Nasib Esemka Makin Suram : Untunglah Apple dan Facebook Bukan Buatan Indonesia

Esemka
Felicity Townhouse @ http://felicity.JawaraShop.com

Jika saja Steve Jobs dan Mark Zuckerberg orang Indonesia, mungkin dunia tidak akan mengenal produk Apple dan Facebook yang fenomenal itu. Karena di mata orang Indonesia yang sok suci, keduanya adalah plagiat dan layak menerima nasib asem seperti mobil Esemka: dicaci sebagai karya contekan.

Betapa sucinya moral orang Indonesia yang sangat membenci contek-mencontek dan produk kloningan bisa kita lihat dalam beberapa artikel di Kompasiana yang mengkritik mobil Esemka, mulai dari disindir sebagai “produk China bermerk Esemka”, hingga dicap sebagai kanibal dan hasil cloning.

Saya akui orang kita memang sangat suci dan kuat pendirian dalam urusan haramnya contek-mencontek. Saking sucinya, sampai-sampai Mark Zuckerberg dan Steve Jobs ditakdirkan untuk tidak lahir dan hidup di Indonesia.

Apa pasalnya?

Pernah menonton filem The Social Network? Filem yang berkisah tentang sejarah Facebook itu layak ditonton oleh orang-orang “suci” yang berpikir inovasi harus bebas dari contek-mencontek. Mark Zuckerberg terindikasi mencuri ide Facebook dari Winklevoss bersaudara yang sudah terlebih dulu membuat jaring sosial ConnectU untuk mahasiswa Universitas Harvard.

Perseteruan Facebook dan ConnectU berakhir di pengadilan dimana Zuckerberg diganjar kewajiban membayar USD 20 juta tunai dan saham sebanyak 1.2 juta kepada Winklevoss bersaudara.

Tapi pedulikah anda bahwa Facebook adalah hasil contekan? Pernahkan anda-anda pengguna Facebook, yang mencibir Esemka sebagai hasil contekan, memaki Zuckerberg sebagai plagiat kelas kakap?

Demikian juga dengan Steve Jobs.

Jobs dengan terang-terangan pernah berkata, “Good artists copy, great artists steal!” (artis yang baik adalah tukang copy, artis yang agung adalah tukang curi) ketika ditanya benarkah produk Macintosh merupakan hasil dari mencuri ide Xerox. Kata-kata tersebut dikutip Jobs dari seniman besar Pablo Picasso.

Jika seniman IT seperti Jobs dan seniman lukis sekaliber Pablo Picasso seakan “menghalalkan” pencurian ide dalanm proses inovasi, apakah para pengkritik orisinalitas Esemka mampu menghasilkan produk sekaliber Apple atau lukisan seindah Picasso?

Satu lagi: anda kenal seniman agung Wolfgang Amadeus Mozart? Puji Tuhan dia bukan orang Indonesia.

Banyak orang mengira Mozart adalah prodigy, insan ajaib yang mampu membuat komposisi musik adiluhung pada usia yang masih sangat muda. Tetapi kajian yang lebih detil mengungkap bahwa karya-karya Mozart baru mulai menunjukkan keasliannya ketika dia melewati umur 10 tahun.

Yang dilakukan Mozart sebelum menginjak umur 10 tahun adalah persis seperti yang Zuckerberg, Jobs, dan Sukiyat “Esemka” lakukan: copy-paste! Salah satu artikel yang membahas keaslian karya Mozart bisa dibaca di sini.

Jika Mozart benar-benar lahir di Indonesia, mungkin dia tak akan pernah dikenang sebagai seniman besar. Paling banter hidupnya akan berakhir sebagai penulis rutin di Kompasiana.

Proton

Satu lagi: maha suci Tuhan bahwa mobil Proton lahir di Malaysia dan bukan di Indonesia.

Proton, proyek mobil nasional kebanggaan rakyat Malaysia, awalnya adalah hasil copy-paste mobil Mitsubishi. Di tahun 1983 ketika PM Mahathir Mohamad mendeklarasikan cita-cita Malaysia untuk menjadi produsen mobil, anak-anak muda Malaysia belum tahu bagaimana membuat mobil.

Tanpa ragu Mitsubishi digandeng menjadi mitra, dan model pertama (Proton Saga) betul-betul hasil copy-paste mobil Mitsubishi.

Sepuluh tahun berlalu, model Proton selanjutnya (Wira) pun masih mengadopsi Mitsubishi Lancer/Colt. Juga model Proton Perdana mengadopsi Mitsubishi Galant/Eterna. Bahkan 20 tahun berlalu, beberapa model mobil Proton masa kini masih mengadopsi model Mitsubishi, walaupun proses alih teknologi selama dua dekade membuat Malaysia berhasil memproduksi mesin mobil pertama buatan lokal, CamPro.

Ketika Proton dipasarkan ke seluruh negara ASEAN hingga mencapai Inggris, impresi pertama konsumen adalah: ini lho mobil Malaysia. Ada kebanggaan rakyat Malaysia di sana, walaupun produknya masih memiliki unsur copy-paste.

Dan ini yang terakhir: ingatkah anda dengan pesawat nasional pertama produksi rakyat Indonesia, CN-235? Bukankah pesawat tersebut ada unsur copy-paste dari pesawat Cassa?

Yang saya ingat ketika itu hampir tidak ada caci-maki terhadap pesawat “kloningan” itu; yang ada hanyalah rasa bangga akhirnya kita bisa membuat sendiri pesawat terbang walaupun belum 100% bebas copy-paste.

Rasa bangga. Itulah yang hilang dari benak kita sebagai bangsa Indonesia. Kehilangan rasa bangga biasanya disusul dengan penyakit lain: hilang harga diri. Ketika harga diri sudah lenyap, yang ada di dalam otak hanyalah rasa pesimis. Hilang kebanggaan, hilang harga diri, dan pesimisme…tiga resep yang membuat Esemka bernasib asem.

Kalau saja Sukiyat lahir di Amerika atau menukar kewarganegaraan menjadi warga Malaysia, mungkin Esemka akan bernasib lebih manis.

Sumber : Kompasiana

Peluang Usaha Produk Immunocal @ http://immunocalnetwork.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Aksesoris Martapura @ http://aksesorismartapura.com

3 Tanggapan

  1. Nasibmu yat

  2. itulah indonesia

  3. Terlalu banyak berandai2 andai saja-andai saja tokh tak bisa merubah keadaan. Kalo menyesal idup di Indonsia idup aja di singapur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: