Aku Ingin Menjadi Orang Yang Bertepuk Tangan Di Tepi Jalan

https://supermilan.wordpress.com
Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetapmendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilandengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namunanak kami ternyata menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan kepadaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumnisekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumahmasing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, jugamemiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidakmemiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menontonpenampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keiriandalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuahberita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi,dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidakterlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itukarena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamikumenjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untukmerayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topikpembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masamendatang?

Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film ataupolitikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orangbanyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akanmenjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tanganmendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakanorang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika akudewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anakmenyanyi, menari dan bermain-main.

Demi menunjukkan kesopanan, semuaorang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Diamenjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kaincelemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan ceritauntuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihatbintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpatahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkananak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannyamenjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi danmendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materibelajar untuknya.

Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komiklagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu jugatidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut lesbelajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpahenti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidakbisa bertahan lagi dan terserang flu berat.

Biar sedang diinfus dan terbaringdi ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya diaterserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawaatau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsanganhadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuankusemakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makandan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannyamalah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diammelepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini.

Dia kembalipada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untukmembaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dansejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangatsayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilaisekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orangmempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dananak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anakyang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiadakeahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kalilari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makananyang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelapjus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurusrumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki,satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring,tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya.

Walaubanyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anakkami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lemparkoin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terusmembuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannyajuga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil darikotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampaiketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewanshio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpatertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitasmenengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya,hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasaada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi danalasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidakmudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimisdan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketuakelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilaisekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang,benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedangmerajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar,dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuahpepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepijalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnyadan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnyabolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannyamengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketikaitu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini.

Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan,namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalamkondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalamhati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hatidan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudiluhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yangsuka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidakmerasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjollagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jikakami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Peluang Usaha Produk Immunocal @ http://immunocalnetwork.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Aksesoris Martapura @ http://aksesorismartapura.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: