Kode Lengkap Nama Domain Seluruh Negara (Country Code)

Top Level Domain [TLD]

Umum : .biz, .com, .info, .net, .org, .pro

Terbaru : .name, .tv

Pengelola: .aero, .asia, .cat, .coop, .edu, .gov, .int, .jobs, .mil, .mobi, .museum, .tel, .travel

Infrastruktur : .arpa

Lainnya : .example, .invalid, .localhost, .test, .bitnet, .csnet, .local, .root, .uucp, .onion, .exit

Dihapus : .nato

http://tasbayiku.wordpress.com

Kode Domain Negara (ccTLD)

Berikut ini adalah daftar lengkap kode domain negara atau country code Top Level Domain [ccTLD] seluruh dunia :

A

.ac – Pulau Ascension
.ad – Andorra
.ae – Uni Emirat Arab
.af – Afghanistan
.ag – Antigua dan Barbuda
.ai – Anguilla
.al – Albania
.am – Armenia
.an – Antilles Belanda
.ao – Angola
.aq – Antarctica
.ar – Argentina
.as – Samoa Amerika
.at – Austria
.au – Australia
.aw – Aruba
.ax – Pulau Åland
.az – Azerbaijan

http://sandalnamaku.wordpress.com

Baca selebihnya »

MySpace Tawarkan Akses Ribuan Lagu Tanpa Batas

Agar tidak kalah bersaing dengan Spotify, MySpace menawarkan akses gratis tanpa batas ke seluruh katalog yang berisi puluhan ribu lagu dan video. http://taslaptop.jawarashop.com

Layanan baru MySpace ini menghadirkan sesuatu yang diklaim oleh MySpace sebagai ‘katalog paling komprehensif’ di internet. Fitur baru ini dipersembahkan MySpace bagi para pengaksesnya setelah mencapai kesepakatan dengan beberapa perusahaan rekaman besar dan independen.

Pembaharuan ini nampaknya akan semakin memperketat persaingan MySpace dengan situs layanan musik Spotify yang memungkinkan pengaksesnya untuk men-streaming sederet besar lagu-lagu secara gratis maupun berlangganan. Demikian keterangan yang dikutip dari Telegraph, Jumat (4/12/2009). http://sandalnama.jawarashop.com

Layanan ini juga menyediakan tautan ke iTunes sehingga pengguna bisa membeli dan mengunduh lagu dari toko musik online tersebut. http://mejalaptop.jawarashop.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Makanan & Minuman

Blue Band [1936]

Mentega Blue Band

BLUE Band pertama kali diproduksi di Batavia pada 1936. Blue Band juga menjadi produk makanan pertama yang dihasilkan Van den Bergh NV, milik Unilever, gabungan perusahaan margarin asal Belanda, Margarine Unie, dan pabrik sabun Lever Brothers asal Inggris. ”Sejak pertama kali diluncurkan, Blue Band sudah menjadi merek kuat yang memimpin pasar dengan kompetitor utama mentega dan margarin impor, seperti Palmboom,” kata Agus Nugraha, Brand Manager Blue Band PT Unilever Indonesia.

Aslinya, Blue Band pertama kali dibuat di Belanda untuk diekspor ke Inggris pada awal abad ke-20. Pada 1920, produk ini kemudian dipasarkan di negara asalnya dan langsung menjadi produk utama Belanda. Blue Band saat itu juga mulai masuk ke Indonesia melalui perusahaan Van den Bergh, Jurgen and Brothers.

Sebagai salah satu merek tertua di Unilever, Blue Band sempat pula mengalami masa sulit di era 1957-1967, ketika terjadi ketidakstabilan politik dan ekonomi di Indonesia. Kondisi serupa terulang pada 1997-1998 saat krisis ekonomi menimpa Indonesia. ”Daya beli masyarakat menurun, berdampak pada penjualan Blue Band,” Agus menjelaskan. Nah, ketika krisis global kembali menerjang pada 2008, Blue Band mencoba menyiasatinya dengan memperkenalkan kemasan sekali pakai 17 gram yang dibanderol Rp 700 agar terjangkau semua lapisan masyarakat.

Strategi lainnya yang sudah diterapkan Blue Band sejak 1978 adalah lewat kampanye di media massa yang mengedepankan kesehatan dan gizi. Kampanye pertama di televisi pada 1978, misalnya, berbunyi, ”Buatlah hari mereka menyehatkan.” Nah, untuk tahun ini, Blue Band meluncurkan kampanye ”Bekal tumbuh besar Blue Band” yang berisi ajakan kepada para ibu untuk menyediakan bekal makanan bagi anak ketimbang uang jajan.

http://sandalnamaku.wordpress.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Teh Botol

Teh Cap Botol [1940]

Teh Botol Sosro

RIBUAN botol plastik hijau itu bergerak dalam irama teratur di atas jalur roda berjalan. Lalu, plop, plop, plop: letupan mesin memasangkan plastik kemasan ke satu per satu botol yang berisi teh amat panas. Antrean lantas menjalar ke mesin berikut yang memasangkan tutup botol. Dari sini jalur roda bergerak lagi menuju pengemasan akhir. Maka jadilah teh botol merek Joy Tea Green, yang siap dikirim ke jutaan konsumen di seluruh Indonesia serta mancanegara.

Ilustrasi kecil di atas melukiskan satu rantai kecil di lini produksi PT Sinar Sosro, raksasa teh siap minum buatan Indonesia. Satu ikon Sosro yang luas dikenal adalah Teh Botol Sosro. Joy Tea Green, yang dirilis dua tahun lalu, pun telah menjadi salah satu produk unggulan Sinar Sosro. ”Sudah punya pasar sendiri,” ujar Joseph Soewito Sosrodjojo.

Joseph, 43 tahun, adalah generasi ketiga Sosrodjojo—kini Presiden Direktur PT Sinar Sosro. Dia menerima Tempo di pabrik teh Sosro di Jalan Cakung, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 10 September lalu. Joseph menuturkan ihwal kakeknya, Sosrodjojo, yang membangun cikalbakal minuman ini di Slawi, Jawa Tengah, pada 1940. Juga tentang jatuh-bangunnya usaha keluarga mereka.

http://tasbayiku.wordpress.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Sabun

B29 [1930]

Sabun B29

PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unilever—ketika itu satu-satunya sabun cuci yang beredar di pasar—mendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa mencuci baju, piring, bahkan mandi.

Sewu Gunawan prihatin. Anak tunggal yang merantau dari Mojokerto, Jawa Timur, pada usia 16 tahun itu pun putar otak. Dengan bantuan seorang guru kimia sebuah sekolah menengah atas, dia mencari bahan pengganti kaustik soda—bahan utama sabun saat itu. ”Akhirnya pakai bahan gula dari tebu,” kata Eka Gunawan, putra bungsu Sewu, mengingat cerita ayahnya. ”Jauh lebih murah dan ekonomis.”

Pada 1942, mulailah sebuah pabrik rumahan dibangun di lahan 300 meter persegi di Jalan Malaka, Jakarta Pusat. Nama B29 didaftarkan kepada pemerintah Hindia Belanda oleh Sinar Antjol, perusahaan yang didirikan Sewu. Sekitar seratus orang direkrut Sewu untuk ”mengaduk” bahan sabun dan mencetak B29. Saat itu B29 belum menjadi pesaing Cap Tangan, yang namanya sudah ke mana-mana. Tujuannya, kata Eka, semata membuat sabun banyak dan dijual semurah mungkin. ”Jadi awalnya lebih ke misi sosial.”

SURATMI, pelawak wanita bertubuh subur, nyaris setiap hari hadir di ruang keluarga. Suratmi memang jadi ikon sabun B29. Di layar televisi, dari sore hingga malam, dengan gayanya yang kenes, ia membujuk para ibu memakai sabun krim B29. Bentuk krim, atau lebih dikenal ”colek”, merupakan terobosan baru di bidang sabun cuci saat sabun bubuk mewabah di Indonesia pada dekade 1970.

http://promosiunik.wordpress.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Rokok

Dji Sam Soe [1913]

Dji Sam Soe

RUMAH kuno itu tak lagi berpenghuni. Pagarnya tertutup seng. Ketika didatangi Tempo tiga pekan lalu, tampak empat petugas bergantian menjaga rumah. Di rumah inilah Liem Seeng Tee, pendiri HM Sampoerna, mengawali sejarah pada 1927.

Beralamat di Jalan Ngaglik, Surabaya, rumah ini—selain menjadi tempat tinggal—dulunya berfungsi sebagai gudang tembakau dan pabrik rokok. Selama lima tahun Seeng Tee menguji berbagai campuran rempah dan cengkeh di rumah ini. Dji Sam Soe salah satu produknya. Dari rumah ini pula Dji Sam Soe mulai diproduksi secara masif.

Formula rokok ini dibuat 15 tahun sebelumnya, saat Seeng Tee masih bekerja di pabrik rokok kecil di Lamongan. Tugasnya kala itu meracik dan melinting rokok. Belakangan, racikannya menjadi cikal-bakal formula Dji Sam Soe. Penghasilannya di pabrik ditabung untuk menyewa warung di Jalan Cantian Pojok—kini Jalan Pabean Cantian, Surabaya.

http://taslaptopku.wordpress.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Kopi

Kopi Warung Tinggi [1878]

Kopi

Beberapa kali berhenti berproduksi, tetap hidup berkat kepercayaan pelanggan. Dulu resep lisan, kini tersimpan di komputer.

BATAVIA, 1878. Restoran di tepian Moolen Vliet Oost—kini Jalan Hayam Wuruk— Jakarta, itu berbeda dengan bangunan lain di sekitarnya. Tampak lebih bagus, lebih besar, dan tinggi. Masyarakat di tepian Ciliwung lalu menyebutnya Waroeng Tinggi. Adalah Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, yang membangun warung itu bersama istrinya.

Selain menyuguhkan makanan, mereka sedia kopi. Karena itu, waktu belum banyak yang menjual kopi seduh di Batavia, warung Engkoh Liaw laris manis. ”Menurut cerita Kakek, dulu habis makan, orang pasti duduk berlama-lama sembari ngopi,” kata Rudy Widjaja, 67 tahun, ahli waris generasi keempat kopi Warung Tinggi.

Rudy menerima Tempo di kantor pusat Warung Tinggi di Jalan Batu Jajar, Hayam Wuruk, Jakarta Barat, dua pekan lalu. Melihat aktivitas di toko kopi yang terletak di Jalan Tangki Sekolah, juga di kawasan Hayam Wuruk, tampak sekali Warung Tinggi sudah memiliki pasar dan pelanggan sendiri. Di toko sekitar 25 meter persegi, di dalam gang yang hanya pas dilewati dua mobil itu, transaksi dilakukan dengan ”gaya lama”. Penjual tinggal bertanya, ”Biasa, kan?” Semua langsung beres: jenis kopi, jumlah kiloan, digiling halus atau kasar.

http://sandalnamaku.wordpress.com

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Kecap

Kecap Bango [1928]

Kemasan diremajakan, rasa dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Jurus inovatif memperpanjang umur.

Kecap Bango

BANGO itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang, jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama sang Bango.

”Saya tak pernah tahu ada pabrik Kecap Bango di sini,” kata Jaya Kurnia, 55 tahun, warga Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Tangerang. Benar, ada sebuah rumah tua dengan arsitektur bangunan Cina yang dikenal sebagai bekas pabrik kecap di kawasan itu. Namun, ”Bukan Bango, itu pabrik kecap Kepala Kerbau,” kata seorang penduduk. Perjalanan Tempo menelusuri jejak Bango di daerah pecinan, Benteng, juga nihil.

Ketika usaha Yunus Kartadinata berkembang, Bango tak lagi cukup hanya bersarang di rumah. Pabrik pertama Kecap Bango diketahui berada di Jalan Asem Lama (sekarang Jalan Wahid Hasyim), Tanah Abang, Jakarta Pusat, persis di belakang gedung Badan Pengawas Pemilu. Namun kawasan itu sudah berubah menjadi deret an rumah perkantoran. ”Memang, dulu ada pabrik kecap di sini,” kata Hadi, 70 tahun, penduduk Asem Lama, tiga pekan lalu.

Baca selebihnya »

Pertamina Adakan Blog Contest 2009

Seiring bergulirnya Program Transformasi, keterbukaan menjadi hal penting bagi Pertamina. Untuk itu, Pertamina mengadakan Blog Contest 2009. Melalui kontes ini Pertamina berharap dapat menerima masukan dari masyarakat baik layanan, produk, maupun penerapan Good Corporate Governance (GCG) di Pertamina. http://SuperMilan.wordpress.com

Pelaksanaan Pertamina Blog Contest juga merupakan bagian partisipasi dari Divisi Komunikasi dalam memperingati HUT Pertamina ke 52. Event ini merupakan yang kali pertama dilangsungkan oleh Pertamina dalam upaya lebih mendekatkan diri dengan masyarakat dalam hal ini komunitas di dunia maya (internet cyber community) dalam format Blog Contest.

Untuk dapat mengikuti event Pertamina Blog Contest ini diatur dalam persyaratan dan materi yang dapat dilihat di www.pertaminablogcontest.com http://TasBayi.JawaraShop.com

Pertamina Blog Contest ini resmi dibuka sejak hari ini tanggal 12 Oktober 2009 sampai 5 Januari 2010http://MejaLaptop.JawaraShop.com

Kriteria Pemenang adalah berdasarkan aspek hasil pencarian di mesin pencari, isi review dan tampilan. Keputusan pemenang akan dilakukan dengan dihadiri oleh Team Panitia, Dewan Juri dan Pihak PT.Pertamina (Persero). Pemenang lomba akan diumumkan di situs Corporate Website PT. Pertamina (Persero) dan Web Direktori Pertamina Blog Contest .

Baca selebihnya »

Merk “Tua” yang Bertahan Hingga Kini : Sepatu

Bata [1931]

Sepatu Bata

BERJAM-jam sepatu berbahan kanvas itu mengendap di ember penuh air. Basah kuyup, tapi tetap baik kondisinya. Wilfried Tampubolon, pemilik sepatu itu, cuma bisa memandanginya dengan kecewa. Pupus harapannya untuk mendapat sepatu baru. ”Dua tahun sepatu saya tidak diganti, makanya sepatu itu sengaja saya rendam,” kata Wilfried tertawa mengenang kenakalannya semasa kanak-kanak. Ibunya hanya mau membelikan sepatu baru kalau sepatu lama sudah rusak.

Nyatanya sepatu Bata miliknya awet dipakai bertahun-tahun. ”Keunggulan inilah yang membuat Bata bertahan sampai sekarang,” kata Wilfried, kini Operation Manager PT Sepatu Bata Tbk., kepada Tempo di kantornya. Bata bisa dibilang sebagai merek sepatu paling populer di Indonesia. Begitu kuatnya merek itu melekat di benak orang, ada yang menganggapnya asli Indonesia. Apalagi pabrik pertama sepatu ini berlokasi di Kalibata, Jakarta Selatan. Banyak yang mengira-ngira, nama Bata diambil dari nama kawasan itu. Padahal itu nama pendirinya, Tomas Bata, pengusaha asal Cekoslovakia. Nama Kalibata sendiri punya sejarah lain. Konon nama itu muncul karena sungai di kawasan itu kerap dilalui rakit pembawa batu bata dari Bogor menuju Jakarta.

http://promosiunik.wordpress.com

Baca selebihnya »