Tips Menghindari Kejahatan Pembiusan Saat Mudik


Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

Bagi anda yang akan pulang kampung saat lebaran harap berhati-hati dan harus pintar-pintar menjaga diri dari pelaku-pelaku kejahatan dengan jalan pembiusan. Seketika anda akan tidak sadar dan saat tersadar harta anda bisa raib dibawa kabur penjahat.

Berikut tips Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar supaya anda tidak menjadi korban pembiusan dan hipnotis baik saat mudik atau pun balik.

1. Pemudik sebaiknya jangan lekas percaya kepada orang yang sama sekali yang belum anda kenal.

2. Selama perjalanan pulang ke kampung halaman, pemudik harus banyak dzikir, jangan jalan sendirian, dan saling mengingatkan satu dengan yang lain.

3. Jangan mudah menerima makanan atau minuman kaleng, sebab bisa saja makanan dan minuman itu sudah diracun.

4. Kenali modus-modus pelaku pembiusan. Pelaku biasanya beraksi di tempat yang ramai pemudik. Modus operandinya berpura-pura mengajak bicara. Setelah merasa akrab, pelaku biasanya menawarkan minuman kaleng atau makanan yang sudah diberi obat tidur. Setelah anda meminumnya, anda akan tidak sadarkan diri, lalu harta anda akan dibawa lari pelaku.

Lanjutkan membaca “Tips Menghindari Kejahatan Pembiusan Saat Mudik”

Seruan untuk Pengguna Mobil Pribadi Sendirian

Jakarta Macet https://supermilan.wordpress.com

Coba pikirkan, dan tolong renungkan… Kita semua jengkel dengan kemacetan. Mari berbuat sesuatu.

Anda tentu jengkel dengan kemacetan, bukan? Ya, kita semua jengkel. Tapi sudahkah anda pikirkan bahwa anda, bersama orang-orang seperti anda yang memakai mobil berkapasitas 5 orang sendirian saja, adalah penyumbang terbesar kemacetan ini?

Berapa banyak lahan jalan yang anda pakai hanya untuk diri anda sendiri? Setidaknya 10 meter persegi. Kita tahu 1 meter saja lahan di kota Jakarta sangatlah berharga.

Tidakkah anda kasihan kepada orang-orang lain yang juga berhak menggunakan jalan raya ini, tapi mereka mesti menyisih karena ada mobil anda di depan atau di sampingnya? Untuk itu, tolong pikirkan alternatif-alternatif berikut ini:

1. Beralih Ke Angkutan Umum

Dengan beralih ke angkutan umum, entah bis atau kereta, berarti anda telah berbuat baik dengan mengosongkan 10 meter persegi lahan jalan dari yang tadinya ditempati mobil pribadi anda. Terima kasih. Lahan 10 meter itu sangat berharga bagi pengguna jalan lainnya.

Mungkin anda merasa gengsi memakai angkutan umum. Tapi gengsi tidak memberikan anda kepuasan batin. Hanya perbuatan baiklah yang bisa memberikan rasa kepuasan batin.

2. Nebeng Mobil Teman / Memberi Tebengan Ke Teman

Anda punya mobil, tentu anda bisa membagi tempat duduk di mobil anda kepada orang lain (teman, tetangga) yang sejurusan atau searah dengan anda. Jika anda memberi tebengan ke mereka, tentu mereka tidak keberatan berbagi ongkos BBM dengan anda. Di samping itu anda akan mendapatkan keuntungan berupa tambahan teman / jaringan / silaturahmi yang tak ternilai harganya.

Kalau anda bingung mencari teman nebeng, anda bisa mendapatkan informasi soal tebeng-menebeng ini di www.nebeng.com. Jika teman yang searah dengan anda punya mobil juga, tak ada salahnya jika anda yang nebeng ke mobilnya.

Lanjutkan membaca “Seruan untuk Pengguna Mobil Pribadi Sendirian”

Bertaruh Nyawa di Kereta Api

Penumpang kereta api, khususnya KRL Jabodetabek kelas ekonomi, hingga kini masih berperilaku seenaknya dan membahayakan jiwa. Hampir seluruh bagian kereta dipenuhi penumpang. Kejahatan dan terganggunya kenyamanan penumpang sudah menjadi hal biasa. Ini harus segera ditertibkan.

Cuiiihh!” Ludah kental mendarat tepat di samping sepatu seorang perempuan, Kamis (13/8) pagi, di atas KRL Ekonomi Bogor-Jakarta. Perempuan yang naik dari Stasiun Depok itu mendelik kesal. Namun, ia hanya dapat menggeser sedikit kakinya di tengah penuh sesak penumpang lain.

”Sudah sering kali seperti ini. Tidak tahu kok bisa-bisanya mereka meludah, padahal orang penuh sesak. Sering tidak tahan bau keringat penumpang lain dan udara sesak, saya pilih berdiri di sambungan gerbong di pinggir pintu,” kata Rahmi (21).

Lanjutkan membaca “Bertaruh Nyawa di Kereta Api”