Skenario Besarnya, KRL Ekonomi Jabodetabek Akan Dihapuskan

KRL Kelas Kambing
https://supermilan.wordpress.com

Gonjang-ganjing kenaikan tarif KRL Ekonomi AC Jakarta-Bogor- Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) dengan dalih operasional commuter line sekilas tidak menganggu KRL Ekonomi Non AC, yang sebagian besar penumpangnya adalah warga kelas menengah-bawah. Toh, dengan beroperasinya KRL Commuter Line, KRL Ekonomi Non AC tetap berjalan dan tetap disubsidi pemerintah.

Tapi tunggu dulu. Seiring dengan beroperasinya KRL Commuter Line itu perjalanan KRL Ekonomi Non AC dikurangi. Sudah pasti dampaknya adalah KRL Ekonomi Non AC akan penuh sesak dengan penumpang alias semakin tidak nyaman.

Dampak berikutnya adalah jika tidak mau berada di gerbong KRL Ekonomi Non AC yang makin tidak manusiawi, maka penumpang harus naik Commuter Line yang tarifnya sudah dinaikan menjadi Rp. 8000-Rp.9000.

Pengurangan jadwal perjalanan KRL Ekonomi Non AC tersebut seiring dengan pengurangan subsidi terhadap KRL jenis itu. Setahap demi setahap subsidi akan dihapuskan dan saat itulah KRL Ekonomi Non AC dihapuskan. Dan operasional KRL di Jabodetabek menjadi total single operation yaitu KRL Commuter Line.

Mengapa pemerintah menghapuskan subsidi? Jawabannya jelas karena subsidi bertentangan dengan mekanisme pasar. Jika masih ada subsidi berarti itu menghalangi investor untuk masuk ke bisnis opearsional KRL.

Untuk membuat kondisi kondusif, maka tahap pertama subsidi dikurangi hingga akhirnya dihapus sama sekali.Dan seiring dengan itu tarif KRL akan dinaikan hingga mencapai harga keekonomian (sebuah istilah halus untuk harga pasar).

Jika itu semua sudah terjadi maka operasional KRL akan ditawarkan ke swasta lain (bukan hanya BUMN seperti selama ini). Nah bagaimana dengan warga miskin yang menjadi penumpang KRL Ekonomi Non AC. Besar kemungkinan akan ada skenario mirip dengan tahapan liberalisasi migas. Apa itu? Penumpang dari kalangan kelas menengah-bawah akan mendapat semacam BLT (bantuan langsung tewas eh..tunai).

Apakah BLT bagi warga kelas menengah bawah itu akan efektif? Tidak perlu dipersoalkan, yang jelas penghapusan subsidi bagi KRL harus dilakukan, karena itu adalah kebijakan liberalisasi ekonomi yang harus diamankan. Semua penumpang KRL adalah konsumen, mereka bukan lagi warga negara yang memiliki hak untuk melakukan mobilitas.

Lho apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak kasihan terhadap warga kelas menengah bawah pengguna KRL? Siapapun presidennya tidak akan berani melawan garis kebijakan liberalisasi ekonomi termasuk liberalisasi dalam pengeloaan operasional KRL.

Melindungi agar mekanisme pasar berjalan itu lebih utama daripada memenuhi hak warga untuk melakukan mobilitas dengan transportasi massal seperti KRL ini. Karena siapapun Presiden RI, ia akan lebih takut kepada lembaga bisnis bantuan internasional dan WTO daripada kepada rakyatnya sendiri.

Selamat datang Republik (Neoliberal) Indonesia!

Selamat Tinggal Ekonomi Konstitusi (Pasal 33 UUD 1945)!

Warga Misk*n, Mampus Aja Loe..!

Artikel : Politikana
Foto : Kompasiana

Jual HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jasa Website Instant @ http://JawaraShop.com

Iklan

Satu Tanggapan

  1. baca juga yang ini…

    http://nakawara.wordpress.com/2012/03/18/defensif-riding-minimalkan-accident/

    mampir sodara sodara..
    trimakasihh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: