupun tetangga curiga. Nggak satupun mendengar atau melihat tanda-tanda mencurigakan. Kita semua down banget, sedih, takut, marah. Semua jadi sensitif. Satu menit saling menguatkan, menit berikutnya saling memojokkan. Dan di sela-sela itu, entah kenapa nama Dookie jadi naik ke permukaan.

‘Dia tidak sedikitpun memberikan tanda-tanda ke para tetangga, padahal dia satu-satunya yang di rumah!’
‘Tidak tau diuntung, kita selama ini memenuhi semua kebutuhannya!’
‘Ada Hadits yang bilang, selama ada dia, rumah kita dijauhi malaikat’

Saya cuma bisa berdiam diri. Ingin membela, tapi tidak satupun kalimat bisa saya susun.

Setelah itu, semuanya jadi tidak seindah dulu. Kita jadi paranoid. Pasti tidak ada yang bisa nebak, ada berapa kunci gembok yang kita pakai di tiap pintu. Dan masing-masing kunci ini, diganti berkala. Kusen pintu dilapisi besi, biar tidak bisa dilinggis. Ada alarm yang bunyinya sumpah deh berisik banget. Dan entah dari mana hubungannya, perilaku masing-masing dari kami jadi dingin terhadap Dookie. Ada juga bahasan, sebaiknya dia diusir saja. Tidak ada gunanya dia di sini. Dia tidak bisa membela dirinya, apa lagi membela kita. Apa timbal balik dia, buat apa ada dia.

Tapi saya tidak sampai hati mengusir dia. Maka saya selalu menggeleng kalau ditanya persetujuannya. Entah langkah yang benar atau enggak, karena sejujurnya saya pun tidak punya waktu banyak untuknya, kecuali mengantar makanan dan ngobrol sebentar. Dookie emang tidak bisa membela dirinya sendiri. Dan kita tidak pernah kasih dia kesempatan untuk mencari kesenangannya sendiri. Pernah waktu itu ada yang ‘ngelamar’ dia. Dia udah cukup umur untuk dikawinkan, katanya. Tapi kami tidak mau. Kita tidak punya waktu ngurus anak-anaknya juga.

Lalu berlanjutlah hidup Dookie yang sepi. Saya udah semester akhir, dan dia kalah penting dengan skripsi, keponakan, curhat dan gosip. Kadang saya hanya mengantar makanan lalu masuk ke rumah. Di luar banyak nyamuk, dan saya mau ngetik skripsi. Kadang dia tidak mau makan karena kesepian. Maka keesokan harinya saya ngamuk-ngamuk, kamu tau nggak sih sibuknya saya??? Apa harus saya ngurusin kamu juga seperti anak bayi?? Di dalam rumah juga ada anak bayi, dan saya juga harus menjaga dia!!! Tapi pada akhirnya saya akan duduk di dekatnya, menunggu dia makan sedikit demi sedikit. Dan saya akan membelainya kalau makanannya habis.

Lalu saya pergi. Tugas saya diambil alih sama papa. Apa dia makan atau enggak, kesepian atau enggak, saya tidak tau lagi. Saya ingat hari kepergian saya, dia melihat saya dengan ramah seperti biasa, dan saya menimbang-nimbang apa saya harus mendekatinya untuk say goodbye atau enggak. Saya memutuskan untuk tidak buang waktu dan langsung pergi. Kadang saya masih nanya mama, gimana kabar dia. Kata mama, dia baik-baik saja. Waktu jakarta banjir kemaren, dia juga nggak apa-apa. Kelihatannya dia baik-baik saja tanpa saya. Ya tentu saja, saya bukan teman yang baik baginya.

Trus tadi mama bilang, ‘dia udah lama nggak mau makan dan tidur terus. Kita bawa dia ke dokter, dan kata dokter dia kena kanker dan udah stadium akhir. Dia langsung diinfus di sana. 4 hari kemudian dia meninggal.’ Saya bahkan tidak tau kalau anjing bisa kena kanker. Lalu saya nangis, bukan karena saya kehilangan sahabat, tapi karena perilaku saya yang tidak membuat hidupnya bahagia. Saya tidak pernah membelanya, tidak juga menunjukkan kasih sayang yang cukup. Saya juga tidak bisa mengajarkannya jadi penjaga kami, yang membuatnya dibenci sampai akhir hidupnya. Lalu, saya meninggalkannya tanpa pamit.

Dia memang tidak istimewa, terlalu kecil untuk jadi penjaga. Terlalu sederhana untuk dibuat penting. Bahkan kalau saya menangis berkepanjangan, dia juga terlalu sepele untuk itu. Semua memang sangat sederhana buat dia. Tidak ada yang dibenci, semuanya baik. Lalu, dia menyambut semua orang dengan keramahannya, dengan ekornya yang selalu bergoyang. Dan pemikirannya yang sederhana itu, tetap tinggal di kepala saya. Bagaimana seorang anjing bisa berpikir lebih bersih daripada saya.

Sumber : http://vivid95.multiply.com

Iklan

4 Tanggapan

  1. biarpun aku tak suka anjing, tapi jadi sedih mendengarkan storynya huhuhuhu

  2. kita slalu melihat sesuatu dari manfaat yang kita dapat kalo kita melakukan sesuatu padahal kita ga boleh seperti itu yah! tapi itulah yang sudah di setting di otak kita

  3. saya juga pernah ngalamin kaya gitu… aku tau perasaan kamu passti sedih,, sakit banget rasanya,, sama kaya wakwu anjing kecil aku mati…

  4. dookie nama album green day gan <(")

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: