Anjing Korban Gempa Jepang, Simbol Kesetiaan

Anjing Korban Gempa Jepang, Simbol Kesetiaanhttps://supermilan.wordpress.com

Seekor anjing dalam video itu tetap berada di sisi temannya yang terluka akibat tsunami.

Dailymail melaporkan, dalam kondisi gemetar dan kotor, salah satu dari kedua anjing itu menjaga temannya yang terluka di antara puing-puing sebuah desa di timur laut Jepang. Di tengah penderitaan manusia, usaha anjing-anjing yang menjadi korban tsunami tersebut menjadi simbol bagi orang-orang Jepang.

Kesetiaan merupakan tema yang kuat dalam budaya Jepang dan para komentator memakai dedikasi sang anjing pada temannya sebagai sebuah simbol bagi masyarakat untuk saling menguatkan dalam menghadapi tragedi tersebut.

Ribuan binatang peliharaan menghilang dalam gempa dan tsunami, dan banyak lagi yang terpisah dari pemiliknya. Menurut para saksi mata, anjing-anjing dalam video ini telah diselamatkan dan diletakkan di tempat penampungan walau tampaknya akan sulit untuk mengidentifikasi mereka.

Sebuah kisah favorit Jepang yang telah difilmkan di Amerika Serikat adalah tentang seekor anjing bernama Hatchi yang pemiliknya tiba-tiba meninggal akibat serangan jantung. Anjing yang setia itu setiap hari pergi ke stasiun kereta, berharap dapat berjumpa dengan tuannya sampai anjing itu pun kemudian mati.

Sumber : Kompas

Jual HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Widya Wicaksana Widya Wicaksana

08180-800-6625

(021) 9550-6400

http://www.JawaraShop.com

Jual Laptop Bag Aidea @ http://TasLaptop.JawaraShop.com

Iklan

Ibu 70 Tahun Selamat dari Tsunami Jepang Setelah Berjuang 4 Hari

Ibu 70 Tahun Selamat dari Tsunami Jepang Setelah Berjuang 4 HariJual HDY Baby Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Seorang ibu berumur 70 tahun berhasil diselamatkan setelah berjuang mempertahankan diri dari gempa dan tsunami di Jepang utara tgl 11 Maret 2011 lalu.  Dari saat gempa sampai ditemukan ibu ini, maka ibu ini telah berjuang selama 92 jam.  Sungguh suatu yang mengherankan. Dilihat dari umur, sudah bisa dibayangkan betapa beratnya di usia itu untuk bisa bertahan hidup lebih dari 3 hari.

Pada saat diketahui ibu ini masih hidup dan semua baik, maka tentu saja semua lega. Ibu ini juga tentu sangat lega sekali karena tertolong setelah berjuang selama 92 jam.  Kejadian ini sangat menunjukan sifat orang jepang yaitu “gaman” (sabar) dan “akiramenai” (tidak putus asa), serta tentu saja suatu miracle.

Berita tentang diselamatkan ibu ini  tentu salah satu peran dari media massa (tv dan surat kabar). Pers atau media massa memang tidak saja mengabarkan tentang dahsyatnya gempa atau tsunami, tetapi juga memberikan kabar gembira serta bantuan untuk para pengungsi.  Begitu luasnya daerah yang kena tsunami, sehingga tempat penampungan sementarapun cukup banyak jumlahnya. Ternyata tidak semua tempat penampungan dilengkapi dengan telpon umum yang didukung oleh NTT.

Ada tempat penampungan yang sama sekali belum bisa menghubungi saudara-saudaranya. Kebetulan hari ini ada stasiun TV yang mengirim staffnya untuk meliput keadaan di tempat pengungsian. Suatu hal yang sangat bagus. Saat itu langsung digunakan untuk sarana menghubungi saudara-saudara dari para pengungsi.  Pengungsi diberi kesempatan omong di depan kamera dan mengabarkan ke saudara-saudaranya bahwa mereka selamat dan berada di tempat pengungsian.

Selain itu bisa juga menuliskan di kertas tentang siapa yang hendak dihubungi, lalu kamera TV menyorot kertas itu. Dengan cara ini, saudara-saudara yang tidak bisa kontak via telpon, bisa tahu dengan siaran TV ini.  Ini juga suatu tanda bahwa semua saling membantu dan bekerja sama. Media massa menggunakan fungsinya sebagai penghubung.

Kebersamaan dengan mereka yang tertimpa bencana juga ditunjukan di setiap kegiatan yang ada.  Pagi-pagi benar di pusat perdagangan sayuran, para pedagang sebelum mereka melakukan lelang atau jual beli sayuran, bersama-sama mereka mengheningkan cipta untuk korban yang meninggal dan yang hilang.  Beberapa kegiatan olah raga, sebelum mulai pertandingan, para atlet dan juga bersama semua penontonnya bersama-sama mengheningkan cipta.  Kegiatan pengumpulan dana secara spontan pun banyak dimulai di beberapa tempat.

Seperti yang saya tulis sebelumnya,  selain kereta dan rumah tinggal serta pertokoan, usaha penghematan pemakain listrik juga dilakukan di beberapa pabrik. Pabrik mengurangi jumlah jam kerja,  seperti Toyota, Sony, dan Panasonic.

Kekawatiran memang masih ada.  Memang situasinya belum pulih kembali. Kegiatan bisnis juga belum berjalan normal kembali.  Pada hari selasa (15 Maret 2011), 4 hari setelah gempa dan tsunami, beberapa warga asing meninggalkan jepang. Kebanyakan, ibu-ibu yang mempunyai anak kecil.  Mereka pulang ke negara masing-masing, mungkin lebih merasa aman.

Sebagian pulang karena banyak pekerjaan yang ditunda, sehingga pekerjaan tidak ada. Selain itu, keluarga di negara asal khawatir akan situasi di Jepang.  Demikian berita yang diambil di Narita Airport hari ini.

Sumber : Kompasiana

Jual HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com

Widya Wicaksana Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Laptop Bag Aidea @ http://TasLaptop.JawaraShop.com

Kisah Orang Indonesia yang Selamat dari Bencana Tsunami Jepang

Jasa Web Instan @ http://web.JawaraShop.com
Di antaranya ribuan warga negara Indonesia yang berada di Jepang, salah satunya adalah Hariyadi Budi, warga Depok Timur, Jawa Barat. Dia berhasil selamat dari terjangan tsunami dan kini telah berada di Tanah Air.

Berikut kisahnya seperti dituturkan kepada wartawan di Depok. Sejak 2003 silam, Hariyadi sudah berada di Jepang. Tak puas dengan gelar Doktor kajian Jepang yang didapatkannya di Universitas Indonesia (UI), ia pun memutuskan untuk mengambil studi di Universitas Tohuku Jepang dengan program studi Human Science.

Selain ingin menyelesaikan studi doktor di Sendai, Hariyadi pun mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, dan kasih sayangnya untuk anak-anak SD di Jepang dengan mengajar di sebuah sekolah di bibir pantai di kawasan Miyagi.

Hariyadi menuturkan, gempa sudah menjadi pengalaman biasa bagi warga Jepang. Namun sesuatu yang luar biasa dahsyat menimpa penduduk negeri Sakura pada Jumat kelabu, 11 Maret 2011.

Siang hari, pukul 14.00 waktu setempat, Hariyadi sempat dihubungi kawannya, Nanto, warga Indonesia, yang bekerja sebagai nelayan di pantai kawasan Miyagi, tepatnya di pelabuhan Siogama. Sosok Hariyadi yang low profile, membuatnya banyak memiliki teman nelayan karena tak segan langsung terjun kedalam kehidupan masyarakat kelas menengah bawah.

“Padahal gempa dan tsunami saat itu datang sekira pukul 14.47, tapi jam 14.00 saya ditelepon Nanto bahwa dia punya oleh-oleh ikan yang enak untuk saya, akhirnya saya memutuskan untuk menuju laut dengan mobil, bisa dibayangkan saat itu saya tidak mengira akan terjadi bencana besar,” tuturnya.

Lanjutkan membaca “Kisah Orang Indonesia yang Selamat dari Bencana Tsunami Jepang”