Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik

Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik
Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Sebelum mudik lebaran, ada baiknya anda memperhatikan kondisi rumah yang akan ditinggalkan. Berikut beberapa tips aman saat rumah kosong ditinggal mudik.

1. Titip Pada Tetangga

Pepatah bilang, tetangga adalah saudara kita yang terdekat. Karena memang sehari-hari kita lebih banyak berinteraksi dengan mereka, ketimbang dengan saudara kita yang berjauhan tempat tinggal.

Sebelum meninggalkan rumah, ada baiknya kita menitipkan pada tetangga terdekat. Supaya mereka juga ikut mengawasi situasi. Apabila dengan tetangga kita sudah cukup dekat, bisa sekalian meminta tolong untuk menyalakan lampu saat malam dan mematikannya saat siang.

Kebanyakan kita hanya meninggalkan rumah dengan lampu menyala tiap saat. Terutama lampu luar dan teras. Tujuannya supaya di malam hari terlihat ‘seolah-olah’ ada penghuni di dalam rumah. Tapi hal ini juga bisa menjadi bumerang. Karena di saat siang, lampu tetap menyala. Sehingga justru menjadi pertanda bahwa rumah dalam keadaan kosong.

2. Gunakan Timer atau Sensor Cahaya

Alternatif lain, bisa juga memasang alat tambahan pada instalasi listrik di rumah kita. Bisa menggunakan timer yang berfungsi menyalakan dan mematikan lampu pada waktu tertentu. Tinggal di set perkiraan waktunya menyala pada jam 5 sore misalnya, dan akan mati pukul 6 pagi.

Alat lain yang bisa digunakan adalah sensor cahaya yang berfungsi mendeteksi kondisi cahaya di sekitar. Apabila redup, lampu akan menyala. Saat terang, otomatis lampu akan mati kembali.

3. Periksa Ulang Semua Pintu dan Jendela

Pastikan semua pintu dan jendela rumah anda dalam keadaan baik. Termasuk kunci, teralis dan gemboknya. Karena dengan kondisi rumah yang aman, anda pun bisa tenang meninggalkan rumah saat mudik lebaran.

Lanjutkan membaca “Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik”

Iklan

Antara Perempuan Somalia dan Pagar Tetangga

Jasa Website Instant Murah @ http://JawaraShop.com
Sudah lebih setengah bulan puasa, baru berkesempatan silaturahmi ke keluarga ku di SINAI. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, tanganku sibuk memencet tombol remote televis.

Buka puasa kira-kira masih setengah jam lagi. Tiba-tiba ada yang membunyikan bel rumah, seperti biasa yang paling dekat pintu dia yang membukakan pintu. Tidak ada yang berbeda setiap kali aku datang ke SINAI, tidak pernah ada wanita yang mengetuk pintunya. Hari itu berbeda, aku kaget bukan kepalang. Seorang perempuan berkebangsaan Afrika berhijab dan bercadar dengan mengucapkan salam sambil memegang dua mangkuk makanan di depan markas ikhwan SINAI berdiri di depan pintu.

Mau apa perempuan itu?

Wanita itu menggunakan baju cokelat, berhijab dan cadar hitam. Dalam hati aku menyangka, mungkin ia mau berbagi makanan berbuka. Aku sambut dua mangkuk piring penuh itu dengan melemparkan senyuman. Dari belakang pintu bapak Direktur menyodorkan dua piring kosong bersih yang sudah dicuci agar aku berikan pada wanita itu.

Dalam hati aku sudah bisa menebak, bahwa perempuan ini mengantarkan makanan setiap hari ke markas kami. Memang orang Mesir suka berbagi maidaturrahman di bulan yang diberkahi ini. Sangat terasa pengamalan sunnah Nabinya. Saling mengasihi, berbagi dan mencari ridho Allah di negeri Kinanah ini.

Dalam beberapa saat aku baru tahu bahwa wanita itu ternyata tinggal tepat di flat depan SINAI. Dan lebih kagetnya lagi, wanita itu bukan orang Mesir, tapi orang Somalia. Somalia yang sedang dilanda perang saudara dan kelaparan yang tak berkesudahan sampai saat ini, adalah negeri asal perempuan yang memberikan makanan tadi.

Bukan main takjubku saat itu, hingga aku sempat mengabadikan makanan ta’jil yang diberikan perempuan Somalia itu dengan ponselku.

Makanan

Dua mangkuk itu berisi makanan yang belum pernah aku coba sebelumnya. Satu mangkok berisi pudding yang rasanya agak aneh di lidah orang Asia, namun enak dan menyegarkan karena berisi anggur dan potongan pisang. Di mangkuk lainnya, ada kurma dan gorengan seperti di Indonesia berbentuk segitiga.

Setelah digigit ketahuanlah bahwa isinya adalah kibdah (hati). Gorengan itu benar-benar enak. Belum beberapa menit sudah laris dicicip. Rasa kagum pun bertambah, karena baru kali ini aku makan gorengan di Mesir dan rasanya pun nyaris sama dengan yang di Indonesia.

Saat itu pikiranku melayang ke negeriku nun jauh di seberang samudera, Indonesia. Mereka orang Somalia, yang saudara-saudaranya sedang kelaparan ini, mau berbagi dengan sesama di bulan Ramadan kepada orang yang tidak ia kenal bahkan bukan dari bangsanya. Aku pun teringat dengan jutaan orang Mesir lainnya yang senantiasa berbagi makanan berbuka setiap hari di bulan Ramadan semenjak pertama kali ku menginjakkan kaki di negeri ini.

Dan kemudian pikiranku terbang menerawang ke Indonesia. Aku teringat bagaimana gaya kehidupan bertetangga di negeriku. Nyaris sudah seperti di negara barat yang selfish dan tidak peduli dengan tetangganya. Membangun pagar rumah setinggi pagar penjara. Membuat makanan namun tak pernah berbagi pada tetangga. Aku tertegun dan berfikir, apa yang salah sebenarnya dengan penduduk di negeriku?

Artikel : Muhammad Zakaria Darlin @ Kompasiana

Jual HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jasa Website Instant @ http://JawaraShop.com

Nostalgia Puasa di Masa Kecil

Berikut beberapa nostalgia teman-teman saat berpuasa waktu kecil dulu. Bagaimana dengan anda?

Muni Lestari :

Saya ingat waktu kecil dulu, susahnya melakukan puasa Ramadhan, mesti dibujuk, di’sogok’ atau diiming-imingi baju baru. Apalagi pas makan sahur, alamak sulitnya mata terbuka

Kadang sampe digendong dan didudukan di meja makan dengan mata masih terpejam. Tak pernah lelah orang tua mengajar kita berpuasa. Bisa minum sirup dan makan roti setiap buka puasa (utk ukuran keluarga kami yg sederhana itu termasuk mewah.

NC :

Dulu favorit sy juga roti tawar pake sirop pisang ambon. Slurff.. Sore2 kita ke ujung jalan , tempat tukan es batu balokan. beli es batu sepotong, diiket tali.  Habis tarawih , perang petasan dimulai. petasannya gede2.

Habis shubuh, keliling kampoeng cari kembang duren , daun cincau n kecapi. Pernah jalan sampe stasiun Kalibata nyari biji karet. Hhhm, dulu juga puasa ngeludah terus ya, soalnya digosipin klo nelen ludah batal katanya.

Resti :

Dulu, masih kecil suka nabung makanan. sama ibu disuruh disimpan, buat buka katanya. Padahal kawan2 saya banyak yang ga puasa. Walau disimpan dan ditutup pake tudung, sebuah bakwan bisa bikin ngiler saya. Kalo ibu lagi tidur, bakwannya dicuil dikit2. Hehehehe

Terus kelas 3 SD gara2 sering beli asinan abis pulang taraweh, lebaran yang mestinya senang-senang buat anak kecil, saya malah tepar kena tipes di RS. Hiks….

Achmoko :

Semasa kecil dulu, selesai sahur & sholat subuh, pada sepeda-an rame-rame menembus hutan jati. Kadang di lain hari, ngikutin kakak berburu tupai pakai senapan angin yg memangsa buah kelapa di kebon tetangga. Sementara sy pake ketapel batu, klo kena jidat sakit bo’..

Sorenya, masih maen sepeda-an ke kebon murbei, di sekitar pabrik ulat sutera (sampe skrg msh ada pabriknya), sambil ngumpulin buah murbei yg masak. Di perbatasan kebon murbei & hutan jati, ada sungai berbatu yg airnya jernih, jadilah mandi bareng di sungai sampe menjelang maghrib. Padahal di aliran atas sungai ada yg mandiin sapi 😛

Klo pas mudik sm anak2, sy suka ngajak2 anak2 & istri napak tilas tempat main ayah-nya dulu, biar tahu klo ayahnya dulu adalah anak hutan 😀

Roses Man :

Klo ane favoritnya bulan puasa itu, ngabuburitnya jauh2. Yg paling sering kl pas SD itu ngabuburit maen di stasiun depok baru, jalan kaki ma temen2 dari rumah. trus maen2 di lantai atas depok baru.

Kl cape tinggal rebahan. kl gak, dari rumah dah bawa tutup botol lindesin deh ke krl yang lewat. Malah kadang2 masih ada yg krd ngepul yg lewat. Kl gak ke stasiun depok baru, maen ke daerah
tanah baru…… Sepedahan ma temen2…. dulu sih masih ijo2 banyak sawah……

Erwin :

jaman SD paling sering ngakunya puasa di rumah….diluaran mah 1 botol teh manis masuk…
kalo ngabuburit lebih seneng maen ke stasiun Kramat…

atau paling jauh Gang Sentiong…. trus…waktu pindah ke daerah jakarta timur…senengnya malah ngadu jangkrik…..whoahhh jahiliyah banget pokoknya….

Abu Iyan:

Konon, puasa itu sangat berat dikerjakan jika pada waktu kecil tidak pernah dilatih di lingkungan keluarga (dan juga masyarakat sekitar). Oleh karena itu, kita patut berhutang budi pada para orang tua kita saat melatih puasa di kala kecil itu.

Rumah nenek saya terbuat dari bilik, tapi kenikmatan berpuasa masih sangat membekas. Masakan sambal bajaknya masih belum ada yang mengalahkan baik ibu maupun isteri. Uniknya, sambal bajak ini dihidangkan cuma saat puasa Ramadhan!

Malam-malam dibangunkan cuma dengan suara “gorengan” dan aroma sambal bajak yang menyengat tercium di seantero rumah. Ditemani dengan biskuit dan kadang susu hangat. Hmmmm …..

Winda:

Dulu waktu kecil, paling seneng banget kalo dah masuk bulan puasa… bisa ikutan sanlat, trus tarawih bareng temen2 (walaupun waktu SD tarawihnya banyakan gak serius). Habis sahur paling seneng kalo ada kuliah subuh walaupun sambil ngantuk2 di mesjid.

Buka puasa juga semangat banget.. masih setengah jam ke waktu berbuka, udah nongkrongin meja makan, nunggu makanan lezat buatan mama tercinta.. slllrrppp… miss u mom…

Meningkat ke jaman SMP, kayaknya deg2an aja kalo di mesjid pas mau tarawih ketemu kecengan.. hahaha…. dasar jaman2 cinta monyet, cupu abiissss…..

Noe Mbeem:

Pas jaman bocah, paling senang ngumpulin makanan wat buka.. segala macam ada.. hehehehe.. mulai dari kolak, asinan, kerupuk mie yang gede2, biji salak,es rumput laut sampe bingung yang mo dimakan duluan apa..

Klo sore sambil nunggu buka, biasanya main tapak gunung ato enggak main kasti. klo dah haus banget,langsung deh kumur2 sebanyak mungkin, klo g sengaja ketelen airnya, anggap aja rejeki..hahahaha..

Pas tarawih, paling senang klo udah dekat ceramah.. bisa jajan somay, batagor, jagung bakar. abis itu main petasan deh dekat mesjid.. siap-siap lari klo di omelin sama penjaga mesjid.. seru abis

*kangen main petasan cabe rawit sama petasan kentut lagi ^^

Sumber : KRL Mania

Agar Cerdas, Biasakan Anak Puasa Sejak Dini

Membiasakan berpuasa sejak dini kepada anak-anak mempengaruhi tingkat kecerdasan, ungkap Dekan Fakultas Psikologi Universitas Medan Area (UMA) Irna Minauli di Medan, Selasa.

Ketika berpuasa, anak diuji bersabar menunggu saat makan dan minum yang diperbolehkan sehingga berpuasa menjadi ajang latihan bagi anak untuk menahan emosi, katanya.

Akibatnya kecerdasan emosional anak meningkat dan mempengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial secara baik.

Lanjutkan membaca “Agar Cerdas, Biasakan Anak Puasa Sejak Dini”