Bisakah Anda Sesabar Jumini?

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Wanita berusia 50 tahun ini tinggal di rumah 3×3 meter, berdinding tripleks kusam, berlantai karpet plastik usang di atas tanah pemerintah, di pinggir kali, menghadap jalan raya yang yang hampir sepanjang pagi hingga sore dipadati kendaraan yang merayap. Kawasan padat penduduk dan kemacetan lalu lintas.

Di rumah semi permanen ini Jumini tinggal bersama suami dan seorang anak perempuannya. “Anak saya tiga. Anak pertama saya meninggal karena kecelakaan di kawasan alas roban, seminggu setelah saya menikahkan anak kedua saya,” cerita Jumini, dengan pandangan melayang.

Jumini menikahkan anak keduanya di kampung halamannya, Klaten, Jawa Tengah. Ketika balik ke Jakarta, Jumini dan suami serta anak perempuannya naik bus. Sementara anak laki-laki pertamanya yang berusia 26 tahun, lajang, balik ke Jakarta dengan mengendarai motor. Di alas roban, anak sulungnya menghembuskan napas terakhir.

Di rumahnya ini, Jumini berjualan nasi, seperti warung Tegal tapi dengan pilihan menu lebih sedikit. “Alhamdulillah. Ya sekarang jualan sepi, ya alhamdulillah. Tidak seperti dulu ketika anak-anak masih sekolah. Dulu ramai, saya juga jualan nasi di pasar, ramai. Mungkin dulu rezeki anak-anak sekolah. Sekarang anak-anak sudah lulus.

Anak saya yang bungsu sudah lulus SMEA, sudah kerja di supermarket. Dia ingin kuliah, ya nanti ya, dia kerja, menabung, saya juga menabung, untuk kuliahnya nanti supaya dapat pekerjaan yang lebih baik,” tutur Jumini.

Lalu Jumini bercerita tentang anak laki-laki keduanya. “Saya buatkan ia, toko dan bengkel di kampung. Tapi tidak berjalan, karena harusnya belum waktunya makan enak, sudah makan enak. Merasa susah di kampung, ya sudah ia kembali ke sini dengan istri dan satu anaknya. Saya buatkan rumah di belakang saya itu,” cerita Jumini.

“Minggu lalu saya daftarkan jadi satpam di sebuah yayasan. Saya bayar Rp 1 juta karena dia tak punya sertifikat satpam. Sekarang sudah bekerja, gajinya Rp 900 ribu tiap bulan. Jajan, rokok, ya masih minta,” lanjutnya. Jumini juga bercerita, selama tinggal di Jakarta, ia sudah 8 kali kena gusur.

“Makanya ya rumah biar begini saja. Nanti saya bagus-baguskan, tahu-tahunya digusur lagi, bagaimana,” katanya, apa adanya. Siang itu Jumini melayani tiga orang yang mau makan di warungnya. Setelah itu ia pamit untuk salat duhur. Suaminya duduk lesehan di depan teve yang menyala.

Lalu datang seorang pembeli. Suaminya bangkit dan bilang, “Ibu lagi sembahyang, tunggu ya,” katanya. Suaminya itu tidak melayani pembeli. Ia melanjutkan acara nonton teve. Usai salat, Jumini melayani pembeli yang mau menunggu itu. Ditanya kenapa suaminya tidak membantunya melayani pembeli, Jumini tersenyum.

“Iya. Dia tidak mau. Tidak pernah mau,” katanya, pelan, tetap tersenyum. “Maklum anak satu-satunya. Manja,” lanjutnya. Saat ditanya apa pekerjaan suaminya, Jumini bilang suaminya tidak bekerja, tidak pernah bekerja. Suaminya hanya diam saja di rumah. “Nggak apa-apa. Saya berjuang untuk anak-anak sekolah. Mungkin rezeki suami diberikan Tuhan melalui saya,” katanya.

“Yang penting saling pengertian. Ada istri yang diberi uang suaminya, hidupnya ribut terus. Saya syukuri saja hidup saya. Apa-apa saya selalu bilang suami. Mau membantu keluarga saya, saya juga izin suami. Ibunya baik sekali, hubungan saya dengan ibunya semasa hidup sangat dekat, bahkan lebih dekat dibanding hubungan saya dengan ibu saya sendiri,” kata Jumini.

“Dalam keluarganya kebanyakan seperti itu. Istrinya yang gigih bekerja, suaminya mengikuti saja,” lanjutnya. Jumini lalu bercerita, suaminya yang tak mau bekerja itu pernah main mata dengan wanita lain. “Itu dulu. Semoga tidak lagi. Menjalankan rumah tangga selama 31 tahun itu tidak mudah,” katanya.

Sepanjang bercerita itu, beberapa kali Jumini meneteskan air mata. Ia usap air mata itu dengan ujung bajunya.

.

PESAN dari kisah IBU JUMINI :

“Ketika hati sedih karena dibelit persoalan hidup, ada baiknya meluangkan waktu membaca kisah orang-orang atau berbicara dengan orang-orang. Dari sana akan diketahui, bisa jadi ujian itu tak seberat dibanding orang lain.

Ada banyak orang yang harusnya lebih menderita, nyatanya sanggup menjalani hidup dengan perasaan penuh syukur. Hatinya lurus kepada Tuhannya. Menjerit minta tolong hanya kepada Tuhannya.”

Sumber : Kompasiana

Peluang Usaha Produk Immunocal @ http://immunocalnetwork.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Aksesoris Martapura @ http://aksesorismartapura.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: