Pegawai Vs Pengusaha: Jadi Pengusaha Itu Mudah?


Terima Pesanan Tas Seminar Batik @ http://www.JawaraShop.com ##
Wiedz : Inspiratif!

Kakak teman saya pernah berkata pada saya, saat saya sedang merintis usaha: “Jadi pengusaha itu gampang.. Ga perlu belajar tinggi-tinggi, ga perlu les keterampilan khusus, tinggal buka usaha aja, beres..”

Seorang teman saya yang pegawai juga ngasih pernyataan yang senada: “Enak banget jadi pengusaha yaa.. Lihat bosku.. Kerjanya goyang-goyang kaki sama kipas-kipas.. Tapi penghasilannya jauh lebih besar dari kami yang setiap hari pontang panting bekerja buat dia..”

Coba cari teman kita yang pengusaha menengah, yang membangun usaha dari bawah.. Tanya sejarah ia membangun usahanya itu.. Semua teman-teman saya yang menjadi pengusaha, begitu saya tanyai sejarah perjuangannya membangun usaha dari nol, semuanya tiba-tiba memancarkan sinar terang di matanya, pandangan matanya menatap sebuah titik jauh di atas kepala saya, bercerita dengan berapi-api, kadang-kadang dengan genangan air di matanya..

Perjuangan mereka tidak pernah ringan.. Keliling-keliling berusaha menjual produk atau jasanya, ditolak di sana-sini, masa-masa sepi pesanan yang membuat kelimpungan menggaji karyawan, masa-masa di saat beberapa bank menelpon sekaligus dan mengancam karena pinjaman sudah jatuh tempo, ditipu rekanan bisnis sehingga ratusan juta rupiah, yang kesimpulannya hanya satu: jalan untuk jadi pengusaha yang sukses, tidak pernah mudah..

Ada teman saya pengusaha konstruksi, yang pernah nyaris bangkrut habis-habisan, karena ditipu rekanan.. Karyawannya harus tetap digaji, dan pinjaman bank terus berbunga.. Tekanan begitu berat, sehingga ia nyaris putus asa dan ingin menutup usahanya.. Tapi ia memikirkan para karyawannya, yang rata-rata sudah ikut dia belasan tahun..

Akhirnya ia mengumpulkan semua karyawannya, dan dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan semua kondisi perusahaan, dan akhirnya bertanya: apakah semua karyawan bersedia dikurangi gajinya sampai kondisi perusahaan membaik, yang ia belum tahu entah kapan?

Ia sendiri tidak akan bergaji (teman saya membiasakan diri menggaji dirinya sendiri sebagai direktur perusahaan), dan tidak akan mengambil sepeserpun uang perusahaan, sampai usahanya diselamatkan.. Syukurlah, dan ajaibnya, semua karyawan setuju bertahan, bahkan menjadi tertantang membangun kembali perusahaan tersebut..

Selama 8 bulan mereka berjuang habis-habisan dengan kondisi keuangan berantakan, sehingga sang direktur pun hanya mengandalkan gaji istrinya yang PNS, untuk bertahan hidup..

Akhirnya, kondisi sulit itu berlalu, dan di akhir tahun, teman saya itu mengundang kembali semua karyawan, memeluk mereka satu persatu, mengucapkan terima kasih dengan tenggorokan tercekat, menaikkan gaji melebihi masa-masa sebelum krisis, dan membagikan bonus yang besar untuk semuanya..

Teman saya yang lain, membuka bisnis bimbingan belajar.. Usahanya cukup sukses untuk ukuran saat itu.. Tetapi entah kenapa, usahanya tiba-tiba bangkrut, menyisakan utang ratusan juta, dan rumah dan kendaraan mereka pun tersita..

Teman saya itu harus naik motor butut ke sana kemari, pindah ke rumah kontrakan kumuh di pinggiran kota, dan nyaris setiap hari harus didatangi debt collector, yang memaki-maki ia di depan istri dan anaknya..

Sungguh hidup yang tidak tertahankan bagi sebagian besar kita.. Hebatnya, ia dan istri tidak pernah menyerah.. Ia membangun kembali bisnis yang lain dari kondisi minus.. Empat tahun kemudian, ia sudah kembali membeli rumah, mobil, dan menjadi lebih kaya dari sebelumnya..

Saat saya berusaha membangun bisnis tour organizer bersama teman-teman, kami nyaris menyerah berkali-kali.. Karena kami tidak padat modal, kami berusaha padat karya.. Kami menawarkan jasa ke mana-mana, tanpa hasil.. Sementara kebutuhan hidup terus mendesak..

Kami kerja serabutan di luar, sambil terus berusaha membangun usaha kami.. Kami menggagas ide untuk mengadakan tour misteri ke gua cerme, survei lokasi, merangkak di dalam genangan air menyusuri gua yang gelap, melobi Damian Magic School utk bekerjasama, kemudian menyebar brosur di UGM pada hari minggu: tidak ada yang berminat.. Mengadakan wisata mancing: rugi. Setiap hari pergi ke sana-sini, dapat penolakan dari sana sini, pulang ke rumah tanpa hasil, membuat semangat kami terus menurun..

Kami harus berjuang keras untuk menyemangati diri untuk ngesot ke kantor kami setiap pagi, untuk kembali mengalami kegagalan yang sama, dan pulang sore hari ke rumah dengan kepala tertunduk.. Tapi, kami tidak punya pilihan lain, dan kami tidak bisa menyerah.. Saya, tidak pernah melupakan masa-masa itu..

Proses membangun usaha dari bawah, tidak pernah mudah.. Sering kali kita tidak tahan dengan prosesnya, dan langsung kembali ke jalur pegawai jika kita tidak kuat menanggung bebannya.. Sebagai pegawai, kita cukup melakukan apa yang diperintahkan, maka gaji akan datang diakhir bulan.. Pengusaha? Sedikit saja kita salah mengambil keputusan, kita bisa jatuh ke lembah terdalam kehidupan manusia..

Beberapa teman saya mencoba buka usaha dengan modal ratusan juta, bangkrut, dan kembali menjadi pegawai, sambil menjilati luka-lukanya.. Itulah mengapa, seringkali mereka yang berpendidikan rendah, malah bisa menjadi pengusaha sukses: mereka tidak punya pilihan lain.

Tidak ada perusahaan yang mau memberikan gaji yang layak untuk mereka, sehingga mereka tidak punya pilihan lain untuk berjuang.. Kalau mereka terantuk dan bangkrut, mereka tidak punya pintu belakang, dan pilihan mereka hanya bangun lagi.. Seringkali, itulah yang menjadi pembeda keberhasilan membangun usaha..

Sedangkan teman-teman yang berpendidikan tinggi, mereka punya pilihan lain.. Jika mereka dihajar pengalaman pahit, banyak dari mereka yang mundur teratur, dan kembali ke jalur yang aman: pegawai. Walaupun harus menelan gaji seadanya. Jarang sekali ada pegawai yang curhat dengan galau : “gue pusing banget nih bro, gaji gue berlebih-lebih terus.. Bank-bank dah nolak deposito gue, brankas dah penuh sesak, tanah di sekeliling rumah dah habis digali untuk nanam duit.. Ada solusi?”

Mereka tetap bertahan jadi pegawai.. Banyak teman-teman yang ingin buka usaha sejak beberapa tahun yang lalu, tapi banyak dari mereka yang tidak memulainya sampai sekarang, karena mereka masih punya pilihan..

Dan membayangkan harus menempuh resiko bangkrut, menghadapi kemungkinan memulai sesuatu dari nol lagi, membuat mereka selalu menunda-nunda langkah mereka, dengan berbagai alasan : “nunggu anak-anak besar, nunggu situasi ekonomi membaik, nunggu warisan, nunggu ekonomi mapan, nunggu pensiun, dan nunggu tahun 2012 lewat, siapa tahu kiamat jadi”..

Coba bayangkan, jika tiba-tiba besok mereka diPHK, apakah alasan-alasan itu masih relevan? Sering ga baca cerita tentang orang yang sukses jadi pengusaha, justru setelah dia diPHK dari pekerjaannya?

Jadi, benarkah menjadi pengusaha itu gampang? Memang benar, membuka usaha itu tidak perlu pendidikan tinggi.. Tapi, membangun usaha sampai berhasil itu, memerlukan semangat pantang menyerah, membuang gengsi, disiplin yang tinggi, dan keuletan yang luar biasa..

Dan itu, tidak akan pernah kita pelajari, dari sekolah manapun, kecuali sekolah kehidupan.. Penghasilan pengusaha lebih besar? Jelas, karena ia menanggung beban, resiko dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari pegawainya..

Seperti kata pamannya Spider-Man saat sekarat: “Ingatlah Peter, dibalik tanggung jawab yang besar, ada pendapatan yang besar..” (ngarang mode on). Pengusaha itu tinggal goyang-goyang kaki dan kipas-kipas? Iya benar, jika mereka itu penjahit dan tukang sate, hehehe..

Bukan, saya bukan sedang mencoba mematikan semangat mereka yang ingin atau pernah membuka usaha.. Saya cuma ingin katakan, kalau kita pernah mengalami sulitnya membangun usaha, ditipu, atau bahkan bangkrut sampai tinggal kolor doang, ga usah khawatir, ga usah buru-buru berfikir “ini karena gue lahir Selasa Kliwon”: itu normal.

Nyaris semua pengusaha sukses pernah mengalaminya.. Teruskan saja, atau coba lagi, karena itu artinya kita sudah berada di jalan yang benar.. Pengusaha, setiap hari, memang hidup dalam badai.. Tapi yakinlah, jika berhasil melaluinya, kita akan menjadi pribadi yang luar biasa..

Ada kabar baik dan kabar buruk menjadi pengusaha.. Kabar baiknya: tidak ada orang yang menyuruh-nyuruh kita.. Kabar buruknya? Tidak ada orang yang menyuruh-nyuruh kita..

Artikel : Kompasiana
Ilustrasi : Akademi Online

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Tas Seminar Batik @ http://JawaraShop.com

Iklan

7 Kebiasaan Buruk Pekerja Keras


Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com
Di jaman sekarang, banyak orang bekerja sangat keras hingga lupa untuk beristirahat, terutama untuk pekerja kantoran. Karena kebiasaan bekerja keras di kantor, seseorang bisa terus merasa sibuk, meski telah tiba di rumah. tanpa disadari, Anda mungkin bekerja lebih keras dan lebih lama demi mencapai keberhasilan.

Namun anda tentu tahu bahwa bekerja terlalu keras dapat membahayakan kesehatan. Hasil jerih payah yang diperoleh dari pekerjaan yang kita lakukan bisa habis seketika, jika mengalami sakit akibat terlalu lelah bekerja.

Para pecandu kerja, seringkali melakukan hal-hal buruk yang membuat kesehatan mereka kian menurun dari hari ke hari. Berikut tujuh kebiasaan buruk bagi si ‘workaholic’, yang harus segera dihilangkan:

1. Lupa untuk bersantai

Ini bisa menyebabkan stres. Padahal jika meluangkan waktu untuk bersantai sejenak, Anda bisa lebih waspada dan termotivasi. Terlalu banyak tekanan atau stres kronis justru membuat seseorang tidak produktif.

2. Makan di perjalanan

Antara rapat, panggilan konferensi, dan tenggat waktu, sering membuat seseorang lupa untuk meluangkan waktu makan siang yang sehat. Mengonsumsi makanan pun perlu dalam keadaan tenang tanpa dirundung rasa cemas dan tergesa-gesa.

Ini penting agar kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi mudah diserap tubuh dan menjadikan seseorang lebih produktif, terutama untuk menciptakan ide cemerlang demi hasil pekerjaan yang baik.

3. Menunda tidur untuk pekerjaan

Seorang profesional yang super sibuk pun tetap butuh istirahat sebanyak tujuh sampai sembilan jam tidur setiap malam. Kehilangan waktu tidur dapat menyebabkan iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah memori. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan obesitas.

4. Tidak ada waktu untuk berolahraga

Melakukan olah raga minimal 30 menit setiap hari sangat penting untuk kesehatan saat ini dan jangka panjang Anda.

5. Tetap bekerja ketika sakit

Banyak orang datang ke kantor untuk bekerja walaupun sedang sakit. Namun, ada tiga alasan penting saat sakit Anda perlu tetap di rumah.

Pertama, tak seorang pun ingin Anda menjadi penyebar kuman dan penyakit di kantor. Kedua, Anda sudah pasti jadi kurang produktif dan ketiga, Anda perlu istirahat agar bekerja lebih baik.

Lanjutkan membaca “7 Kebiasaan Buruk Pekerja Keras”

7 Kebiasaan Buruk Pekerja Keras

Kerja Keras
Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Di jaman sekarang, banyak orang bekerja sangat keras hingga lupa untuk beristirahat, terutama untuk pekerja kantoran. Karena kebiasaan bekerja keras di kantor, seseorang bisa terus merasa sibuk, meski telah tiba di rumah. tanpa disadari, Anda mungkin bekerja lebih keras dan lebih lama demi mencapai keberhasilan.

Namun anda tentu tahu bahwa bekerja terlalu keras dapat membahayakan kesehatan. Hasil jerih payah yang diperoleh dari pekerjaan yang kita lakukan bisa habis seketika, jika mengalami sakit akibat terlalu lelah bekerja.

Para pecandu kerja, seringkali melakukan hal-hal buruk yang membuat kesehatan mereka kian menurun dari hari ke hari. Berikut tujuh kebiasaan buruk bagi si ‘workaholic’, yang harus segera dihilangkan:

1. Lupa untuk bersantai

Ini bisa menyebabkan stres. Padahal jika meluangkan waktu untuk bersantai sejenak, Anda bisa lebih waspada dan termotivasi. Terlalu banyak tekanan atau stres kronis justru membuat seseorang tidak produktif.

2. Makan di perjalanan

Antara rapat, panggilan konferensi, dan tenggat waktu, sering membuat seseorang lupa untuk meluangkan waktu makan siang yang sehat. Mengonsumsi makanan pun perlu dalam keadaan tenang tanpa dirundung rasa cemas dan tergesa-gesa.

Ini penting agar kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi mudah diserap tubuh dan menjadikan seseorang lebih produktif, terutama untuk menciptakan ide cemerlang demi hasil pekerjaan yang baik.

3. Menunda tidur untuk pekerjaan

Seorang profesional yang super sibuk pun tetap butuh istirahat sebanyak tujuh sampai sembilan jam tidur setiap malam. Kehilangan waktu tidur dapat menyebabkan iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah memori. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan obesitas.

Lanjutkan membaca “7 Kebiasaan Buruk Pekerja Keras”

8 Pertanyaan Jebakan Saat Wawancara Kerja

Jasa Web Instan @ http://web.JawaraShop.com
Dalam proses perekrutan pegawai tiap perusahaan membutuhkan beberapa tahapan untuk melakukan seleksi bagi pelamar pekerjaan yaitu pada umumnya tahapan test tertulis, wawancara, test kesehatan (kalau ada). Tidak sedikit pula banyak dari calon karyawan yang telah lulus dalam test tertulis akan tetapi gagal dalam tahap interview atau wawancara.

Mungkin ada baiknya membaca artikel ini yang diharapkan bisa membantu para calon karyawan dalam menyiasati pertanyaan dari pewawancara. Berikut beberapa daftar pertanyaan yang mungkin adalah sebuah jebakan dalam sebuah proses wawancara :

1. Mengapa kami harus mempekerjakan anda?

Ini peluang untuk “menjual” diri anda. Uraikan dengan singkat dan jelas kelebihan yang dimiliki, kualifikasi anda dan apa yang dapat anda sumbangkan bagi perusahaan tersebut. Hati-hati , jangan memberikan jawaban yang terlalu umum. Hampir setiap orang mengatakan mereka merupakan seorang pekerja keras dan memiliki motivasi. Berikanlah jawaban yang memperlihatkan keunikan yang anda miliki.

2. Mengapa tertarik bekerja di perusahaan ini?

Pertanyaan ini merupakan salah satu alat bagi si pewawancara untuk mengetahui apakah anda mempersiapkan diri anda dengan baik. Jangan pernah datang untuk sebuah wawancara pekerjaan tanpa mengetahui latar belakang perusahaan. Dengan memiliki informasi yang cukup mengenai latar belakang perusahaan tersebut maka pertanyaan di atas memberikan kesempatan untuk memperlihatkan inisiatif, dan menunjukkan apakah pengalaman serta kualifikasi yang anda miliki sepadan dengan posisi yang diperlukan.

3. Apa kelemahan utama anda?

Rahasia dalam menjawab pertanyaan di atas adalah dengan berkata jujur mengenai kelemahan anda, tapi jangan lupa menjelaskan bagaimana anda mengubah kelemahan tersebut menjadi kelebihan. Misalnya, bila anda memiliki masalah dengan perusahaan terdahulu, perlihatkan langkah yang anda ambil. Hal ini memperlihatkan bahwa anda memiliki kemampuan dalam mengenali aspek yang perlu diperbaiki dan inisiatif dalam memperbaiki diri anda.

4. Mengapa berhenti dari perusahaan terdahulu?

Walaupun berhenti dari pekerjaan terdahulu dengan cara yang tidak baik, anda harus berhati-hati dalam memberikan jawaban. Usahakan untuk memberikan jawaban yang diplomatis. Bila anda memberikan jawaban yang mengandung aspek negatif, kompensasikan jawaban tadi dengan jawaban yang positif. Bila anda mengeluhkan tentang pekerjaan terdahulu, maka hal ini tidak memberi poin apa-apa buat anda.

Lanjutkan membaca “8 Pertanyaan Jebakan Saat Wawancara Kerja”

Apa Sih Enaknya Kerja?


Jual Sandal Nama @ http://JawaraShop.com

“I hate Monday”, itu mungkin kata-kata yang sering diungkapkan pekerja atau pegawai ketika minggu malam atau hari senin pagi, terutama di Jakarta (termasuk saya hehehe). Orang cenderung tidak semangat kerja, alasannya sabtu minggu rasanya cepet banget berlalu dan kayaknya kurang liburannya. Rasanya hari Jumat baru kemarin, ini kok Senin sudah ada didepan mata.

Padahal kita kerja kan nyari duit, betul gak sih? Kok bisa-bisanya pada benci sama hari senin, apa ya salahnya hari senin. Ngomong-ngomong masalah duit, para karyawan termasuk saya, menunggu-nunggu tanggal gajian, kalo di perusahaan saya tanggal 25 tiap bulannya. Temen kerja pernah ada yang nyeletuk,”Kita kan kerja nungguin tanggal 25 aja Pak”. Lain waktu ada lagi yang komentar dengan nada sedih, ”Kapan ya tanggal 25, rasanya kok lama banget”.

Memang perkara yang satu ini para karyawan sangat-sangat merindukannya. Kalau sudah tanggal 25, muka-muka cerah ceria berseliweran di kantor, rasanya nggak ada satu orangpun yang bermuram durja, kecuali yang dapet banyak potongan dari koperasi hehehe. Biasanya banyak yang registrasi m-banking, jadi kalau gajian sudah ditransfer ke rekening, mereka pada komentar, ”Wah gue sudah dapet sms nih dari juragan”, ada lagi yang nyaut ”Iya nih gue juga, ngalamat weekend ini bisa makan diluar nih sama keluarga”.

Tapi ada juga yang berwajah sedih, ”Wah gue kok belum dapet sms ya”. Temen-temen yang pada iseng ngledekin biasanya, ”sms nya nyangkut di pohon kali hahaha”. Kalau pas hari gajian pasti heboh, ada yang ngajakin pergi mancing bareng-bareng satu departemen, ada yang ngajakin karaoke pas weekend dan berbagai rencana lainnya. Ada yang malah merancang cuti untuk bisa jalan sama keluarga menikmati liburan.

Cuti, biasanya dapet jatah 12 hari selama setahun, itupun biasanya sudah dipotong untuk cuti bersama ketika hari raya, yah paling sisa 5 sampai 7 hari. Kalo di tempat saya kerja, temen-temen pada ambil cuti pada akhir tahun, pengen menghilangkan stress agar seger waktu kerja di tahun yang baru katanya. Ada juga yang ngambil cuti beberapa hari untuk berlibur bersama keluarga, ada juga yang ngambil cuti cuman pengen menghilangkan penatnya kerja aja.

Dari cerita diatas, saya ambil kesimpulan enaknya kerja itu berarti cuman ada tiga, yaitu libur, gajian dan cuti, setuju gak? Saya sih setuju. Tapi sebenarnya ada yang lebih enak daripada libur, gajian dan cuti tersebut, yaitu bekerja-nya itu sendiri. Kalau kita kerja dengan sepenuh hati, apapun bidang kerjaan kita, dibarengi dengan niat untuk memberikan penghidupan yang layak bagi keluarga (bagi yang sudah berkeluarga) atau mempersiapkan segala sesuatunya untuk menikah (bagi yang belum menikah), rasanya pekerjaan yang kita lakukan tidaklah sia-sia, mengasyikkan malah.

 

Lanjutkan membaca “Apa Sih Enaknya Kerja?”