Bahasa dan Identitas Bangsa

Jual Sandal Nama @ http://SandalNama.JawaraShop.com
“Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” (Sumpah Pemuda butir ke-3)

Kata pepatah : “Bahasa Menunjukkan Budaya.”

Saya teringat ucapan Pramono Anung (wakil ketua DPR RI) saat diundang ke acara Mata Najwa episode “Kicau 140 Karakter”. Beliau mengatakan kira-kira begini: “Saya bisa berbahasa Inggris. Tapi kalau kemudian saya ngetweet pakai bahasa Inggris, identitas saya sebagai orang Indonesia ada dimana?”

Twitter sejauh ini adalah social media yang bisa memberikan pengaruh secara besar, secara global. Buktinya ketika #peterporn menjadi trending topic (TT) di twitter, banyak orang asing yang lalu ikut-ikutan cari tahu siapa Ariel. Atau yang baru-baru ini, #keong racun menjadi TT, mengakibatkan seorang bule meniru gerakan Sinta dan Jojo di Youtube.

Indonesia, sebagai salah satu negara pengguna twitter terbesar setelah USA dan Inggris, seharusnya bisa memanfaatkan hal ini sebagai ajang promosi budaya, dan yang paling mudah adalah bahasa. Bahasa menunjukkan budaya. Lalu, ketika orang Indonesia sendiri berbicara bahasa asing di forum dalam negeri, bukankah ini menunjukkan kalau mereka lebih mencintai budaya asing daripada budaya sendiri?

Sebagai bangsa dan pengguna twitter yang besar, seharusnya kita bisa memberi pengaruh signifikan akan pengenalan bahasa Indonesia pada dunia. Ketika bahasa Indonesia mulai sering dilafalkan di banyak tempat, banyak orang kemudian akan penasaran dengan bahasa Indonesia, lalu mempelajarinya. Bisa jadi, suatu saat nanti, bahasa Indonesia akan menjadi bahasa dunia.

Seperti saya yang mem-follow Francesc Fabregas. Walaupun dia bisa bahasa Inggris dan sekali-kali ngetweet memakai bahasa Inggris, tetapi Fabregas lebih sering berbicara di twitternya menggunakan bahasa Spanyol. Hal ini lalu menggugah keingintahuan saya tentang bahasa Spanyol.

Cesc Fabregas

Bangsa kita suka mempunyai cara berpikir: “kalau ingin eksis, harus bisa bahasa Inggris. Kalau ingin terkenal di luar negeri, pakailah bahasa Inggris.” Kurang mempunyai sikap chauvinism seperti bangsa lain, misalnya Jepang dan Perancis. Orang Jepang ketika keluar dari negerinya bisa berbahasa Inggris. Tetapi ketika mereka di dalam negeri, mereka tidak lantas berbicara dengan bahasa Inggris. Bahkan katanya yang sudah pernah ke Jepang, orang-orang disana kalau ditanya dengan menggunakan bahasa Inggris, mereka tidak akan menanggapi.

Juga kebanyakan orang Perancis yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang Jepang. Saya pernah mengikuti rapat dengan beberapa orang Perancis. Ketika mereka mengobrol di meja makan, bercanda dengan orang-orang yang duduk bersamanya, mereka menggunakan bahasa Inggris. Tetapi ketika mereka presentasi, mereka menggunakan bahasa Perancis. Mau tidak mau, orang yang ingin tahu apa yang mereka bicarakan, harus mempelajari bahasa Perancis. Tidak bisa orang menyela, “excuse moi, je ne parle pas francais.” (Maaf, saya tidak bisa berbicara bahasa Perancis)

Pernah juga seorang musisi tenar berkata, “kalau penyanyi ingin go internasional, harusnya bisa membawakan lagu dalam bahasa Inggris. Kalau sebuah lagu ingin terkenal di dunia, harusnya bisa menciptakannya dalam bahasa Inggris.” Lalu bagaimana dengan Utada Hikaru dengan “First Love”nya yang bisa eksis sampai Amerika dan Indonesia? Atau film berbahasa Perancis yang bisa tayang sampai ke seluruh dunia?

Tetapi itulah bangsa kita. Suka gak pedean, istilahnya. Atau sebenarnya bangsa kita tidak suka dengan produk budayanya, dalam hal ini bahasanya? Saya pernah membaca sebuah forum internet di dalam negeri, yang isinya orang-orang Indonesia sendiri, tetapi banyak artikelnya yang dituliskan dalam bahasa Inggris dan dikomentari juga dengan bahasa Inggris. Tidak terlihat lagi ciri ke”Indonesia”annya lagi.

Apakah ini bisa dikatakan sebagai krisis identitas bangsa kita? Saya hanya membayangkan, seandainya semua orang Indonesia mempunyai pemikiran seperti Pramono Anung, dalam hal ini soal tweet berbahasa Indonesia, dengan 2,5 juta pengguna, bukankah ini sebuah potensi untuk membuat sebuah social media yang mendunia dan mempunyai pengaruh dimana-mana, menjadi terlihat “sangat Indonesia”?

Kita, rakyat Indonesia, suka mencibir jargon “cintailah produk Indonesia” yang tidak diikuti oleh beberapa orang kaya di negeri ini, termasuk oleh para menteri. Tetapi jika kita tidak melakukan hal yang sederhana saja, dalam hal ini menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi dengan sesama anak bangsa, bukan sama saja dengan mereka, orang-orang kaya yang menggunakan Nike, Luis Vitton, dan Prada?

Milikilah cara berpikir bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang gaul, keren, dan indah untuk dilafakan. Boleh mempelajari bahasa asing, tapi digunakan pada tempatnya. Bahasa Indonesia itu kaya, coba saja buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pasti banyak kata yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Sumber : Politikana


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s