Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja

Keluarga Bahagia
Tas Seminar Model Ransel, Slempang, Tas-Batik @ www(dot)JawaraShop.com
Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Lanjutkan membaca “Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja”

Iklan

Bahagia adalah Memiliki Rasa Hidup yang Benar

Bahagia Jasa Pembuatan Website Instant, Murah, Hemat @ http://Web.JawaraShop.com

Kita sering mengira, bila keinginan terbesar kita terpenuhi, kita akan merasa senang selamanya. Sebaliknya, bila keinginan tidak terpenuhi, maka kita mengira akan merasa susah selamanya. Padahal, rasa hidup yang sebenarnya adalah sebentar senang dan sebentar susah.

Karena sering mengira bahwa bila keinginan terbesar terpenuhi kita akan merasa senang selamanya, kita sering mengejar sesuatu secara mati-matian dan menghindari sesuatu yang tidak kita ingini juga secara mati-matian. Pengertian yang salah mengenai sumber kebahagiaan ini dapat menyebabkan kita mengejarnya, dan dengan demikian kita justru dapat merasa sengsara.

Kita dapat mengalami surga tabah/tatag dan memiliki rasa tenteram bila memahami bagaimana keinginan-keinginan yang bersifat mulur–mungkret (berkembang-menyusut). Itulah yang menyebabkan kita sebentar senang karena keinginan yang terpenuhi, dan sebentar susah karena keinginan yang tidak terpenuhi.

Kita akan merasa tenang dengan memahami bahwa tidak ada rasa senang yang terus-menerus, dan tidak ada pula rasa susah yang terus-menerus. Dengan demikian, kita tidak perlu gentar bila keinginan-keinginan tidak tercapai. Toh kita hanya akan susah sebentar, dan akan kembali senang karena keinginan lain yang terpenuhi.

Dengan mengenali keinginan-keinginan sendiri, dengan memiliki pengetahuan mengenai rasa pribadi, kita dapat merasa bebas. Sebaliknya, tiadanya pengertian tentang rasa pribadi akan menghasilkan konflik-konflik dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain.

Lanjutkan membaca “Bahagia adalah Memiliki Rasa Hidup yang Benar”

Yang Dikejar, Kok Tak Membuat Bahagia?

Bahagia https://supermilan.wordpress.com

Bila keinginan kita terpenuhi, kita akan senang, lalu berkembang keinginan baru yang lebih besar. Sebaliknya, bila keinginan tidak terpenuhi, kita menjadi sedih, dan kita dapat menyusut. Dalam hidup ini tidak mungkin keinginan seseorang terus-menerus terpenuhi. Kadang terpenuhi, kadang tidak. Itulah sebabnya, tidak ada keadaan bungah ataupun keadaan susah yang langgeng. Senang dan susah selalu silih berganti.

Sebagai salah satu contoh adalah pengalaman hidup Nova (bukan nama sebenarnya). Ia wanita lajang berusia sekitar 35 tahun. Bila orang lain banyak yang mengalami susah payah mencari pekerjaan pada masa-masa awal, Nova justru sudah dapat bekerja di sebuah perusahaan ketika masih duduk di bangku kuliah di sebuah kota pelajar.

Dengan bekal sebagai sarjana ekonomi akuntansi dari perguruan tinggi ternama, dan juga keterampilan yang tinggi di bidangnya, setelah lulus ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Selama sembilan tahun Nova menekuni pekerjaan pada sebuah perusahaan. Namun, dalam masa kerja selama sembilan tahun itu ternyata ia tidak bahagia dengan pekerjaannya.

Pertama, ia tidak puas dengan gaji yang diterima. Setelah menempuh negosiasi dengan pimpinan, akhirnya toh gajinya dinaikkan. Setelah itu ia masih merasakan ketidakpuasan yang lain, yakni merasa tidak dapat berkembang karena lingkungan kerja yang tidak menantang. Hal yang sulit diterimanya adalah ”jiwa sosial” pimpinan perusahaan yang mudah menerima siapa saja yang butuh pekerjaan.

Akibatnya banyak karyawan yang kurang berketerampilan sehingga pekerjaan tidak dapat berjalan efisien, sementara pimpinan tidak melakukan program-program pembinaan karyawan. Dengan keadaan seperti itu akhirnya Nova memilih pindah ke perusahaan yang lain. Namun, ternyata keadaan perusahaan baru ini juga kurang sesuai dengan keinginan Nova, lalu sekali lagi ia pindah ke perusahaan yang lain.

Lanjutkan membaca “Yang Dikejar, Kok Tak Membuat Bahagia?”

Dimanakah tempat paling bahagia di dunia..??

Jangan berpikir kebahagian bisa diukur dari jumlah uang atau materi yang kita miliki. Kondisi yang serba minim justru bisa membuat orang bahagia.

Hasil yang diperoleh oleh lembaga pengkajian The New Economics Foundation (NEF) baru-baru ini menetapkan negara kepulauan Vanuatu yang terletak di pasifik selatan sebagai tempat paling bahagia di bumi.

Penilaian tersebut disusun berdasarkan tingkat pengeluaran masyarakat, usia harapan hidup dan tingkat kebahagiaan, bukan dengan tolok ukur kesuksesan ekonomi suatu negara seperti produk domestik bruto (PDB).

Tujuan penelitian ini adalah memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak harus terkait dengan kekayaan dan tingkat pengeluaran yang tinggi.

“Vanuatu adalah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan dengan penduduk 209.000 orang dan bukan negara kaya. Perekonomiannya tergantung pada pertanian berskala kecil dan industri pariwisata.”

PDB Vanuatu hanya menempati peringkat ke-207 dari 233 negara. Namun, masyarakat negeri ini hidup bahagia. Marke Lowen dari Vanuatu Online, koran online negeri kecil itu mengatakan rakyat Vanuatu bisa bahagia karena terbiasa dengan kondisi yang serba minim.

“Kami bisa bahagia karena masyarakat puas dengan kondisi yang serba terbatas,” katanya pada harian Guardian.

“Kami bukan masyarakat yang konsumtif. Kehidupan kami di sini berkisar tentang keluarga, teman dan berbuat baik untuk orang lain. Vanuatu adalah tempat Anda tak pernah merasa khawatir. Kami hanya khawatir pada angin topan dan gempa bumi,” ujar Marke lagi.

“Peringkat lima besar tempat paling bahagia di bumi, diisi oleh negara-negara Amerika Latin dan Tengah serta Karibia, yaitu; Kolombia, Kosta Rika, Dominika dan Panama.”

Indonesia posisi berapa? Ternyata masyarakat Indonesia dinilai cukup bahagia, karena menempati peringkat ke-23. Namun, Filipina berada di posisi ke-17 dan Thailand di posisi ke-32.

Sumber : Kaskus

Syukurilah Hidupmu..

Sebuah kisah nyata…

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian.

Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya. Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya. “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”. Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR :
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst…

Sumber : Mayasari.net