Opera Van Java: Kekerasan Pada Wajah Komedi Di Televisi

opera van java
Terima Pesanan Tas Seminar Batik @ JawaraShop.com ##

Televisi itu keras!,” tulis Nia Triwindari dalam artikelnya pada buku “Dosa-Dosa Televisi”. Tentu saja televisi (TV) itu keras bukan dari segi fisiknya belaka, tetapi juga dari segi isi yang ditayangkan. Keras dalam konteks ini jelas merujuk kepada isi tayangan di TV yang terdapat berbagai unsur kekerasan.

Mirisnya kekerasan dalam tayangan TV justru sering terjadi di tayangan komedi. Tontonan yang seharusnya memancing tawa pemirsa justru kerap menghadirkan nuansa kekerasan. Parahnya lagi kekerasan dalam tayangan komedi menjadi jualan paling utama untuk memancing tawa penonton.

Dengan mudah kita akan menemukan berbagai contoh dari adanya unsur kekerasan di tayangan komedi layar kaca. Sebut saja Opera Van Java, yang saat ini menjadi tayangan terfavorit salah satu stasiun TV nasional. Dalam tayangan komedi yang ditayangkan hampir setiap hari kekerasan justru menjadi sumber utama pemancing tawa pemirsa.

Adegan Sule mendorong Aziz Gagap atau Parto yang memukul para “wayangnya” hampir setiap malam menyambangi rumah kita. Walhasil tawa penonton-pun bergema. Terpingkal-pingkal saat menyaksikan Aziz Gagap terjengkang akibat dorongan Sule.

Meski di layar kaca terselip tulisan “bahan yang digunakan aman” dan larangan agar tidak meniru adegan tersebut di rumah, tetapi adakah yang menjamin bahwa anak-anak di bawah umur paham terhadap hal tersebut dan mengerti bahwa bahan yang digunakan adalah bahan yang aman untuk “memukuli” seseorang?

Ansich yang dilihat oleh anak-anak kita bukan bahan yang digunakan. Mereka tak ambil pusing dengan hal itu. Melainkan dorongan dan pukulan pada tayangan komedi itu-lah yang kelak akan membekas di jiwa sang anak.

Sebagai contoh, pada medio 1990-an ada tayangan gulat khas Amerika yang dibalut dengan baju entertainment dan diberi tajuk “Smack Down”. Sama dengan OVJ, pada tayangan itu juga terselip tulisan bahwa “adegan itu hanya dilakukan oleh profesional” dan ditambahi embel-embel “Don’t Try This At Home”.

Lalu apakah itu dimengerti oleh anak-anak kita? Tidak! Berdasar penelusuran, banyak korban dari akibat tayangan “Smack Down” itu. Bahkan hingga menghasilkan korban meninggal akibat di-Smack Down oleh kawan mainnya. Ini pertanda bahwa anak-anak kerap meniru apa yang disaksikan oleh mereka dan mengindahkan embel-embel “hanya rekayasa” atau “Don’t Try This At Home

Itu baru kekerasan non verbal dan hanya salah satu contoh tayangan komedi. Bagaimana dengan kekerasan verbal? Kata-kata kasar, hinaan, cacian, makian dan umpatan akan sangat mudah kita temukan dan tersebar dalam berbagai tayangan komedi di layar kaca.

Atau coba anda simak di tayangan komedi di salah satu stasiun TV, Pesbuker. Anda akan menemukan bentuk kekerasan, baik verbal maupun non verba, dengan mudahnya. Adegan kepala orang yang “diubek-ubek” kemudian ditaburi bedak hampir setiap hari mewarnai tayangan komedi itu.

Lalu adakah jaminan bahwa anak-anak kita tak akan menirunya? Menurut penelitian, media turut berperan dalam pembentukan karakter anak di usia dini. Jika hal-hal seperi itu yang ditayangkan, maka silahkan anda menjawab sendiri, kira-kira generasi seperti apa yang akan ditampilkan oleh Indonesia di masa yang akan datang?

Artikel : Kompasiana
Gambar : Mukhlis Bersama

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
(021) 9550-6400
www.JawaraShop.com

Tas Seminar Batik @ JawaraShop.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: