Dikira Pelihara Tuyul karena Pekerjaan Tak Jelas

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional
Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional

SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Lanjutkan membaca “Dikira Pelihara Tuyul karena Pekerjaan Tak Jelas”

Iklan

Filosofi Perjuangan di Balik Lomba 17 Agustusan

Agustus merupakan bulan yang identik dengan kata Kemerdekaan. Ya, memang siapa coba yang tidak tahu kapan hari Kemerdekaan Republik Tercinta ini. Fokus utama kita setiap tanggal 17 Agustus umumnya tertuju pada Istana Negara yang selalu diisi dengan Upacara Hari Kemerdekaan. Semua mata terpaku pada layar kaca pada saat Pengibaran (dan Penurunan) San Merah Putih. Namun, ada satu hal yang tidak dapat dilupakan juga. 17 Agustus juga identik dengan pesta rakyat yang umumnya ramai dengan aneka permainan 17-an. Ada Balap Karung, Makan Kerupuk, Mengambil Koin yang dilumuri abu, Panjat Pinang, Tarik Tambang, Memindahkan Belut, Gebuk Bantal, dan lain sebagainya.

Pesta rakyat tersebut pastilah riuh dengan gelak tawa penonton, bagaimana muka belepotan abu, pemanjat pinang yang melorot, jatuhnya peserta karena tersandung karung. Selain kemeriahan pesta rakyat, tahukah anda, pesan moral dan filosofi yang sebenarnya terkandung didalam berbagai permainan rakyat khas 17an.
Berikut saya bagikan, sebagai tambahan referensi pengetahuan anda.

1. Balap Karung.

Kenapa harus memakai karung? Saat Penjajahann dulu, sebagian rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat berat. Semua harta benda yang diambil penjajah, yang tertinggal hanya plastic, karet dan karung. Mau tidak mau, rakyat Indonesia memakai karung sebagai pakaian mereka. Karung goni terkenal dengan seratnya yang besar-besar, gatal bila terkena kulit. Dan, saat kemerdekaan RI dikumandangan, Rakyat secara sukacita menginjak-injak karung sebagai pelampiasan kekesalan mereka. Sehingga sampai sekarang dilombakan dengan lari memakai karung

.2. Tarik Tambang

Tim yang kompak dan menggunakan strategi yang jitu lah yang dapat memenangkan lomba ini. Hal ini menyiratkan bagaimana masyarakat Indonesia telah bersama-sama ‘menarik’ tambang kemerdekaan dari tangan penjajah.

3. Lomba Makan Kerupuk

Kesulitannya adalah bagaimana menghabiskan kerupuk yang digantungkan dengan seutas tali dan tangan kita terikat di belakang. Maknanya adalah bagaiamana dahulu saat penjajahan, bangsa Indonesia sangat menderita, baik sandang, pangan maupun papan. Untuk makan pun dahulu masyarakat kesulitan.

4. Panjat Pinang

Yang menang adalah mereka yang bahu membahu secara sukarela merelakan bahunya untuk diinjak temannya, demi mendapatkan hadiah di ujung tiang.Maknanya adalah bagaimana kebersamaan dijalin untuk mendapatkan hasil. Hasil ‘hadiah’ yang didapat akan dibagi rata ke seluruh anggota tim yang membantu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil hadiah tersebut kan sendirian.

5. Memindahkan Belut.

Belut dikenal dengan kelicinannya. Dikorelasikan dengan era penjajahan, betapa sulitnya mengusir (memindahkan) belut ‘penjajah’ dari Indonesia.

Demikian uraian yang bisa saya hadirkan. Semoga dibalik keriuhan pesta rakyat, kita dapat memaknai pesta tersebut dari lain sisi. Semoga bermanfaat dan MERDEKA!!! (Kopas dari Blog sebelah) 🙂

Posted from WordPress for Windows Phone

Mencicipi Buahnya Para Dewa ala Dieng

buah-carica-4
Tas Seminar Batik @ http://JawaraShop.com

Wonosobo di Jawa Tengah tak hanya menyuguhkan keindahan dataran tinggi dan Candi Dieng saja. Ada carica, buah khas setempat yang hanya tumbuh di Wonosobo. Konon, inilah buahnya para dewa.

Kabupaten Wonosobo terkenal dengan panorama indah dataran tinggi Dieng. Tapi selain itu, wisatawan juga bisa wisata kuliner dengan mencicipi buah khas setempat yakni carica.

Ya, pepaya gunung atau karika (sering ditulis carica alias Vasconcellea cundinamarcensis. Carica pubescens) adalah buah kerabat pepaya. Tumbuhnya di daerah tinggi beriklim basah, sekitar 1.500-3.000 mdpl.

Usut punya usut, rupanya buah ini berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan. Buah ini masuk ke Indonesia dibawa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Buah tersebut pun berhasil dibudidayakan di dataran tinggi Dieng.

buah-carica-2

Buah ini masuk dalam famili Caricaceae, genus Vasconcella. Bentuknya seperti kokoa (cokelat), namun warna dan teksturnya sangat mirip pepaya. Perbedaan mendasarnya adalah dari ukuran. Carica berukuran kecil, kira-kira sekepalan tangan. Daging buahnya harum dan berwarna kuning pucat.

Lanjutkan membaca “Mencicipi Buahnya Para Dewa ala Dieng”

Ternyata Di Jakarta Pun Ada Kampung Batik


Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Solo terkenal dengan kampung batiknya, Laweyan. Toko-toko penjual batik di sepanjang jalan itu sekaligus menjadi rumah bagi penjualnya. Pengrajin batik dan penjualnya menjadi satu, berjejeran di sepanjang jalan Kampung Laweyan. Di sini pengunjung bisa berbelanja dan melihat juga cara dan proses pembuatan batik.

Jakarta ternyata juga memiliki Kampung Batik. Meski tak sebesar Laweyan, Jakarta telah mulai membangun kampung batiknya sendiri sejak Mei 2011. Kampung batik yang terletak di Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan, ini bahkan telah dua kali tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Rekor MURI pertama diperoleh pada 2011 karena Palbatu memiliki jalan terpanjang yang dicat dengan motif batik (133,9 meter). Rekor MURI kedua diperoleh tahun ini karena Palbatu memiliki jumlah rumah warga yang paling banyak dicat dengan motif batik. Total sekitar seratus rumah.

Dari mana datangnya kampung batik di Ibu Kota? Seorang pencinta batik bernama Ismoyo W Bimo sempat terinspirasi dengan konsep Kampung Batik Laweyan di Solo. Pendiri komunitas Batik Banget ini ingin membuat satu wilayah kampung batik di Jakarta.

Kampung Batik Jakarta

Idenya didengar oleh Iwan Darmawan, yang kemudian mengenalkannya kepada Harry Domino. Bersama satu teman lain bernama Safri, keempat pria ini pun mengadakan acara Jakarta Batik Carnival di Palbatu pada 21 dan 22 Mei 2011.

“Saat itu kami mengundang 16 pengrajin untuk datang ke Palbatu, mengadakan pameran, sekaligus mengenalkan batik kepada warga sekitar,” kenang lelaki yang akrab disapa Bimo itu kepada Kompas Female seusai pembukaan Jakarta Batik Carnival 2012.

Pro Kontra dari Warga

Kampung Batik Jakarta

Sebagai kelanjutan dari kesuksesan Jakarta Batik Carnival 2011, Bimo dan teman-temannya melanjutkan misi untuk membangun Kampung Batik di Palbatu. Ide mereka mendapat dukungan dari warga, tetapi tak sedikit pula yang menentangnya.

Lanjutkan membaca “Ternyata Di Jakarta Pun Ada Kampung Batik”

Sejarah Bendera Indonesia Merah Putih


Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Bendera nasional Indonesia adalah sebuah bendera berdesain sederhana dengan dua warna yang dibagi menjadi dua bagian secara mendatar (horizontal). Warnanya diambil dari warna Kerajaan Majapahit. Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih.

Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.

Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Di jaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.

Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda.

Lanjutkan membaca “Sejarah Bendera Indonesia Merah Putih”