Bertaruh Nyawa di Kereta Api

Penumpang kereta api, khususnya KRL Jabodetabek kelas ekonomi, hingga kini masih berperilaku seenaknya dan membahayakan jiwa. Hampir seluruh bagian kereta dipenuhi penumpang. Kejahatan dan terganggunya kenyamanan penumpang sudah menjadi hal biasa. Ini harus segera ditertibkan.

Cuiiihh!” Ludah kental mendarat tepat di samping sepatu seorang perempuan, Kamis (13/8) pagi, di atas KRL Ekonomi Bogor-Jakarta. Perempuan yang naik dari Stasiun Depok itu mendelik kesal. Namun, ia hanya dapat menggeser sedikit kakinya di tengah penuh sesak penumpang lain.

”Sudah sering kali seperti ini. Tidak tahu kok bisa-bisanya mereka meludah, padahal orang penuh sesak. Sering tidak tahan bau keringat penumpang lain dan udara sesak, saya pilih berdiri di sambungan gerbong di pinggir pintu,” kata Rahmi (21).

Rahmi yang bekerja sebagai staf cleaning service di sebuah apartemen di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, sudah tiga tahun terakhir menjadi pelanggan KRL.

Menghabiskan waktu sekitar 30 menit di bibir pintu yang tak lagi bisa menutup sudah biasa dilakukannya. Ia harus mencengkeram erat besi pembatas tempat duduk dekat pintu. Kalau beruntung, ia bisa duduk di tangga pintu sambil tetap berpegangan pada besi itu.

”Bahaya memang bahaya, Mbak, tetapi kalau pagi tidak bakalan dapat KRL yang sepi. Harus rela duduk atau berdiri di mana saja. Yang penting sampai ke tempat kerja,” kata Wiwik, teman kerja Rahmi.

Mereka berdua sama-sama berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Keduanya memilih bertahan sewa kamar indekos di Depok bersama beberapa kawan lain dari Cirebon demi menekan biaya.

”Pernah dulu, kami berdua berdiri di pintu KA bersama beberapa orang lain, tiba-tiba ada penumpang di dalam yang jatuh ke arah kami. Ada ibu-ibu yang hampir terlempar keluar kalau tidak dipegangi dan ditarik ramai-ramai oleh penumpang lain,” tutur Wiwik.

Beragam penumpang

Berbincang bersama beberapa penumpang KRL lainnya, mereka memang rata-rata pekerja di Jakarta, tetapi bertempat tinggal di kawasan pinggiran. Tidak semuanya berasal dari golongan ekonomi lemah. Sebut saja Sofie (32), pegawai perusahaan tempat hiburan ternama di Jakarta itu, yang terpaksa menjadi pelanggan KRL Ekonomi karena pelayanan KRL AC terbatas.

”Kalau di KRL AC, meskipun penuh sesak, tetapi gerbongnya relatif nyaman. Pintu-pintu dan jendela lengkap kacanya. Orang-orang yang naik lebih sopan. Kalau di sini, harus waspada. Awal-awal dulu, pernah ada cowok yang pegang-pegang. Itu membuat saya hati-hati banget sekarang. Pokoknya berusaha ngumpul dengan penumpang cewek,” kata Sofie.

Pencopet bahkan penodongan bukan hal baru. Kalau pencopet banyak beraksi di kala penumpang ramai. Penodong kadang berpura-pura sebagai pemulung dan banyak beroperasi ketika penumpang tidak terlalu banyak.

Perilaku penumpang non-KRL lebih membahayakan lagi. KA Ekonomi yang menuju Serang, Banten, misalnya, sudah tak asing dengan penumpang liar yang memilih nongkrong di atas atap kereta, di depan dan di emperan lokomotif.

”Tidak bisa dihalau. Kecuali kalau kita kerahkan semua petugas, baru mereka takut. Kalau sehari-hari begini, terpaksa dibiarkan karena, kalau ditekan, mereka justru bisa marah dan merusak KA,” kata seorang masinis senior di Stasiun Senen.

Namun, masinis ini mengelak ketika ditanya apakah para penumpang liar itu benar membayar sejumlah uang kepada petugas KA sehingga mereka dibiarkan saja. (Wiedz : Cek kenyataannya di lapangan. Dijamin anda akan miris melihatnya :D)

Ratusan Ribu Pengguna KRL

Saat ini, ada 400.000 lebih warga Jabodetabek pengguna kereta api, khususnya KRL. Ada 390 perjalanan KRL setiap hari yang melayani mereka. Pada 2014, diperkirakan akan ada 1,4 juta penumpang per hari dilayani dalam 800 perjalanan KA. Melihat perbandingan antara jumlah penumpang dan perjalanan, sepertinya kondisi yang dirasakan penumpang sekarang dan lima tahun lagi tidak jauh berbeda. Apa yang harus dilakukan PT KA untuk mengatasinya?

Pengamat KA dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Taufik Hidayat, mengatakan, PT KA atau PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) dalam mengoperasikan KRL harus fokus untuk semaksimal mungkin melayani pergerakan penumpang dan jangan dibebani target laba.

”Jangan sampai ada target laba dulu. Namun, seluruh profit yang didapat PT KCJ secepatnya dikembalikan untuk investasi pembelian sarana, seperti kereta KRL,” ujar Taufik. Dia menyarankan agar tidak seluruh keuntungan disetorkan ke perusahaan induk. Dalam hal ini, pemerintah pusat berkewajiban memberikan subsidi. (NEL/RYO)

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: