Dari Indonesia untuk Rohingya

Sebagai warga Indonesia, kita tentu tidak asing dengan Muslim Rohingya. Khususnya pasca beberapa kali perahu mereka yang lari atau dipaksa lari dari Myamnar terdampar di perairan Aceh dan sebagainya.

Rohingya adalah nama etnis Muslim di Myanmar yang keberadaan mereka dianggap ilegal oleh junta militer di sana meski mereka telah hidup sejak beberapa generasi di sana.

Mereka tidak memperoleh akses untuk pelayanan publik, kesehatan maupun pendidikan. Hari ini, derita Muslim Rohingya belum jelas kapan akan berakhir.

Derita Rohingya

Jika di bulan ramadhan ini kita bisa berpuasa dengan tenang dengan keluarga, memakan makanan yang lezat, maka saat ini mereka sedang berjuang untuk tetap hidup, lepas dari pembantaian mengerikan. Beberapa media massa melaporkan kondisi miris yang mereka terima.

Mereka dibantai secara massal, mereka di bakar hidup-hidup, dari anak kecil, perempuan sampai laki-laki dewasa. Begitu juga yang lainnya dipaksa meninggalkan negeri mereka dengan perahu. Di foto-foto yang tersebar luas di media massa dan dunia maya, terlihat kondisi mereka yang sungguh memprihatinkan.

Anak-anak dengan pakaian lusuh, dengan wajah pucat dan ketakutan berada di perahu yang sesak. Sementara orang tua mereka menangis pilu dan penuh iba. Mereka adalah saudara-saudara kita.

Dunia Islam, walau sudah menunjukkan kepeduliaannya, namun belum memberikan pertolongan yang nyata. Jalur diplomasi Negara-negara mayoritas muslim belum mampu memberikan efek nyata untuk membantu derita Rohingya. Konon lagi beberapa pemimpin Muslim belum menunjukkan kepeduliannya.

Kita memang seringkali terlambat membantu saudara-saudara kita yang terzalimi. Harapan muslim Rohingya untuk bisa hidup tenang belum juga menemui titik terang. Dunia Islam pun baru sebatas bisa mengecam. Sementara negara-negara Barat dan PBB sendiri juga belum menunjukkan perhatiannya secara maksimal. Derita Muslim Rohingya pun terus berlanjut.

Sebagai muslim, antara kita dengan mereka laksana satu tubuh. Mereka adalah bagian dari tubuh kita, saat mereka sakit, kita juga harus merasa sakit. Kita juga pernah merasakan rasa sakit seperti yang mereka rasakan saat kita berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan, di era perjuangan menuntut keadilan pemerintah pusat, bahkan hingga peristiwa tsunami meluluhlantakkan kita.

Semua itu seharusnya menjadikan kita sebagai muslim yang peduli dan peka terhadap derita saudara-saudara kita di bumi lainnya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Atb Thabrani Rasulullah menyebutkan, “siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golonganku”. Na’uzubillahi min zalik.

Berdoa

Doa adalah senjata orang-orang beriman, salah satu bentuk media perlawanan terhadap kezhaliman yang menimpa saudara kita di Myanmar, Suriah dan sebagainya. Doa adalah sarana untuk meminta pertolongan Allah Swt. Sebagai muslim, hendaknya kita tidak pernah lupa mendo’akan mereka agar diberi ketabahan oleh Allah Swt, dan agar secepatnya mereka terbebas dari kezaliman dan memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara.

Lanjutkan membaca “Dari Indonesia untuk Rohingya”

Tari Saman Aceh Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Tari Saman, Acehhttps://supermilan.wordpress.com

Salah satu tarian tradisional asal dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, tari saman, diharapkan bisa memperoleh hak paten milik bangsa Indonesia dan diusulkan menjadi warisan dunia.

“Usulan agar tari saman untuk dipatenkan itu sudah dilakukan sekitar dua tahun lalu dan kini akan menjadi kenyataan,” kata Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar di Banda Aceh, Rabu (24/2/2010).

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur dalam rapat khusus dengan unsur dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, I Gusti Putu Laksaguna, Deputi V Menkokesra Sugi Hartatmo, UNESCO perwakilan Jakarta, para pakar budaya nasional, dan berbagai pihak terkait lainnya.

Wagub, yang didampingi Kabag Humas Pemerintah Aceh Nurdin F Joes dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Marwan, menjelaskan, pentingnya pelestarian warisan budaya itu sebagai komitmen bahwa tari saman merupakan kesenian yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Aceh pada abad lalu.

Lanjutkan membaca “Tari Saman Aceh Diusulkan Jadi Warisan Dunia”

Foto-Foto Unik dan Menarik dari Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945-2009

1. Perayaan Kemerdekaan Pecahkan Rekor

Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 - 2009 Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 - 2009

Penyelam berbaris di bawah laut mengikuti upacara HUT ke-64 Kemerdekaan RI di dalam air yang berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Record dengan jumlah penyelam sebanyak 2.486 orang, di perairan Pantai Malalayang, Manado, Senin (17/8).

Penyelaman dimulai sekitar pukul 10.00 dan berlangsung selama sekitar 30 menit pada kedalaman sekitar 10 – 20 meter. Rekor selam dengan peserta terbanyak sebelumnya dipegang Maladewa dengan jumlah 958 penyelam pada tahun 1997.

Lanjutkan membaca “Foto-Foto Unik dan Menarik dari Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945-2009”