Dalil Koplak Pengasong Liberalisme

qanun GRATIS Kalender Cantik 2013 @ JawaraShop.com ##

Berita tentang Aceh selalu seksi. Sebab Aceh adalah serambi Mekkah yang dengan otonomi khusus dan keistimewaannya telah mendeklarasikan diri sebagai provinsi yang melaksanakan syariat Islam. Memang faktanya selalu ada upaya menyudutkan syariat Islam yang diformalisasikan menjadi hukum positif. Sedikit saja ada kebijakan baru, lantas berbondong-bondonglah wartawan dari berbagai penjuru untuk meliputnya, namun dengan angle yang diskriminatif: HAM.

Bagaimana tidak? Setiap berita tentang sesuatu yang bernuansa syariah, pastilah media-media ini dengan cepat melakukan investigasi dan menguliti peristiwanya dengan kacamata mereka. Maka ini melanggar kebebasan, ini mengekang perempuan, itu menodai HAM dan itu mencederai domokrasi. Begitulah kilahnya.

Sampai akhirnya ketika kemarin “Ngangkang Style” menjadi salah satu trending topic nasional. Pasalnya adalah apa yang disebut para wartawan sebagai “perda syariah tentang larangan duduk mengangkang di sepeda motor” yang akan diterapkan oleh Walikota Lhokseumawe kepada seluruh warganya. Sampai koran The Jakarta Post menjadikannya salah satu topik utama. Media asing semacam BBC pun tak mau ketinggalan memberitakannya. Heboh sekali, bukan?

Namun lihatlah dengan jujur. Yang ada hanyalah upaya merorong Islam. Pemberitaan yang berseliweran di media tak memenuhi asas cover both side. Narasumber berita hanya berasal dari kelompok yang kontra peraturan tersebut. Kalau tidak aktivis NGO HAM, ya aktivis Komnas Perempuan. Nanti, agar seolah-olah mengcover posisi ulama, sebagai reprentasi muslim diwawancarailah para “cendekiawan muslim” seperi Ulil Abshar Abdalla dan Siti Musdah Mulia. Ya wajar saja mereka menolak, wong mereka memang anti formalisasi syariah. Wong mereka memang dari kalangan liberal yang menolak ajaran agama sebagai sumber hukum.

Sampai tadi malam, dalam acara Debat di Kabar Petang TV One membahas kembali tema itu dengan judul provokatif, “Perda Syariah, Siapa Resah?”. Dihadirkanlah Yenni Wahid dari Wahid Institute, Neng Dara Affiah dari Komnas Perempuan, Jazuli Juwaini anggota DPR RI FPKS dan Kapuspen Kemendagri. Kalau pejabat Kemendagri sudah pasti jawabannya standar. Semua ada prosedurnya. Nanti kita akan konfirmasi, klarifikasi dan seterusnya. Okelah.. Memang begitu aturannya.

Nah, yang bikin geli adalah kekoplakan dalil pengasong liberalisme seperti Yenni, Dara dan sejumlah hadirin yang sengaja dihadirkan seperti Ulil Abshar, Siti Musdah Mulia serta sejumlah aktivis HAM. Dalam debat itu, semua dalih mereka dimentahkan. Yang buat istilah “Perda Syariah” siapa? Itulah taktik liberalis mengelabui orang awam dengan permainan istilah. Padahal tak ada Perda Syariah. Hanya LSM komprador yang mendapat kucuran dollar dari Barat yang setia menggunakan terma ambigu semacam itu.

Lalu, muncul lagi pernyataan bahwa perda ini “diskriminatif terhadap perempuan”. Secara telak, Mahendradata memukul statement koplak ini. Apa dulu definisi diskriminatif itu? Apa itu diskriminasi? Toh perempuan dan laki-laki secara kodrat memang berbeda. Apakah setiap perbedaan itu disebut diskriminasi?

Kalau begitu kebijakan cuti hamil 3 bulan itu diskriminatif, dong? Soalnya laki-laki tidak mendapat hak yang sama. Kalau begitu diskriminatif juga dong panitia acara yang hanya memberi makan malam pada pembicara, namun tidak kepada peserta? Para hadirin hanya bisa tersenyum dan tertawa seraya bertepuk tangan atas kalahnya dalih koplak kaum liberalis.

Baca lebih lanjut

5 Dosa Pengendara Mobil di Jakarta

Jakarta Macet!https://supermilan.wordpress.com
Foto : karanglayung.wordpress.com

Wacana perpindahan ibukota dalam rangka mengatasi kemacetan di Jakarta sepertinya bukan barang baru. Sekali lagi, dalam masalah kemacetan Jakarta, pemerintah (lagi-lagi) disalahkan oleh masyarakat. Padahal jika saja wacana ini diwujudkan, tentu yang mengalah mesti ‘angkat kaki’ dari Jakarta adalah pemerintah, dalam hal ini tentunya pemerintah pusat. Hal ini juga menjadi tamparan tersendiri untuk pemerintah daerah karena mengindikasikan kegagalannya dalam mengatasi kemacetan Jakarta.

Walau masih banyak yang harus dibenahi di sana-sini, sebenarnya pemerintah telah memberikan beberapa solusi untuk kemacetan di Jakarta. Sebut saja TransJakarta dan Kereta Rel Listrik Commuter Jabodetabek yang setiap harinya mengangkut pulang pergi jutaan pekerja yang tinggal di sekeliling Jakarta.

Sayangnya kebijakan transportasi massal tersebut tidak diikuti dengan pemeliharaan infrastruktur yang baik. Sebut saja TransJakarta Koridor 9 dan 10 yang telah selesai pembuatan jalur dan haltenya namun busnya tak kunjung beroperasi. Juga pemeliharaan KRL yang awalnya nyaman namun secara pelan-pelan menjadi tak terawat.

Namun tulisan saya kali ini bukanlah mengomentari kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut. Kali ini saya akan melihat pada sisi kendaraan pribadi khususnya mobil yang sebenarnya merupakan bagian dari masalah kemacatan Jakarta. Menurut MetroTV, setiap harinya beredar 240 mobil baru di jalanan, ditambah lagi sekitar 870 sepeda motor baru yang beredar setiap harinya. Sedang pertumbuhan jalan cuma 0,01% saja. Jika ini dibiarkan, diperkirakan Jakarta akan mengalami kelumpuhan lalu lintas pada tahun 2014.

Nah, jika dilihat setiap harinya Jakarta selalu penuh dengan mobil, mulai dari yang seri terbaru sampai yang terbilang kuno. Di bawah ini saya akan menuliskan ‘dosa-dosa’ dari pengendara mobil di Jakarta yang sering kali tak disadari atau bahkan dianggap biasa oleh mereka. Ironisnya, para pengendara mobil ini selalu menuntut haknya sebagai warna negara dengan solusi-solusi kebijakan dari pemerintah. Padahal jika saja mereka mau lebih jujur, mereka bisa menjadi solusi dari masalah mereka sendiri. Inilah ‘dosa-dosa’ tersebut :

1. Menggunakan BBM Bersubsidi

Mobil-mobil keluaran terbaru masih saja asyik-asyik mengantri BBM bersubsidi di SPBU. Pemandangan ini kita bisa saksikan setiap harinya di setiap wilayah di Jakarta. Mulai dari daerah pinggiran sampai pusat kota. Padahal harusnya subsidi lebih tepat untuk angkutan umum massal. Dengan ‘murah’-nya BBM ini, maka siapapun akan lebih senang naik mobil sendiri yang nyaman ber-AC alih-alih berdesak-desakan naik kendaraan umum. Toh, bagi mereka BBM masih terbeli… 

Jual Baby Bag HDY @ http://TasBayi.JawaraShop.com

2. Menggunakan Jasa Joki 3 in 1

Setiap pagi dan sore kita melihat para joki 3 in 1 berjejer di jalan-jalan menuju kawasan 3 in 1. Bahkan mereka sering kali mengambil satu lajur tersendiri, berdiri di tengah-tengah jalan untuk bersaing dengan sesama mereka. Dengan membayar Rp 10-20 ribu (tergantung jarak & nego), para pengendara mobil bisa menggunakan jasa mereka untuk melewati kawasan 3 in 1 di Jakarta.

Baca lebih lanjut

Tips dan Trik Naik KRL Jabodetabek

Jasa Pembuatan Website Instant, Murah, Hemat @ http://Web.JawaraShop.com
KRL Jabodetabek
Foto : Vivanews

Tips

1. Belilah Abonemen

Dengan abudemen, anda tidak perlu antri beli tiket tiap hari sehingga bisa lebih leluasa. Walaupun lumayan mahal untuk kereta ekspress, tapi anda bisa menggunakannya selama sebulan penuh. Dan anda bebas bolak balik di dalam KRL sehari berapa kali pun. Tapi ingat sesuai dengan KRL yang anda biasa naiki. Kalau biasa pakai kereta ekspress ya belinya abunemen ekspress.

2. Beli Tiket Sesuai KRL yang Akan Digunakan

Cara ini cukup membantu karena ketidakjelasan keberadaan KRL. Untuk KRL ekspress, memang lebih murah kalau anda hanya menggunakan KRL di hari kerja saja. Tapi untuk ekonomi dan ekonomi AC jatuhnya lebih mahal namun anda bisa menyesuaikan dengan KRL yang akan masuk di stasiun yang anda gunakan.

3. Berhati-hatilah selama di KRL

Keamanan dan keselamatan adalah tanggungjawab anda sendiri. Waspada terhadap copet. Terutama saat kereta penuh sesak waktu jam berangkat dan pulang kerja. Letakkan tas ransel / slempang di depan anda. Jangan di samping, apalagi di belakang. Kecuali kalau anda sudah ikhlas beramal untuk para pencopet 🙂

4. Hafalkan Urutan Stasiun yang Akan Dilalui

Selain kereta ekspress, di dalam KRL tidak ada pengumuman sudah tiba di stasiun mana. Jadi demi kemudahan, ada baiknya anda menghafal atau mempelajari terlebih dahulu nama-nama stasiun sebelum stasiun tujuan. Atau paling tidak, berapa stasiun yang mesti dilewati. Jadi anda bisa mempersiapkan diri saat akan turun dari kereta.

Baca lebih lanjut

Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/

2007/bulan/04/tgl/24/time/142458/idnews/771918/idkanal/10

———————————————————————————–

Eks Walikota Bogota: Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana
Ramadhian Fadillah – detikcom

Jakarta – Pembangunan mal di kota-kota besar tidak selamanya menunjukkan citra positif. Bisa jadi justru negatif. Mantan Walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penalosa, menilai ciri kota sakit bisa dilihat dari banyaknya jumlah mal.

Makin banyak jumlah mal, makin sakitlah kota tersebut. Karena pembangunan mal dipastikan telah memangkas ruang publik.

Kota yang baik, menurut Penalosa dalam seminar di Hotel Mandarin Oriental, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/4/2007), adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya.

“Kota yang baik membutuhkan tempat untuk penduduk dapat berjalan kaki, penduduknya harus bisa berkumpul bersama,” ujar Penalosa.

Ketika mal menggantikan ruang publik sebagai tempat bertemu warga, maka kota itu bisa dicirikan sebagai kota yang sakit.

Sebab pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Mal hanya mencegah orang miskin tidak masuk ke dalamnya. “Memisahkan antara si kaya dan si miskin. Jelas orang miskin tidak akan merasa nyaman di mal,” tegas dia.

Kota yang baik, imbuhnya, harus menghormati harga diri manusia. “Di kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama,” katanya.

Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. “Mereka sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar,” ujarnya.

Lalu Lintas Jakarta akan mati tahun 2014

Sumber

Sementara itu jarak 14,6 km antara Kalideres dan kawasan Jalan Gajah
Mada yang dulu dapat ditempuh dalam 29,5 menit, tahun 2000 harus
ditempuh selama 51,7 menit atau meningkat 75%. Semakin lama waktu
tempuh antara beberapa kawasan di Jakarta semakin meningkat terus
menerus seiring dengan peningkatan volume kendaraan baru di jalanan
(contohnya tahun 2005 pertumbuhan mobil baru mencapai sekitar
530.000 unit secara nasional).

Jumlah kendaraan di Jakarta sampai tahun 2003 mencapai 6.506.244
unit. Dari jumlah itu 1.464.626 di antaranya merupakan jenis mobil
berpenumpang, 449.169 mobil beban (truk), 315.559 bus, dan 3.276.890
sepeda motor. Pertambahan paling fantastis terjadi pada jenis
kendaraan sepeda motor yang pertumbuhannya mencapai ratusan ribu
kendaraan pada tahun-tahun terakhir ini (tahun 2001 sepeda motor
bertambah 333.510 unit, tahun 2002 bertambah 223.896 unit, tahun
2003 bertambah 365.811 unit)

Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum
memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah
kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi
dan 2% kendaraan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut 2%
kendaraan umum lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut
oleh 98% kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan
perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar
49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut
sekitar 50,3% penumpang.

Tingginya angka perjalanan di Jakarta membuat ruas-ruas jalan
tertentu mendapat beban yang terlampau berat, bahkan di atas normal.
Penelitian di 34 titik jalan arteri di Jakarta yang dilakukan
Departemen Perhubungan RI pada tahun 2000 menunjukkan ada 32 titik
(94%) ruas jalan arteri di Jakarta yang melebihi kapasitas. Artinya,
tak ada jalan arteri di Jakarta yang bebas dari macet.

Pada jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di jalan-jalan utama Kota
Jakarta hanya bergerak 12 km/jam. Hujan deras akan langsung
melumpuhkan urat nadi lalu lintas kota. Dampaknya fantastis:
kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun
rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi
kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang
diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun. Dampak pada tahap
selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota (bahkan
negara) dan merosotnya kualitas hidup warga kota.

Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation
Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development
Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem
transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun
2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu
didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per
tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai
1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti
di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800
meter.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merancang pola transportasi
makro (PTM) untuk menghindari kematian lalu lintas Jakarta pada
tahun 2014. Pola itu bakal memadukan empat sistem transportasi umum
yang banyak dipakai di kota metropolitan dunia: bus cepat di jalur
khusus (busway), kereta ringan dengan rel tunggal (monorel),
jaringan mass rapid transit (MRT), dan jaringan angkutan air. Sistem
terpadu ditargetkan selesai 2010 di mana diharapkan akan tercipta
lalu lintas tertib terkendali, polusi udara berkurang, tingkat
kecelakaan menurun, perubahan budaya menuju masyarakat disiplin dan
kegiatan tepat waktu.

Sayangnya visi strategis itu terkadang masih berbenturan dengan
kebijakan taktis yang kontradiktif hingga menyebabkan kebijakan
transportasi kota cenderung tidak konsisten. Contohnya adalah
rencana penambahan ruas tol dalam kota. Kebijakan seperti itu
sebenarnya bertabrakan dengan visi pembangunan jalur busway yang
bertujuan untuk mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi.***

pdat/dari berbagai sumber

Balada Pengendara Roda Dua

Bapak2, ibu2 yth, Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut
kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak ? ibu
pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya.
Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk ‘mengganggu’ kenyamanan anda.
Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena
kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan,
masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tdk
anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi
dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung
jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang
berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari
alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV
bapak ?ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot
anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya). Belum lagi kami takut di PHK,
hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari
anda tidak perlu absen kan ?, kalo masuk kerja?
Sebab kalo sebagian besar dari kami, harus pak-buu… Minimal dipotong uang
transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang
menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan ‘bau
matahari’ dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami
semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus
sejuknya AC mobil anda.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah
memprotes roda empat. Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah
kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir.
Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami. Tentu
berbeda dengan areal parkir bapak-ibu. Memang sih,tarif parkirnya aja beda J.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh
pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, di
atas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat
tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai
tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami
berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami
gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka
yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit
berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri
anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok
belakang.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami
panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor,
buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami
membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan
gede kek, bodo’ amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper
kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah
enaknyaa di mobil.

Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa
menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak
pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan
motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo
kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata.
Amit-amiiiit.

Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya
lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus
‘menerima’ sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan
jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi
Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm
sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus
dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks
mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he
Maaf ya pak-bu. Peace !!!
Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa
rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum
berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau
hampir terlambat.

Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak
punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun
pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!).

Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala
kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di
koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang
bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor
terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu
kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa
penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi
lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami
juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo cuma
10-20 detik. Jadi malu…

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor
roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu
hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi
padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal
mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat
melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan
trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat.
What an ironic…

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak
artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus,
budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis,
gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor
bebek. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan
turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi
mereka.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja
kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak,
benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
Tuhan Maha Adil kan ?

Balada Pengendara Roda Empat

Profil psikologis pengendara sepeda motor

1. Percaya dirinya besar, yakin bahwa mereka beda

Sebetulnya mereka bisa naik angkutan umum, tapi mereka tetap naik
motor, karena mereka yakin bahwa origin-destination mereka beda banget
dengan rute-rute angkutan umum yang dibuat DLLAJR.

Kenapa DKI susah payah mikir buat ngatur jalur motor ? Atur saja rute
bis yang jelas-jelas menjadi hak dan wewenangnya, sehingga mendekati
origin-destination masyarakat yang perlu transport umum.

2. Pengendara motor adalah orang yang rasional

Mungkin sebagian dari mereka sebenarnya mampu beli mobil sederhana,
atau pernah punya mobil. Tapi setelah krisis ekonomi dan kenaikan harga
BBM bertubi-tubi mereka memutuskan untuk naik motor saja.

Merekalah orang yang merespon kesulitan ekonomi secara rasional.

3.Pengendara motor sayang keluarga (keluarga inti)

Pada akhir pekan mereka membawa seluruh keluarganya naik motor ke Ancol
atau Taman Mini, membawa makanan sendiri. The whole family in one
motorcycle.

4. Mereka berusaha melindungi keluarganya

Bis kota itu kurang friendly untuk wanita dan anak-anak, lebih-lebih
waktu masuk dan bubar kantor/sekolah. Semua bis-metromini- Kopaja penuh
berjejal, wanita berdempetan dengan yang bukan muhrim, anak-anak tidak
bisa nafas karena mukanya terhimpit perut dan pantat orang-orang yang
berdiri di sekeliling dia.

Pengendara motor tidak mau keluarganya ada dalam kondisi tidak enak
seperti itu. They are just too proud.

5. Mereka juga sayang keluarga besar (extended family)

Dibela-belain kehujanan kepanasan keanginan, mereka mudik naik motor,
untuk menemui simbok di kampung.

Ketimbang ditipu oleh sopir dan kernet bis antarkota yang tak kunjung
jera melanggar aturan tarif lebaran.

6. Mereka dermawan dengan suara klakson

Semua yang menghalangi diberi suara klakson. Lumayan … pengendara
mobil jadi tahu bahwa ada motor mau nyusul dari sebelah kiri. Suara
klakson ditambah lampu motor yang nanti harus nyala siang dan malam,
akan membuat pengendara mobil akan lebih awas bahwa motor dari arah
samping tidak mau ngerem, jadi hati-hatilah kalau mau memintas.

Di tempat kerja mungkin mereka tertindas …. di jalan raya mereka
melampiaskan kekesalannya lewat klakson.

7. Sesama pengendara motor ada ikatan batin

Ketika lampu setopan menyala merah, mereka akan berkumpul paling depan.
Melewati garis putih batas berhenti.
Kenal-tidak- kenal mereka akan bicara, saling tukar informasi mengenai
jalur terpendek untuk mencapai tujuannya.

Ketika hujan besar turun, mereka akan berteduh di bawah jembatan sambil
mencari teman baru. Soal menghalangi jalan orang lain sampai terjadi
macet, bukan hanya mereka yang berbuat begitu. Sopir angkot dan metromini
juga cuek banget kalo ngetem. Siapa yang lebih sopan ayo ?

8. Mereka membantu polisi

Kalau melihat tindak kriminal semacam jambret, seringkali ada yang mau
bersusah payah mengejar pelakunya sampai diperoleh nomor motor pelaku.
Lalu dilaporkan ke polisi.

Tapi di kesempatan lain, mereka beberapa kali melanggar rambu
lalu-lintas dan ditilang polisi. Apa iya tidak sengaja ?

9. Pengendara motor memanfaatkan ruang semaksimal mungkin

Kalau pagi, jalur menuju tempat kerja mereka akan dipakai 150%.
Artinya, jalur untuk arus lawan akan dipakai juga.

Trotoar akan dipakai juga kalau bisa, yang berarti pejalan kaki harus
nempel di dinding.

%d blogger menyukai ini: