Kisah Amal yang Disesalkan

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan.

Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…, Andaikata yang masih baru …, Andaikata semuanya …’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai.
“Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama, hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya.

Lanjutkan membaca “Kisah Amal yang Disesalkan”

Iklan

Menulis di Atas Pasir, Mengukir di Atas Batu

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu : HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya…

Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya.”

Lanjutkan membaca “Menulis di Atas Pasir, Mengukir di Atas Batu”

Disini Jual Ikan Segar

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan” Disini Jual Ikan Segar”. Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya.

“Mengapa kau tuliskan kata: DISINI?… Bukankah semua orang sudah tahu kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?” “Benar juga!” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “DISINI” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya. “Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”. “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”.

Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan tulisannya: “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?”. “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL & tinggallah tulisan “IKAN”.

Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya: “Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?”. “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu. & tidak ada papan pengumuman apapun…

Renungan: Bila kita ingin MEMUASKAN SEMUA ORANG, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, tidak akan kemana-mana….. Be yourself!…

Sumber : Inspirasi Indonesia

Peluang Usaha Produk Immunocal @ http://immunocalnetwork.com

www.mylivesignature.com/signatures/85877/supermilan/a1928e8a96a55f7092e99c05bb990dff.png Widya Wicaksana
08180-800-6625
(021) 9550-6400
http://www.JawaraShop.com

Jual Aksesoris Martapura @ http://aksesorismartapura.com

Bisakah Anda Sesabar Jumini?

Jual Tas Bayi HDY Baby Diaper Bag @ http://TasBayi.JawaraShop.com
Wanita berusia 50 tahun ini tinggal di rumah 3×3 meter, berdinding tripleks kusam, berlantai karpet plastik usang di atas tanah pemerintah, di pinggir kali, menghadap jalan raya yang yang hampir sepanjang pagi hingga sore dipadati kendaraan yang merayap. Kawasan padat penduduk dan kemacetan lalu lintas.

Di rumah semi permanen ini Jumini tinggal bersama suami dan seorang anak perempuannya. “Anak saya tiga. Anak pertama saya meninggal karena kecelakaan di kawasan alas roban, seminggu setelah saya menikahkan anak kedua saya,” cerita Jumini, dengan pandangan melayang.

Jumini menikahkan anak keduanya di kampung halamannya, Klaten, Jawa Tengah. Ketika balik ke Jakarta, Jumini dan suami serta anak perempuannya naik bus. Sementara anak laki-laki pertamanya yang berusia 26 tahun, lajang, balik ke Jakarta dengan mengendarai motor. Di alas roban, anak sulungnya menghembuskan napas terakhir.

Di rumahnya ini, Jumini berjualan nasi, seperti warung Tegal tapi dengan pilihan menu lebih sedikit. “Alhamdulillah. Ya sekarang jualan sepi, ya alhamdulillah. Tidak seperti dulu ketika anak-anak masih sekolah. Dulu ramai, saya juga jualan nasi di pasar, ramai. Mungkin dulu rezeki anak-anak sekolah. Sekarang anak-anak sudah lulus.

Anak saya yang bungsu sudah lulus SMEA, sudah kerja di supermarket. Dia ingin kuliah, ya nanti ya, dia kerja, menabung, saya juga menabung, untuk kuliahnya nanti supaya dapat pekerjaan yang lebih baik,” tutur Jumini.

Lalu Jumini bercerita tentang anak laki-laki keduanya. “Saya buatkan ia, toko dan bengkel di kampung. Tapi tidak berjalan, karena harusnya belum waktunya makan enak, sudah makan enak. Merasa susah di kampung, ya sudah ia kembali ke sini dengan istri dan satu anaknya. Saya buatkan rumah di belakang saya itu,” cerita Jumini.

“Minggu lalu saya daftarkan jadi satpam di sebuah yayasan. Saya bayar Rp 1 juta karena dia tak punya sertifikat satpam. Sekarang sudah bekerja, gajinya Rp 900 ribu tiap bulan. Jajan, rokok, ya masih minta,” lanjutnya. Jumini juga bercerita, selama tinggal di Jakarta, ia sudah 8 kali kena gusur.

“Makanya ya rumah biar begini saja. Nanti saya bagus-baguskan, tahu-tahunya digusur lagi, bagaimana,” katanya, apa adanya. Siang itu Jumini melayani tiga orang yang mau makan di warungnya. Setelah itu ia pamit untuk salat duhur. Suaminya duduk lesehan di depan teve yang menyala.

Lanjutkan membaca “Bisakah Anda Sesabar Jumini?”

Pengorbanan Seorang Suami (Kisah Nyata)

Eko Pratomo Suyatno
Jual Sandal Nama Unik dan Lucu @ http://JawaraShop.com

Sebuah renungan, buat para calon suami ataupun calon istri. Semoga bermanfaat, kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah. Kisah ini pernah ditayangkan di Metro TV. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silahkan baca dan dihayati. Sebuah perenungan

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Lanjutkan membaca “Pengorbanan Seorang Suami (Kisah Nyata)”