Jujur Itu Menyakitkan

https://supermilan.wordpress.com
Cerita ini pernah dimuat di salah satu majalah terkemuka di Jakarta. Saya tidak sempat membacanya, tapi mendapatkannya dari tuturan seorang adik saya yang membeli majalah itu secara sporadis. Ini kisah seorang pegawai di salah satu kantor pajak di Jakarta.

Si A, pegawai kantor pajak itu, telah seperempat abad mengabdi. Ia terlibat berbeda dari kebanyakan rekannya; datang ke kantor dengan sepeda motor, tak perlente, dan tak selalu menggunakan handphone keluaran terbaru. Rekan-rekannya menduga Si A menyembunyikan kekayaannya agar dianggap jujur. Salah satunya dengan investasi tanah,  atau apa saja. Si A memilih bergabung dengan rekan-rekannya yang hobi olahraga kebanyakan, bukan main golf atau tenis, yang mengharuskannya membeli peralatan super mahal.

Si A hanya staf pemeriksa laporan keuangan perusahaan pembayar pajak. Ia cermat, teliti, dan dikenal akuntan taat azas. Pada saat-saat tertentu, atasannya sering memanggilnya ke ruangan — tentu saja dia tidak sendiri — dan memberikan amplop berisi uang. Karyawan lain menerima dengan senyum, Si A menerima dengan tanya. Sang atasan selalu mengatakan; “Ada rezeki sedikit, ya kita bagi-bagi.” Si A kian bingung saja, karena di bagian-bagian lainnya dirinya tidak pernah mengalami hal ini.

Pendek cerita, telah sekian puluh kali Si A menerima amplop itu. Ia membawanya ke rumah, tanpa pernah membukanya. Menyerahkan kepada istrinya, tanpa pernah bertanya berapa isinya. Yang ia tahu, amplop sering sangat tebal, dan tak jarang pula tipis seolah tak berisi. Suatu ketika, Si A dipanggil atasannya ke ruangan. Dia diserahi tugas yang tak lazim; merekayasa bagaimana sebuah perusahaan membayar kewajibannya sekecil mungkin dari seharusnya.

Si A menolak. Alasannya, dia tidak pernah melakukan hal itu. Sang atasan marah, dan mengatakan; “Kau harus tahu, uang-uang yang kau terima itu adalah hasil usaha rekan-rekan kau melakukan hal ini.” Sang atasan melanjutkan; “Akan ada rezeki yang cukup besar untuk kau, karena kau yang mengerjakan. Jika selama ini kau mendapat bagian kecil, itu karena kau tidak mengerjakan. Saya yang selalu katakan kepada yang lain kalau ada rezeki bagi-bagi yang lain.”

Si A tetap menolak. Ia melanggar adab birokrasi feodal dengan keluar ruang tanpa permisi. Ia tak kembali ke mejanya, tapi pulang ke rumah. Di rumah, dia menceritakan semua itu kepada sang istri. Dua anaknya, yang sudah besar-besar dan kuliah di perguruan tinggi negeri, mendengar. Sang istri tak merespon dengan kata-kata, tapi tindakan. Ia masuk ke kamar tidur, menelungkup ke kolong ranjang dan mengeluarkan satu kotak mie instan, lalu membawanya ke luar. “Semua amplop-amplop itu ada di sini,” ujar sang istri.

Sang suami terbelalak. Ia tak mempercayai apa yang dilihatnya. “Semua masih utuh. Saya hanya membubuhkan tanggal kedatangan amplol itu di bagian depannya,” lanjut sang istri. Si A menangis di pelukan istri tercinta, disaksikan dua anaknya yang tak tahan menahan linangan air mata. Keesokan hari, Si A membawa semua amplop itu dalam kantong terigu, dan menyerahkannya ke sang atasan.

“Tolong pindahkan saya ke bagian yang membuat saya tak harus lagi menerima semua itu,” ujar Si A, dengan masih melanggar adab birokrasi feodal era Orde Baru.

Sumber : Politikana

Iklan

3 Tanggapan

  1. ini mah terlalu jujur contohnya. 😀

  2. kadangkala kita kena menipu seketika. maksudnya dengan tujuan untuk menjaga hati orang lain dan tidak membuka aib orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: